My Favorite CEO

My Favorite CEO
93. Memori 5




Dari balik tirai fitrase jendela rumahnya, Annisa mencoba melihat kebahagiaan Rara dan Rasya yang sedang tertawa. Terdengar juga olehnya suara Rio dan suara istrinya.


Semoga kalian akan selalu masih memiliki bertahun-tahun masa bersama.. "tetangga" batin Annisa.


Lalu ia merebahkan dirinya. Lelah yang melandanya belakangan ini membuat Annisa begitu mudah terlelap. Seperti juga sore ini. Hingga suara bel yang berkali-kali dipencet oleh Rara dan Rasya tidak terdengar olehnya.


"Sepertinya dokter Annisa belum pulang d, ayoo nanti saja kita kesini lagi" ajak Rara pada adiknya.


"Iya deh K" jawab Rasya, lalu mereka masuk kembali ke pekarangan rumah mereka.


"Looh kok masih dibawa lagi satenya nak?" tanya mama pada kedua buah hatinya ketika melihat sate yang tadinya diperuntukan untuk Annisa dibawa pulang kembali oleh Rara dan Rasya.


"Dokter Nisanya sepertinya belum pulang Ma ..Pah.." jawab Rara sambil menaruh kembali piring berisi sate tadi.


"Tadi bibi lihat kok ada taxi yang berhenti dirumah dokter Annisa" sela Bibi sambil membalikkan sate yang masih dalam panggangan.


"Mungkin dokter Annisa cape dan tertidur, jadi dia enggak mendengar bel berbunyi!" jawab Rio sambil memberikan beberapa obat yang harus diminum oleh istrinya. Lalu mengusap pangkal kepala istrinya penuh perhatian.


Mama Rara dan Rasya itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada suaminya. Yang dibalas senyuman oleh Rio.


"Coba sayang ... mama mau lihat lagi album fotonya!" pinta mama pada Rara, album foto yang dimaksud adalah album foto yang dibuat oleh Annisa untuk dirinya.


Rania mengusap foto anak-anaknya, kemudian membaca lagi tulisan mereka yang menyemangati dirinya.


"Dokter Annisa itu sangat baik yaa Ra ... dia membuat album dan video kalian untuk mama ..." ucap Rania pada putrinya.


"Iyaa mah, dokter Annisa sudah tidak punya papa mama lagi, jadi .. dia bilang Rara dan Rasya harus terus bahagia dan bersyukur karena masih punya mama dan papa" ucap Rara sambil memeluk bahu mamanya. Rania begitu terharu mendengarnya. Ia menatap keseberang halaman rumahnya. Berharap melihat Annisa dibalik jendela besar rumah sebelahnya.


.


.


.


"Selamat pagi dokter Annisa!" sapa Rara dan Rasya dari luar pagar ketika melihat Annisa sedang menggembok pagar rumahnya.


"Selamat pagi juga tetangga!" balas Annisa sambil tersenyum dan mendekat kearah kedua anak tetangganya itu.


"Kalian juga mau berangkat kesekolah?" tanya Annisa


"Iya dok, oo iyaa kemarin sore aku sama Rasya ngebel rumah dokter, kok enggak dibuka-bukain sih?" tanya Rara kemudian.


"OOO ... maafin yaa aku kelelahan semalam, jadi tertidur dan sudah enggak mendengar apa-apa lagi! memangnya ada apa kalian kerumahku?" tanya Annisa yang dijawab oleh Rania.


"Mereka mau menyampaikan rasa terima kasih saya pada dokter Annisa" ucap Rania sambil mengulurkan tangannya pada Annisa.


"Aku Rania, mamanya Rara dan Rasya"


"Saya Annisa, senang anda sudah dirumah lagi mba" balas Annisa.


"Terima kasih untuk video dan album fotonya yaa .. saya jadi bersemangat lagi!" ucap Rania kembali sambil mengusap tangan Annisa.


"Sama-sama .. semoga selalu ada semangat dan kebahagian untuk mba dan keluarga" jawab Annisa lagi.


"Papa cari kemana-mana tahunya kalian semua didepan!" suara Rio mengalihkan perhatian mereka semua.


"Selamat pagi pak Rio" sapa Annisa sambil menganggukkan kepalanya.


"Selamat pagi dok!" jawab Rio penuh wibawa.


Kemudian taxi yang menjemput Annisa datang


"Baiklah, taxi saya sudah datang ... saya pamit dulu .. Rasya .. Rara ... semoga hari ini dan hari-hari selanjutnya adalah hari yang paling bahagia untuk kalian semua ... bye..." ucap Annisa ceria sambil melambaikan tangannya dan masuk kedalam taxi.


"Daaah dokter Nisaaa!" teriak Rasya dan Rara. Rio menatap taxi itu pergi, lalu merangkul bahu istrinya.


"Jangan ngerjain apa-apa dirumah. Istirahatlah dulu, aku berangkat kerja yaa.. sekalian antar anak-anak kesekolah!" ucapnya lalu mencium ujung pangkal kepala istrinya.


"Iyaa mas .." jawab Rania.


.


.


.


Pada suatu sore


"Curaaang..! kamu curang! mana boleh kayak gitu nge gol in nyaa!" teriak Annisa sambil menggelitiki Rasya dibawah rumput halaman rumah Annisa. Rara ikut tertawa terpingkal-pingkal.


Mereka tidak tahu kalau papa dan mamanya sudah kembali sehabis kemoterapi.


Rio yang mendengar suara tawa anak-anaknya dari rumah Annisa, melihat kearah istrinya. Lalu Rania berkata ..


"Ayoo kita jemput anak-anak dirumah Nisa ..Mas .."


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Rio khawatir, karena biasanya sehabis kemo, Rania akan mual-mual.


"Nggak apa-apa mas" lalu Rania melangkah menuju rumah Annisa didampingi oleh Rio.


Ketika dipintu gerbang yang terbuka, Rio dapat melihat keceriaan anak-anaknya membuat senyum bahagianya terhias dibibir. Rania melihat, itulah senyum yang ia rindukan.


Senyum yang memang tulus karena hatinya ikut bahagia, semenjak ia didiagnosis CA Mamae, Rania tidak pernah merasakan senyum tulus itu dari bibir suaminya.


"Rara ... Rasya... mama pulang nak!" teriak Rio pada kedua anaknya. Ketiganya teralihkan dan melempar pandang pada suara Rio yang memanggil nama anak-anaknya.


"Mamaaaaa...." teriak Rasya dan Rara sambil berlari memeluk mama mereka.


"Kami pulang dulu yaa dokter Nisa.. bye!" ucap Rara dan Rasya bersamaan.


Rara, Rasya dan Rania melangkah terlebih dahulu.


"Terima kasih banyak yaa Nis, sudah menemani anak-anak" ucap Rio sambil menutup pintu gerbang.


"Sama-sama Mas !" jawab Annisa begitu saja, tanpa sadar. Rio menyunggingkan senyumannya.


.


.


.


"Rara ... nanti malam undang dokter Annisa untuk makan malam bersama kita yaaa... mama belum sempat membalas kebaikannya karena telah membuatkan video dan album foto itu .." ucap Rania pada putri sulungnya.


"Iya Mah.. nanti selesai Rara mandi, Rara akan kerumah dokter Nisa" jawab Rara sambil tersenyum dan mencium tangan mamanya.


"Terima kasih sayang.." ucap Rania.


.


.


.


Diruang makan keluarga


"Maaf yaa mba.. karena mendadak, saya cuma bisa buatkan pudding ini" ucap Annisa sambil menaruh pudding itu diatas meja makan.



"Waaa .. kelihatannya enak nih puddingnya Nis, Rara yang suka sekali leci!" jawab Rania.


"Oo ya? kebetulan sekali kalau begitu mba, ada yang bisa aku bantu ?" balas Annisa lagi sambil mendekat kearah Annisa dan bibi.


"Tinggal menyusun piring-piring makannya saja Nis, please .." jawab Annisa sambil menaruh lauk pauk keatas meja makan.


"Siap mba..." jawab Annisa sambil membantu menyiapkan piring-piring makan juga sendok dan garpunya.


"Oooo ... mama ngundang dokter Annisa makan malam?" seru Rio yang melangkah mendekat.


"Iyaa pah.." jawab Rania tersenyum.


"Selamat malam pak Rio" ucap Annisa.


"Malam Nisa .." balas Rio, lalu ia duduk disalah satu kursi dimeja makan.


Kemudian Rara dan Rasya, keduanya juga akhirnya keluar dari kamar mereka masing-masing.


"Haaaiii tetangga!" sapa Rasya kepada Annisa sambil tersenyum.


"Ade Rasya kok manggil dokter Annisa seperti itu!" tegur Rania pada putranya.


"Nggak apa-apa mba, itu istilah panggilan sayang kami, yang aku juga sering katakan ke Rasya" segera Annisa menyela perkataan Rania.


Rania lalu menatap kearah Rio kemudian Rara. Keduanya tersenyum.


"Oooo ... mama kira ade sudah lupa sopan santun... kalian lucu .. panggilan sayang kok "tetangga"!" Rania kemudian tersenyum dan diikuti tawa Annisa, Rasya, Rara dan Rio.


Selanjutnya makan malam pun menjadi begitu penuh keakraban.


.


.


.


Disamping kolam renang, mereka sekarang sedang duduk bercengkrama sambil menikmati pudding yang dibawa oleh Annisa.


"Aku mau mengucapkan terima kasih Nisa ... untuk foto-foto juga video yang kamu buat. Aku terharu dan bersemangat lagi untuk menjalani semua proses agar mampu beberapa tahun lagi mendampingi anak-anak" ucap Rania.


"Sama-sama mba ... aku senang kalau itu semua membuat mba Rania semangat lagi" balas Annisa.


Rio hanya diam mendengarkan, sambil memperhatikan kedua anaknya bermain kembang api.


"Nis ... tapi didalam proses itu ... aku tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai istri untuk mas Rio, maukah kamu menjadi istri untuk suamiku Nis.."


"Mama! apa-apaan sih kamu!" ucap Rio keras pada istrinya mendengar hal yang tidak diduga itu.


Annisa pun sangat terkejut mendengar hal itu. Ia bagaikan mendengar petir disiang bolong. Tangannya mulai gemetaran, hatinya menjadi sangat sedih ...


"Nisa ... maafkan istri saya, dia tidak bermaksud seperti itu.." ucap Rio sambil melihat kearah Annisa yang menundukkan wajahnya.


"Mas .. aku sadar kok dengan yang aku katakan tadi. Aku merasa .. Annisa yang cocok menggantikan peranku sebagai istri untukmu, apalagi Rara dan Rasya juga sangat menyukai Annisa!" balas Rania pada suaminya.


"Aku ikhlas mas ... aku bahagia kalau anak-anak punya Annisa sebagai ibu mereka dan aku sebagai mama mereka!" Suara Rania yang juga keras terdengar oleh Rara dan Rasya yang sedang bermain kembang api.


Airmata Annisa sudah tidak dapat terbendung lagi. Tangannya yang gemetar menandakan dia sudah tidak dapat lagi menahan kesedihannya.


"Mba Rania ... maafkan kalau kedekatanku dengan Rara dan Rasya telah membuat mba salah faham .." akhirnya Annisa dengan suara bergetar menguatkan diri untuk berbicara.


"Nisa... aku tidak salah faham .. aku memang ingin kamu bisa merawat mas Rio dan anak-anak, karena aku sendiri saja tidak mampu merawat diriku sendiri.." sela Rania sambil memeluk bahu Annisa.


"Mba... tolong ..." sela Annisa lagi.


"Aku buat foto-foto dan video itu adalah untuk membuka mata mba Rania, bahwa anak-anak dan suami mba Rania selalu ada dan mendukung mba Rania untuk berjuang bersama mereka melalui hal tersulit ini bersama-sama! menghargai setiap detik yang kalian miliki untuk saling berbagi kebahagiaan! Aku tidak ingin menjadi bagian kebahagiaan kalian! aku mempunyai pilihanku sendiri untuk bahagia .. jadi maaf mba ... saya menolak permintaan mba Rania! ini keluarga mba ! yang membuat mereka bahagia atau bersedih adalah mba Rania, bukan saya! sekali lagi ... saya minta maaf jika kehadiran saya membuat mba Rania salah faham, saya hanya menganggap Rara dan Rasya seperti layaknya kepada adik yang saya tidak miliki! tidak pernah lebih dari itu! terima kasih atas undangan makan malamnya, saya permisi!


Lalu Annisa berlari keluar dari rumah itu dengan airmata yang terus tertumpah, ia merasa terhina .. ia merasa apa yang dituduhkan oleh semua orang pada keluarganya itu menjadi benar adanya.


Rania terdiam, ia memperhatikan Rara dan Rasya saling memeluk satu sama lainnya. Rio langsung meninggalkan istrinya itu, ia langsung naik kekamar mereka.