My Favorite CEO

My Favorite CEO
78. Hasrat



"Sebut namaku sayang ... katakan ..." ucap Annisa lagi ketika jemari Abimanyu memainkan bibirnya.


Abimanyu menarik nafasnya panjang namun kedua matanya tak lepas dari terus menatap mata Annisa.


Telapak tangannya kembali menyusuri pipi Annisa, mengusap bulir airmata yang menetes dari kedua mata gadis tercintanya.


Annisa mencium telapak tangan Abimanyu, sambil berkata


"Ini aku .. mas .. kamu enggak mimpi ... " Annisa pun mengusap pipi Abimanyu.


"Aku sayang kamu mas Abi ..." Kemudian Abimanyu bereaksi .. Ia mendudukan tubuhnya yang lunglai dibantu oleh Bunda dan Annisa.


Abimanyu menarik nafas panjang. Mencoba menggenggam jemari Annisa yang terduduk disampingnya.


"Akuuuu juga ... sayaang kamuu Nissa.." ucap Abimanyu, lalu Annisa merengkuh Abimanyu dalam pelukannya, bunda mengusap-ngusap punggung Abi penuh kelegaan.


"Maafin Nisa Mas..." ucap Annisa sambil menangis dalam pelukan Abi. Abi mengusap kepala Annisa penuh kerinduan yang tak terkira. Mencium dari samping pipi Annnisa.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Abimanyu dengan perasaan yang begitu lega, menyadari yang dipeluknya adalah Annisanya, calon istrinya, wanita yg membuatnya rindu dan gelisah.


"Alhamdulillah .. mas, aku baik-baik saja. Aku malah sedih lihat kamu kayak gini..." jawab Annisa masih menangis.


"Kamu ingat .. kalau kamu sudah berhari-hari tidak kembali?" tanya Abi lagi.


Annisa lalu melepaskan pelukannya, mengusap pipi Abimanyu dan menjawab,


"Itulah mas ... aku enggak merasa kalau sudah tidak kembali berhari-hari ... kalau Kei Langkat tidak menjemput dan kemudian disini tadi mengatakan apa yang terjadi, aku benar-benar merasa aku tidak kemana-mana selama ini .."


Abimanyu menarik nafas panjang, bagaimanapun Ia sekarang bahagia, calon istrinya sudah kembali dengan selamat tidak kekurangan suatu apapun.


"Aku suapin mas Abi ya ... mas Abi makan yaa .." ucap Annisa lagi sambil mencoba berdiri untuk mengambil makanan yang masih tersedia dimeja. Bunda membantu Annisa menyiapkan, lalu Ayah menghampiri Abimanyu dan memeluk putra kesayangannya.


"Setelah kamu pulih, sebaiknya kita segerakan saja pernikahan kamu dan Annisa. Ayah dan bunda tidak ingin kehilangan kamu juga Bi ... keadaan seperti ini membuat ayah dan bunda merasa apapun yang kita miliki jadi tidak ada artinya" ucap Ayah setelah melepaskan pelukannya dari Abi.


"Iyaa Yah .. Abi juga inginnya seperti itu .." jawab Abimanyu sambil menatap ayahnya.


"Biar semua yang mengatur kembali EO nya bunda, kamu percayakan saja .. ok" ucap ayah lagi sambil menepuk penuh kasih sayang pundak Abimanyu. Lalu Abimanyu menganggukan kepalanya.


Annisa sudah mendekat lagi kearah Abimanyu, lalu Ayah berdiri dari sisi Abimanyu, menghampiri Kei Langkat dan Febry, mereka diajak bicara keluar dari kamar oleh Ayah. Sementara Bunda juga mengajak bidan Aisyah dan Perawat Titi kerestoran penginapan terbaik dikota ini dan meninggalkan Abi yang sedang disuapi oleh Annisa.


"Pelan-pelan dulu yaa sayang .." ucap Annisa perlahan sambil menyuapi Abimanyu hati-hati.


Satu suap Abi, kemudian satu suap Annisa, seperti itu mereka bergantian hingga bubur dalam mangkuk itu habis.


Setelah memberi Abimanyu minum dan mengusap dengan sapu tangan semua sisa yang membekas dibibir Abimanyu, Annisa meletakkan kembali mangkuk bekas bubur diatas meja.


"Sayang ... infus ini tolong dicabut saja, aku sudah tidak apa-apa..." pinta Abimanyu, kemudian Annisa mendekat kembali ke sisi Abimanyu.


"Mas masih lemas nggak?" tanya Annisa sambil meraba denyut nadi Abimanyu. Memeriksa keadaan calon suaminya.


"Aku sudah nyaman sekarang, nggak lemas lagi kok .." jawab Abimanyu memanja. Melihat wajah Annisa yang begitu ia rindukan.


Annisa begitu terasa malu diperhatikan secara intens seperti itu lagi dengan sengaja. Berbeda saat tadi ketika Ia khawatir dengan keadaan Abimanyu. Tatapan Abi yang sekarang seperti menahan hasratnya, sehingga Annisa pun menyadari tatapan itu berbeda dengan tatapan tadi.


"Kita harus segera menikah, aku sudah tidak ingin menundanya lagi terlalu lama .. sayang, aku enggak sanggup lagi harus berjauhan sama kamu .." Ucap Abimanyu sambil mempermainkan jemari Annisa yang tadi memeriksa keadaan denyut nadinya.


"Iyaa ... Nisa ikut baiknya menurut mas Abi .." jawab Annisa sambil mencoba membuka infus dari lengan Abimanyu. Setelah jarum infus sudah dikeluarkan, Annisa menahan bekas jarum dikulit Abimanyu dengan plester beralkohol.


"Sudah ..." ucap Annisa sambil melihat kewajah Abimanyu. Lalu dengan tangannya yang kini sudah terbebas dari jarum infus. Abimanyu menangkup wajah Annisa. Menyatukan ujung hidung mereka. Annisa menjadi begitu salah tingkah, degup jantung didadanya bahkan sampai terdengar ke telinga.


"Aku ingin segera membuat apa yang akan aku lakukan padamu sah dimata Tuhan ... " ucap Abimanyu menahan gejolak hasratnya. Annisa hanya mampu membalas dengan anggukan.


Lalu setelahnya ... Abi hanya mencium kening Annisa penuh kerinduan.


.


.


.


.


.


.


Sepertinya ... cerita ini akan lekas berakhir ..


Tiada yang mesti ditunda dan diperpanjang lagi ..


i'm already gone miss MFC