My Favorite CEO

My Favorite CEO
89. Memori 1



"Rara ... Rasya?" ucap Annisa dengan kelebatan matanya yang begitu terharu. Abimanyu memperhatikan.


Annisa berdiri dari tempatnya duduk kemudian menghampiri kedua anak yang memanggilnya tadi. Abimanyu ikut berdiri mengikuti langkah Annisa, Ia melihat istrinya memeluk dan memberi ciuman pada anak-anak itu dengan penuh kasih sayang.


Namun ada yang membuat hati Abimanyu lebih tidak nyaman, tatapan seorang laki-laki kepada istrinya ketika Annisa mencium anak-anak itu.


Laki-laki itu terlihat lebih matang namun masih trendy, sehingga nampak masih menarik.


"Sayang ...." panggil Abimanyu pada Annisa, membuat Annisa menolehkan wajahnya. Demikian juga kedua anak itu, mereka melihat kearah Abimanyu. Karena diperhatikan seperti itu Abimanyu hanya memberikan senyumannya sekilas, hanya sekedar sopan santun.


Laki-laki yang menatap istrinya tadi juga ikut membalas senyuman Abimanyu.


"Rara.. Rasya .. perkenalkan .. ini suami ibu.." ucap Annisa yang didalamnya tersirat rasa yang begitu berat dipendengaran Abi.


Lalu anak yang dipanggil Rara memberikan tangannya untuk menyalami Abimanyu.


"Namaku Rara, dan ini adikku .. Rasya" ucap Rara yang diikuti oleh tangan Rasya juga yang menyalami tangan Abimanyu.


"Aku Abimanyu, suami dokter Annisa" balas Abi sambil membalas jabatan tangan keduanya.


"Saya Rio, saya papa anak-anak ini!" ucap laki-laki matang itu juga sambil menjabat tangan Abimanyu yang dibalas juga jabatan itu dengan sopan.


"Apa kabarmu Nis?" sapa Rio pada Annisa.


"Alhamdulillah, kabar Nisa baik mas.." jawab Nisa agak kurang enak karena harus menggunakan panggilan mas itu kepada Rio didepan Abimanyu.


"Ibu Nisa enggak berubah, tetap cantik seperti dulu ya Pah!" ucap Rasya anak yang lebih kecil, sambil bergelayutan ditangan Annisa.


"Rasya yang berubah yaa... sekarang sudah besar! K Rara juga tambah besar tambah cantik!" puji Annisa yang membuat Rara tiba-tiba memeluk penuh kerinduan pada Annisa.


Annisa menjadi serba salah. Hatinya kali ini ikut merasakan haru seperti yang dirasakan kedua anak yang berada didekapannya saat ini.


"Rara.. kangen ibu ..." ucap Rara masih dalam dekapan Annisa.


Abimanyu tidak mengerti akan hal yang sedang terjadi saat ini, tapi hatinya juga merasa terharu tapi terasa ada yang sakit melihat kedua anak itu mendekap Annisa penuh kasih sayang, bahkan tatapan ayah mereka seakan berbicara sesuatu yang dalam pada Annisa.


"Ayooo Rara ... Rasya ... jangan seperti ini lagi sama ibu ..." ucap Rio yang terasa begitu hangat menyebut Nisa dengan sebutan ibu.


Rio mencoba melepaskan dekapan Rara pada Annisa juga tangan Rasya yang memeluk tangan Annisa.


Namun, anak yang bernama Rara tiba-tiba memohon pada Abimanyu.


"Om ... aku mohooon sekali, bolehkah besok kami bertemu ibu Annisa lagi?" tatapan matanya yang begitu berharap membuat Abimanyu tidak mampu memberikan penolakan.


"Boleh, kita bertemu dihotel tempat kalian menginap. Om akan bawa dokter Annisa kesana!" jawab Abimanyu sambil membelai rambut anak gadis itu.


"Terima kasih om, om baik sekali!" jawab anak gadis itu sambil memeluk Abimanyu sebagai ungkapan terima kasihnya. Abimanyu berusaha menanggapi pelukan spontan itu dengan ramah.


"Kami menginap di hotel A, jam 10.00 dikolam renang" ucap Rio pada Abimanyu kemudian beralih pada Annisa.


"Papa .. boleh Arsya ikut Ibu ?" mohon si kecil pada papanya. Laki-laki matang itu tidak bisa menjawab, Ia hanya mampu memberi tatapan pada Annisa untuk yang menjawab permohonan putranya. Karena sebenarnya kerinduan yang dirasakan oleh anak-anaknya juga adalah kerinduan yang ia rasakan pula pada Annisa.


Bisa bertemu kembali dengan Annisa ditempat yang mereka tidak pernah duga adalah seperti sebuah anugerah.


Walau kini Annisa sudah milik orang lain, namun hanya dengan mengetahui Annisa baik-baik saja dan bahkan semakin terlihat keibuan sudah menenangkan bagi Rio.


Melihat Annisa saat ini ada dihadapannya membawa kenangan mereka ketika Annisa begituuu terasa dekat.


Flash Back


"Haii! kenapa semalam ini kalian masih diluar?" sapa Annisa pada dua orang bocah yang duduk didepan pagar rumah mereka, sang kaka memeluk bahu adiknya. Mereka berdua tidak ingin menjawab pertanyaan Annisa.


Mereka takut Annisa adalah orang jahat, tapi mereka juga tidak ingin masuk kedalam rumah karena keduanya menunggu sang papa dan mamanya kembali dari rumah sakit.


Annisa turut mendudukan dirinya didepan kedua anak itu, dia tahu mereka pasti menyangka Annisa adalah orang jahat.


"Kenalkan! namaku Annisa! aku tetangga kalian .. rumahku persis disebelah rumah kalian!" sapa Annisa mencoba memperkenalkan dirinya.


Kedua anak tadi menolehkan wajah mereka kerumah yang ditunjuk oleh Annisa.


"Sejak kapan kakak tinggal dirumah itu?" tanya anak yang lebih besar penuh selidik.


"Mmmmm sejak hari ini!" jawab Annisa


"Sejak hari ini? kakak tinggal sama siapa dirumah itu?" tanya anak laki-laki yang lebih kecil.


"Aku tinggal sendiri! dulu... itu rumah nenek dan kakekku, karena mulai hari ini aku koas dirumah sakit yang tidak jauh dari sini, makanya aku sekarang tinggal lagi dirumah itu!" jawab Annisa sambil menunjuk kearah rumahnya.


Kemudian Annisa mengeluarkan dua batang coklat yang tadi menjadi bekal sarapan paginya yang tidak termakan.


"Aku punya coklat, hitung-hitung ini adalah salam perkenalanku sebagai tetangga baru kalian!" ucap Annisa sambil menyerahkan coklat itu kepada keduanya.


Si kecil melihat kearah kakaknya, sepertinya dia menginginkan coklat yang ditawarkan Annisa, tapi Dia takut akan dimarahi oleh kakaknya. Sang kakak juga melihat ke arah adiknya, lalu ketangan Annisa yang memegang coklat itu.


"Aku bukan orang jahat! aku seorang calon dokter, jadi tidak apa-apa kalau kalian menerima coklat ini! aku cuma ingin berteman, dan mengingatkan kalau hari sudah malam, tidak baik anak kecil masih diluar malam-malam, berbahaya!" ucap Annisa lagi.


"Sebaiknya apapun yang kalian tunggu, kalian tunggu saja didalam rumah. Ayooo sana.. masuk! dan ini .. bawa coklatnya!" ajak Annisa yang membuat kedua kakak beradik itu berdiri, lalu mengambil coklat pemberian Annisa.


"Kalian ada yang jagain kan dirumah?" Annisa mengkhawatirkan keduanya.


"Ada bibi, didalam. Tapi bibi sudah tidur!" ucap yang kecil, lalu mulut sang adik langsung ditutup oleh tangan sang kakak yang tetap waspada.


"Ok nggak apa-apa, yang penting kalian bersama orang dewasa. Pastikan langsung dikunci pintunya yaa begitu kalian didalam!" teriak Annisa, karena keduanya sudah masuk lebih dalam kearah teras rumah dan akhirnya kedalam rumah mereka.


Annisa menutup pagar rumah kedua bocah itu dan memastikan keduanya sudah masuk kedalam rumah, baru dia berjalan memasuki pekarangan rumah neneknya.


Setelah berada didalam rumah. Annisa menarik nafasnya dalam-dalam. Berada kembali di rumah itu, membawa berjuta kenangan indah masa kecilnya bersama nenek dan kakeknya.


Semua barang peninggalan kakek dan neneknya masih sama seperti dulu sewaktu Annisa tinggalkan untuk ngekos yang dekat dengan kampusnya.


Walau hanya seminggu sekali, Annisa tetap rutin meminta si mbok dan suaminya yang sejak lama bekerja bersama nenek dan kakeknya untuk tetap menjaga kebersihan rumah itu. Sehingga tidak heran jika semuanya masih serapih dulu.


Annisa melangkah mendekat kearah dispenser, menuangkan air dingin kedalam gelas, kemudian meneguk air dingin itu sekaligus untuk menenangkan hatinya yang menangis.


Sampai ditahap ini, semua terasa sulit dilalui oleh Annisa sebatang kara, padahal ia memiliki seorang ayah. Namun untuk berada dekat dengannya saja begitu terasa sulit.


Apalagi ketika tersebar rumor yang Annisa sendiri tidak tahu siapa yang menyebarkan perihal peristiwa lampau, yang dulu pernah dialami oleh keluarga besar ayahnya yang telah mencelakai salah seorang calon istri pemilik perusahaan besar nasional Dirgantara Aviation.


Membuat ia sulit menemukan teman sejatinya. Karena didepan Annisa mereka semua bersikap sebagai teman, namun dibelakang Annisa, teman-temannya itu menggosipkan yang tidak-tidak tentang dirinya, membuat seolah-olah apa yang dilakukan oleh sepupunya menjadi tabiat yang juga diturunkan kepadanya.


"Aku harus tetap kuat! semua sudah sejauh ini! jangan sampai menyerah Annisa !!