
Seperti yang dijanjikan Yoga, 2 hari setelah Nindy beristirahat dirumah, Ia menemani Nindy ke kantor polisi untuk didengarkan keterangannya.
Hampir 2 jam Nindy diperiksa dan didengarkan kesaksiannya, didampingi oleh pengacara yang sudah lama bekerjasama dengan Yoga, Yoga mengkhawatirkan kesehatan Nindy.
Beberapa saat kemudian, Nindy dan pengacara yang Yoga pilih untuk mendampingi Nindy keluar dari ruangan pemeriksaan.
Yoga langsung mendekat kearah Nindy ketika wanitanya itu keluar.
" Gimana .. sayang.. kamu nggak apa-apa?"
tanya Yoga, yang sejak tadi sangat khawatir akan kesehatan Nindy.
" tadi nggak apa-apa hon... tapiii sekarang.. "
Jawab Nindy lemah dan dikeningnya mulai keluar keringat dingin.
bruk
Tubuh Nindy menglunglai, dan untungnya Yoga cepat memeluknya. wanitanya pingsan dan untung saja tidak terjatuh kelantai.
Yoga menggendong dengan sigap tubuh Nindy. Dia berusaha keluar dengan cepat menuju mobilnya.
Pak Budi yang bersiap saat itu sudah melihat Bosnya sedang berlari menggendong tubuh Nindy.
Dan membawa mobil mendekat kearah Yoga.
Membuka dengan cepat pintu penumpang dibelakang.
Dan kembali ke kemudi dengan cepat pula.
" Bud, ke rumah sakit tempat Ibu dirawat kemarin !"
" baik pak!"
Yoga berusaha membangunkan Nindy dari pingsannya, mengusap keringat yang membanjiri dahinya dengan sapu tangannya.
Tapi gadis itu masih tak sadarkan diri.
kekhawatiran Yoga sangat jelas dari sorot matanya, memandang Nindy sambil menyebut nama calon istrinya.
Hatinya pilu...
Dia sedang membayangkan, bahwa wanitanya sudah sedari tadi menahan sakitnya ketika masih diperiksa polisi tadi.
" Bud..!? Masih lama?!"
" Enggak pak, sebentar lagi kita sampai"
Jawab pak Budi.
Ketika mobil yang dibawa pak Budi sudah berada didepan pintu UGD, Yoga langsung menggendong Nindy lagi dan masuk kedalam ruangan UGD.
Petugas medis UGD dengan sigap dan cekatan menerima tubuh Nindy dan meletakkan diatas tempat tidur UGD, memasangkan Oksigen dan memeriksa Nindy dengan cekatan.
Yoga menyampaikan riwayat kepulangan Nindy setelah operasi dan kejadian yang dialami Nindy siang ini sampai ia pingsan.
Kekhawatiran Yoga akan keadaan Nindy sangat terlihat dari matanya.
Pak Budi menghubungi Ferdy agar lekas kerumah sakit untuk membantu Bos Besar mereka.
\=\=\=\=\=
Beberapa saat kemudian, Nindy menggerakkan tangannya yang sedang digenggam oleh Yoga, kemudian membuka perlahan matanya.
" Sayaaang..."
Panggil Yoga lembut . Hatinya sangat lega, karena Nindy sudah sadar.
" A..."
Jawab Nindy lembut.
Kemudian dokter jaga diruang UGD memeriksa keadaan Nindy lagi.
" Sudah sadar Bu... Apa yang dirasakan Bu Nindy sebelum pingsan tadi?"
Tanyanya
" Tadi tiba-tiba kepala saya terasa berat sekali dok..lalu dibagian kepala belakang seperti banyak semut gigit-gigit sampai saya nggak tahan sakitnya."
" Sekarang masih terasa sakit Bu?"
Tanya dokter lagi
" Sekarang sudah tidak dok "
" Fisioterapinya masih dilakukan kan Bu?"
" Masih dok, 2 kali seminggu."
" Ok.. pak Yoga, sepertinya Bu Nindy hari ini sangat kelelahan saja, karena hasil CT Scan terakhir beberapa hari lalu semua sudah dalam kondisi normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Lebih baik Bu Nindy beristirahat dulu, jangan kelelahan atau stres."
" Saya bisakan dok kalau istirahat dirumah saja?"
Tanya Nindy
" Kalau ibu lebih nyaman dirumah, bisa saja Bu. Asal ibu benar-benar istirahat dan tidak kelelahan secara fisik dan mental"
" Baik dok, saya akan benar-benar istirahat"
Janji Nindy.
" Terima kasih banyak Dok"
Ucap Nindy dan Yoga bersamaan.
" Bapak dan Ibu lebih baik pulang duluan, biar saya yang mengurus semuanya."
Ucap ferdy.
" Ok, Fer thanks yaa"
Lalu.. Yoga membantu Nindy bangun. Diam sebentar agar Nindy bisa menyesuaikan diri. Lalu membantu Nindy untuk berdiri dan merangkulkan lengannya dipundak Nindy membantunya berjalan perlahan.
Pak Budi sudah siap dengan mobilnya lagi didepan pintu UGD.
" Yoga !! It's that You ?! "
Yoga dan Nindy mengalihkan pandangan mereka kearah suara yang memanggil nama Yoga.
" Hiiii .. Mili !! What are you doing here ? How are you ?! "
Jawab Yoga yang mengenal gadis yang telah memanggil namanya tadi.
Lalu Gadis itu mendekat kearah Yoga, mencium pipi kirinya
" Aku baik-baik saja.. seperti yang kamu lihat ! Sepertinya kamu sedang sibuk hari ini..!! I call you later !"
Ucap Mili, demi melihat Yoga yang belum melepas rangkulannya dari pundak Nindy.
" Sorry... Calon istriku sedang sakit, aku baru saja mau membawanya pulang"
" Oooo OK"
Nada suara Mili kecewa
" A.. nggak apa-apa, Nin pulang sendiri saja dengan pak Budi."
Sela Nindy
" Oo.. ya.. sayang.. kenalkan ini Mili, dia sepupu Rosa."
Penjelasan Yoga.
" Iyaa... "
Jawab Nindy lemah.
" Aa, temani saja Mili. Kalian sudah lama tidak ketemukan? Biar Nindy pulang duluan."
Ucap Nindy.
" Kamu nggak apa-apa sayang?"
Tanya Yoga lagi.
" Nin nggak apa-apa a..."
" Ok, hati-hati ya... Sampai ketemu dirumah nanti yaa.."
" Bud...hati-hati dijalan, pastikan ibu sampai dengan selamat dirumah, lalu kamu kesini lagi. Atau nanti saya WA lagi kamu."
" Baik pak "
Jawab Pak Budi.
Sebelum Yoga menutup pintu mobil, diciumnya kening Nindy.
" I Love You.. "
" Hmmmm " Jawab Nindy lemah dan sudah menyandarkan kepalanya dikursi mobil.
Sebenarnya Yoga tidak suka dengan jawaban Nindy yang hanya sekedarnya itu.
Tapi dia beranggapan mungkin Nindy sangat lelah, jadi dia mencoba memakluminya.
Lalu mobil berlalu meninggalkan Yoga dan Mili.
\=\=\=\=\=\=
Sesampainya dirumah
Pintu rumah dibuka oleh mama
" Bagaimana tadi dikantor polisi nak? Beres semua?"
Tanya mama
" Alhamdulillah ma.. sudah selesai semua.. Nindy agak cape mah.. Nindy istirahat dulu yaa.."
Jawab Nindy yang tidak mengatakan keadaannya yang baru saja tadi pingsan. Ia takut membuat ibunya resah.
" Iyaa nak.. istirahatlah, kamu sudah makan?"
" Sudah mah.."
Jawab Nindy bohong
\=\=\=\=\=\=
Waktu sudah menunjukan pukul 18.00 WIB
Nindy sudah selesai mandi.
Dia melihat handphonenya, namun Yoga masih belum memberinya kabar apa-apa.
Setelah sholat dan merapihkan rambutnya, Nindy keluar kamar menuju ruang makan.
Disana, Nindy menemui papa, papa Iwan dan mama.
" Sudah enakan anak mama? "
Tanya mama sambil memeluk Nindy.
" Sudah mah.."
" Kita makan malam sama-sama yaa.."
Kata Mama lagi.
Nindy terus melihat ke handphonenya yang benar-benar sepi dari pesan ataupun telpon Yoga.
Dia sudah sangat ingin menelpon Yoga, tapi takut hal itu akan mengganggu Yoga yang sedang bertemu dengan Mili.
Hatinya sedikit resah.. karena sepertinya tadi dia menangkap mata Yoga yang bersinar ketika melihat Mili yang begitu mirip dengan Rosa.
" Dimakan nak.. makan malammu.."
Ucap mama.. demi melihat Nindy hanya memainkan makanannya saja.
Selesai makan malam, Nindy pamit kembali untuk beristirahat dikamarnya.
Nindy hanya diam diatas tempat tidurnya, melihat bolak balik handphonenya yang masih juga tidak ada kabar dari Yoga.
Tepat pukul 21.00 WIB, kamar Nindy diketuk dari luar
Ketika Nindy membuka pintunya, ternyata papa
" Sayang.. mang Kodir tiba-tiba tadi telpon, besok pagi papa ada urusan penting dipabrik. Jadi kita harus pulang malam ini. "
" Kamu ikut kami pulang yaa.. tidak enak sudah begitu merepotkan Iwan dan Yoga, biar mama yang merawat kamu dirumah."
Kata papa menjelaskan.
" Iyaa... Pah.. Nindy ikut papa mama pulang, sebentar Nin bereskan semuanya dulu."
Jawab Nindy.
" Ok... Nak.. oo iya .. jangan lupa kabari Yoga kalau kita pulang malam ini yaa"
" Baik pah.."
Jawab Nindy lagi.
Setelah menulis pesan untuk Yoga, Nindy sudah tidak melihat lagi apakah pesannya sudah diterima, ia langsung memasukan handphonenya ke tas.
\=\=\=\=\=\=
"Nindy pamit yaa pah, terima kasih untuk semua penerimaan dan bantuan papah... Maaf Nindy sudah merepotkan papa"
" Papa tidak merasa direpotkan sayang... Kan kamu anak papa juga sekarang, papa dan mamamu adalah sahabat papa.. nanti papa kabarkan kepulanganmu begitu yoga pulang yaa..."
" Iyaa Wan, tolong sampaikan maafku karena tidak menunggu menantuku pulang, aku takut kami terlalu kemalaman."
" Iyaa Ri... Hati-hati kalian diperjalanan yaa"
Mobil yang membawa Nindy dan papa mamanya sudah menjauh dari rumah papa Iwan.
Nindy sepanjang perjalanan lebih banyak diam, dan melempar pandangannya keluar jendela mobil, yang saat ini sedang diguyur hujan lebat.
Fikirannya berkelana kemana-mana ..
Sedikit kesal karena Yoga tidak juga menghubunginya.
Karena ia tidak ingin kedua orang tuanya melihat keresahan dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.. Nindy memilih merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Aku tak ingin memikirkan apa yang tak seharusnya aku fikirkan..
\=\=\=\=\=
untuk semua pembaca novelku.. jangan lupa terus dukung tulisanku lewat Like, komen dan point dari kalian yaa...
itu sangat berharga buatku. terima kasih banyak