
Jikalau kau cinta
Benar-benar cinta
Jangan katakan
Kamu tidak cinta
Jikalau kau sayang
Benar-benar sayang
Tak hanya kata atau rasa
Kau harus tunjukkan
Jangan sampai hingga waktu perpisahan tiba
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Hanya air mata
Mungkin saja cinta 'kan menghilang selamanya
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Hanya air mata ..... cinta
Jikalau kau sayang
Benar-benar sayang
Tak hanya kata atau rasa
Kau harus tunjukkan
O-o-o-u-wo ...
(Percayalah)
O-o-o-u-wo ...
(Percayalah)
Percayalah
Ke mana pun kau acuh
Cinta tak pernah rapuh
Berpaling pun tak mampu hilangkan…
Cinta....
Percayalah....
***
Mengapa lirik lagu itu.. yang terasa begitu mewakili apa yang kurasakan saat ini .....
sayang....
Menunggumu didepan ruang observasi rumah sakit ... membuat aku semakin tak berdaya...
Rasaku ingin mengulang sepenggal hari ini yang kusesali..
Dapatkah kau dengar suara hatiku... sayang..
Maafkan aku....
Anindya Kasih.... Maafkan aku....
Yoga menutup kedua wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tak ada satu orang pun yang mampu membujuknya untuk sekedar beristirahat sebentar
Tak ada yang bisa memberinya ketenangan...
\=\=\=\=\=
Kehilangan.....
aku sudah pernah merasakannya... .
Ya....rasa itu.
Menyisakan kerinduan yang menyesakan dada.
Dan aku tak ingin...
Nindy pun ....
Tidak ! aku yakin dia kuat !
Dia adalah wanita yang paling kuat !
Yang aku inginkan seperti itu...!
Setidaknya.. dia berhutang Cinta yang belum selesai denganku...
Dan itu yang harus membuat dia .. Hidup !
\=\=\=\=\=
Ferdy begitu sedih melihat keadaan bosnya
Ia melihat kesedihan yang lebih dalam ..
dari yang pernah ia lihat dulu.
Bangkit dari kehilangan saja sudah sulit bagi Yoga dulu, apalagi jika Ia harus mengalaminya lagi sekarang.
Fardy tidak tau apa yang akan terjadi jika itu benar-benar terjadi.
Tiba-tiba semua tenaga medis yang ada diruang observasi terlihat sibuk dengan langkah cepat dan sigap masuk ke kamar Nindy.
Yoga dan Ferdy yang saat itu masih bertahan dirumah sakit berdiri mematung memperhatikan tenaga medis yang lalu lalang dengan tergesa-gesa.
Matanya mengarah pada semua orang yang masuk kedalam kamar Nindy.
Langkahnya pun jadi ikut memburu masuk, tapi tak bisa mendekat.
Tubuhnya tertahan oleh tangan salah seorang perawat laki-laki didepannya.
" Maaf pak ... bapak tidak bisa mendekat "
" Ada apa ini mas ? kenapa dengan calon istri saya?"
" Sebentar Mas, dokter sedang berusaha memperbaiki kondisi Umum ibu Nindy supaya tekanan darahnya stabil, nanti dokter yang menangani yang akan menjelaskan"
Jawab Perawat itu.
Yoga kembali sangat gelisah.
" Selamatkan calon istri saya..."
suara Yoga melirih
" Dokter pasti akan berusaha yang terbaik pak, Bapak harus tenang... kalau bapak tidak tenang, bapak tunggu diluar saja "
perintah perawat yang masih menahan tubuh Yoga.
" Mas tolong mas.. dibawa keluar saja masnya ini !"
Perintah perawat itu lagi ke Ferdy.
Ferdy sudah sedang memegang lengan Yoga
" Saya akan tenang! tapi jangan suruh saya keluar dari sini !"
Kata-kata Yoga menghujam
\=\=\=\=\=
Beberapa saat kemudian
Keadaan sepertinya sudah tertangani dengan baik, karena setelahnya ada dokter yang mendekat ke arah Yoga, sementara tenaga medis lainnya sudah dengan tenang keluar dari kamar Nindy.
" Bagaimana dok keadaan calon istri saya?"
tanya Yoga memburu.
" Tekanan darah ibu Nindy turun drastis tadi pak, ibu Nindy mengalami Shock karena hasil CT Scan memang menggambarkan ada darah menggumpal di otak ibu Nindy, sehingga menekan sistem saraf pusat. ketika keadaan sudah stabil kami harus melakukan operasi craniotomy"
\=\=\=\=\=
Tidak ada yang mampu aku mohonkan lagi sayaaaaang...
Kembalilah....