
"Minumlah" ucapku pada Tita sambil memberikan gadis itu segelas air mineral.
Gadis itu masih menatapnya sedih. Tiba-tiba moodnya menjadi berubah melow ketika dia mengatakan akan ke Kalimantan.
Diki menghidangkan beberapa kue-kue kecil cantik dan juga coklat didepan Tita seperti yang aku minta.
"Makanlah... semua yang manis-manis katanya mampu mengembalikan hati yang sedih" ucapku padanya yang disambut tatapan diamnya.
Aku kembali bergabung dengan obrolan kawan-kawanku yang lain. Mencerna setiap cerita mereka dan sesekali menimpali obrolan mereka.
Suara panggilan dari ponselku menyudahi obrolanku dengan mereka, kemudian pamit untuk menerima panggilan itu. Aku menjauh bersandar pada tembok disisi jendela kaca yang agak jauh dari kerimunan tamu-tamu hotel yang sore itu sedang makan.
Sesekali tatapan mataku menangkap Tita yang memperhatikanku dari jauh. Pertemuan ini melebihi dari apa yang aku fikirkan. Karena ternyata gadis itu kini malah seperti mencintai dirinya lagi. Bahkan kata-katanya tadi dimobil mampu membangkitkan rasa yang dulu pernah kukubur dalam-dalam.
"Ta, gimana hubungan loe sama Tristan?" tanya Mely yang membuyarkan pandangan Tita yang saat ini melihat terus kearah Abimanyu.
"Mmmm baik-baik aja" jawab Tita.
"Kenapa dia nggak loe ajak buat gabung disini sama kita-kita?" tanya Mely lagi. Tita gelisah, dia tidak suka teman-temannya memulai perbincangan tentang Tristan, terlebih saat ini ada Abimanyu.
"Mmm.. dia hari ini jaga Mel, jadi nggak mungkin dia gue ajak untuk gabung. Lain kali yaa.. gue ajak dia untuk gabung sama kita-kita!"
"Gue heran Ta, loe kok bisa ya memperlakukan Abi kayak gitu? tuh anak nggak ada kurangnya!" timpal Bima.
"Gue enggak pernah nyangka loe bisa kayak gitu Ta!"
"Gue juga nyesel Bim, Mel.. gue nyesel.. sekarang rasanya gue mau memperbaiki semua itu, tapi loe semua dengerkan... dia aja udah mau pergi lagi! gue bingung mesti bagaimana?"
"Loe nggak mesti gimana-gimana juga kok Ta! belum tentu Abimanyu juga mau berhubungan lebih dari sekedar teman sama loe lagi!" balas Daffa.
Tita memandang tidak senang pada Daffa atas ucapannya.
"Kenapa? loe kira, semudah itu apa.. nerima lagi orang yang pernah mengkhianati kita? gue rasa sekarang keadaan berbalik buat loe Ta, ketika loe mencintai dia lagi. Dan ternyata Abi sudah mampu move on dari loe!" balas Daffa
Tita menunduk, rasanya dia tidak sanggup mendengar dan melihat tatapan penuh kekesalan sahabat-sahabatnya itu. Dirinya menyadari, semua itu karena kesalahan yang pernah dia perbuat. Tapi mendengar apa yang Sahabat-sahabatnya itu katakan seperti menelanjangi kesalahannya.
Melihat Tita sudah tertunduk, Tias mengalihkan pembicaraan mereka
"Kapan tanggal jabang bayimu akan lahir Mel?"
"Sekitar bulan Februari tahun depan Yas.." jawab Mely tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Enggak terasa yaaa.. kalian sudah akan jadi orang tua!" timpal Axsal tersenyum sambil menggenggam jemari Tias.
"Iyaaa.. rasanya waktu cepat berlalu. aku doakan Yas.. kamu juga cepet punya baby" ucap Mely tulus.
"Amin.." jawab Tias dan Axsal.
Sepertinya Abimanyu sudah selesai dengan panggilannya dan kembali lagi bergabung dimeja mereka.
"Tita kalian bully ya? kok sampai nunduk begitu?" ucap Abimanyu sambil duduk kembali ditempatnya semula.
"Udah Ta.. mereka ini karena terlalu sayang sama kita! jangan terlalu diambil hati! kalau kamu nunduk terus, mana bisa aku lihat wajah kamu yang cantik!" ucapku mengembalikan kembali suasana baik tadi.
Lalu Tita mengangkat kembali wajahnya. Walau masih tidak mampu melihat sahabatnya satu persatu.
"Ayooo.. mau ambil makanan apa lagi? bumil.. nggak ada lagi yang baby inginkan untuk disantap?"
"Dia sudah ketiduran lagi Bi, karena kekenyangan" jawab Mely sambil mengusap lagi perutnya.
"Kopi! gimana? disini pasti kopinya nikmat Bi!" ucap Bima.
" Baik mas akan kami sediakan" jawab Diki dan meninggalkan meja kami.
"Anak loe itu kembar bukan sih Fa? gue serem lihat perut Mely bisa sebesar itu!" ucap Aryo.
Semua tertawa
"Enggak! calon anak gue cuma satu, Mely nya aja yang ngegemukin!" jawab Daffa yang disambut tawa yang lainnya lagi.
"Kalau nanti loe melahirkan, jangan lupa kabarin yaa...gue kan sekarang sudah disini." Kataku.
"Jangan lupa hadiahnya yang bagus yaa Om Abi.." jawab Mely dengan suara menyerupai anak kecil.
Semua tertawa lagi.
Tak terasa hari beranjak senja. Dan aku mengajak teman-teman untuk kembali ke galery milik Axsal.
Setelah menyelesaikan semua tagihan, kami beranjak keluar hotel.
Dan ternyata didepan Lobby, sudah ada Tristan yang sudah menjemput Tita. Tita begitu kaget dan merasa jadi tidak enak kepada Abi. Tapi sepertinya Abi masih sibuk menerima telpon lagi dari seseorang sewaktu mereka baru saja akan keluar dari resto.
Tita berpamitan tanpa menjabat tangan Abimanyu lagi, karena takut mengganggu. Tias dan Mely bergantian menatap kearah Tristan dan Abimanyu.
Mereka melihat bagaimana Tristan merangkul bahu Tita, lalu melihat kearah Abimanyu yang masih menerima panggilan.
Abimanyu memamerkan deretan giginya yang rapih dan putih pada kedua sahabatnya itu. Dia mengerti, keduanya pasti merasa tidak enak dengan apa yang diperlihatkan oleh Tristan didepan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
Aku terlalu sibuk mengejar mimpiku.
Kurasa kali ini kau pun tak ada dimimpi itu
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk kalian yang terus mengikuti kisah ini. Semangat terus memberikan like dan komen positif kalian yaa .. itu menjadi penyemangat dan yang paling berharga buatku. 🙏🙏