
Sudah dua hari sejak Annisa tidak kembali. Kei Langkat bahkan berkata bahwa dua hari didunia manusia, itu berarti baru 1 hari saja didunia Jin.
Kei Langkat pun berkata dia sudah melihat keberadaan dokter Annisa dikota tak kasat mata itu. Namun dirinya tidak bisa membawa serta dokter Annisa pulang, karena Annisa masih dibutuhkan sebagai penyembuh disana. Kei Langkat berharap, isyarat yang dia berikan kepada dokter Annisa, agar tidak makan atau pun minum dikota itu ditangkap dengan baik oleh dokter Annisa. Jika tidak .. maka selamanya dokter Annisa akan terjebak didunia Jin itu.
Perkataan Kei Langkat bahwa selalu ada dua jin laki-laki disamping Annisa yang ketampannya memabukan dan kegagahannya bisa membuat dokter Annisa melupakan dunianya yang sebenarnya, membuat hati Abimanyu tidak bisa memejamkan matanya selama dua hari semenjak kehilangan dokter Annisa.
Berita tentang hilangnya dokter Annisa selain menggemparkan desa juga menggemparkan hati bunda dan ayah, bapak di Yogya juga mas Sapto sekeluarga.
Abimanyu hanya memohon pada semua keluarga agar mengarahkan Annisa untuk pulang dengan segala doa yang dipanjatkan siang dan malam. Bahkan setiap malam pengajian dari warga sekitar yang mengenal dokter Annisa, tak terkecuali anak-anak yang selalu disenangi oleh Annisa, ikut turut berdoa dan mengaji setiap malam dirumah Annisa.
Bunda juga mas Sapto melakukan hal yang sama untuk Annisa, setiap hari selalu digelar pengajian dan doa untuk mengarahkan Annisa untuk pulang.
Abimanyu menatap kembali di lautan yang terhampar didepannya. Hatinya terus berdoa untuk Annisa.
"Pulang ... sayang .. disana bukan rumahmu .." lirih suara Abimanyu berbisik pada lautan yang membentang didepannya. Ternyata ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh Abimanyu walaupun uangnya berlimpah. Dirinya seakan tidak berdaya ...
Pada ketenangan air laut dan hamparannya yang begitu luas .. Abimanyu hanya mampu menatapnya dalam kegundahan yang berkecamuk didalam hatinya. Berharap Perahu-perahu itu ada yang membawa kekasih hatinya kembali.
Semua ini seperti mimpi baginya, Abimanyu tidak pernah mengalami hal gaib seperti ini, sehingga batasan antara nyata, percaya dan tidak menjadi pergumulan dalam hatinya.
Abimanyu terus mencoba menghubungi Annisa lewat ponselnya, namun selalu saja dikatakan bahwa nomor yang ia tuju diluar jangkauan.
Kekhawatirannya akan keadaan Annisa, membuat Abimanyu putus asa.
.
.
.
.
.
Dihari ketiga kehilangan Annisa, Bunda dan ayah kini sudah bersama Abimanyu. Mendampingi putra satu-satunya itu yang sekarang dalam keadaan tidak menentu.
Berdua mereka memberi kekuatan juga semangat agar Abimanyu tetap mampu menyelesaikan proyek besar pekerjaannya, selama penantian akan kembalinya Annisa.
Semua harus tetap berjalan pada relnya bukan? agar sesuatu yang sudah dirintis dan dijalani akan mencapai tujuannya. Realistis ditengah kegalauan yang mencabik-cabik perasaan.
Kei Langkat berkata, ketulusan dan hati yang bersih pasti akan mengembalikan Annisa pada dunia yang seharusnya. Saat ini kekuatan doa yang akan menjaga Annisa.
Abimanyu memperhatikan gambar-gambar Annisa pada layar ponselnya. Memberi senyum .. bahwa tiada akan ada penyesalan pada segala yang sudah Ia dan Annisa lalui ... bahkan disaat terakhir Abimanyu mengantarkan sendiri Annisa menaiki perahu boat itu .. kata cintanya pun telah tersampaikan pada kekasihnya itu.
Ujung mata Abimanyu membasah ... Angin laut pun mulai tidak bersahabat. Febry berlari mendekat kearah Abimanyu.
.
.
.
.
.
.
"Pak Abi ... saatnya bapak istirahat, ini sudah hari ketujuh, Bapak bisa sangat sakit ... kasian bunda pak.. kekhawatirannya akan kesehatan bapak, seperti rasa khawatir Bapak pada ibu Annisa.." ucap Febry mengingatkan.
"Feb ... Nisa akan kembali bukan?" suara Abi lirih, membuat Febry yang mendengarkan menjadi kelu.
"Bapak harus percaya, bahwa wanita yang bapak cintai bukan wanita biasa ... Bu Annisa akan kembali pak ... pejuang itu akan kembali .." jawab Febry sambil mengajak Abimanyu untuk meninggalkan dermaga.
.
.
.
.
.
.
Aku begitu merindu ...
Hingga rasanya terlalu sakit didada ini ..