
" Stooop om ! stooop !!!! om membuat saya Jijik !! "
Teriak Nena. Teriakan itu sampai terdengar ke dapur, terdengar jelas oleh Yoga dan Nindy.
" orang yang paling menjijikan disini itu kamu!! "
Balas Papa
" Perempuan yang masih saja mengejar-ngejar putra saya yang sudah punya calon istri!! "
" Saya dari tadi mencoba terus bersikap sopan menghormati anda ! tapi anda memang perempuan sundel!! keluar kamu dari rumah saya !!"
" Saya yang jijik melihat anda ! keluar !!"
Yoga dan Nindy dengan langkah terburu-buru kembali menuju ruang tamu demi mendengar suara kemarahan papa.
Sesampainya mereka diruang tamu, Yoga dan Nindy melihat papa sedang menarik tangan Nena menuju pintu keluar rumah.
Dasar perempuan tidak tau malu, demi melihat Yoga sudah ada di ruangan itu, Nena berteriak - teriak minta tolong kepada Yoga.
Begitu pintu rumah dibuka Papa, dua orang laki-laki suruhan Pak Bachtiar sudah masuk ke halaman rumah.
Tadi sewaktu Yoga melihat mobil Nena terparkir dihalaman rumahnya, Yoga langsung menghubungi Pak Bachtiar. Dan beliau mengatakan akan mengutus anak buahnya untuk menjemput pulang Nena.
Dan sepertinya kedua laki-laki itu sudah mengerti harus berbuat apa kepada Nena.
Sehingga ketika Papa melepaskan Nena, mereka sudah langsung bisa menangani sikap Nena yang meronta-ronta minta dilepaskan sambil terus menendang-nendangkan kakinya.
Nindy memegang tangan papa dan membawa papa masuk segera kedalam rumah lagi.
Sementara Yoga masih berdiri didepan rumahnya memperhatikan segala pergerakan yang terjadi antara Nena dan kedua orang utusan ayahnya.
Salah satu dari mereka kemudian menghampiri Yoga lagi.
" Ada pesan dari Pak Bachtiar, Pa "
" Ya ? ". jawab Yoga
" Pak Bachtiar memohon maaf sekali lagi untuk perilaku putrinya yang membuat Bapak dan keluarga tidak nyaman."
" saya terima permohonan maaf pak Bachtiar, tolong sampaikan pesan saya pada beliau, sepertinya kalian harus segera menolong Nena, Jiwanya sedang tertekan, jangan sampai diabaikan, bawa segera Nena ke Psikiater. "
" Baik pak, akan coba kami sampaikan nanti. kami pamit pak. "
Lalu laki-laki itu mengulurkan tangan dan menjabat tangan Yoga.
Setelah meyakini Nena dan kedua orang utusan pak Bachtiar sudah meninggalkan rumahnya, Yoga masuk kembali kedalam rumahnya.
Ia melihat Nindy sedang memberi papa minum untuk menenangkan.
Yoga menghampiri ayahnya.
" Papa bersyukur menjodohkan kalian berdua, kalau tidak !! perempuan sundel itu bisa-bisa yang jadi menantuku !!"
ucap papa
" papa.. sudah.. nanti jantung papa berdebar-debar lagi.. "
sela Nindy menenangkan calon mertuanya
Yoga hanya bisa terdiam sambil mengusap-ngusap punggung papanya.
Papa dan mas Yoga mandi dulu ya.. bersih-bersih, setelah itu kita makan malam yaa..
" Nin.. buatkan papa masakan yang berkuah-kuah hangat yaa sayang.. rasanya setelah kejadian tadi agak kurang enak perut papa"
" apa saja yang kamu buat, aa pasti makan"
" aaahhh.. dia cuma ambil hati kamu tuh Nin.."
balas papa sambil berlalu menuju kamarnya, disusul dengan Yoga.
Dan Nindy kembali menuju dapur, menyiapkan makan malam yang tertunda karena Nena.
Nindy menyiapkan sup ayam kampung dengan bumbu rempah-rempah dan jahe yang dapat menenangkan perut calon mertuanya.
Sup ini biasa mama buatkan pada saat Nindy dulu suka tidak enak perut dan pinggangnya kalau sedang datang bulan.
Walau sedikit pedas terasa dilidah dari jahenya, tetapi ketika sampai diperut, itu sangat menghangatkan dan membuat nyeri diperut dan pegal dipinggangnya hilang.
Nindy berharap, papa Iwan akan merasakan nyaman pada perutnya ketika menyantap sup buatannya itu.
Malam itu tak banyak yang disiapkan Nindy, ia takut malah membuat perut papa Iwan bertambah tidak enak jika harus menyantap beberapa menu.
Dan tak lupa Nindy membuatkan jus pepaya dicampur Yogurt sebagai prebiotik didalam usus, sangat baik untuk mendorong keluar seluruh kuman dan kotoran didalam tubuh.
Setelah semua siap disajikan, yang turun terlebih dulu menemui Nindy diruang makan adalah Yoga.
" mmm harumnya sangat rempah - rempah sayang"
ucap Yoga sambil merengkuh bahu Nindy dan menciumnya sekilas di pipi.
" iya..itu aroma dari supnya a"
" aku panggil papa kalau gitu ya, biar masih hangat dimakannya "
" nggak usah nak, papa sudah disini"
" Yoga kira papa masih agak lama di kamar, ayo pah.. duduk disini"
Jawab Yoga sambil menarik salah satu bangku untuk papanya duduk.
Nindy menuangkan sup ayam kampungnya dimangkuk-mangkuk kecil untuk papa Iwan, Yoga dan untuk dirinya sendiri.
" Pelan-pelan ya pah.. masih panas"
Kata Nindy.
" Papa jadi teringat mamanya Yoga kalau lihat kamu Nin... pandai memasak, pandai membawa diri, padahal kamu juga berpendidikan tinggi, mama dan papamu sangat baik dalam mendidikmu nak"
" Alhamdulillah.. terima kasih papa pujiannya. Nindy jadi ingiiin sekali dengar cerita tentang mama... "
" setelah kita makan.. papa akan cerita tentang mamanya Yoga"
Nindy tersenyum, melihat kearah Yoga yang saat ini sedang menggenggam jemarinya.
" aa gimana makannya kalau tangan aa seperti ini?"
Yoga tersenyum memamerkan giginya yang putih, sambil melepas genggaman tangannya, papa geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah anaknya.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa beri like kalian untuk menyemangati aku yaaa terima kasih
Apapun yang kau sentuh untukku
Menjadi Cinta yang luar biasa