
Abimanyu mengantarkan Annisa hingga sampai masuk kedalam puskesmas tempat istrinya mengabdi. Hari itu semua staf puskesmas memberikan ucapan selamat dan ikut berbahagia atas kehamilan Annisa.
Abimanyu juga menjadi tujuan mereka mengucapkan selamat. Dengan tulus berdua mereka berterima kasih atas perhatian dan segala doa terbaik buat Annisa juga calon bayinya.
Ayah yang berbahagia itu mengabarkan bahwa insyaAllah buah hati mereka adalah bayi kembar. Dan semua ikut berbahagia mendengarnya.
Kemudian Abimanyu memohon bantuan semua rekan-rekan Annisa untuk bisa ikut menjaga istrinya, karena ini adalah kehamilan pertama bagi Annisa. Dirinya dan juga Annisa sangat menanti kehadiran buah hati mereka ini, semua turut berjanji untuk memenuhi keinginan Abimanyu.
Lelaki tampan yang sedang sering dibicarakan banyak orang itu, ketika berbicara seperti menghipnotis, membuat mereka tersenyum-senyum memandang ketampanan dan menyukai suaranya yang sangat berwibawa.
Semenjak menjadi suami dr.Annisa baru kali ini Abimanyu banyak berkata-kata dihadapan mereka. Tanggapan yang positif dari teman-teman Annisa, membuat Abimanyu merasa tenang.
Setelahnya Abi meninggalkan Annisa,
"Aku ke kilang dulu ya ... baik-baik dengan twins, nanti aku jemput lagi" ucap Abimanyu sambil mencium kening Annisa.
"Iya ... Hati-hati yaa mas" ucap Annisa sambil mencium punggung tangan suaminya.
Annisa melambaikan tangannya ketika mobil Abi berlalu dari sana.
Kemudian Annisa mulai memeriksa satu persatu pasien yang telah menunggunya.
.
.
.
.
.
Sedang jam istirahat, Bunda Nindy menghubungi Annisa
"Sudah makan nak?" tanya bunda begitu sudah terhubung dengan Annisa.
"Lagi makan Bun, ini bareng-bareng semua teman. Bunda sudah makan siang?" tanya Annisa kembali pada mertuanya yang selalu perhatian padanya.
"Bunda lagi tunggu ayah, katanya mau pulang makan siang. Maem apa nak?"
"Soup ikan Bun, oo iyaa ... Bunda ... tadi pagi Nisa sama mas Abi USG 4 dimensi, Cucunya bunda insyaallah twins!" cerita Annisa bahagia.
"Oo yaa nak .. kembar! Ya Allah Alhamdulillah... duuh bunda jadi nggak sabar pingin lihat kamu!" jawab bunda lagi.
"Besok jadikan bunda kesini" tanya Annisa.
"Harusnya enggak ada perubahan, jadi bunda besok bisa lihat kalian. Bunda sudah banyak pesan kue-kue terbaik buat semua teman-teman kamu juga stafnya Abi!"
"Bundaaa.... Nisa kepingin finger grape ..." suara Nisa memanja.
"Besok bunda bawakan finger grapenya, apalagi nak? ada yang kamu mau lagi?" tanya bunda begitu antusias. Ia senang sekali Annisa mengatakan keinginannya. Menantunya ini tidak pernah meminta apa-apa, bahkan kartu unlimited yang diberikan Abimanyu saja belum pernah sekalipun digunakan oleh menantunya ini untuk berbelanja.
"Enggak ada lagi Bun... Nisa cuma mau finger grape" jawab Annisa.
"Ok sayang, besok bunda bawakan pesanan kamu ya.. Ayah sudah datang, jaga kesehatan kalian yaa ... love you ..." ucap bunda mengakhiri panggilannya.
"Love you too Bun, salam buat ayah" balas Annisa mengakhiri panggilan mertuanya.
Beberapa saat kemudian,
"Senang yaa dok, punya mertua sudah seperti orangtua kita sendiri" ucap Aisyah
"Iyaa Ais ... rezeki itu benar bukan hanya uang, tapi salah satunya yaa ini, punya mertua rasa orangtua sendiri" jawab Annisa tersenyum.
Kemudian Annisa mencoba menghubungi suaminya. Dan setelah nada dering yang ketiga panggilan Annisa baru diangkat.
"Sayang ... maaf lagi agak sedikit padat hari ini jadi baru keangkat. Makan apa hari ini?" tanya Abimanyu langsung ketika sambungan telponnya tersambung.
"Soup Ikan, dan tadi bunda telpon nanyain keadaanku. Mas belum makan siang dong karena padat kerjaannya!" jawab Annisa khawatir.
"Ini mas sudah turun dari kilang, mau makan siang setelah ini sama Febry. Tadi bunda sudah dikabari dong kalau cucunya kembar!"
"Sudah, bunda seneng banget.. trus untuk besok kayaknya bunda sama ayah bakalan banyak bawaannya deh! bunda bilang sudah pesan kue-kue terbaik buat staf kamu, temen-temen aku! trus aku minta dibawain bunda finger grape, twins kayaknya mau itu deeh!"
"finger grape honey? yaa ampuun ... aku beneran sedih ini ... kita jauh kemana-mana .. padahal kamu cuma mau finger grape!" suara Abimanyu langsung berubah.
"Ayah! ini bukan sesuatu yang mendesak.. ini cuma karena ingin saja.. jangan gitu aaaahhh... aku jadi sedih juga niih kalau kamu kayak gitu ..." suara Annisa merajuk.
"Iyaaa ... nggak! jangan pernah sedih .. Ok!" jawab Abimanyu lagi.
"Ok, ayah jangan lupa makan siang yaaa .. twins mau diajak ibu jalan-jalan lagi lihat pasien!" ucap Annisa dengan nada ceria, menghibur Abimanyu.
.
.
.
.
.
Annisa sedang berbincang-bincang dengan staf medis lainnya ketika Abimanyu terlihat masuk ke pintu puskesmas.
Arah mata semua memandang pada suami dokter Annisa. Tatapan memuja dan berandai-andai. Annisa selalu menanggapinya dengan tersenyum, Kemudian Abimanyu mengambil tas Annisa membawanya sambil memberikan jemarinya untuk menggenggam jemari Annisa.
"Kami pamit pulang yaa.. sampai besok!" ucap Annisa sambil melambaikan tangannya.
"Assallamualaikum .." salam Annisa dan Abimanyu bersamaan, yang dijawab berramai-ramai oleh semua staf puskesmas.
Setelah Annisa dan Abimanyu keluar dari Puskesmas, semua kasak kusuk
"Yaaa.. ampuuun Ti ... si tampan mau loh bawain tas jinjing istrinya ... dicetak lagi nggak yaa yang kayak gitu..."
"Tasmu mau aku bawain Ra?"
"Iiihhhh ... yang bawain mas Anto mah bisa sendal mba Neneng nyampe mukaku!
Lalu semua tertawa dan membubarkan diri untuk juga pulang.
.
.
.
.
.
Sesampainya dirumah, Annisa dan Abimanyu langsung membersihkan diri. Dengan penuh perhatian Abimanyu membersihkan punggung istrinya dengan spons, merasakan kecilnya tubuh sang istri untuk menanggung dua bayi mereka dirahimnya. Belum lagi, kesulitan untuk dirinya memenuhi keinginan istrinya, yang terkendala karena memang mereka berada agak jauh dari pusat kota. Semua baru menjadi pemikirannya sekarang. Ia khawatir jika terjadi sesuatu.
"Sayang .... kenapa?" tanya Annisa yang merasakan gerakan tangan suaminya melambat.
"Mmmm? nggak apa-apa .." jawab Abimanyu yang tersadar dari lamunannya.
Annisa membalikan badannya menghadap Abimanyu.
"Jangan terlalu khawatir .. sayang, kita punya Allah, dan pasrahkan saja semua padaNYA. Aku tahu apa yang kamu pikirkan ..." ucap Annisa sambil mengusap pipi suaminya.
Abimanyu menatap istrinya dengan senyum getir.
"Aku takut kehilangan... aku takut ada apa-apa sama kamu .. sama twins, sementara aku tidak bisa berbuat banyak karena kita jauh dari pusat kota" ucap Abimanyu pada akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya.
"Sayang .... insyaallah .. aku akan sangat hati-hati. Jangan terlalu cemas, aku sudah melewati banyak hal yang tidak terduga selama bertahun-tahun dinas disini, dan seperti pertemuan kita pertama kali waktu itu ... ingat ? aku membawa bayi didalam inkubator? Tuhan pasti memberikan pertolongan dengan caranya .. dan itu diluar kuasa kita, kita hanya perlu meyakini bahwa Allah akan selalu ada untuk kita ! Allah mengirimkan pesawatmu ditempat yang tepat disaat aku membutuhkannya, itulah cara Allah ..." ucap Annisa terus meyakini sambil menangkupkan kedua tangannya dipipi suaminya. Menatap pada kedua mata Abimanyu yang sendu.
"Sayang .... boleh sekarang kita bilas? Twins sudah lapar ..." Ucap Annisa sambil mempermainkan hidung suaminya dengan hidungnya sendiri sambil tersenyum manis.
.
.
.
.
.
Bagaimana aku tidak mencintainya ?
Bagaimana aku tidak lebih mengkhawatirkannya ?
Ia selalu meringankan yang terasa berat.
Justru membuat hatiku berat ..
Karena dia menerima semuanya dengan keikhlasan.
(lebih mencintaimu _ Abimanyu)