
6 bulan penyesuaian didampingi oleh Bunda dan Ayah dinegara orang, sedikit banyak membantu aku melewati konflik emosional. karena selama penyesuaian ini aku benar-benar tidak ada waktu untuk sekedar menelpon Tita. Semua tenagaku sudah habis dengan semua materi bimbingan dan perkuliahan.
Pada akhirnya aku sudah bisa memetakan materi, tugas, jadwal bimbingan juga kuliah, sehingga alur kepadatan yang kemarin terasa tidak terkendali akhirnya mereda.
Dan dini hari ini aku niatkan untuk menghubungi Tita. Pada deringan ke 4, panggilannya baru diangkat oleh Tita.
"Hi!" Suara Tita merdu menyapa. Hati Abimanyu terasa seperti genderang perang yang saling menabuh memberi reaksi pada seluruh tubuhnya.
"Hi.. maaf, aku baru bisa menghubungimu. Lagi dikampus?" sapa Abimanyu.
"Iya.. baru aja selesai kelas tadi, kamu sehat Bi?" tanya Tita
"Sehat nggak sehat" jawab Abi.
"Kok gitu?" balas Tita.
"Iyalah.. sehat fisiknya, hatinya enggak, soalnya mikirin kamu terus!" Jawab Abi.
"Hahhaa beneran? boong Kaliii" canda Tita.
"Beneranlah.. takut kamu cape nungguin aku!" ungkap Abimanyu
"Takut aku cape nungguin.. atau karena ada yang cantik disana.." goda Tita lagi yang harap-harap cemas dengan jawaban Abimanyu.
"Disini yang cantik banyak, sexy sexy lagi.. tapi yang bisa menggetarkan hatiku cuma kamu.." jawab Abimanyu.
"Haaaii... disana sudah pandai merayu malah yaa... Bapak itu belajar sastra atau Manajemen Bisnis sih disana?" canda Tita sudah dengan pipi yang bersemu merah karena perkataan Abimanyu.
"Hahhaaaa begini ini jadinya kalau seseorang jauh dari pacarnya, denger suara orang yang dicintainya aja sudah bikin dia mabuk" jawab Tita.
"Hahhaaaaa mabuk cinta.." balas Tita.
"Mabuk rindu .. rindu sama kamu" kata Abi lagi dengan suara yang menjadi sangat serius. "Aku cinta kamu Tita" ucapnya lagi.
Betapa Bahagia Tita mendengarkan kata-kata itu, 6 bulan yang menyiksa, terguyur dengan indahnya kata-kata Abi yang baru saja didengarnya.
"Tita juga cinta kamu Bi.." Balas Tita. "Tita juga rindu sama kamu.." lanjutnya, tiba-tiba airmatanya terbebas meluncur dari kedua matanya. Tita benar-benar sangat merindukan Abimanyu. Suara dan telpon Abi lah yang selama ini dia tunggu-tunggu. Sudah berbagai macam cara yang Tita lakukan untuk mengalihkan perhatiannya dari memikirkan Abimanyu.
"Jangan nangis Ta.. aku akan merasa sangat berat setelahnya.." ucap Abimanyu demi mendengar suara Tita yang sudah bergetar.
"Aku menangis karena bahagia Bi.. kangenku sama kamu selama 6 bulan ini akhirnya terbalaskan.. lebih berat ngangenin kamu daripada mata kuliah epidemologi!" balas Tita lagi sambil mencoba bergurau agar Abi tidak risau.
"Hahhhaaaaa apa itu Epidemologi Bu dokter..?"
"Enggak usah dibahas, bahas aja tentang kita!"
"Hahhaaaaa... semoga kamu bisa mengalahkan si epidemologi itu sayang!" huuufff Abimanyu terdiam sendiri dengan kata "sayang" yang bisa meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Aku suka.. panggilan barumu untukku. Sekali lagi Bi.." ucap Tita demi mendengar Abi terdiam dan tidak meneruskan lagi kata-katanya.
"Sekali lagi!" pinta Tita, karena dia sangat ingin merekam Abimanyu ketika mengucapkannya.
"Sayang.." Suara Abimanyu merdu. Keduanya tersenyum bahagia dari kejauhan. Membayangkan mereka berdekatan dan saling mengucapkan "sayang.."
"Kamu masih ada kuliah setelah ini ... non?" tanya Abimanyu.
"Ada.. " jawab Tita.
"Dan aku sudah membuat kamu melewati jam makan siang dari jam seharusnya, makan dulu yaa sebelum masuk kelas. Secepatnya aku pasti menghubungi kamu lagi."
"Apa kamu sudah harus mengakhiri telponmu sayang?" suara Tita menjadi risau.
Abi tersenyum juga ketika Tita memanggilnya dengan sebutan yang sama "Sayang"
"Karena kamu masih ada kuliah setelah ini, sementara kamu belum makan siang. Aku nggak mau kamu sakit. Aku janji, dalam waktu dekat aku pasti akan menghubungi kamu lagi. Ok?"
"Baiklah.. kamu juga disana baik-baik yaa.. jaga hatimu.. I love you Bi.."
"I love you too.. tunggu aku yaa.. Ta.." Beberapa saat kemudian keduanya menutup panggilan secara bersamaan, setelah mereka tidak mau jika salah satu dari mereka yang terlebih dulu mengakhiri panggilannya. Klik...
.
.
.
.
.
.
.
.
Membuat mimpiku menjadi kenyataan
Ternyata tak seberat berada jauh darimu Gadis..
Tekadku masih kuat..
Tetaplah terus menunggu aku kembali.
(Berjuang_Abimanyu)