My Favorite CEO

My Favorite CEO
105. Sexy



"Aduuuuhhhh .... aku kayaknya ketinggalan momen niih ... kok ada peluk pelukan segala.. ada apa ini?" Seru Tita yang dengan penampilan memukau karena keseksiannya sepagi itu telah memecahkan suasana.


Abi yang sedang bermain bersama putra sahabatnya melemparkan pandangan pada Tita, kemudian beralih pada ketiga wanita disampingnya.


"Haaaaii Bi, sudah mau jadi ayah yaa... kok periksanya bukan dirumah sakit tempat aku dinas sih? itukan rumah sakit kamu juga!" sapa Tita mendekat kearah teman-temannya yang beberapa menit lalu sedang saling berpelukan.


Kemudian Tita menyalami dan cipika cipiki.


"Minimal akukan bisa bantu kalian kalau dirumah sakit itu" ucap Tita lagi.


"Justru sama ajakan berarti, mau dimana aja toh masih punya ayahku rumah sakitnya!" jawab Abimanyu acuh.


"Iyaaa ... iyaa .. anak Sultan sih bebas..!" balas Tita. Selang beberapa menit, Axal sudah keluar dari ruang pemotretan bersama sepasang kekasih yang sepertinya terlihat dari dandanan wanitanya, mereka baru saja pemotretan prewedding.


"Ayooo Bi! Nis! giliran kalian!" teriak Axsal meminta Abi dan Nisa masuk kedalam ruang pemotretan.


Tyas mengambil putranya dari gendongan Abimanyu, Handa membantu Annisa untuk berdiri dari duduknya, kemudian Abimanyu membawa tas perlengkapan pemotretan mereka hari ini, sambil menggenggam jemari Annisa dan membimbing istrinya masuk kedalam ruang pemotretan.


Ketika keduanya baru saja masuk, beberapa sahabat Abi juga sudah tiba di galery Axsal. Akhirnya mereka semua berbincang-bincang sambil menunggu Abi dan Nisa selesai pemotretan.


"Ta, loe tiap hari kayak gini?" tanya Bima keheranan dengan perubahan penampilan Tita.


"Iyaa.. kenapa emangnya?" jawab Tita sekenanya sambil mencubiti pipi putra Tyas dengan gemas.


"Loe nggak takut salah satu pasien loe bisa aja melecehkan loe Ta! kalau dandanan loe kayak gini!" balas Bima lagi.


"Pasien gue enggak kayak loe Bim! pasien gue orang elit semua dirumah sakit itu! enggak otak ngeres kayak otak loe! jawab Tita keki sekaligus jengkel dengan pernyataan Bima.


"Speechless gue sama perubahan loe sekarang Ta, pergaulan bisa membuat orang berubah sih yaa... tergantung teman kayak gimana yang dijadikan teman!" balas Bima lagi.


"Kenapa siih Bim... pakaian gue kayak gini bukan berarti gue juga gampangan kali Bim! banyak yang penampilannya kayak perempuan baik-baik versi otak loe! enggak tahunya hamdun diluar pernikahan! Balas Tita masih sengit.


"Sudah .. sudah .. Kitakan baru ini ketemu dan kumpul lagi setelah acara pernikahan Abi! jangan dibuat ribut! nggak enak! enggak sepenuhnya Bima salah mengingatkan kamu, dan juga enggak sepenuhnya Tita salah karena sudut pandang orang pasti berbeda-beda! yang penting kamu bisa pandai-pandai bawa diri Ta!" ucap Tyas melerai keduanya. Hana yang memang sejak awal tidak menyukai Tita sudah tidak ambil perduli sedari tadi.


Beberapa tamu galery yang mulai berdatangan, mencuri pandang kearah Tita, tidak sedikit seperti menunjukan tatapan tidak sopannya, malah membuat teman-teman Tita menjadi risih, hingga mereka meninggalkan Tita satu persatu kelantai atas tempat Abimanyu biasa melakukan pengeditan hasil jepretannya.


Selesai pemotretan.


"Xal, Annisa harus istirahat. Loe sama anak-anak kerumah orang tua gue aja ya! kita kumpulnya disana aja, anak loe sama anak Daffa juga jadi bisa sambil berenang. kalau bisa Tita nggak usah tahu. Makin aneh aja tu anak kelihatannya!" ucap Abimanyu mendekati Axsal usai pemotretan, sementara Annisa sedang berganti pakaian.


"Ok, entar gue sama anak-anak nyusul! tenang aja!" jawab Axsal.


"Nanti gue siapin barbequean aja kita ditaman. Jadi Annisa juga bisa sambil istirahat. Bayi gue dua bro ..! kasian Annisa!" ucap Abimanyu lagi.


"Ok! tenang aja! sekarang loe balik aja duluan ok!" jawab Axsal.


"Thanks..ya bro!" balas Abimanyu.


.


.


.


.


.


Didalam mobil.


"Mas enggak jadi ngumpul-ngumpulnya?" tanya Annisa sambil memperhatikan suaminya dibalik stir mobil.


"Aku minta mereka pada kumpul dirumah bunda sama ayah saja, biar kamu bisa sekalian istirahat. Aku lihat kakimu sudah agak bengkak sayang. Cape sepertinya kamu tadi pas pemotretan" jawab Abimanyu sambil tangan yang satunya membelai kepala istrinya.


"Tanya aja! Aku pasti jawab dengan sangat jujur sejujur jujurnya..!" jawab Abimanyu sambil mencoba bergurau dengan menggunakan irama sebuah lagu menjawabnya. Annisa tersenyum


"Hati mas Abi berdesir nggak lihat penampilan Tita tadi?" pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan, akhirnya lolos juga dari bibirnya.


"Ini jujur yaa.. beneran enggak dibuat-buat. Aku sudah biasa aja sayang lihat Tita itu, walau dengan pakaian seperti tadi. Dulu sekolah diluar, pemandangan lebih dari itu juga banyak! tapi beda kalau lihat kamu ... pakai daster pendek aja bikin hatiku deg degan nggak karuan!" jawab Abimanyu sambil sesekali memainkan jemarinya diatas perut besar istrinya. Annisa dibuat tertawa dengan jawaban Abimanyu.


"Beneran .... itu aku jujur loh!" ucap Abimanyu lagi sambil mengusap kepala Annisa.


"Iyaaa... percaya kok!" jawab Annisa sambil tersenyum. Entah kenapa hatinya juga menjadi tenang.


Bagaimanapun setiap kali pertemuan dengan Tita, membawa gelombang aneh tersendiri didalam hati Annisa. Selain karena dengan terang-terangan Tita sepertinya menunjukan bahwa dirinya masih tertarik dengan Abimanyu, tapi juga karena penampilan Tita yang sexy dan elegan itu membuat Annisa tidak percaya diri.


Namun jawaban Abimanyu tadi benar-benar membuat Annisa sedikit tenang. Dan ia berharap pertemuan selanjutnya dengan Tita, tidak lagi membuat dirinya rendah diri.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba dirumah bunda dan ayah, Abimanyu memarkirkan kendaraannya tepat dilobby pintu rumah, lalu supir yang sudah bersiap membukakan pintu untuk Annisa mengambil alih kendaraan untuk diparkirkan ditempat seharusnya.


Abi membantu Annisa perlahan memasuki rumah.


"Sudah selesai fotonya nak?" tanya bunda yang menyapa Abi dan Annisa.


"Sudah Bun, Nisa biar istirahat kakinya agak bengkak Bun" jawab Abimanyu, bunda juga membantu menantunya untuk beristirahat dikamar. Annisa didudukan dipinggir tempat tidur.


"Coba Bunda lihat kakinya nak" ucap bunda sambil menundukan pandangannya melihat kearah kaki Annisa.


"Iyaa .. agak bengkak, dinaikkan nanti sedikit kaki Nisa pakai bantal Bi, biarkan Annisa istirahat dulu setelahnya" ucap Bunda sambil menekan daerah kaki Nisa agar mengetahui seberapa bengkaknya.


"Ganti dulu bajumu yaa nak, pakai yang nyaman. Bunda tinggal ya, bunda akan buatkan sesuatu yang baik buat kamu dan twins" ucap bunda lagi sambil membelai kepala Annisa.


"Terima kasih yaa Bun ..." jawab Annisa dan Abimanyu bersamaan.


Abimanyu menuju lemari pakaian mereka, lalu mengambil pakaian yang longgar dan nyaman untuk dikenakan Annisa beristirahat. Ia membantu Annisa melepaskan pakaiannya.


Namun tiba-tiba Abi mengambil tangan Annisa dan meletakan telapaknya didada Abimanyu.


"Perhatikan! benarkan ... jantungku ini bergemuruh kalau itu .. kamu.." ucap Abimanyu sambil menatap pada bibir istrinya yang terbuka. Kemudian karena gairahnya, bibir itu langsung dilumat Abimanyu, Ia membaringkan Annisa pada posisi yang nyaman untuk istrinya.


"Aku akan perlahan ... katakan kalau aku menyakitimu .." bisik Abimanyu ditelinga Annisa.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih yang masih setia menunggu MFC up, mohon maaf yaa atas keterlambatannya🙏🙏 jangan lupa like dan komennya yaa terima kasih 🙏🙏