
Sesampainya dikantor Yoga, Pak Jaja mengantarkan Nindy sampai didepan meja resepsionis gedung.
Meminta salah satu staf disitu untuk mengantarkan Nindy kekantornya Yoga
Nindy menghubungi Yoga mengabarkan dirinya sudah didalam lift menuju kantornya yoga.
Begitu lift terbuka, Yoga sudah berdiri didepan lift menyambut Nindy dengan senyum dan pandangan begitu terpukau dengan penampilan Nindy yang segar dan cantik senja itu.
Lalu Yoga memperkenalkan Nindy kepada staf - staf nya yang saat ini sedang menikmati makan malam dalam box dan masih dikantor mempersiapkan proyek mereka.
Semua terkagum-kagum melihat Calon Istri Big Bos mereka.
Yoga menggenggam jemari Nindy dan mengajaknya masuk kedalam ruang kerja Yoga.
Dimeja ruang tamu yang ada diruang kerja Yoga, Nindy mempersiapkan makan malam yang dia bawa dari rumah.
Yoga terkesima dengan beberapa sajian yang ditata cantik dan beraneka ragam yang sudah dibuat oleh tangan calon istrinya sendiri.
" kamu masak sebanyak ini ditata dengan cantik seperti ini, nggak cape sayang?"
tanya Yoga sambil menatap dari makanan yang dibawa Nindy kepada Nindy dengan pandangan bahagia.
" Mana cape ? aku enggak ada kerja sehari ini dirumah, malah cuma santai-santai bersama papa. "
Lalu menyuapi calon suaminya.
Sepertinya Nindy punya kesenangan baru, menyuapi Calon suami.
" Enak nggak ?". tanya Nindy
" sangat enak dan aa suka, semua yang kamu buat sangat sehat juga, jadi aa nggak khawatir menjadi sangat gendut punya istri pintar memasak kayak kamu."
Dimainkannya ujung hidung Nindy.
" setiap ada kontrak baru, proyek baru berarti aa selalu seperti ini ya? "
Tanya Nindy.
" Iya .. karena seperti kamu lihat. Aa nggak terlalu banyak mempekerjakan orang, tapi setiap personil mereka sangat handal. sehingga efektif. "
"kalau ada proyek baru dengan masih adanya tanggung jawab kontrak atau pekerjaan yang lama semua jadi harus sibuk dan harus bertanggung jawab."
" Jika berhasil, mereka mendapatkan imbalan yang setimpal dengan apa yang mereka kerjakan untuk perusahaan. "
Nindy mendengarkan masih sambil menyuapi calon suaminya.
Namun tiba-tiba pintu kantor Yoga dibuka seseorang tanpa mengetuk tanda permisi terlebih dulu.
Berdiri diambang pintu .. tak lain adalah Nena yang dibelakangnya juga ada Ferdy yang pasti tidak bisa mencegah gadis itu menerobos masuk keruang kerja Yoga.
Nena menatap begitu benci.. melihat Nindy sedang menyuapi Yoga.
Yoga menatap aneh dan tidak suka kepada Nena.
Terlebih yang dilakukannya dengan menerobos seenaknya keruang kerja Yoga.
" Perempuan apa yang menginap dirumah laki-laki yang belum sah menjadi suaminya! lalu datang kekantornya hanya untuk memberi makan malam! perempuan seberani ini ternyata yang kamu inginkan mas?"
Teriak Nena dari ambang pintu.
Nindy terhenyak dengan kata-kata yang dilontarkan Nena.
" Lalu kamu?! apa yang kau sebut untuk dirimu yang menerobos tidak sopan keruang kerja orang lain ? "
Bantah Yoga sangat marah sambil berdiri menutupi tubuh Nindy dengan maksud melindunginya
" Ayahmu pasti sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan! cuma karena Ayahmu, saya masih berlaku sopan selama ini!!"
" Dan perlu kamu ingat, calon istri saya ini adalah perempuan yang paling suci dibanding dengan kamu!! dan sebelum saya mengucapkan kata-kata yang tidak bisa kamu terima, pergi dan keluar dari kantor saya!!!"
Ancam Nena.
" Silahkan!! kalau kamu juga ingin melihat kehancuran ayahmu karena ulah anaknya sendiri!!"
balas Yoga.
Lalu Nena keluar dari kantor Yoga dengan sangat marah.
Marah karena usahanya gagal dan marah karena memang Ayahnya juga sudah tidak senang dengan apa yang ingin dia lakukan sore ini kekantor Yoga.
Nena merasa menyesali, mengapa selama ini dia tak segera mengambil langkah berani seperti cara Nindy mendekati dan mengambil hati Yoga.
Nena selama ini merasa tidak pernah ada wanita yang sebegitu bisa dekat dengan Yoga seperti dirinya. Maka dari itu dia menyangka Yoga juga menyukainya.
Dan hari ini dia sangat ingin berada diposisi Nindy.
\=\=\=\=\=
Setelah Nena keluar dari ruang kerjanya, Yoga
berbalik menghadap kearah Nindy lagi.
Gadis itu sedang tertunduk, satu tangannya seperti sedang menekan gemuruh didadanya.
Sakit hati Yoga melihatnya.
Yoga mengambil duduk seperti diawal tadi ketika Nindy masih menyuapinya.
meraih tangan gadis itu yang tadi sedang menekan dadanya.
Tak bicara...
Nindy memandang kearah Yoga, menatap mata laki-laki yang akan menjadi bagian hidupnya kini.
Nindy menyadari pasti banyak gadis yang selama ini berada di lingkaran kehidupan Yoga saat ini ingin berada diposisinya.
Laki-laki dihadapannya ini memanglah laki-laki yang paling sempurna sebagai pendamping hidup.
Nindy merasakan saat ini laki-laki dihadapannya pasti risau dengan reaksinya setelah apa yang dikatakan Nena tadi.
karena matanya terlihat begitu gelisah, sementara besok dia harus menghadapi hal yang lebih besar sebagai tanggung jawabannya.
Nindy mengambil langkah terlebih dulu ..
Dia mencium sekilas bibir Yoga.
" Yang hanya perlu aa risaukan mulai sekarang adalah perusahaan ini.... "
" Nindy ....... Tidak akan mengganggu aa lagi ..."
\=\=\=\=\=\=\=
Haruskan aku terus belajar menerimamu?
Memilikimu seperti aku menggenggam bara api di tanganku.
Ujian dan Kesabarannya begitu berat
karena kau terlalu sempurna... untukku
" Yang hanya perlu aa risaukan mulai sekarang adalah perusahaan ini.... "
" Nindy ....... Tidak akan mengganggu aa lagi ..."