My Favorite CEO

My Favorite CEO
Sahabat



Waktu sudah menunjukan pukul 14.00 ketika Yoga dan Nindy mengajak Lita dan Pipit bicara.


Kali ini pembicaraan mereka mengenai keberlangsungan dan tanggung jawab cafe dan EO ketika Nindy sudah menjadi istri Yoga dan harus menemani Yoga di Jakarta nanti.


Pembicaraan itu melibatkan perasaan ketiganya.. hingga tak dapat dipungkiri rasa sayang, kebersamaan dan juga rasa kehilangan seakan bercampur aduk dalam hati mereka.


Pembicaraan yang tadinya melibatkan keprofesionalan mereka, akhirnya berakhir dengan pelukan dan tangis mereka bertiga


" Kalian harus tetap ngehubungin aku yaa.. apapun persoalannya atau hanya sekedar untuk tau kabarku." kata Nindy kepada Lita dan Pipit


" Kamu juga... telpon kami kalau waktumu senggang yaa.. dan sering-seringlah pulang Nin.." tangis Lita.


Dan mereka berpelukan lagi bertiga.


" Tinggalkan semua resep masakanmu disini..jangan dibawa.. aku bisa mengacaukan semuanya tanpa resepmu" Isak Pipit


Yoga memperhatikan .. dan terharu dengan persahabatan ketiganya.


Dihatinya juga terasa ada yang sakit...


Melepaskan sebagian mimpimu adalah berarti melepaskan jiwamu.. melepaskan apa yang kau cintai..


Aku sungguh sebenarnya sudah menyakitinya..


Tapi karena kebesaran hatinya.. Nindy tetap memilih untuk meninggalkan mimpinya.


Setelah ketiganya selesai berangkulan dan akhirnya mereka saling tersenyum dan menyemangati satu sama lainnya.


Yoga menghampiri Nindy.. memeluknya dengan cinta. Membiarkan bibirnya berlama-lama tetap dikening gadis itu.


Dihatinya berjanji.. ia akan membahagiakan Nindy hingga rasa kehilangannya hari ini terhapuskan.


Nindy tak bisa menyembunyikan kesedihannya, dada Yoga begitu pas untuk dia diami lama-lama .. mencurahkan segala kehilangannya..


Lita dan Pipit turut menangis lagi...


Sambil masih memeluk Nindy Yoga berkata


" Kuserahkan acara resepsi kami disini kalian yang mengurusnya yaa.. buatlah seindah mungkin seperti indahnya persahabatan kalian "


" iya.. kami akan mempersiapkannya sesempurna kalau Nindy yang mengurus." jawab Pipit


"Jaga dan sayangi sahabat kami setelus hatimu Ga... kamu benar-benar beruntung mendapatkan Nindy" jawab Lita


" Tentu saja.. " Jawab Yoga.


Masih dalam keadaan memeluk Nindy.


" I Love you " lembut suara Yoga ditelinga Nindy


" Masih sedih? emmmm..." tanya Yoga lembut


" Sedikit.." jawab Nindy.


" Masih ingin terus.. aku peluk seperti ini? "


" iyaaa... lakukan selalu hal ini, jika aku sedih dan marah yaa hon.. "


" Baiklah... sampai hatimu membaik "


\=\=\=\=\=


Beberapa saat kemudian, setelah Nindy dan Yoga berpamitan terlebih dulu kepada Lita dan Pipit, Mereka Keluar dari Cafe "SHE"


Menuju ke tempat Tante Emma, karena Yoga sangat menginginkan souvernirnya adalah taplak meja motif batik Tasikan.


Sesampainya dibutik Tante Emma, selain memesan souvenir, Yoga juga menginginkan kain yang akan dipakai olehnya dan Nindy diacara Akad dan Resepsi adalah buatan Batik Tulis dibutiknya Tante Emma.


Setelah merasa sudah puas dan sesuai dengan yang diinginkan, Tante Emma menyelesaikan administrasi pesanan Yoga dan Nindy.


Setelah Yoga membayarkan sejumlah pesanannya, Ia mengajak Nindy untuk pulang.


Sepanjang perjalanan pulang, Yoga menerima kabar dari Ferdy tentang semua laporan dan kejadian apa saja yang terjadi dikantor hari ini.


Termasuk mengabarkan beberapa meeting kedepan yang harus dihadiri oleh Yoga, tentu saja setelah diatur dan dijadwalkan Ferdy setelah Yoga kembali dari mempersiapkan pernikahannya di Tasik.


Sedikit banyak Nindy juga jadi turut mendengar dan mengetahui padatnya jadwal-jadwal Yoga ke depan nanti.


Dan dia sudah harus mulai belajar menyesuaikan semua itu.


\=\=\=\=


Pernikahan ..


Bukan hanya tentang aku..


Tapi juga tentang Dia


Yang keberadaannya


Menjadi Doa, Tanggungjawab dan Tempatku


Pulang..


( Yoga _ Menikahimu )