My Favorite CEO

My Favorite CEO
Kebenaran



Ternyata Yoga tak bisa secepat itu meninggalkan tempat acara. Maksud Yoga menghampiri kembali tuan rumah untuk berpamitan, ternyata kolega-koleganya sedang membahas hal penting yang melibatkan Yoga dalam pembicaraan itu.


Beberapa kali Yoga mengarahkan pandangan kearah istrinya. Merasa khawatir dan tak enak hati dengan istrinya.


Nindy akhirnya mencoba menguasai dirinya, mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Nindy berdiri meninggalkan kursinya, berjalan mendekat kearah stand ice cream.


Ada anak laki-laki kecil, berusia kurang lebih 6 tahun yang diam mematung beberapa langkah dari stand ice cream tersebut.


Nindy menghampiri anak tersebut, menyentuh bahunya.


"Apakah kamu mau ice cream itu?"


Anak itu memperhatikan mulut Nindy yang sedang berbicara, Ia tidak menjawab dengan mulutnya, Ia memberikan bahasa isyarat, menyatukan jarinya membentuk segitiga yang artinya huruf A, lalu jari telunjuknya disatukan dengan kepalan jari dari tangan lainnya yang artinya huruf K, sehingga Selanjutnya Nindy tahu bahwa anak itu mau ice cream rasa coklat.


Nindy memesankan ice cream yang diinginkan anak yang bernama Tobi itu, dan juga ice cream rasa grean tea untuk dirinya sendiri.


Yoga memperhatikan Istrinya dari kejauhan. Mengamati Nindy yang sedang berbincang menggunakan bahasa isyarat dengan anak kecil didepan stand ice cream.


Betapa senangnya anak itu karena akhirnya ia mendapatkan ice cream yang diinginkannya. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih kepada Nindy dengan bahasa isyaratnya.


Sampai Nindy memeluk anak itu dan menangkup wajah anak laki-laki itu dan memberikan ciuman dikeningnya.


Lalu sekejap saja mereka menjadi akrab, duduk berdua dimeja bersama sambil menikmati ice cream mereka, sambil terus mengobrol dan tertawa.


Kemudian Tobi mengusap perut Nindy, Ia tertawa-tawa ketika baby didalam kandungan Nindy menendang-nendang wajah Tobi yang menempel diperut Nindy.


Pemandangan itu tak luput dari perhatian Yoga.


"Kamu, papa cari kemana-mana..enggak tahunya disini. Kalau papa bilang diam jangan kemana-mana, itu artinya kamu jangan meninggalkan tempat dimana papa taruh kamu tadi!"


Laki-laki yang tadi membakar amarah Nindy, ternyata ayahnya Tobi. Dia sedang memarahi Tobi menggunakan bahasa Isyarat.


"Tadi.. papa terlalu lama meninggalkan aku, aku mau mencari papa, tapi ternyata aku melihat stand ice cream. aku mau ice cream, tapi pelayan itu tidak tahu bahasa Isyarat, sampai Tante Nindy datang menolongku"


Jawab Tobi dengan bahasa Isyaratnya lagi.


Laki-laki itu kembali melihat kearah Nindy. Tatapan matanya menjadi salah tingkah dan melembut. Tidak seperti pertama kali tadi memperlakukan Nindy.


"Terima kasih untuk apa yang telah kamu lakukan untuk Tobi"


Laki-laki itu mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Nindy, Nindy masih terpaku hanya menatap kewajah ayah Tobi, lalu melihat kearah Tobi bergantian.


Nindy menyambut jabatan tangan laki-laki itu, dibenaknya masih banyak tanda tanya dan keheranan tentang orang yang menjabat tangannya ini.


Yoga memperhatikan Nindy saja sedari tadi, sambil sesekali Ia menimpali perbincangan yang sedang dilakukan kolega-koleganya. Namun wajahnya tidak pernah melepaskan pandangan dari istrinya berada.


"Tobi adalah anak aku dan Nena."


Laki-laki itu memulai pembicaraan dan mengambil duduk disamping Tobi, sambil sesekali Ia menyuapi Tobi makanan.


"Nena? bukannya dia.."


Jawab Nindy menggantung, karena Ia tidak ingin Tobi mendengar kalau ibunya sedang dipenjara.


"Iya, saya tahu. Saya tidak pernah menyangka dia akan senekat itu memperlakukan kamu, saya percaya itu pasti karena tekanan bekas mertua saya. Lebih tepatnya mungkin bekas calon mertua saya."


"Maksud kamu apa?"


Tanya Nindy.


"Iya.. saya yakin Nena tidak akan mampu melakukan perbuatan menyakitimu, kalau itu bukan karena perintah ayahnya. Sama ketika Nena mencoba terus menerus menggugurkan kandungannya karena Ayahnya tidak menyetujui saya menikahi dan bertanggung jawab atas kehamilan Nena. Sampai akhirnya Tobi harus lahir dengan kekurangannya!"


"Saya tidak sekaya Yoga, suamimu. Yang selalu menjadi incaran ayahnya Nena, bahkan waktu itu Yoga baru saja menggantikan ayahnya sebagai pewaris perusahaan Dirgantara Aviation. Saya hanya seorang Sekretaris pribadi dari tuan rumah acara ini. Sehingga begitu dia tahu Nena hamil karena saya. Pak Bachtiar itu seperti kehilangan harta Karun yang akan dia serahkan pada Yoga. Hingga ketika Nena mencoba beberapa kali menggugurkan janinnya ternyata Tobi tetap kuat didalam rahim Nena, berbagai cara dia gunakan agar perut Nena tidak terlihat sedang hamil!"


"Dan dia terus saja menyuruh Nena mendekati Yoga, karena jika tidak, saya dan Tobi tidak akan dibiarkan hidup. Aku yakin, dia sudah putus asa sehingga nekat menyakitimu."


"Nena sering melihat Tobi?"


"Tentu saja tidak! Ayahnya yang gila itu mengatakan bahwa Tobi tidak bisa selamat ketika dilahirkan, itu imbalan dari akhirnya saya bisa membesarkan Tobi!"


Nindy mengusap kepala Tobi penuh sayang. Hatinya menangis, mendengar semua kebenaran tentang Nena. Wanita yang pernah menyebabkan hidupnya diujung kematian.


Yoga yang memperhatikan sedari tadi dari jauh melihat dengan jelas tatapan laki-laki itu seakan memuja Nindy.


"Maafkan.. tadi saya sudah memancing kemarahan mu nyonya. Saya begitu tidak suka dengan suami anda, tapi saya malah menyakiti anda untuk lebih menyakiti suami anda yang begitu mencintai anda."


"Bisa saya maklumi mengapa anda seperti itu tadi. Tapi Tobi tumbuh menjadi anak yang ramah dan pandai berterima kasih. Itu menandakan Anda mampu mendidik Tobi dengan baik."


"Begitukah?"


Lalu laki-laki itu menatap putranya dan mencium kening Tobi.


"Sayangilah Ayahmu Tobi, jangan kamu kecewakan dia."


Pinta Nindy dalam bahasa Isyaratnya, yang dibalas OK oleh Tobi.


"Saya ingin.mengatakan kebenaran satu lagi!"


Kata laki-laki itu masih memperhatikan Nindy.


"Ketika saya mengatakan tidak akan meninggalkan istri secantik anda sendirian. Itu benar, karena anda memang cantik. Apalagi dengan kehamilan itu."


Laki-laki itu menarik nafas panjang.


"Seandainya Nena diperbolehkan menikmati kehamilannya, Dia pasti cantik seperti anda."


Nindy tidak bisa berkata apa-apa untuk menghibur ayah Tobi. Dia hanya balik memandang Tobi lagi dan mencium pangkal kepala anak laki-laki itu lagi.


Yoga melihat, senyum manis laki-laki itu ketika Nindy mencium berulang kali pangkal kepala anak laki-laki disampingnya. Yoga mulai tidak suka bahasa tubuh itu. Sama seperti tadi Nindy tidak menyukai cara tamu wanita tadi berterima kasih karena sudah ditolong oleh Yoga.


Yoga pamit kepada seluruh koleganya, dengan alasan sudah waktunya istrinya yang sedang hamil beristirahat.


Walau masih ada beberapa kenalannya yang masih ingin berbicara dengan Yoga. Tapi laki-laki itu memilih akan mengatur jadwal bertemu kembali dengan mereka lewat sekretaris pribadinya, Ferdy.


Kemudian Yoga meninggalkan kolega-koleganya, dan kembali menghampiri Nindy.


"Kita pulang sayang...kamu harus istirahat"


Ucap Yoga tanpa memperdulikan Tobi dan ayahnya.


Nindy pamit dengan Tobi dan ayahnya, dan memaksa Yoga untuk berpamitan juga dengan mereka. Ayah Tobi dan Yoga sama-sama menatap dalam pandangan dingin, saling mempertegas mereka tidak saling menyukai satu sama lainnya.


Yoga mengambil lengan Nindy, untuk dituntun. berhenti sejenak untuk mencium sekilas pelipis mata kiri istrinya. Ia hanya sengaja, agar ayah Tobi yang masih memperhatikan mereka, melihat itu semua.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tuhan pasti memberikan kelebihan


Diantara kekurangan.


Membuat kita selalu harus bersyukur


Bahwa banyak hal yang Tuhan telah beri.