
Karena juga terlalu lelah, dini hari itu Annisa kembali tertidur dalam pelukan hangat Abimanyu. Setelah ia mendengar Abimanyu berjanji tidak akan memiliki wanita lain selain dirinya. Cintanya itu juga berjanji demi anak-anak mereka, ia tidak akan melakukan hal-hal yang akan mengecewakan.
Setelah mendengar janji Abimanyu, Annisa pun terlelap dalam pelukan suaminya, ketenangan itu selalu mereka peroleh disaat bisa saling memeluk seperti ini.
Abi yang begitu marah akan tindakan Tita, sudah menyusun rencana lain agar perempuan itu benar-benar berhenti mengganggu kehidupan rumah tangganya. Sepertinya dia harus membatalkan kepulangannya dulu ke Kalimantan, agar hatinya juga tenang meninggalkan Annisa dan twins.
.
.
.
.
.
.
Abimanyu menjaga kedua malaikat kecilnya ketika mereka terbangun bersamaan. Annisa masih terlelap, sepertinya Ia sangat kelelahan setelah dini hari tadi terus menangis.
Setelah Abimanyu memberikan belaian tangannya yang kokoh diatas dada Basmah, putrinya itu kembali tertidur diatas selimut lembut dan tebal hasil sulaman istrinya. Ia memperhatikan putrinya dengan kelembutan seorang ayah yang masih belum tenang karena keadaan katub Basmah masih belum tertutup sempurna. Rama yang berada ditangan kanannya masih terbangun. Namun keduanya sudah tenang kembali.
"Bapak berjanji, akan membahagiakan kalian juga ibu ..." ucap Abimanyu sambil mencium pipi anak-anaknya dengan lembut.
Diluar bunda sudah mengetuk pintu kamar
"Abi ... Nisa .. izinkan bunda masuk ya, bunda mau memandikan twins!" sahut bunda Nindy dari luar kamar.
Abimanyu yang mendengar suara bundanya, bangun dari duduknya menggendong Rama kemudian membuka pintu kamar.
"Pelan-pelan Bun, Nisa baru bisa tidur dini hari tadi" ucap Abimanyu berbisik.
"Oo iyaa.. Basmah mana?" balas bunda, ketika yang dalam gendongan Abi hanya Rama, sambil melangkah kedalam kamar. Belum lagi pertanyaannya dijawab Abimanyu, bunda sudah bicara lagi
"Yaaa ampuun cucu Enin kenapa bobo dibawah begini...!" ucap Nindy sambil menahan intonasi suaranya, lalu menggendong Basmah dalam dekapannya. Basmah diletakan kembali dibox bayinya.
"Sini .. biar Rama dulu yaa yang Nin mandiin.. karena kakak yang bangun.. yuu sayang.." ucap Bunda sambil memindahkan Rama ke dalam gendongannya.
"Kamu sarapan dulu gih, ada ayah tuh dimeja makan! batal lagi kamu ke Kalimantannya?" tanya bunda.
"Iyaa Bun, ada yang mesti diselesaikan disini dulu, biar tenang" jawab Abimanyu perlahan ikut keluar dari kamarnya, sementara bunda memandikan putranya, Abimanyu menemani ayahnya sarapan pagi.
Ayah banyak membahas masalah perkembangan bisnis yang digeluti Abimanyu di Kalimantan, bahkan berita mengenai keberadaan perusahaan putranya itu menjadi salah satu bisnis yang dilirik banyak investor dan dibicarakan oleh relasi-relasinya.
Perbincangan mereka terhenti sesaat ketika handphone Abimanyu berdering.
Febry mengabarkan lewat panggilan telponnya bahwa sore ini kedua orang tua Tita bersedia bertemu dengan Abimanyu.
Ya, dia akan benar-benar menyelesaikan semuanya. Hal yang berlarut-larut ini akan membawa keburukan untuk Annisa, dan itu tidak bisa ia biarkan begitu saja.
.
.
.
.
.
.
"Mas ... Mas .. Abi !" teriak Annisa.
Abimanyu dan seluruh isi rumah yang kaget mendengar teriakan Annisa langsung menanggapi teriakan itu dengan berlari Abimanyu kearah datangnya suara Annisa.
"Iya .. sayang .. iyaa .. aku disini!" balas Abimanyu yang langsung membelai kepala Annisa.
Bunda yang ada dikamar sebelah ikut keluar dengan tergesa-gesa.
"Ada apa .... sayang?" tanya Bunda sambil menggendong Rama yang sudah wangi dan menggemaskan.
"Iiiihhkkk ... kirain mas Abi pergi nggak pamit-pamit Nisa lagi... iiiiihhkk" tanpa disadari Annisa sudah menangis.
Abimanyu mencium pelipis wajah istrinya
"Enggak mungkinlah mas pergi enggak pamit kamu .. sayang ... jangan nangis lagi yaa, mata kamu sudah bengkak itu" ucap Abimanyu menenangkan Annisa.
"Ada apa Bi? Nisa nggak mungkin kayak gini nggak ada sebab! dia nggak cengengan orangnya!" tanya bunda sudah menaruh curiga.
"Ayah juga sampai kaget! ayah kira Basmah! ada apa Bi?!" tanya ayah juga menuntut penjelasan.
"Itu Yah ... Bun ... tengah malam, Tita ngirim beberapa foto enggak pantas ke handphone Abi! Nisa kebetulan yang lihat dulu foto-foto itu!" jawab Abimanyu sambil masih mengusap-ngusap bahu Annisa yang masih menangis.
"Kok bisa dia masih ngehubungin kamu?!" tanya Bunda tanpa sadar, karena sebelumnya ketika itu bundalah yang menghapus berpuluh2 panggilan dan pesan Tita di handphone Abimanyu, kemudian memblokir nomor Tita dihandphone putranya.
"Dia pakai nomor baru Bun.." jawab Abimanyu, menyadari apa yang dilakukan oleh Bunda. Tapi dia sangat bersyukur Bunda melakukan itu, kalau tidak, semalam Tita pasti akan mengirim foto-foto itu menggunakan nomor pribadinya dan Nisa akan menyadari bahwa dia belum menghapus nomor Tita di kontaknya.
Dan itu akan membuat berantakan semuanya! karena terus terang Abi sampai lupa masih memiliki nomor Tita dihandphonenya.
"Tita sudah terobsesi sama kamu itu Bi! selesaikan sampai tuntas! jangan kamu tunda lagi, perempuan gendeng!" ucap ayah kemudian sambil mengambil Basmah dari gendongan Annisa.
"Iya .. yah, tadi Febry ngabarin, orang tua Tita mau menemui Abi sore ini" jawab Abimanyu sambil merengkuh Annisa kedalam pelukannya.
"Jangan nangis lagi .. sayang ... maafin mas ya?" ucap Abimanyu masih menenangkan Annisa yang berada didadanya. Kemudian berulang kali Abi mencium pangkal kepala istri tersayangnya itu.
"Kamu yang tenang yaa sayang ... Abi akan menyelesaikannya, cup .. cupp.. jangan nangis lagi yaa.. kasian anak-anakmu ... kalau ibunya sedih begini, mereka bisa ikutan rewel" ucap Bunda sambil mengusap punggung menantu kesayangannya itu.
Annisa mengangguk dalam pelukan Abi.
"Yuuu.. minum dulu yuu ... Bi, bawa Annisa keruang tengah" ucap Bunda lagi.
Lalu Abi membawa Annisa keruang tengah, Abi masih mengusap airmata Annisa sambil memandang wajah ayu istrinya, membuat hatinya getir. Dan begitu besar kekesalan dan kemarahannya pada Tita.
Bunda menitipkan Rama pada Bibi, beliau membuatkan sendiri susu hangat untuk Annisa. Bibi mengekor dibelakang bunda ketika susu hangat itu bunda berikan ditangan Abimanyu.
"Minumkan pada istrimu Bi, seorang ibu yang sedang menyusui itu sangat butuh dukungan dan kebahagiaan dari sekitarnya, agar produksi ASInya tidak terganggu dan tetap berkualitas, jadi jangan membuat istrimu menangis lagi yaa nak.." ucap Bunda lagi.
"Iya .." jawab Abimanyu getir, kemudian perlahan-lahan membantu Annisa agar istrinya itu meminum susu yang sudah dibuatkan oleh bundanya.
"Nisa juga harus percaya saya Abi yaa nak, jangan ada persoalan yang disimpan dalam hati. tanyakan baik-baik dan sopan pada suami sehingga persoalannya bisa kalian fahami dan pecahkan bersama.
"Iya Bun .." jawab Annisa kemudian memeluk mertua rasa ibu kandung sendiri itu. Bunda mengecup kening Annisa dan membelai kepalanya.
"Abi itu sangat mencintaimu sayang .." ucap bunda lagi sambil menatap wajah Annisa penuh rasa sayang.
Hati Abi menjadi begitu getir, cemas atas rasa yang akhirnya tertinggal dihati Annisa.