
Pagi itu setelah kami sudah selesai sarapan pagi, aku, papa dan a Yoga bersiap menuju mobil untuk pergi ziarah ke makam mama.
A Yoga membujuk papa untuk ikut ke mobilnya saja, sehingga kami bisa bersama-sama dalam satu mobil, dan akhirnya papa mau.
Setelah sampai di halaman pemakaman, A Yoga meminta papa dan aku turun terlebih dulu dan dia sendiri yang ke tempat parkir mobil, hari ini memang pak Budi diminta libur sama a Yoga karena sepertinya Dia ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya saja.
Sesampainya aku dan papa didepan makam mama, papa langsung mengambil posisi duduk dipinggir makam mama...
" kasih !! "
Ada yang memanggilku, tapi dengan panggilan itu .. hanya ada satu orang saja yang sangat ku kenal.
Aku palingkan pandanganku, kearah suara yang memanggil. Suara yang begitu lama sudah tak pernah kudengar.. suara yang dulu selalu membuat hatiku bergetar ...
" K Aris..? "
Dia mendekat ke arahku.. karena aku lihat papa sedang berdoa aku melangkah menyamping sedikit menjauh dari papa, dan K Aris mengikuti langkahku.
" Benar... kamu Kasih..apa kabar ?" cecarnya sambil menjabat tanganku.
" kabar baik K, K Aris bagaimana?"
" Aku sehat .. kasih.. seperti yang kamu lihat. Kamu ... tambah cantik.. "
" terima kasih K. lama sekali kita nggak ketemu ya.."
" Iya... lama sekali.. "
K Aris belum melepaskan jabatan tangannya, dan aku sendiri seperti terhipnotis oleh suaranya... suara yang dulu membuat hatiku langsung tergetar, walau sosoknya belum nampak dari ujung kelasku.
Suara yang dulu hanya mampu aku dambakan.. tak ada keberanian lebih dari itu.
Dia pun sekarang menatapku.
" Maaf..in aku Kasih.. "
" Maaf ? Maaf untuk apa K?"
" Dulu.. aku pergi tak mampu berpamitan sama kamu..."
" hahhaaa K Aris ini ada-ada aja, itu sudah sangat lama K, dan memang tidak ada kewajiban KK untuk pamitan sama aku "
" Tapi aku dengar kabar dari beberapa teman dekatmu, kamu sedih waktu aku pergi tanpa berpamitan .. dulu aku juga tidak sanggup .. kasih.. aku... "
Nindy tidak menyadari, Yoga sedari tadi sudah melihat dengan tatapan tidak senang.
" Siapa ini sayang? " tiba-tiba Yoga sudah mendekat dan memeluk bahu Nindy dengan sebelah tangannya tanda kepemilikan.
Karena terkejut, Nindy melepaskan jabatan tangan Aris sedikit kasar dan dia sudah merasa tidak enak dengan hal yang baru saja dilihat oleh Yoga.
" A Yoga... ini K Aris, KK kelas Nin waktu di SMA"
Mesra sekali nada bicaranya menyebut nama laki-laki ini. Katanya cuma aku Laki-laki dalam hidupnya selain papa Fachri.
Yoga berdehem tidak senang.
" saya Aris. "
sambil mengulurkan tangannya kearah Yoga.
" saya Yoga"
menyambut jabatan tangan Aris.
" K Aris... A Yoga ini calon suamiku "
" Kasiih...?"
apa maksud laki-laki ini memanggil dengan panggilan berbeda buat calon istriku!!
" Waktu memang sudah berlalu terlalu lama.. aku baru saja begitu bahagia menemukanmu disini.. dan ternyata kamu baru saja mau menikah.. "
Ada suara penyesalan !! hai !! aku dengar itu.. apa maksudmu?! batin Yoga.
" Kamu sudah berdoa untuk mama sayang?"
sela Yoga dengan nada yang sudah terdengar kesal.
" Iya.. belum .. tadi karena tiba-tiba K Aris memanggil... "
" Kita terus kan nanti lagi bicaranya ! kami harus mengirim doa terlebih dulu.. !!
" Sebentar yaa k.." pamit Nindy
kenapa juga dia harus pamit lagi ! batin Yoga
Yoga meraih jemari Nindy, menggenggamnya dan membawanya menjauh dari Aris.
Aris masih melihat ke arah Anindya Kasih.
Adik kelas yang disukainya semenjak dari dulu, tapi saat itu Aris belum punya keberanian untuk pacaran, karena Mama sudah pasti melarang.
Sampai dia lulus SMA dan bahkan ketika berlangsung acara Perpisahan untuk angkatannya, Aris malah pada saat itu sudah dalam pesawat menuju Jepang.
Ayahnya yang pindah tugas, membawa serta dirinya dan seluruh keluarga intinya pindah.
Saat itu rasanya sulit mengucapkan kata perpisahan secara tiba-tiba pada gadis itu. Dibawalah segala perasaan sedih, cinta dan sayangnya pada gadis pemalu yang selalu hanya berani mencuri pandang padanya itu.
Yoga menyadari betul, orang yang disebut KK kelas oleh Nindy masih terus memperhatikan calon istrinya itu.
Makam yang dikunjungi Aris hanya berselang Satu makam dengan makam mamanya Yoga sehingga dia masih bisa dapat begitu jelas melihat wajah Kasih.
Aris tidak ambil perduli dengan tatapan sinis lelaki gagah dan memang tampan yang tadi diperkenalkan Nindy sebagai calon suaminya.
Dirinya masih tak bisa memalingkan wajah demi melihat lagi gadis yang dicintainya dulu.
Dan dia baru saja mau menikah...
Papa sudah selesai melepas rindu pada mama, Yoga dan Nindy sedari tadi setelah mereka berdoa tetap disisi papa menunggu ...
" Papa sudah selesai nak.. ayo kita pulang "
" iyaa pah " jawab Nindy dan Yoga sambil membantu papa berdiri.
" Itu tadi temanmu nak?"
tanya papa pada Nindy.
" Iya Pah, KK kelas Nin waktu di SMA"
" Ayooo kesana, itu makam siapanya?"
" Nggak usah kesana, papa sudah lelah, kita langsung pulang saja !"
Tolak Yoga yang sedari tadi sudah tidak nyaman dengan kehadiran KK kelas Nindy itu.
Nindy tidak berani bersuara, dia menyadari sepenuhnya, sepertinya Yoga sedang menjadi marah karena Ia sempat lama berjabatan tangan dengan K Aris tadi.
Papa juga menyadari anak laki-lakinya ini sedang cemburu. Terlintas kejahilan papa
" nggak sopan Ga, itukan teman calon istrimu.. ayoo kesana dulu"
Pinta Papa meneruskan kejahilannya.
Yoga dengan geram menahan ketidak nyamanannya, terlebih dia juga tidak suka melihat tatapan Nindy kearah laki-laki itu.
Seperti baru saja menemukan mainan kesayangannya.
Setelah kami sudah lebih mendekat kearah Aris
" makam siapa ini nak?" tanya Papa.
K Aris mendekat, mencium tangan Papa Iwan dengan hormat.
" Makam KK perempuan saya om. Om pasti calon mertua Kasih "
" Kasih?". tanya papa
" Maaf Om, saya panggil Anindya dengan panggilan Kasih.. Bukan Nindy atau Nin "
" Oooo.. iyaaa... saya calon mertuanya Kasih"
Ciiih ! perlu sekali tampaknya kau perjelas semua itu didepan calon istriku!! batin Yoga
" Semoga Kakak perempuanmu selalu bahagia di Sisi Allah SWT yaa nak, kami pamit dulu.. Nin... pamitlah.. "
Nindy melihat kearah Yoga, memohon izin
Dengan malas tapi lebih karena marah.. Yoga, hanya mengangkat sedikit kepalanya memberi persetujuan.
" K Aris, senang bisa bertemu kakak sehat, Kasih pamit dulu ya K, sampai ketemu lagi. " Nindy mengulurkan tangannya
" Aku juga senang bisa bertemu kamu lagi .. oo iyaa boleh aku minta nomor telponmu ? "
Permintaan yang membuat Nindy salah tingkah.
" Kasihlah nak, papa dan Yoga sambil jalan pelan-pelan yaa... Nanti kamu susul yaa sayang...sampai bertemu lagi yaa Nak.."
Pamit papa disertai tatapan marah Yoga tepat Dimata Nindy.
Setelah Nindy dan Aris saling tukar nomor Handphone, Nindy langsung mau menyusul papa dan Yoga.
Namun sedikit tertahan lagi oleh kata-kata Aris
" Semoga kamu bahagia kasih... seandainya aku lebih dulu menemukanmu..."
" Semoga K Aris juga cepat mendapatkan Kebahagiaan seperti yang aku dapatkan. Kasih benar-benar senang bisa melihat KK lagi, aku pamit yaa K"
Lalu Nindy tergesa-gesa meninggalkan Aris.
Walau hatinya tak bergetar seperti dulu, tapi mendengar suaranya lagi membuat Nindy tersenyum... ada kebahagiaan dari bagian masa lalunya yang telah terjawab.
Bahwa ternyata KK kelas yang dulu hanya mampu dia jadikan hayalan masa remajanya ternyata juga menyukainya.
Apa itu !! senyum-senyum nggak jelas, menghayal apa dia !! batin Yoga
Menatap dengan marah ke arah wajah Nindy yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
Dan Yoga teramat marah melihat kebahagiaan lain dari raut wajah Nindy.
Papa juga turut tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya yang sedang menahan cemburu.