My Favorite CEO

My Favorite CEO
And now I do believe that even in a storm We'll find some light 3



Beberapa hari kemudian.


Berada disebuah ruangan asing, yang membatasi kebebasannya sebagai seorang manusia, cukup membuat tekadnya bulat membuktikan bahwa dirinya tidak pernah menyalahgunakan wewenangnya, hingga terlibat dalam melakukan perbuatan yang menyebabkan kerugian negara.


Hari ini pun Yoga akan memenuhi panggilan pemeriksaan yang akan dilakukan oleh pemeriksa internal militer terkait dengan kasus sama yang melibatkan beberapa petinggi militer.


Dari gedung Pemberantas Korupsi, Yoga dibawa k ke Markas Besar pemeriksa internal militer.


Disanapun, Yoga diselidik, syukurnya Yoga dalam keadaan tenang dan waspada.


Penekanan-penekanan tertentu, pertanyaan-pertanyaan sama yang terus diulang-ulang dan keadaan sekitar kita layaknya di persidangan umum, sedikit banyak memberikan tekanan tersendiri, dan jika orang dalam kepanikan dan penurunan konsentrasi akan menjebak diri mereka sendiri dalam memberikan jawaban dan keterangan.


Semua ini harus bisa Yoga lalui. Pengacaranya yang selalu mendampingi Yoga saja sudah sangat salut atas kepiawaian Yoga mengatasi semua itu.


Proses yang cukup panjang, hingga akhirnya untuk sementara Yoga diperbolehkan kembali lagi ketempat dimana Ia ditahan sementara digedung pemberantas korupsi, dan akan dipanggil kembali jika masih ada yang harus diberikan penjelasan dan bukti terkait.


Lewat pengacaranya, Yoga meminta izin untuk dapat menghubungi istrinya sebelum kembali ketempat dimana segala kebebasan dirinya sebagai manusia merdeka terbatasi.


Dan akhirnya Yoga bisa berbicara langsung dengan istrinya.


"Hallo.."


Suara Nindy menyambut panggilan Yoga.


"Sayang... ini aku.."


Jawabnya dengan hati yang sudah sangat rindu.


Demi mendengar suara suaminya, Nindy terhenyak disofa ruang tamu, terdiam dan airmatanya otomatis kembali mengalir.


Beberapa saat kemudian,


"Aa sehat kan? Nindy rindu... baby juga rindu dadynya... kapan aa pulang?"


"Aa juga... sangaaat rindu kamu sayang... rindu baby kita juga... kamu masih terus mendoakan aa?"


"Selalu... setiap saat Nindy selalu mendoakan aa, agar semua ini bisa lekas selesai dan supaya kita lekas bisa berkumpul lagi."


"Aa.... Nindy rindu.."


Akhirnya suara tangisan Nindy lebih dominan dari pembicaraan mereka.


Hatinya antara bahagia dan sedih mendengar suara Yoga yang sudah sangat ingin didengarnya.


Yoga lebih tidak siap ditinggal pulang kembali istrinya kalau sampai Nindy membesuknya.


Walau dengan menahan diri dari berjumpa dengan istrinya sama saja sulitnya.


Yoga pun sudah berkali-kali menyeka air mata yang jatuh di pipinya.


"Aa janji.. sebentar lagi kita pasti akan berkumpul kembali. Jaga kesehatan kamu, Aa ingin... segera menemani kamu juga baby kita..."


"Jangan sering menangis, doakan aa terus yaa... aa sudahi dulu yaa sayang, secepatnya aa akan berusah telpon kamu lagi."


"I love you hon."


"I love you..Anindya Kasih."


Setelah panggilan telpon Yoga tadi, Nindy mengusap perutnya. Mengajak bicara janin yang ada didalam kandungannya.


"Daddy.. juga kangen kamu sayang... kita doakan sama-sama yaa.. semoga Daddy bisa melalui cobaan ini, kamu harus kuat, Momy akan kuat..


kita harus bisa membahagiakan Deddy.."


Sementara diatas mobil petugas yang membawa kembali Yoga ke tempat Ia ditahan, Yoga sedang memejamkan matanya, mengingat setiap detail wajah istrinya ketika terakhir kali mereka bercinta.


Aku ingin engkau dekat..


Mencumbu semua yang indah didirimu..


Menyesap harum tubuhmu


Yang membuat aku mabuk..


Tapi ... aku sedang tidak di dekatmu.


Mencumbu bayangmu dalam khayalku..


Membuat hatiku menjerit..


Membuat Inginku.. semakin menjadi..


Tunggu aku ...


Aku hanya ingin mabuk karenamu.