
Dengan bertelanjang kaki Abimanyu dan Annisa menyusuri pantai. Twins telah merubah bentuk perut Annisa yang kini sudah nampak membesar Annisa menggenggam jemari suaminya.
"Jangan terlalu risau sayang ... alat kedokteran sekarang sudah canggih !" namun lelaki yang dipanggil sayang itu masih saja melangkah dengan risau.
"Abimanyu!" teriak Annisa ingin menarik perhatian suaminya yang saat ini sangat kacau perasaannya.
Abimanyu menghentikan langkahnya, melihat jemarinya yang digenggam erat oleh Annisa. Lalu mengalihkan pandangannya pada deburan ombak. Angin laut mengacak-ngacak rambutnya. Matanya panas dan membuat genangan air pada mata indah lelaki tampan itu.
Ia langsung merengkuh tengkuk Annisa dan membawanya kedalam dekapan.
"Seharusnya .. aku yang bisa memberikan ketenangan, aku sadar ... hatimu pasti lebih hancur ... maafkan aku Nisa .. maafkan aku ..."
Lelaki itu menangis, hari ini ia begitu sangat tidak berdaya.
"Aku berjanji sayang ... aku akan melakukan segala yang terbaik untuk twins ketika nanti mereka siap dilahirkan. Aku akan mengikuti apa yang kamu katakan tadi" ucap Abimanyu dalam dekapan Annisa. Airmatanya terjatuh dipunggung Annisa.
"Aku kuat ! seharusnya kamu lebih kuat ! aku dan twins akan berjuang bersama-sama! aku nggak ingin kamu seperti orang tidak berdaya seperti ini! kamu masih bisa melakukan semua hal terbaik buat kami dengan segala fasilitas nomor satu yang kamu miliki Abi !" tegas Annisa mengatakan itu semua pada suaminya yang sedang resah.
"Aku tidak menikahi lelaki cengeng bukan?" tanya Annisa lagi, lalu Abi melepaskan dekapannya.
"Tidak! kamu tidak menikahi lelaki lemah!" jawab Abimanyu tak kalah tegas.
"Karenanya tunjukan padaku juga pada twins bahwa ayahnya bisa kami andalkan ! aku dan twins sama-sama berjuang, dan ayahnya harus melakukan yang sama! tidak menyerah ! apapun itu ikhtiarnya, maka aku dan twins akan sangat bergantung padamu!" ucap Annisa tegas, ia menahan segala airmata dan hatinya yang bergetar karena sedih.
"Iya ... iya sayang ! aku akan lakukan segala yang terbaik buat kalian ... tetaplah sehat .. tetaplah hidup .. demi aku ..." Abimanyu menundukan pandangannya. Lalu menatap kembali pada wajah wanita yang begitu ia cintai.
"Rasa takut menguasai hatiku Nisa .." ucapnya masih lirih.
"Sama sayang ... hatiku juga dikuasai rasa takut .. rasa penyesalan hal ini terjadi pada salah satu twins.. tapii itulah rasa yang dihadirkan oleh Allah .. agar kita lebih mendekat, lebih bergantung padaNYA ... lebih berpasrah pada Dia sang pemilik hidup dan mati ... tapi aku tidak ingin kita menjadi lemah berkepanjangan .. aku dan twins masih berproses, semoga selama proses itu sampai twins dilahirkan Allah memberikan jantung yang sudah sempurna dan siap untuk sicantik" jawab Annisa, Abimanyu menatap mata indah sang istri yang dirasa saat ini pun sama seperti yang dimiliki olehnya, berkabut dan penuh kesedihan.
"Aku tidak akan bisa hidup tanpa kalian, membayangkannya saja aku tidak sanggup .. sayang ... berjanjilah ... bahwa kalian akan hidup demi aku.." lirih Abimanyu memohon sambil memegang bahu istrinya.
"Sayang ... kami akan hidup demi kamu .. Insyaallah .." jawab Annisa menatap pada mata suaminya dan mengusap pipi pria tampan dihadapannya.
"I love you .. sayang .." balas Abimanyu kemudian memejamkan matanya. Getir.
"I love you more ... sayang" ucap Annisa sambil kembali hanyut dalam dekapan sang suami.
"Bagaimana kita memberitahukan pada bunda dan ayah juga bapak?" tanya Abimanyu kemudian masih sambil memegang pipi Annisa.
"Kita jangan menambah kekhawatiran mereka mas, kasihan .. aku takut kesehatan mereka akan terganggu. Biar saja nanti ketika saatnya twins sudah lahir, mereka juga pasti akan mengetahuinya .. jadi sebelum itu .. biarkan orangtua kita hanya berbahagia karena akan lahir cucu-cucu untuk mereka" balas Annisa sambil menatap tepat dimata suaminya yang masih terlihat sendu.
"Mana hadphonemu? kita tidak boleh melupakan tanggal perjanjian dokter spesialis jantung anaknya!" tanya Abimanyu
"Ada didalam tas sayang, aku sudah menandakan 3, 2 dan 1 hari sebelum tanggal konsultasinya. Berjanjilah ... mas akan selalu optimis!" jawab Annisa sambil mengguncang lengan Abimanyu.
"Iya ... sayang .. aku akan optimis!" jawab Abimanyu memegang kedua pipi Annisa lalu memberikannya sekilas kecupan.
"Twins haus .. ayah!" ucap Annisa lagi sambil mamerkan barisan giginya yang rapih.
"Ayah juga haus, ayooo kita ke mobil lagi, kita cari minuman yang menyegarkan yaa ..." balas Abimanyu sambil merangkul bahu Annisa membawa ke mobil kembali.
Didalam mobil, Annisa menyandarkan kepalanya dibahu Abimanyu, mereka berdua sedang memperdengarkan murotal Alquran pada twins. Mobil melaju sambil melihat-lihat sepanjang jalan minuman apa yang mampu menyegarkan.
Dirumah.
Abimanyu mendekat kearah Annisa yang sedang membuat rajutan kaos kaki bayi untuk twins.
"Sayang .... lucuuunya .." ucap Abimanyu sambil mengambil kaki Annisa untuk dipangkukan diatas pahanya, dan ia memijat kaki Annisa.
"Lucu ya Yah ... nanti cantik pink, trus si ganteng putih!"
"Tas Rara kalau gitu, dulu kamu ngerajut sendiri?"
"Iya .. aku ngerajut sendiri. Dulu waktu jadi koas bermanfaat Hon.. apalagi ditugasin di UGD nahan kantuk! tahu-tahu bisa jadi tas Handphone, bisa jadi syal! hahaha!" jawab Annisa bahagia membayangkan masa sulit dulu, yang tidak di sngka bisa menertawakannya pada hari ini.
"Aku doong ... dibuatkan sweter kek, syal kek!" Abimanyu merajuk.
"OOO siap Ayah ... nanti ibu mau buatkan topi aja buat ayah yang seragaman motifnya sama twins yaa.." jawab Annisa yang langsung seperti diberi ide.
"Naaah ...lucu tuh kayaknya" balas Abimanyu sambil menyudahi pijatannya, lalu membersihkan tangannya tadi yang memijat Annisa dengan tissue basah, dan mulai memetik Finger grape kesukaan Annisa selama hamil, lalu menyuapi istrinya perlahan, sambil dia pun ikut memakannya.
"Mmm.. terima kasih ayah.." ucap Annisa sambil memamerkan giginya.
"Twins bobo yaa Bu? aku pingin pegang kalau mereka bergerak!" ucap Abimanyu sambil mengelus perut istrinya.
"Panggil deh sama ayah, pasti mereka bereaksi!" jawab Annisa sambil menghentikan dan menaruh alat merajutnya.
Kemudian Abimanyu mendekatkan wajahnya kedepan perut Annisa
"Cayangan ayah .. " panggil Abimanyu sambil mengusap-ngusap perut Annisa, sementara Annisa bermain-main dengan rambut Abimanyu sambil tersenyum memperhatikan suaminya.
"Main yuu .." begitu Abimanyu baru saja berkata akan hal itu, gerakan kedua bayi yang ada didalam perut Annisa bereaksi, sehingga nampak tonjolan-tonjolan tak beraturan dibawah kulit perut Annisa.
"Tuuuh... kan ramai deeeh mereka ... lucu yaa Hon. Usap disini Hon! ucap Annisa sambil membawa telapak tangan suaminya ditempat yang dimaksud.
Begitu Abimanyu mengusapnya, gerakan berpindah berada di telapak tangan Abimanyu. Wajah Abimanyu begitu bahagia.
Kemudian Abimanyu memindahkan kembali telapak tangannya dan mengusap lagi ditempat berbeda, gerakan itu juga seperti berpindah dibawah telapak tangan Abimanyu.
Calon Ayah dan Ibu itu tersenyum. Abimanyu mendongakan wajahnya, membuat Annisa menghentikan gerakan tangannya yang mengusap rambut suaminya.
"Kenapa?" tanya Annisa syahdu, menatap pada mata suaminya yang melihat kearahnya.
"Cantik ikut bergerakkah sayang?"
"Cantik ikut bergerak kok ayah, tapi dia tidak akan selincah si ganteng. Nanti juga pasti reaksinya berbeda ketika dilahirkan, si cantik kemungkinan reaksi menangisnya akan lebih lambat dari siganteng. Dan mungkin akan sedikit biru kalau cantik nantinya, tergantung kondisi katub jantungnya yang bocor" ucap Annisa menjelaskan pada Abimanyu.
Abimanyu menelan air ludahnya sendiri. Mendengar penjelasan Annisa. Lalu ia mengusap kembali perut istrinya.
"Jaga saudara perempuanmu didalam sini yaa jagoan!" kata-kata Abimanyu disambut gerakan lagi dari dalam perut Annisa. Annisa membelai pipi suaminya.