
Dari semenjak kehadiran Tita dirumahnya kemarin, Abimanyu seperti dihantui oleh bayangan Tita. Senyum manis gadis itu ketika Abi mengantarkan paling akhir dari teman-temannya yang lain terus saja terbayang.
Social Distancing yang diterapkan pemerintah untuk menghentikan penyebaran Covid-19 hingga batas waktu yang belum ditentukan membuat Abi tidak bisa melihat gadis itu.
Sekitar jam 09.00 Abi sudah bersiap didepan laptopnya, karena hari ini akan ada Class Room yang terdiri dari 8 orang siswa dan 1 guru Fisika mereka. Abi berharap, 8 siswa diclass room hari ini salah satunya adalah Tita.
\=\=\=\=\=
Diruang kerja
Yoga juga baru saja memulai Work from homenya dengan beberapa staf dibeberapa anak cabang perusahaan yang ia miliki. Beberapa kesepakatan dan kedatangan para instruktur pesawat dari luar negeri terpaksa harus ditunda guna keselamatan semua orang. Sehingga jadwal-jadwal kegiatan harus banyak yang dirubah dan diatur ulang kembali.
Sementara Nindy menjalani rutinitasnya dirumah, setelah selesai sarapan, Ia akan sibuk ditanaman-tanamannya sambil berjemur.
"Sayang... kamu dimana?" panggil Yoga mencari keberadaan istrinya.
"Aku disini.. sebentar setelah ini aku masuk !" Teriak Nindy menjawab panggilan Yoga.
Satu panggilan masuk ditelpon genggam Yoga, yang adalah panggilan Video Call dari Maya sepupu Rosa, bersamaan dengan masuknya Nindy, membawa beberapa tangkai bunga Mawar.
"Hi.. Yoga .. apa kabarmu? bagaimana Indonesia ?" Tanya Maya begitu Yoga menerima panggilan itu.
"Aku dan keluarga Alhamdulillah semua sehat, bagaimana dengan kabarmu ? di Indonesia baru diterapkan Social Distancing hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Aku berharap semua ini akan lekas berlalu" Jawab Yoga sambil matanya terus memperhatikan Nindy.
"Aku juga berharap seperti itu, sangat menakutkan dengan semua yang terjadi disemua belahan dunia seperti ini. oo ya... dimana istrimu?"
"Sebentar.. aku akan mendekat kearahnya. Dia baru saja mengurus semua bunga-bunga dan tanamannya. Sayang... ini Maya ingin bicara.."
"Aku baik-baik saja, apa yang sedang kamu lakukan?"
"Aku baru saja mau merangkai bunga yang baru kupetik tadi. Jaga kesehatanmu yaa May.. mudah-mudahan kita bisa segera bertemu kembali"
"Ok, kalian juga jaga kesehatan yaa.. aku senang Nindy begitu baik mengurusmu Yoga. Kalau tidak aku masih bersedia menggantikan Rosa untukmu. Profilmu beberapa kali diterbitkan dimajalah bisnis disini. Dan sosok pendampingmu begitu ramai dibicarakan, Nindy terlalu berpenampilan sederhana untuk seorang istri pengusaha sukses sekelas dirimu Yoga.. dia harus mampu menjaga imagemu darling"
Nindy sangat terganggu dengan apa yang dikatakan oleh Maya, tapi dia berusaha mengendalikan dirinya dan ternyata Abimanyu yang berada tidak jauh dari mereka pun ikut mendengar.
"Aku sangat mencintai apa adanya istriku, justru aku sampai pada tahap ini adalah karena doa dan dukungannya, dan tidak ada yang perlu dirubah dari istriku. Atau mungkin seharusnya kamu sudah menikahi pengusaha yang lebih dariku jika kamu merasa lebih baik dari istriku. Ok aku rasa tidak ada yang perlu kita bahas lagi disini. terima kasih sudah menghubungi kami." Sambungan telpon pun langsung diputuskan oleh Yoga.
Yoga melempar Handphonenya dengan kesal.
"Pembicaraan enggak berguna!" dumel Yoga.
Nindy terdiam, Namun tiba-tiba Abimanyu bersuara
"Apakah Ayah merasa malu dengan Bundaku selama ini?"
Yoga menatap sengit ke arah putranya, Nindy yang begitu terkesiap dengan pertanyaan Abimanyu mencoba berada diantara keduanya.
"Tenangkan diri kalian... jangan karena ucapan orang yang tidak bertanggungjawab tadi malah kita yang bertengkar!"
"Kamu, ayah anggap sudah dewasa! dan bahkan kemarin pun ayah seakan disentil oleh caramu memberi pesan. Sekarang kamu duduk, kita bicara sebagai laki-laki dewasa!" tegas Yoga pada putranya.
Abimanyu tidak gentar dengan suara ayahnya yang penuh penekanan, karena dia pun ingin sekali mendengar pernyataan ayahnya.