
"Hati-hati .. pegang tanganku" pinta Abimanyu ketika mereka baru saja akan menaiki tangga pesawat.
Dokter Annisa menerima uluran tangan Abimanyu.
Tangan ini yang akan membawanya pada masa-masa bahagia sejatinya nanti....
Semoga...
"Kenapa tersenyum sendiri?" tanya Abimanyu demi melihat Dokter Annisa tersenyum sendiri.
"Sekarang.. kamu suka disentuh.." jawab Annisa sambil menatap sayang pada Abimanyu. Membuat yang ditatap salah tingkah.
"Aku hanya menyentuh apa yang menjadi milikku" balas Abimanyu membuat hati Annisa berbunga-bunga.
Ketika sudah didalam pesawat, dilihatlah bunda sudah duduk manis didalam.
Wanita yang sederhana namun nampak elegan.
Membuat kagum siapapun yang melihat Bunda.
Annisa mencium punggung lengan Bunda Nindy tanda hormat.
"Duduk sayang disamping bunda" ucap Bunda yang dipatuhi oleh Annisa. Abi melepaskan genggaman tangannya ketika gadis itu sudah duduk dengan nyaman dikursinya.
"Terima kasih sayang" ucap Annisa.
"Mmmmm" balas Abi tersenyum yang kemudian juga berjalan menuju kursinya.
Bunda tersenyum melihat adegan itu.
Lalu selanjutnya sepanjang perjalanan, Bunda dan Annisa saling bertukar cerita. Sementara Abimanyu membaca semua laporan pekerjaan proyek dari handphonenya.
Hanya butuh waktu sejam perjalanan, mereka sudah mendarat dibandara udara propinsi.
Dan kembali disebuah hotel berbintang empat, dimana kemarin Annisa menerima pinangan Abimanyu, tempat mereka akan melewati makan malam hari ini.
Hati Annisa menghangat berada ditempat itu lagi. Kenangannya akan pinangan yang tidak lumrah dan jauh dari kata romantis, tetapi malah membuat dirinya menjatuhkan pilihan pada Abimanyu.
Pilihan ... yang tanpa dipilih pun sudah begitu banyak rintangan yang akan mereka hadapi.
Sebuah tempat yang sudah diatur untuk mereka telah tertata rapih.
"Kita makan malam dulu yaa... bunda ingin sekali merasakan masakan khas Kalimantan Nis.." ucap Bunda sambil melihat semua hidangan yang sudah ditata begitu cantik dan menarik.
"Bunda pasti suka soto Banjar, segar Bun.." jawab Annisa sambil memperlihatkan mangkuk isi semua bahan soto yang belum dikasih kuahnya.
"Iyaa.. Bunda mau Nis.." jawab bunda lagi.
Lalu dengan lihai Annisa melayani bunda Nindy, menuangkan kuah panas pada mangkuk soto, menaruh potongan jeruk nipis dipinggir mangkuk dan menyertakan sedikit sambal dimangkuk berbeda.
Bunda sangat memperhatikan kelihaian Annisa. Kemudian mangkuk soto ditaruh perlahan didepan bunda.
"Terima kasih sayang.." ucap bunda Nindy.
"Sama-sama bunda.." jawab Annisa. Lalu beralih ke kursi Abimanyu.
"Sayang.. mau juga soto seperti bunda atau mau yang lain?" tanya Annisa penuh perhatian.
"Mmmm bener Nis..soto Banjarnya enak dan segar.. coba Bi!" ucap Bunda.
"Biar aku ambil sendiri sayang.. kamu juga makan" ucap Abimanyu sambil mengusap lengan Dokter Annisa.
.
.
.
.
.
.
Beberapa saat setelah makan malam bersama. Dan saat ini mereka sedang menikmati teh hangat .
"Kalau Nisa, masih lengkap papa dan mama nak?" tanya bunda.
Debaran jantung Annisa bergemuruh kembali, dengan pertanyaan Bunda yang langsung kepada status mama dan papanya. Sesaat Annisa memandang kearah Abimanyu. Dan Abi memberikan isyarat dengan menganggukan kepalanya.
"Mama meninggal sewaktu melahirkan Nisa.. Bun.. Mama waktu itu sudah berumur, sebenarnya riskan untuk hamil. Tapi menurut Nenek, mama sudah sangat lama menanti kehadiran Nisa sehingga waktu itu mama lebih mempertahankan Nisa daripada kesehatan Mama sendiri. Setelah itu Nisa langsung dirawat dan dibesarkan oleh orang tua Mama... nenek dan kakek Nisa" jawab Dokter Annisa sambil memainkan jemarinya karena gugup ditanya langsung perihal keluarganya oleh bunda Nindy.
"Papa semenjak itu hanya sesekali melihat Nisa dirumah nenek dan kakek. Tapiii..." suara Annisa mulai bergetar karena menahan tangis.
"Tapi.. ketika Nisa baru saja duduk dibangku SMA nenek dan kakek meninggal dunia Bun.. Kecelakaan, baru setelah itu Nisa diambil papa kembali"
"Dirumah papalah akhirnya Nisa tahu perihal peristiwa yang terjadi antara k Nena dan bunda juga ayahnya Abi" Dokter Annisa terdiam.
"Itu yang diceritakan Nenek dan kakekmu sayang..?" ucap bunda
"Kakek, nenek dan papa cerita seperti itu bunda" jawab Annisa.
"Kebenaran yang akan bunda katakan, juga harus ditanyakan kembali kepada papamu nak, jika nenek dan kakekmu masih ada mungkin akan lebih mudah bertanya pada mereka. Bunda harus katakan ini jika kalian ingin menikah" ucap bunda lagi.
Annisa menatap lekat-lekat mata bunda, Abimanyu terdiam.. dia mengetahui benar apa yang ingin bundanya katakan.
"Sayang... Bunda memang pertama kali mengkhawatirkan tentang latar belakang kamu yang ada sangkut pautnya dengan Nena. Namun.. Abi mendapatkan informasi yang bunda sendiri mengetahuinya bahwa dulu....." Bunda melihat terlebih dulu kearah Abimanyu. Lalu menatap lagi kearah Annisa...
"Dulu..... mamamu sakit dan meninggal karena ada kanker diharimnya Nis... karenanya Dia tidak bisa mengandung.... yang bunda tahu... kamu adalah anak angkat papa dan mamamu...nak.." bunda terdiam menangkupkan tangannya ketangan Annisa. Merasakan benar kesedihan yang saat ini sangat dirasakan Annisa.
Gadis itu beruraian airmata dalam diam. Segala perasaan berkecamuk didalam dirinya. Kata-kata papa dulu yang memakinya "anak tidak tahu diri" karena begitu histeris menolak papa yang ingin menikahi bekas teman sekolahnya, kembali terngiang-ngiang dalam ingatannya.
Semua pertanyaannya dulu atas sikap papa terjawab sudah ....
Kepedihan ketika Papa atas bujukan istri barunya yang adalah musuh semasa SMA nya, mengeluarkan surat wasiat melalui notarisnya, bahwa semenjak hari itu, Annisa hanya diperkenankan hidup dari sisa warisan dari nenek dan kakeknya. Dan dia sudah bukan tanggungjawab ayahnya lagi. Adalah misteri yang sekarang baru terjawab.
Bunda memeluk penuh kasih gadis kurus, kecintaan putranya itu.
Dia tidak pernah membayangkan bahwa garis tangan putranya harus mengalami cinta yang berliku dan tidak pernah mudah.
Dipeluknya erat gadis yang sudah mengisi hati putranya itu. Dalam diam mereka berpelukan. Abimanyu merasakan bagian terdalam hatinya sakiiit bagaikan diiris sembilu.
Mungkin hatinya akan lebih lega jika Annisa berteriak merintih atau meraung-raung.
Tapi ini tidak!
Itu yang membuat hatinya semakin bersusah hati.
"Carilah orang tuamu nak.. mintalah izinnya, bagi bunda dan ayah.. siapapun yang Abimanyu cintai dan inginkan... bunda dan ayah hanya bisa mendoakan kebaikan dan kelanggengan rumah tangga kalian" ucap bunda dipunggung Nisa, airmata berkali-kali pula menetes dipipinya, ikut merasakan kesedihan Annisa.
"Bunda..." lirih Annisa memanggil, kesedihannya begitu terasa menghancurkan ..