My Favorite CEO

My Favorite CEO
Sadar



Setelah Yoga tepat berada di sisi Nindy lagi, laki-laki itu lebih ceria wajahnya.


Optimis memandang wanita yang dicintainya akan sadar dan kembali menghiasi hari-harinya lagi.


" hiiii... "


Sapa Yoga mencoba seperti berkomunikasi dengan Nindy


" Sudah waktunya bangun sayang... "


" Diluar ada mama, Lita sama Pipit nungguin kamu hon... rindu dengar suara merdu kamu kata mereka"


" kamu rindu nggak dengar kecerewetan mereka? "


" Mama juga kangen katanya makan masakan kamu, papa Iwan apalagi.. sepertinya papa yang paling kehilangan makanan bergizi dan sehat buatan kamu, papa Fachri juga.. "


" kalau aku katamuu...? aku kangen suara kamu yang mendayu.. kangen kamu balas ciumanku ( sambil mencium bibir Nindy ), kangen suara kamu panggil aku " sayaaang" ... kangen cara mata kamu memandang aku.... "


Tiba-tiba masuk seorang perawat, ingin melihat kondisi Nindy yang sudah 1 jam keluar dari ruang operasi.


" Belum ada gerakan juga pak? "


Tanya perawat pada Yoga


" Belum ada sus... "


Jawab Yoga


" Tapi semua keadaannya normal dan stabil kan sus?"


tanya Yoga lagi.


" sejauh ini bagus yaa pak, tunggu respons mba Nindy saja.... sabar yaa pak "


" iya sus... terima kasih"


" tolong segera beri kabar ke kami yaa pak kalau ada respons kesadaran dari mba Nindy. Tekan saja bel yang ada disini"


ucap perawat itu lagi.


" baik sus "


Lalu perawat jaga itu meninggalkan ruangan Nindy


Entah sudah berapa lama Yoga coba berkomunikasi dengan Nindy.


Yang dikhawatirkan keluarga, justru karena Yoga sejak dari waktu membawa Nindy kerumah sakit hingga kini belum juga mau jika diminta untuk makan.


Minum pun jika Ia sudah merasa tenggorokannya kering dan haus sekali.


Yang hanya rutin dia lakukan adalah selalu membersihkan dirinya agar tetap bersih dan steril dari kuman ataupun bakteri yang akan membahayakan Nindy.


Sampai saat keluarga memberi pesan di WA bahwa mereka pamit pulang dulu untuk beristirahat, Yoga hanya mengiakan dan mempersilahkan mereka untuk pulang tanpa keluar menemui papa dan calon mertua juga sahabat calon istrinya itu.


Tak bisa dihindari kelelahan yang menyergap Yoga, hingga tubuhnya lunglai menyandarkan wajahnya diatas tangannya yang memegang jemari Nindy diatas tempat tidur.


\=\=\=\=\=\=\=


Tepat pukul 21.00 WIB, Jemari Nindy bergerak sedikit demi sedikit..


Sontak, tangan Yoga yang pada saat itu walaupun Ia sedang tertidur masih memegang jemari Nindy terbangun.


Sebentar saja gerakannya ... lalu berhenti..


semenit ... dua menit ... jemari itu bergerak-gerak lagi.


Lalu Yoga mendekat kearah telinga Nindy..


" Iyaa.. sayang... bangunlah... buka perlahan matamu."


Lalu bola mata Nindy yang masih tertutup terlihat bergerak-gerak.


Semenit kemudian perlahan.. Nindy baru membuka matanya perlahan lahan.


Pertama kali masih terasa kabur pandangannya tapi kemudian lama kelamaan semakin jelas.


Memandang dan tersenyum pada Yoga.


Yoga begitu bahagia.. dalam hatinya berkali-kali dia mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah mengembalikan lagi wanitanya.


Yoga belum berani bertindak apa-apa, takut Nindy yang baru sadar akan terkejut. Dia menunggu Nindy bersuara.


" Hiiii ... sayang.. "


Suara Nindy lemah dan serak...


" Hiiii... welcome back honey.. "


" berantakan sekali penampilanmu sayang..."


Demi melihat penampilan Yoga yang biasa terlihat rapih dan Maskulin, kini berpenampilan seadanya.


Lalu Ia mengulurkan tangannya minta disentuh dan Yoga mendekat.


" honey... kamu nggak sisiran?"


tanya Nindy lagi sambil mengusap-usap rambut yoga, yang saat ini kepalanya tertunduk mencium jemari Nindy dan Yoga tidak bisa menahan air matanya


Mendongakan wajahnya sebentar


" Terima kasih sudah berusaha untuk kembali sayang... Maafin aa.. "


Lalu Yoga memencet bel, dan tak berapa lama perawat yang dinas malam itu sudah masuk kedalam kamar Nindy.


Memeriksa keadaan Nindy lalu bertanya


" Mba Nindy.. apa yang sekarang dirasakan? pusing nggak? "


" enggak sus "


jawab Nindy lemah


" Mual nggak Bu?"


Tanya perawat itu lagi


" enggak sus.. tapiii.. bolehkah saya minum, tenggorokan saya terasa sakit"


" Boleh Bu.. tapi pelan pelan dulu yaa.. tolong pak .. nanti dikasih minum Bu Nindynya yaa.."


" Iya.. baik sus"


Jawab Yoga


Ketika perawat itu keluar, Yoga memberikan Nindy minuman dengan sedotan yang telah disiapkan.


" Pelan-pelan yaa sayang.. "


lalu Nindy mencoba menelan air mineral yang diberikan Yoga.


" a..."


panggil Nindy setelah selesai minum


" iyaaa sayang.."


" Nindy laper a.. "


" Iya sayang tunggu sebentar aa tanyakan yaa apa kamu sudah boleh makan"


Lalu Yoga memencet lagi belnya


" iya... Bu Nindy.. ada yang bisa dibantu?


" Nindy mau makan sus, apakah sudah boleh?"


Tanya Yoga


" tentu sudah boleh Pak, sebentar yaa saya telpon keruangan Gizi dulu biar mengantarkan bubur buat Ibu"


" Sus.. seandainya sudah tidak ada apa-apa lagi diruangan Gizi, karena ini sudah malam apakah saya boleh membawa makanan dari Restorant untuk dimakan Nindy?"


" boleh .. silahkan pak, karena Bu Nindy tidak ada pantangan untuk mengkonsumsi apapun yang Bu Nindy suka."


" baik sus... terima kasih "


Lalu perawat tadi keluar dari ruangan Nindy. Yoga segera menelpon Ferdy dan meminta asisten pribadinya itu membelikan bubur disalah satu Restorant yang terkenal akan kelezatan makanan-makanannya, untuk Nindy.


Dan meminta Ferdy menyiapkan juga Mie goreng seafood dan spicy chicken wings masakan khas Restorant tersebut untuk para petugas medis yang dinas malam ini diruangan tempat Nindy dirawat.


Perintah itu langsung dilaksanakan oleh Ferdy.


Ketika Yoga melakukan percakapan lewat telpon dengan Ferdy, Nindy memejamkan matanya lagi.


Dan ketika Yoga membalikan badannya lagi menghadap kearah Nindy, Yoga terkejut


" sayaaaaang.. " panggilnya agak keras karena takut terjadi sesuatu pada Nindy yang terlewatkan olehnya.


Lalu Nindy membuka matanya lagi.


" iyaaa a "


Mata Nindy memandang Yoga lembut.


" kalau mau meram.. tolong bilang dulu ya.. aku takut.. "


suara Yoga terdengar lirih sambil mencium kening Nindy dan berlama-lama disitu.