My Favorite CEO

My Favorite CEO
29. We finally meet again



Hari yang lalu adalah perjuangan.


Setiap kerja keras dan kesungguhan akhirnya akan membuahkan hasil yang tidak pernah mengingkari usahanya.


Siapa pun pasti bisa.


Asal bersungguh-sungguh dan tidak lupa berdoa. Terlebih doa kedua orang tua yang selalu menyertai anak-anaknya dimanapun kita berada.


Dan aku sudah melalui fase itu.


Fase dimana adakalanya ingin menyerah, merasa semua terasa sulit dan tak berpihak pada diri.


Fase dimana terasa doa kita begitu lama terkabulkan. Fase dimana kemarahan dan rasanya ingin teriiiaaaak sekencang-kencangnya mengabarkan pada dunia bahwa kita orang termalang !


Bahkan kekayaan tak mampu disombongkan ! dimana berada pada lingkungan terpelajar dan kekayaan tidak menjadi sebuah ukuran. Karena bahkan ada yang jauh lebih kaya raya dari apa yang aku miliki.


Dan aku bersyukur untuk semua keadaan pada titik terendah itu sudah aku alami dinegeri orang, dimana aku hanya besertakan doa dan restu ayah dan bunda.


Pembuktian diriku pada apa yang menjadi harga diri dan moral yang aku bawa dipundakku sebagai seorang anak pengusaha penerbangan juga pemilik beberapa rumah sakit ditanah air tercinta.


Siapa bilang anak orang kaya raya seperti kami tidak ada yang bekerja keras! justru kami jauh lebih bekerja keras karena semua memandang rendah pada kami atas dasar kekayaan dan nama besar orang tua yang kami miliki.


Aku adalah salah satu kebanyakan anak orang kaya raya itu yang ingin lepas dari bayang-bayang kesuksesan orang tuaku. Sehingga apa yang diotak kebanyakan orang fikir akan menjadi patah dengan pembuktian yang aku perlihatkan.


Dan inilah aku.


"Kamu yakin nak untuk usaha itu? yang kamu mesti ingat, dinegara kita sudah ada beberapa company terkuat dan berpengaruh dibidang itu! kamu akan banyak menemui kendala!" ucap ayah pada suatu malam, ketika kami membicarakan bahwa aku akan memulai usaha berskala internasional. Investor sudah aku dapatkan. Dan yang perlu aku lakukan saat ini adalah mencari lahan yang representatif untuk berlabuhnya kapal-kapal besar pengangkut untuk pengolahan dan yang akan diekspor kembali.


"InsyaAllah Yah.. Abi mohon doa restu ayah sama bunda" jawabku.


"Kita bicara investasi yang enggak sedikit nak. Apakah kamu sudah mempertimbangkan semuanya? menghitung dengan benar hmmm?"


"Kenapa nggak kamu teruskan saja salah satu usaha keluarga kita yang ada?" ucap ayah.


"Terima kasih yah atas tawarannya, tapi sungguh rencana ini sudah Abi perhitungkan ketika disemester akhir pasca sarjana. Semua sudah matang Abi fikirkan. InsyaAllah" jawab Abimanyu.


"Jika itu sudah menjadi tekadmu, ayah dan bunda merestui ! ingat ! tetap pandai membaca situasi, peluang, cermati pasar dan berhati-hatilah nak, pasti banyak yang tidak akan menyukai terebosan kamu" ayah mencoba mengingatkanku.


"Baik ..InsyaAllah yah" jawabku penuh keyakinan.


"Besok..ikut ayah dulu meeting pemegang saham disalah satu rumah sakit yang sekarang menjadi milik kita! walau nanti kamu akan memiliki perusahaanmu sendiri, tapi setidaknya kamu juga mulai belajar mengenai usaha yang akan menjadi tanggungjawabmu suatu hari nanti" ucap ayah lagi.


"Baik yah" jawabku.


Sedang aku dan ayah berbicara tentang bisnis-bisnis yang sekarang dimiliki ayah, suara dering telpon genggamku mengalihkan perhatian.


"Angkatlah dulu" ucap ayah.


"Hallo" sapaku


"Broo... kapan loe pulang? kok nggak info-info loe!" suara khas Axsal langsung menjawab sapaanku.


"Tiga hari yang lalu, loe tahu dari mana gue sudah dijakarta?" tanyaku.


"Daffa, dia lihat elo kemarin lari pagi disenayan. tapi karena dia lagi buru-buru, dia nggak sempet nyapa loe! ketemuanlah .. loe ke galery gue dulu yaa!" ucap Axsal.


"Ok, mungkin gue baru bisa jam 3 an ya!" jawabku.


"Ok, gue hubungin yang lain juga ya! biar seru!" ucap Axsal lagi.


Klik


sambungan terputus.


.


.


.


.


Saat ini sudah jam 3 sore lebih 15 menit ketika aku sampai didepan galery Axsal. Bersiap.. mungkin hari ini aku akan bertemu dengan Tita. Apa kabarnya gadis itu?


Sejak telpon terakhir dibandara itu, aku atau pun Tita benar-benar sudah tidak saling menghubungi.


"Abiiiiiii ..." teriak Mely yang menyambut kedatanganku.


"Hiii!" sapaku yang masih takjub karena gadis itu belum berubah keriangannya. Ralat, dia bukan gadis lagi, karena perutnya yang kini membuncit aku bisa mengira bahwa Mely saat ini sedang mengandung.


"Peluuuukkkk .. nggak boleh nolak ! ini maunya bayi !" ucapnya seenaknya. Tapi aku malah nggak bisa menolaknya, kupeluk dia.


"Yaaa ampuuun.. seumur-umur berteman sama loe, baru kali ini loe berani meluk Bi!" ucap Mely


"Dah lama men! loe mesti ati-ati! suaminya Mely ada disini!" ucap Daffa.


"O yaa? mana?" tanyaku.


"Yang barusan meluk loe! itu suaminya !" jawab Daffa.


"Oooo jadiiii kalian? sejak kapan loe sama dia ada rasa?" tanyaku lagi.


"Kelamaan ceritanya Bi! perut bini gue aja udah Blendung lagi! " jawab Daffa.


"Hahhaaaa iyaa.. selamat yaa buat kalian, sorry gue bener-bener lost contact" ucapku lagi.


"My Meeen!" ucap Axsal sambil memelukku disusul Bima dan Aryo.


"Hi..Handsome" Gadis manis itu menyapaku. Gadis yang dari dulu sangat lembut, yang membuat Axsal tak bisa kelain hati.


"Hi Yas.. apa kabar?" jawabku.


"Sangat baik. gimana kabarmu?" tanyanya lagi.


"Aku baik...seperti yang kamu lihat!" jawabku. Aku tahu bukan itu yang dimaksud Tias dari tatapan matanya yang terlihat seperti merasakan rasa kehilanganku.


"Assallamualaikum.." sapa suara lembut yang lama sudah sebenarnya aku rindukan, terdengar dari belakang punggungku.


Tias melihat kearah suara itu melewati bahuku yang menutupinya. Lalu kembali berdiri di depanku.


"Dia datang.." ucapnya sambil mengelus bahu kedua lenganku. Aku turut membalikkan badanku


Tita.. gadis itu bertambah cantik, dengan balutan dress putih selututnya dan rambut sebahunya dibiarkan bergelombang menambah aura kecantikannya sore ini.


"Waalaikumsalam .." jawab semua teman-teman bersamaan.


Kemudian dia mendekat dan mencium Mely dan Tias terlebih dulu, kemudian baru menyalami yang lain. Dan yang terakhir adalah aku.


Tangan lembutnya kembali kurasakan. Membawa kenangan indah.. bahwa aku pernah memilikinya.


"Senang bisa ketemu sama kamu lagi Bi.." ucapnya.


"Apa kabar Ta?"


"Alhamdulillah..seperti yang kamu lihat, aku baik dan sehat"


"Syukurlah.." kataku lagi.


"Ayooo.. gue sudah buatkan janji untuk kita semua disalah satu restoran favorite keluarga gue! kita kesana semua.. hari ini semua gue yang traktir!" ucapku lagi sambil mengalihkan perasaanku yang kembali nggak karuan hanya karena sentuhan tangannya saja.


Dan semua menyetujui.


"Aku bolehkan ikut dimobil kamu Bi?" tanya Tita saat semua teman sudah berada di kendaraanya masing-masing. Aku menoleh kearahnya.


"Tadi Tristan hanya mengantarkan aku aja kesini.." penjelasannya lagi.


Semua teman-temanku sepertinya memberikan pada kami ruang untuk dapat menyelesaikan sesuatu yang sudah lama kutinggalkan. Semua hanya memandang kami dari kendaraan mereka masing-masing.


"Ok" jawabku sambil mengambil langkah untuk membukakan pintu mobil untuknya.


"Masuklah" kataku lagi. Kemudian kututup kembali pintu mobil, setelah Tita sudah duduk didalam mobilku, kemudian disinilah kami sekarang.. duduk bersebelahan seperti dulu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dijarimu melingkar sudah


sebuah cincin manis..


Hatiku seakan terluka kembali


Layaknya baru saja itu terjadi...