
"Maafin Tita .. Bi.." ucapnya memulai, ketika kendaraanku sudah melaju diatas aspal yang saat ini tiba-tiba saja menjadi hujan.
"Maaf? untuk hal apa Ta?" jawabku sambil sesekali melihat kearahnya, kulihat dari kaca spion mobil Axsal dan yang lainnya masih tertib mengikuti mobilku dari belakang.
"Untuk semua hal yang aku lakukan dan menyakiti hati kamu. Aku terlalu egois, ingin memilikimu sementara aku juga tidak bisa tidak tergantung pada Tristan. Aku harap kamu mau memaklumi dan memaafkan aku Bi.." jawab Tita mencoba memberikan penjelasan yang masuk akal untuk alasan perpisahan kami.
"Enggak usah dibahas Ta, hari itu..terakhir seharusnya kita bertemu, aku sudah tahu .. dan mengerti sebenarnya hati kecilmu lebih memilih pada siapa. Maka dari itu ucapan kata perpisahan hanya bisa aku katakan ditelpon. Sepertinya.. sebentar lagi kamu akan menikah?" ucapku demi melihat cincin dijari manis Tita.
"Cincin ini? Tristan baru saja memberikannya tadi. Karena dia tahu aku akan ketemu sama kamu. Dia hanya ingin aku ingat, bahwa aku miliknya!" terang Tita.
Aku sedikit heran dengan keadaan itu, sementara sejak lama sudah hubungannya dengan Tita berakhir, tapi kenapa hubungan mereka berdua juga tidak mengalami kemajuan apapun.
"Bi..."
"Ya.. Ta.."
"Kamu mau tahu ? kenapa aku dan Tristan seperti tidak ada kemajuan juga didalam hubungan kami?" tanya Tita seakan mengetahui benar dengan apa yang menjadi pertanyaan didalam hatiku.
"Itu urusan kalian, aku rasa aku tidak mempunyai hak untuk bertanya" jawabku.
"Tapi ini semua ada sangkut pautnya sama kamu Bi.."
Aku memandang sekilas kearah Tita, bingung dengan pernyataannya tadi.
"Why does it have to have anything to do with me? You have been free from me, for a long time Ta!"
"Karena sebelum kamu mengatakan langsung didepanku.. kalau kamu melepaskan aku Bi.. rasa bersalahku seperti selalu menghantui kebersamaan ku dengan Tristan .. Bi"
"Aku tahu dengan ini aku terlihat egois! tapi kamu benar-benar laki-laki yang sangat aku cintai Bi! bahkan saat ini sepertinya aku juga bisa saja meninggalkan Tristan demi bersamamu kembali!"
Aku tak menyangka dengan kata-kata yang terucap dari bibir gadis yang dulu pernah aku cintai itu.. bahkan mungkin perasaan itu masih mengakar didalam hati ini.
How could she do that to both of us
"Bi.. perasaanku pada Tristan waktu itu .. ternyata tidak lebih karena dia sering ada disaat-saat yang aku butuhkan, sementara kamu jauh. Tapi.. sekarang.. perasaan itu menjadi hilang dengan sendirinya.. perasaan bahwa aku takut kalau nggak ada Tristan disisiku! tapi .. aku malah lebih sering merindukan kamu Bi... menangisi apa yang sudah kuperbuat padamu.. menunggu kamu pulang dan berharap pertemuan seperti ini lagi bersamamu..."
Hatiku goyah.. sementara cintaku untuknya pun masih tak dapat aku hilangkan.
Aku menatap sekali lagi kearah Tita.. Mata itu .. seperti bicara kebenaran dengan apa yang dia katakan.
Nyanyian rindunya terdengar seperti udara sejuk yang kuhirup. Hatiku seakan berlagu karena dia merasakan apa yang juga aku rasakan.
Bagaimanapun kemurnian cinta kami ketika perasaan ini bermula memang benar adanya. Dan itu yang membuat aku dan dirinya tidak bisa saling melupakan.
Ketika kami sudah memasuki lobby salah satu hotel besar dibilangan Senayan, aku meminta semua mobil yang datang bersamaku sore itu di valet parking servicekan oleh petugas hotel.
Lalu salah satu petugas hotel menghampiriku
"Selamat sore mas Abi, bapak dan ibu, selamat datang.." sapanya ramah.
"Sore dik! ayoo kita langsung saja!" ucapku sambil merangkul bahunya membawa kami ke area tempat makan besar yang terdiri dari berbagai macam varian hidangan baik dari dalam dan luar negeri. Juga ada bagian khusus semua pencuci mulut, ice cream beraneka rasa belum lagi kue-kue lezat dalam porsi kecil-kecil dibentuk indah dan lucu.
"Waaaa.. ini bagian kesukaannya bumil Bi! aku mau semua ! boleh ?" tanya Mely ketika dilihatnya beraneka macam coklat dan kue-kue indah tadi.
"Sepuasnya Mel.. kita nggak akan buru-buru kan?" kataku yang disambut senyuman teman-teman.
Kami berada dimeja panjang yang sebagian berhadapan dengan rangkaian bunga mawar imitasi yang menempel pada ornamen lainnya yang membuat indah bagian itu untuk diambil gambarnya, dibawahnya tersaji berbagai jenis Sussy juga pastry-pastry yang memanjakan mata.
10 langkah dari tempat kami duduk sekarang diaebelah kirinya tersaji semua hidangan berjenis pasta, beberapa meter didepan kami disebelah kanan adalah hidangan laut juga beberapa hidangan dari Korea dan Arabian food.
"Silahkan.. kalian lihat-lihat, aku akan duduk disini" kataku mempersilahkan yang lain untuk memilih makanan yang mereka inginkan. Tak terkecuali Tita.
"Mas Abi mau saya sediakan menu pembuka terlebih dahulu seperti biasa?" ucap Diki yang memang selalu hadir dan melayani keluarga kami jika kami datang ke hotel ini. Dia adalah putra salah satu Security yang bertugas dirumah ayah. Dan itu juga atas rekomendasi ayah, Diki bisa bekerja di hotel terkenal ini.
"Iya Dik, seperti biasa .. terima kasih" jawabku.
"Menyesal.. sudah menyia-nyiakan dia Ta?" Tias menegur Tita.
"Dia dari dulu enggak pernah menyombongkan keberadaan keluarganya yang kaya raya! sekarang.. apakah kamu mulai mencintainya lagi?" suara Tias lebih terdengar menyindir. Tita tidak mampu berkata-kata.
Tias meninggalkan Tita dan memilih bergabung untuk menyantap beberapa hidangan yang sudah dia ambil.
Beberapa saat kemudian, ketika Tita juga akan bergabung kemeja mereka. Mata Abi terus menatap kearahnya, membuat Tita berbunga-bunga dan berharap lebih dari tatapan itu.
Dia tersenyum manis.. menyadari Abi masih menatap kearahnya. Abi membalas senyuman itu.
Beberapa teman mereka yang ada disitu melihat jelas, Abi belum sepenuhnya bisa melupakan Tita.
Mungkinkah perpisahan yang panjang, ternyata telah mampu menghapuskan segala sakit yang dulu kurasa?
Buktinya.. aku bahagia bisa menatap dan melihat senyumnya lagi.
Tita mengambil satu-satunya bangku yang masih kosong. Yang sepertinya memang sengaja dibiarkan kosong oleh teman-temannya. Satu bangku persis disamping kiri Abimanyu.
Sambil menikmati sajian yang sudah mereka ambil sendiri, obrolan mereka pun terus mengalir. Diki masih terus melayani Abimanyu. Dia sangat hafal dengan kesukaan anak majikan ayahnya itu. Dan setiap kali hidangan disajikan dimeja Abi, Abi selalu mengucapkan terima kasih pada Diki.
"Kamu mau diambilkan yang lain?" tanya Abi pada Tita, yang dilihatnya sudah menghentikan makannya sedari tadi. Berbeda dengan teman-temannya yang lain.
"Aku cukup dulu... tunggu sesaat, biar nanti bisa mencoba yang lain Bi.." jawab Tita lembut dan kesenangan karena diperhatikan oleh Abimanyu. Jantungnya berdebar-debar. Rasanya ingin merasakan kembali genggaman tangan Abimanyu seperti dulu. Genggaman tangan yang selalu membuat dia merasa dicintai dan termiliki.
Axsal sudah mulai dengan gombalan dan banyolannya membuat Tias tersipu-sipu dan yang lain jadi tertawa.
"Mau saya fotokan mas?" tawar Diki ketika aku mengeluarkan ponsel lagi.
"Please... thank You Dik!"
Lalu beberapa kali Diki mengambil gambar mereka dengan berbagai sudut yang berbeda. Dan menyerahkan kembali ponsel Abimanyu.
"Selanjutnya rencana loe gimana Bi? loe mau meneruskan usaha bokap loe disini?" tanya Aryo
"Enggak Yo, gue akan coba merintis usaha gue sendiri. Mungkin bulan depan gue juga sudah tinggal di Kalimantan" jawabku
"Kenapa mesti kesana Bi? disini bukannya juga kamu bisa merintis usaha kamu sendiri?" tanya Tita yang seakan tidak bisa percaya dengan pilihan Abimanyu dan seakan sudah membuat jarak bagi mereka untuk saling mendekat kembali.
"Usaha yang ingin aku rintis tidak bisa dikerjakan disini Ta" jawabku
Kulihat gadis itu menjadi berubah raut wajahnya. Entahlah..
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku sendiri masih hanya ingin menikmati pertemuan ini kembali. Berfikir jauh lebih dari itu..
belum bisa aku pastikan.