
Bukan cinta jika tak ada rindu.
Hanya boleh mendengar suara wanita yang dicintainya, tanpa boleh memandangnya ... sudah menjadi awal ujian yang berat buat Yoga.
Segala persiapan pernikahan yang akan dia berikan untuk istrinya nanti, sudah sangat Ia persiapkan dan bisa diberi nilai Sempurna..
Yoga sangat memilih dengan hati-hati apa-apa yang Ia persiapkan untuk Nindy.
Bahkan untuk beberapa barang, memang didesign dan dibuat khusus untuk wanita yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Yoga sudah tidak sabar menanti waktu.
Sore ini, Yoga beserta keluarga besarnya datang kerumah Orang tua Nindy.
Yoga akan melangsungkan prosesi pengajian sebelum besok sore, dirinya dan Nindy akan melalui proses siraman.
Yoga yang sore itu beserta seluruh yang hadir, menggunakan pakaian serba berwarna putih.
Dengan balutan Baju Koko dari rancangan disigner ternama dipadu padankan dengan celana berwarna kream, Yoga diapit oleh Ayahnya beserta keluarga besarnya.
Mencium hormat kepada kedua calon mertuanya.
Mereka semua duduk bersila, mendengarkan panduan acara yang disampaikan oleh Master Of Ceremony.
Acara pertama adalah Nindy akan membaca khataman Al qurannya didepan Ustad pemuka agama, calon suaminya, Orang tua dan Calon mertuanya, seluruh keluarga, sanak saudara dan tamu undangan yang tak lain seluruh pegawai pabrik ayahnya, sahabat ibunya, para tetangga, sahabat-sahabat Yoga juga seluruh teman-teman Nindy.
Gamis putih dan Jilbab senada dengan sentuhan bordir indah yang membalut tubuh calon pengantin wanita itu terlihat sangat cantik dan teduh dipandang mata.
Namun saat itu, hanya suara Nindy yang akan diperdengarkan.
Ketika calon pengantin baru saja mengucapkan kalimat Ta' awuz
Seluruh yang hadir sudah terkesima dengan suara dan keindahan lagam bacaan Nindy.
Sampai Nindy mengakhiri bacaannya, gadis itu sudah berurai air mata, demikian juga dengan seluruh tamu yang hadir.
Hati Yoga sudah tergetar saat pertama kali wanita yang dicintainya itu berta'awuz.
Sepanjang Nindy membacakan Khataman Alqurannya, berkali-kali Ia pun telah menyeka air matanya.
Jemarinya yang kokoh digenggang oleh papanya.
Hati Yoga dipenuhi dengan ketakjuban dan rasa syukur, karena Ia seakan-akan dikirimkan seorang bidadari suci dalam wujud wanita yang dicintainya itu.... Nindy.
Setelah prosesi khataman Alquran, Ustad pun memimpin doa bagi kebaikan Nindy yang mengkhatamkan bacaannya, serta mendoakan untuk kelancaran dan kebahagian rumah tangga Yoga dan Nindy.
Selanjutnya adalah acara Sungkeman
Papa dan mama Nindy diarahkan keruangan lain dimana Nindy akan memulai prosesi sungkeman.
Yoga juga sudah bersimpuh dihadapan papanya.
" Papa ... "
terdengar suara Nindy yang bergetar diseluruh ruangan itu.
" Tidak ada kata-kata yang mampu mewakili perasaan sayang Nindy pada Papa.. Nindy mohon maaf papa.. jika selama ini bahkan sampai nanti, jika ada perkataan dan perbuatan Nindy yang menyakiti papa, yang membuat papa sedih.. Nindy mohon dimaafkan pah... Nindy sayang .. papa.."
"Nindy mohon doa restu papa untuk Nindy dan a Yoga .. Nindy mohon doa papa untuk kebahagiaan Nindy dan a Yoga .. "
Nindy mencium punggung tangan papanya, kemudian memeluknya lama dalam tangis yang tak terbendung.
Papa kemudian berkata pada Nindy.
" Putriku.. sebelum Nindy memohonkan maaf pada papa... semua kekhilafan Nindy sudah papa maafkan .. Papa merestuimu.. berbahagialah dengan Yoga nak.. jadilah Istri dan ibu yang Sholeha bagi suami dan anak-anakmu kelak..."
"Papa sayang Nindy ..."
Diciumnya kening dan pipi Nindy kiri dan kanan.
Semua telah berurai air mata.
Lalu Nindy pindah, bersimpuh dihadapan mamanya.
Sudah berat rasanya untuk Nindy berkata-kata pada mamanya, gadis itu terus menangis, mama juga seperti itu.. Ia menangis sedari tadi Nindy memohon restu pada papanya.
" Mama ... Nindy sayang mama ... "
Nindy berhenti sesaat mengatur nafas dan tangis yang tak bisa Ia bendung lagi.
" Mama .. sangat berarti bagi Nindy.. terima kasih .. mama sudah menjaga dan mendidik Nindy
Yoga yang mendengar dalam diam.. juga turut berderai air matanya.
" Maafin Nindy selama ini sudah menyusahkan mama.. Nindy dan a Yoga mohon doa restu dari mama.. "
Diciumnya punggung tangan mamanya, lalu pelukan penuh tangis haru antara Nindy dan mama membuat seluruh yang hadir ikut menangis.
" Nin... "
Suara lembut mama menyebut nama Nindy..
"Jadilah Istri yang patuh pada suami, jagalah kehormatannya.. Rawatlah Mertuamu dengan penuh kasih sayang.. Mama selalu doakan kebahagiaan buat Nindy.. buat Yoga.. "
" Mama selalu memaafkan kekhilafan kamu nak... kamu adalah kebanggaan papa dan mama.. "
Tangis mama dikalimat terakhir .. membuat Nindy semakin mengeratkan pelukannya.
Mama mencium kening, pipi kiri dan pipi kanan Nindy.
Selanjutnya Papa dan Mama diarahkan kembali duduk bersimpuh berdampingan dengan Calon besannya.
Dan sekarang bergantian, Yoga yang memohon doa restu pada papanya.
" Pah.. untuk semua yang papa usahakan dan berikan buat Yoga selama ini.. Yoga mau mengucapkan terima kasih... "
Yoga berhenti sejenak, menenangkan gemuruh hatinya .. walaupun Ia mencoba menguatkan dirinya, namun suaranya yang bindeng dan bergetar sudah menyiratkan kedalaman hatinya.
" Yoga akan selalu membuat papa bangga dan Yoga akan selalu menjaga Papa, Mertua Yoga juga Istri Yoga .. Nindy. "
" Yoga mohon doa restu papa... "
Lalu diciumnya punggung tangan papanya dan memeluknya erat.
Papa menepuk-nepuk punggung Yoga dan mengatakan.
" Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab nak, papa sayang dan bangga sama kamu "
Papa memeluk sekali lagi Yoga dan mengusap-ngusap pangkal kepala putra satu-satunya itu.
Lalu Yoga memohon doa restu pada kedua calon mertuanya.
" Pah.. izinkan Yoga mempersunting dan membahagiakan putri papa, Anindya Kasih.. Yoga mohon Papa menerima Yoga menjadi anak papa dan merestui kami "
" Yoga .. "
Ucap papa
" Papa menerima kamu sebagai anak papa, jaga Nindy, jangan kamu kecewakan dia.."
" Didik Nindy .. dan jadilah suami yang bertanggung jawab "
" iya pah.. "
Jawab Yoga, lalu Yoga mencium hormat punggung tangan mertuanya, keduanya berpelukan.
Kemudian Yoga bersimpuh dihadapan mama.
" Mah... Yoga selalu mohon mama mendoakan Yoga dan Nindy .. karena doa dan restu mama adalah jalan kami menuju bahagia ... "
" Mama akan selalu mendoakan kamu juga Nindy... sayangi istrimu dengan segenap hatimu nak.. Mama percayakan Nindy ditanganmu.. "
Lalu Yoga mencium hormat punggung lengan mama mertuanya.. menghapus air mata dipipi mertuanya itu dan memeluknya dengan sayang.
Dan Mama mencium kening Yoga.
Yoga diarahkan keruangan lain setelahnya, dan dari sisi ruangan berbeda, Nindy keluar..
Kecantikan dan keanggunan Nindy menjadi sorotan orang-orang yang hadir.
Karena mereka dari awal acara hanya dapat mendengar suara merdu calon istri Yoga itu.
Mereka berdecak kagum, melihat gadis cantik itu juga pandai mengaji.
Lalu Nindy bersimpuh dihadapan calon mertuanya.
" Papa.. Nindy mohon restu papa.. dan terimalah Nindy sebagai anak papa.. "
" Nindy anakku sayang.. papa sangat tenang dan bahagia, karena kamu yang menjadi menantu papa.. "
" Papa doakan untuk kebahagiaanmu dan Yoga"
Lalu Nindy mencium hormat punggung tangan ayah mertuanya, lalu papa memeluk Nindy, mencium kening Nindy.
Dan .. ketika Master Of Ceremony bertanya, apakah ada yang akan dikatakan Yoga pada Nindy yang saat ini tidak bisa dilihat wajahnya, Yoga berkata
" Cukup 2 Minggu ini aja.. aa nggak bisa lihat kamu yaa hon.. Rinduuu...."
Nindy mengembangkan senyum indahnya, dan yang hadir ikut tertawa dan tersenyum ..
Suasana menjadi cair dan Nindy kembali diarahkan keruangannya semula, lalu Yoga keluar lagi dari sisi yang lain.
Master Of Ceremony melanjutkan prosesi pengajian sore itu dengan Tausiyah pernikahan dari salah satu Ustad terkenal yang mereka undang.
Setelahnya.. semua para keluarga, tamu undangan dan sahabat yang hadir dimanjakan oleh jamuan sore itu yang sangat luar biasa dan berlimpah..
Membuat semua orang dengan senang hati mencoba semua yang telah disajikan.
Handphone Nindy bergetar..
" Nin.. Yoga nih.. kayaknya dia enggak kuat udah dirumah kamu masih belum bisa lihat wajah kamu "
Seru Lita yang disambut tawa dan godaan dari sahabat-sahabat lainnya yang ketika acara ramah tamah menyeruak masuk ke kamar Nindy untuk menemui calon pengantin wanitanya dan berfoto bersama.
" yaaaa... hon... "
Jawab Nindy.
" Terima kasih... "
Jawab Yoga
" Terima kasih untuk apa? "
" Terima kasih untuk mau menjadi istriku.. aa.. mencintai kamu..."
" Nindy juga Cinta.. sama aa "
Semua teman-teman yang ada dikamar Nindy melakukan gerakan-gerakan meleleh dan tertawa tanpa suara demi mendengar percakapan Nindy.
Yoga menatap wajah Nindy yang terlihat begitu cantik dan meneduhkan dari Handphone milik Ferdy. Yang memang sengaja tadi Yoga perintahkan pada Ferdy, karena kerinduannya demi melihat wanitanya itu.
" Aa sudah sangat kangen bisa melihat kamu.. hon.. "
Ucap Yoga lagi sambil melihat dengan rindu wajah gadis yang ada di Handphone Ferdy saat ini.
" Sabar... yaaa... sebentar lagi saja yaa sayang... "