
Nindy sedang mencoba membaringkan tubuhnya.
Bolak balik Ia mencoba memejamkan matanya..
Tapi deburan jantung didadanya membuat Nindy sulit untuk terpejam.
Besok adalah harinya..
Hari dimana Yoga akan mengikrarkan diri menjadi Imam dan sekaligus menjadi pasangan hidupnya.
Nindy tersenyum sendiri.. mengingat masa-masa pertama kali bagaimana dia menangis ketika Papa bilang, papa menjodohkan dirinya dengan anak sahabatnya.
Tangisannya bahkan melibatkan fikiran tentang cita-cita dan kebahagiaannya yang direnggut begitu saja oleh Papa..
Tapi lihat sekarang...
Bahkan Ia merasakan kebahagiaan yang lebih dari yang dia bisa bayangkan.
Bahkan saat ini justru Nindy yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi dengan laki-laki pilihan papanya.
Dan malam ini sepertinya Nindy sudah tidak bisa tertidur lagi, membayangkan besok pagi segala yang tak diingininya diawal justru menjadi Tujuan hidupnya diakhir.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kaca dari balkon kamar Nindy.
Handphone Nindy pun bergetar bersamaan
Karena konsentrasinya pada suara ketukan dipintu kaca, Nindy tidak melihat lagi siapa yang menghubunginya.
" Sayang.. buka pintu kacanya .. aku yang mengetuk tadi. "
Demi mendengar suara pria yang sangat dia cintai itu Nindy langsung membuka hordeng yang menutupi pintu kacanya dan membuka pintu itu untuk Yoga.
Yoga menatap Nindy penuh takjub dan kerinduan. Apa yang Ia rasakan didalam hatinya membuncah..
Nindy pun seperti itu, Ia menatap Yoga penuh kerinduan. Senyum manisnya mengembang ..
Lama mereka saling memandangi.
Lalu Yoga mendekat..
Merengkuh pinggang Nindy sambil membelai wajah wanitanya dengan punggung telunjuk tangan kanannya.
" Kamu Cantik.. "
Lalu dirasakannya bibir Nindy yang teramat dia rindukan..
lembut diawal .. sambil tangan satunya masih memeluk pinggang Nindy dan tangan yang lainnya merengkuh bahu Nindy
Memperdalam ciuman rindunya pada wanita yang besok pagi akan Ia persunting sebagai istrinya.
Ia bergetar.. memberi sensasi seperti yang diinginkan oleh Yoga.
Nindy yang tubuhnya telah memberi signal akan kerinduannya terhadap Yoga menjadi bereaksi diluar kebiasaannya.
Yoga menyukai ketidak sadaran Nindy saat itu. Mereka menyadari...kerinduan masing-masing.
Jemarinya memasuki kaos putih yang saat ini dikenakan Yoga.
Mengusap-ngusap dada Yoga yang tergetar karena sentuhannya.
Bibir mereka masih saling memberi. Meresapi apa yang sebenarnya sebentar lagi akan mereka saling miliki. Membuncahkan kebahagiaan dihati mereka yang kini sudah tidak bisa dipisahkan.
Nindy menghentikan cumbuan Yoga dengan menarik halus rambut yoga dengan jemarinya.
Kening mereka saling menyatu..
Mereka bisa saling mendengar desahan nafas masing-masing yang masih dilanda kerinduan.
Nindy berusaha menyadari keadaan itu.
Dengan lembut Nindy mengatakan..
"Itu kenapa kita harus dipingit .."
" Besok.. seusai akad nikah.. sebelum resepsi malam.. dan bulan madu kita.. aa boleh mengambil semua yang Nindy miliki.. "
" heemmm... Jangan ingkar.. jangan buat aa harus menunggu.. "
" iya... aku janji.. karena aku juga sudah ingin.. " jawab Nindy menenangkan.
Keinginan untuk saling memiliki kini sudah menjadi begitu kuat bagi Yoga dan Nindy. Menyadari tidak ada yang bisa membuat mereka bahagia kecuali dipersatukannya mereka pada ikatan yang suci dan sah.
Mata Yoga menjadi melembut.. menyukai apa yang saat ini sedang dilakukan olehnya...
" Pulanglah sayang... aku tunggu kamu besok "
Kata Nindy sambil tersenyum lembut.
" Terima Kasih... aku pulang sayang.. "
"Tutup langsung Pintu dan hordengnya, karena orang-orangku akan membantu aku untuk turun dari balkon kamarmu. jangan sampai mereka melihat juga tubuhmu. "
" Iya.. "
Jawab Nindy lembut, dan langsung melakukan apa yang Yoga minta.