
"Yah.. Abi ikhlas dan Abi tetap yakin ingin menikahi Annisa, apakah ayah dan bunda tetap ikhlas menerima Annisa dan keluarganya?" tanya Abi diakhir penjelasannya kepada ayah dan bunda.
Sejenak ... disana tak ada sepatah katapun keluar dari mulut ayah ataupun bunda. Beberapa saat kemudian ...
"Bi, ayah pernah bilang lelaki itu memilih bukan untuk dipilih bukan? Jika kamu meyakini apa yang menjadi pilihanmu dan ayah tahu kamu pasti juga sudah mengetahui segala resikonya. Maka Bismillahlah nak ... doa ayah .. doa bunda .. akan selalu menyertaimu"
"Abi minta maaf Yah .. jika pilihan Abi ini akan membuat Ayah atau Bunda kelak akan diperbincangkan banyak rekan bisnis dan media. Abi benar-benar minta maaf .. Yah.. Bunda.." ucap Abimanyu sangat tulus, dia faham sekali bahwa hal ini akan menjadi berita besar yang mungkin akan melukai harga diri Ayahnya.
"Bi... hakikatnya manusia dimata Allah, adalah karena keimanan dan ketakwaannya, siapa ayah yang berani melebihi Sang Pencipta. Ayah dan Bunda sudah teramat bahagia memiliki kamu yang tidak pernah sekalipun mengecewakan kami. Sampai hari ini. Baik-baiklah kalian atur segalanya disana. Kapan Ayah dan Bunda bisa melamar resmi Annisa, lekas hubungi kami lagi" jawab Ayah yang diiringi airmata bahagia bunda yang ada disampingnya.
Suami kebanggaannya, suami yang menjadi teladan dan yang menginspirasi kebaikan bagi dirinya juga putra mereka.
Rasa bangga dan kebahagiaannya menuntun Nindy mendekatkan bibirnya dengan lembut menyatukan dirinya diatas tubuh suaminya, Ia ingin mengucapkan kata terima kasih untuk segala kerendahan hati suaminya menerima pilihan hidup putra mereka.
" Yah... Hallo Yah..?!" sahut Abimanyu yang masih tersambung dengan Ayahnya.
Wanita penakluk hati ayah itu pasti sudah berbuat sesuatu!
Batin Abimanyu sambil tersenyum dan mematikan ponselnya.
Abimanyu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur hotel. Memikirkan langkah-langkah yang akan Ia lakukan kedepan terkait semua hal dalam hidupnya.
Ponselnya berbunyi, dilihat panggilan dari Annisa dengan bahagia Abimanyu mengangkatnya
"Sayang..." diujung telpon lain Annisa bersemu merah bahagia dengan sebutan itu.
"Sudah bicara sama Ayah dan Bunda Bi?" tanya Annisa dengan suara merdu menenangkan.
"Sudah.. Ayah dan Bunda ingin segera diberi kabar, kapan bisa melamar kamu secara resmi" jawab Abimanyu dengan suara parau memanjanya.
"Beneran Yang? Bunda dan Ayah tetap bisa menerima aku dan keluarga kandungku? tanya Annisa terkejut namun bahagia.
"Beneeer... kapan aku pernah bohong!" jawab Abimanyu merasakan kebahagiaan Annisa.
"MasyaAllah ... kamu dan keluargamu memang orang-orang yang sangat baik .. sayang... aku janji.. aku akan menjadi istri dan menantu yang paliiing Sholeha! Alhamdulillah sayang.... aku bahagia..! legaaaa !" balas Annisa penuh keharuan hingga ujung-ujung matanya mulai membasah.
"I Love You Abimanyu" ucap Annisa masih terharu hingga suaranya bergetar dalam tangis bahagia.
"I Love You More Annisa.." balas Abimanyu yang dihatinya tiba-tiba sangat merindukan Annisa. Rasanya saat ini Ia ingin memeluk gadis kurusnya itu.
.
.
.
.
.
.
Malam menjemput .. Setelah tadi Annisa menyudahi telponnya, Abi pun mulai menghubungi banyak rekan dan kenalannya untuk memulai banyak proyek masa depannya. Dan itu Ia ingin lekas selesaikan, Ia tidak ingin berlama-lama lagi untuk memiliki Annisa seutuhnya.
Laporan proyek diKalimantanpun diterimanya dari Febry. Beberapa perubahan terjadi pula berkaitan dengan rumah masa depannya dengan Annisa yang ingin dia bangun akhirnya disana.
Sebuah pesan masuk ke handphonenya.
Istirahat yaa Sayang... rencana-rencana itu besok masih bisa dibahas lagi. Jemput aku besok yaa.. nggak sabar pingin lihat kamu ..
Aku tiba-tiba jadi kangen _ Annisa
Rasanya ingin semua lekas diwujudkan, karena aku enggak bisa menunggu terlalu lama lagi. Aku juga kangen kamu _ Abimanyu
Abimanyu dan Annisa tersenyum bersamaan ditempat berbeda.
Annisa melihat cincin pinangan Abimanyu dijari manisnya. Allah tidak tidur
Batinnya penuh kesyukuran.
.
.
.
.
.
.
Hari beranjak siang, ketika Annisa baru saja menyelesaikan pekerjaannya membantu sang kakak ipar menyiapkan makan siang. Ketika Ia mendengar dengan jelas suara Abimanyu memberi salam dari luar rumah.
"Waalaikumsalam .." balasnya dengan senyum bahagia.
Abimanyu tersenyum bahagia juga melihat gadis yang semalaman membuatnya rindu.
"Boleh aku izin ingin memeluk kamu sayang..." ucap Abimanyu.
Annisa menganggukan kepala tanda memperbolehkan, lalu Abimanyu merengkuh gadisnya itu. Memeluknya rindu. Abimanyu memejamkan matanya. Ia tidak pernah jatuh cinta seperti apa yang ia rasakan pada Annisa.
Ketika hatinya sudah terpuaskan, Abimanyu melepas pelukannya.
"Kamu kedodoran dengan baju itu, ini .. aku bawakan pakaian dari dalam kopermu"
Annisa menahan wajahnya yang memerah karena malu, dia membayangkan calon suaminya itu sudah melihat semua barang kewanitaannya.
"Terpaksa.. daripada kamu nggak salin!" jawab Abimanyu tersenyum jahil tahu apa yang difikirkan calon istrinya.
"Kamuuuu iiihhh..." berlari Annisa malu meninggalkan Abimanyu sambil menjinjing goodie bag yang dibawakan Abimanyu tadi.
"Looh..Nis! kok malah lari..bukannya Abimanyu disuruh masuk toh!" teriak kakak iparnya sambil geleng-geleng kepala.
"Masuk mas Abi.. ayoo didalam saja nunggunya, sebentar bapak dan mas Sapto juga pulang dari sawah" sapa kakak ipar Annisa dengan logat jawanya yang kental.
"Maaf mba..ini ada sedikit oleh-oleh buat semua keluarga disini" jawab Abimanyu sambil menyerahkan beberapa kantong goodie bag besar-besar kepada calon kakak iparnya.
"Gusti Allah mas... kok yaa repot-repot, terima kasih banyak yaa mas Abi.." balas calon kakak iparnya lagi dengan sopan.
Lalu Abimanyu duduk dibale-bale yang kemarin juga dia duduki untuk makan siang.
Annisa keluar sudah dengan pakaian yang dibawakan oleh Abimanyu. Abimanyu tersenyum, dia tahu benar Annisa masih sangat malu.
Ketika Annisa sudah duduk didekat Abi..
"Aku suka yang warna beige dan hitam" dengan senyum jahilnya dia menggoda Annisa.
"Sayaaaang...!" balas Annisa malu.
Abimanyu tidak bisa menahan tawa bahagianya.
.
.
.
.
.
.
Adakalanya sunyi bersuara
Hanya perlu menikmati diam
memahami semua yang terjadi
Tak sekalipun pernah menyesal
memilih tuk bersamamu
memperjuangkan yang kita punya
Di sini juga tak apa
asalkan saling punya
Begini juga tak apa
karena kita bersama
Percaya saja akhirnya
satu hari nantinya
Semua ini akan jadi
cerita yang indah
(Kita Bersama_BCL)