
Keduanya masih saling berpelukan. Yoga begitu merasakan ketentraman didalam hatinya.
Semua sudah berakhir, pengajuan gugatan pra peradilan yang dilakukan Yoga telah dikabulkan oleh Hakim tunggal yang berujung pada pencabutan status tersangka Yoga.
Tidak terpenuhinya aspek Formil yaitu ada
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah yang berkaitan dengan materi perkara. Sehingga permohonan Praperadilan Yoga dimenangkan oleh Pengadilan Negeri.
Yoga kini bisa bernafas lega. Segala intrik Bachtiar untuk membuat dirinya meringkuk dipenjara dapat dia patahkan.
Segala upaya Bachtiar yang ingin membalas apa yang dilakukan Yoga terhadap putrinya yang terbukti telah dengan sengaja dan terencana untuk mencelakai Nindy dan akhirnya Nena Putri satu-satunya itu harus menanggung perbuatannya, meringkuk dipenjara, tidak berhasil.
"Aku kangen harum ini.."
Ucap Yoga sambil Ia terus menciumi bahu telanjang istrinya yang saat ini ada dipelukannya.
"Aku juga kangen ini.."
Jemari Yoga memainkan lembut ujung Pu***ng Nindy. Sambil mencium pangkal kepala Nindy.
"Cerita Hon... semuanya.."
Kemudian Yoga menceritakan secara runut perihal semua yang terjadi, hingga bagaimana akhirnya gugatan praperadilannya dimenangkan oleh Pengadilan Negeri.
Nindy penuh perhatian melihat kewajah suaminya yang sedang menceritakan semuanya.
Setelahnya Nindy mengusap sayang wajah suaminya. Dan memberi kecupan dibibir suaminya.
"Nin bangga.. Aa menjalankan semuanya sesuai prosedur, dan lega.. akhirnya semua bisa selesai dan terbukti kebenarannya."
"Iya.. Aa juga sangat bersyukur sayang, tiap hari kangen kamu.. tersiksa rasanya.."
Ucap Yoga sambil memainkan alis istrinya.
Lalu tiba-tiba Yoga melepaskan pelukannya, merubah posisinya menjadi mendekat kearah perut istrinya.
"Tok..tok..tok.. baby... ini Daddy nak.."
Ucap Yoga mengajak janin yang ada diperut Nindy berbicara.
"Daddy mencintaimu nak.. terima kasih kamu sudah kuat dan menemani Momy selama Deddy pergi"
Diciumnya perut Nindy, yang memberikan respons geli buat Nindy.
"Hai.. Momy .. kamu mau lagi yaa..."
"Iiihhh ... geli tahu kalau kamu kayak tadi, Daddy yang sengajakaaaan..."
"Daddy kan ciumnya baby... bukan Momy"
"hahhaaaa .... Daddy cari alasan!"
"Daddy enggak cari alasan.. yang tadi memang Daddy cium baby.. tapi kalau yang ini.. Deddy cium Momy.."
"Sayaaang... boleh akuuu.."
Nindy masih menggigit bibir bawahnya kemudian menganggukan kepalanya.
Yoga tersenyum bahagia.. menyatukan perlahan tubuhnya, memberikan getaran yang membuat Nindy kembali merasakan puncak gairahnya terpenuhi.
.
.
.
Entah berapa lama mereka tertidur saling berpelukan, namun yang pasti, Nindy dan Yoga terbangun justru karena ketukan dipintu kamar mereka.
Mama membangunkan Nindy dan Yoga untuk mengingatkan bahwa saatnya makan malam.
"Iyaaa mah.. sebentar kami menyusul"
Jawab Nindy.
Yoga meminta Nindy yang terlebih dulu membersihkan diri, setelahnya baru Yoga.
Papa, Mama dan Papa Iwan sudah menyantap makan malam mereka ketika Yoga dan Nindy datang bergabung.
"Mama.. maaf.. Nindy jadi enggak bantuin mama menyiapkan ini semua.."
Ucap Nindy
"Mama juga sudah dibantu sama bibi kok nak.. lagi pula .. mana Mama berani ganggu yang lagi melepas rindu.."
Jawab Mama disambut tawa papa dan papa Iwan, sementara Yoga dan Nindy menjadi tersipu malu.
\=\=\=\=
Selesai makan malam, mereka semua masih bercengkrama dimeja makan sambil menikmati Pudding green tea yang tadi pagi dibuat Nindy.
Ada yang terasa aneh.. hingga malam sehabis makan tadi, Yoga tidak melihat istrinya mual dan muntah-muntah.
Hal yang selalu dikhawatirkan Yoga.
Tapi itu juga jadi membuat hatinya lega. Yoga berharap, masa mual-mual istrinya telah berlalu.
"A..."
"Ya sayang.."
"Nindy mau sukun goreng yang panas.."
"Sukun ? Sukun itu apa sayang ?"
Mama, Papa dan Papa Iwan tertawa mendengar jawaban Yoga.