
Yoga bersimpuh disamping tubuh wanita yang dia cintai tanpa bisa berkata-kata... air matanya terus mengalir dari mata yang tak ingin sedetikpun ia kedipkan...
" Sayaaaaang.... bertahanlah... demi kita... "
Batinnya melirih...
Terasa begitu lama datangnya Ambulance, membuat Yoga semakin gelisah.
Entah sudah berapa lama wanita yang dicintainya dalam kondisi seperti ini, tidak berdaya.. dengan darah yang terus mengalir dari belakang kepalanya
Matanya yang terpejam terlihat hanya seperti Ia tertidur pulas...
" Bertahanlah sayang.... jangan tinggalkan aku juga "
Pinta Yoga dalam hati
berkali-kali Yoga memperhatikan jarum jam dilengannya,
10 detik rasanya sudah seperti berjam-jam.
Perasaan menyesal menguasai hati Yoga.
Membayangkan kembali pembicaraan terakhir mereka tadi begitu tidak menyenangkan.
Semakin menyesakan dada.
Yoga seakan tidak bisa perduli pada yang terjadi disekitarnya. Pandangannya hanya tertuju pada tubuh yang sekarang sedang terbujur berlumuran darah.
Yoga tak menyadari calon ibu mertuanya digendong oleh calon papa mertua dan staf- stafnya Nindy karena pingsan.
Yoga pun tak menyadari jika diruangan itu sudah ada beberapa petugas keamanan dan polisi gedung yang datang ingin menyelidiki kasus kecelakaan Nindy.
Sampai Petugas dari Ambulance datang.
Seolah kesadaran Yoga kembali, melihat petugas medis yang sedang memeriksa keadaan Nindy, menutup bagian kepala Nindy yang terus mengeluarkan darah, lalu bersama petugas medis mengangkat tubuh Nindy keatas tandu.
Membawa Nindy masuk kedalam Ambulance dan kembali duduk disamping wanita yang sangat dia cintai itu, menemaninya didalam mobil Ambulance yang membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Didalam Ambulance Nindy diberi bantuan pemberian Oksigen, petugas Medis terus memantau denyut nadi Nindy.
Yoga merasakan semakin lama jemari Nindy yang terus dalam genggamannya semakin mendingin.
Yoga berusaha mengusap-ngusapnya memberikan kehangatan dari bagian tubuhnya demi Nindy.
Namun itu tak mampu menghangatkan jemari wanita terkasihnya.
Yoga semakin merasa tak berdaya..
Beberapa kali ia memanggil nama Nindy...
Hanya memanggilnya, berharap Nindy menyadari Ia tidak sendiri melalui kejadian ini, bahwa ada Yoga yang menemani dan ada disampingnya.
Jika itu yang diharapkan wanita yang dicintainya itu, sebelum kata-kata dan sikapnya tadi membuat Nindy terluka.
"Jangan tinggalkan aku... sayang..."
Lalu Mobil Ambulance masuk kedalam lingkungan UGD salah satu rumah sakit.
Yoga hanya bisa memperhatikan gerakan cepat dari petugas medis diambulance juga petugas medis dari UGD melakukan penyelamatan kepada Nindy.
" Pak Yoga, minum dulu pak "
Tiba-tiba Ferdy sudah berada disampingnya memberikan minuman air mineral untuk menenangkannya.
Tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut Yoga, dia hanya meminum habis air mineral dari tangan Yoga sambil menahan tangisnya yang hampir keluar.
" Maaf.. Bapak Keluarga pasien wanita muda tadi ? "
Tanya petugas Medis
" Iya... saya calon suaminya"
Jawab Yoga
" Boleh kami minta tolong Bapak mengurus ke Pendaftaran Pasien, banyak tindakan yang harus kami lakukan terhadap ibu..."
" Anindya Kasih... nama calon istri saya.. Anindya Kasih..."
" Ibu Anindya.."
Ucap ulang perawat medis tadi.
" Saya yang akan mendaftar sus.. "
Jawab Ferdy.
Lalu Ferdy berlalu meninggalkan Yoga yang sedang memperhatikan segala sesuatu yang sedang dilakukan petugas medis disana terhadap diri Nindy.
Kemudian Lita, Pipit, papa Iwan dan Pak Budi juga sudah berada bersamaan diruang UGD.
*Lihatlah... sayang
aku sudah tak berdaya...
jangan hukum aku dengan rasa bersalah ini...
aku ingin mendengar suara merdumu lagi..
melihat mata indahmu menatapku..
merasakan jemari lembutmu menyentuhku...
aku ingin mengatakan
di setiap menit nafasku....
bahwa aku... sangat mencintaimu...
Hiduplah demi waktu yang kita lalui dengan cinta*