
Pagi pun tiba....matahari bersinar dengan cerah secerah wajah Yugho yang tertidur dengan senyuman.
Tatkala matahari menghampiri wajahnya dia segera memeluk kembali selimut tebal istrinya.
Namun begitu diraba-raba tak tampak istrinya disampingnya.
"Hoaahmmm...."dia pun mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sekeliling ruangannya.
"Sayang...sayang...Firda kamu dimana?" Yugho memanggil-manggil istrinya namun tak ada jawaban. Lalu Yugho bangkit berdiri menuju wastafel untuk mencuci muka dan langsung menggosok giginya.
Selepas itu dia pergi ke kolam belakang , ke kamar mandi untuk mencari keberadaan istrinya, namun Firda tak tampak dimana-mana.
Yugho menjadi khawatir lalu dia berjalan keluar untuk mencari istrinya.
Sementara itu ditepi pantai Firda sedang asik memandang laut didepannya. Deburan ombak memecah kesunyian dipagi itu. Dia berjalan diatas pasir putih sambil sesekali menjemput riak ombak yang datang menghampiri kaki indahnya.
Firda melihat-lihat galery fotonya dan suaminya dihandphone dia tampak tersenyum bahagia. Namun saat dia melihat foto keluarganya wajahnya langsung berubah menjadi muram. Dia langsung bersedih tak lama kemudian tampak tetesan air mata jatuh mengalir diwajah mulusnya.
"Maa...Fie kangen mama, bener-bener kangen mah" bisiknya pelan dan ditatapi wajah cantik mamanya digalery handphone-nya sambil tersenyum, walau air mata masih saja mengalir.
Karena tak tahan melihat gambar mamanya akhirnya Firda memberanikan diri untuk menelpon mamanya.
Sekali dihubungi tidak angkat...dua kali dihubungi hasilnya pun sama dan akhirnya pada panggilan ketiga barulah ada yang mengangkat telponnya.
"Halo Maa...."dengan takut-takut Firda berusaha berbicara kepada mamanya.
"Hmmm....ini siapa?kenapa menelpon kemari?"
"Ini Firda mah....Angie anak mama" Firda berusaha memberitahukan siapa dirinya.
"Mama tidak kenal sama kamu, jangan ganggu mama.....masih banyak urusan yang harus mama tangani. Tutup telpon kamu jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan"
Baru saja Firda ingin melanjutkan pembicaraannya, mama sudah langsung menutup telponnya.
Hati Firda mencelos, handphone-nya pun terjun bebas diatas pasir putih itu.
"Ingin rasanya aku menangis sambil menjerit, tapi tidak mungkin karena ini di tempat umum. Tapi kenapa hati ini sakit sekali menerima penolakan mama. Padahal aku sudah tau jika mama pasti menolak teleponku".
"Maafkan aku mah, mungkin jalan yang fie ambil salah tapi Fie sangat mencintai mas Yugho dan aku bahagia bersamanya mah. Apa tidak ada celah untukku untuk meminta maaf mu mah?
Kenapa kamu tidak menyukai suamiku mah, padahal dia orang yang sangat baik. Dia memperlakukanku dengan baik dan lembut".
Aku hanya meminta doa dan restumu mah untuk semua jalan yang aku pilih dan semoga aku tidak berada dijalan yang salah mah".
Aku kangen mama..kangen sekali hu..hu..hu..hu"
Firda tidak kuat lagi menahan laju air matanya. Semakin dia mengingat mamanya maka air matanya pun meleleh kembali. Akhirnya dia memilih duduk diatas pasir sambil menelungkupkan wajahnya dan dia menangis.
"Kenapa laut mengingatkanku akan dirimu mah? Padahal jika mengingatmu aku akan menangis dan merasa menjadi anak yang paling durhaka" ujarnya lirih sambil sesegukan sekali menahan tangis. Diangkat kembali wajahnya dan ditatapinya lautan yang menghampar luas itu.
Yugho mencari terus keberadaan istrinya. Tiap saat dia menelpon istrinya namun tidak pernah diangkatnya. Dia pun menjadi gelisah dan segera mengelilingi tiap sudut hotel untuk mencarinya. Bayangan aneh-aneh berkelebat dikepalanya. Dia tahu tabiat istrinya yang masih labil itu yang lebih mengutamakan emosi ketimbang akal sehat.
"Fir...kamu dimana sayang, jangan bikin mas khawatir dong. Setidaknya kamu angkat telepon mas Fir biar mas lega mengetahui kalau keadaan kamu baik-baik saja" Yugho tampak berbicara sendiri.
Selesai mengitari hotel dan tak juga menemukan istrinya akhirnya Yugho menjejakkan kaki dipantai itu. Pandangannya menyapu seluruh pantai dan mulai meneliti satu persatu yang tampak dipantai itu.
Dilihatnya sosok tubuh langsing yang sedang menelungkup dan memegang erat kaki yang ditekuknya dengan rambut tergerai dan berterbangan ditiup sang angin.
Setelah dekat dan merasa yakin wanita yang membelakanginya adalah istrinya maka Yugho pun tersenyum sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Sayang...sedang apa kamu disini" bisiknya ditelinga Firda.
Firda kaget dan langsung menoleh ke arah Yugho. Begitu tau suaminya yang memeluknya maka dia segera menghapus air matanya.
Yugho segera menyibak rambut istrinya dan menggulung-gulungnya lalu mencium pelipis Firda yang biru akibat luka semalam.
Firda memeluk tangan suaminya yang menguncinya dari belakang. Lalu dia mengendorkan pelukan suaminya dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Yugho. Lalu Yugho pun duduk mensejajarkan diri dengan Firda sambil merengkuh istrinya.
"Mas minta maaf sayang jika membuatmu sedih atas kelakuan mas semalam.Sungguh itu semua di luar perkiraan mas.Jika mas tau dia akan datang maka mas tidak akan mau ikut mereka semalam".
Yugho masih saja meminta maaf kepada Firda saat dia mengetahui istrinya sedang bersedih. Sementara Firda tetap mendiamkan Yugho walau dalam hati tertawa. Ya, dia memang menangis tapi bukan menangis karena masalah yang dibuat suaminya semalam, dia menangis karena rindu akan mamanya.
"Fir, katakan mas harus apa agar kamu tidak menangis lagi?ayo dong ngomong jangan diam saja sayang" ujarnya sambil menengok ke arah istrinya dan meraih wajah istrinya lalu menghadapkannya ke arahnya.
"Katakan apa yang akan membuat reda amarahmu dan kamu bisa tersenyum kembali?" Yugho bertanya dengan antusias.
"Mas yakin mas akan melakukan apapun yang aku minta?" Tanya Firda tidak yakin.
" Tentu saja sayang....apapun yang kamu pinta"
"Awas ya kamu mas...jangan ditarik lagi kata-kata kamu mas"
"Baikah sayang...mas hanya ingin senyum kamu kembali" ujarnya sambil menggenggam tangan istrinya.
"Sekarang katakan kepada seluruh orang bahwa mas mencintaiku...katakan yang sekencang-kencangnya mas" perintah Firda
" Tapi lihat luka memar ini mas, orang-orang akan mengira kalau aku disiksa sama kamu tau" Firda menunjuk memar yang ada diwajahnya.
Yugho lalu membelai dan menciumi wajah Firda dengan lembut"...cup...cup...cup...
Kamu satu-satunya istriku dan aku akan menjaga kamu selamanya" lalu Yugho mendaratkan bibirnya kebibir Firda...mengecupinya...memagutnya...dan menghis*pnya dengan kencang.
"Aawww" teriak Firda. "Sakit tau mas" sambil mencubit perut suaminya.
"Oh...maaf sayang, aku lupa jika bibirmu luka" Yugho memonyongkan bibirnya dan meniupi ujung bibir Firda yang masih tampak memar.
"Woyyy...pagi-pagi kalian sudah panas-panasan begini, apa tidak cukup adegan semalam hah?" Tanya Andi yang datang tiba-tiba.
Yugho dan Firda berbarengan menoleh ke arah Andi.
"Apa....gara-gara kalian istriku ngambek semalaman tanpa mau aku sentuh" ujar Yugho kesal.
"Hahahaha..."Andi nampak tertawa mendengar penjelasan Yugho.
"Wah...masih payah aja loe Go urusan perempuan" ujarnya.
"Heyyy...aku bukan type orang yang sembarangan memberikan tubuhku kepada siapapun. Tubuhku hanya boleh dimiliki oleh orang yang benar-benar aku cintai. Tidak seperti kamu Di, sudah punya pasangan pun masih saja mencari anak SMA" dengusnya kesal.
"Sialan loe Go, pelan-pelan ngomongnya bahaya kalau bini gua tau" ujarnya kaget dan langsung memerah wajah Andi.
"Hmm....jangan macam-macam kamu dengan istriku, jika tidak ingin berurusan denganku Di" ancam Yugho.
"Tidak Go....aku tidak akan mengganggu istrimu, lagipula siapa yang mau berurusan dengan pria gila sepertimu hahaha..." Andi buru-buru memberi penjelasan kepada Yugho.
Yugho hanya tersenyum tipis melihat katakutan diwajah ganteng temannya itu.
"Aku mau main air, apa kamu mau ikut Di?" tanya Yugho.
"Nggaklah, mirip bocah aja loe Go main air dipantai" Andi mengejek temannya itu.
"Kalau gitu aku tinggal ya kamu Di" selesai berkata demikian Yygho menggandeng Firda menuju pantai menyambut ombak yang datang ke arah mereka.Lalu menariknya hingga tubuh mereka jatuh dan basah oleh air laut tersebut. Yugho terus saja menarik-narik istrinya agar mengikutinya berenang dipantai tersebut namun Firda selalu lari menghindarinya hingga Yugho hanya bisa menyiram-nyiram air ke tubuh istrinya.
Andi yang melihat adegan tersebut tersenyum manis. "Kamu beruntung Go bisa mendapatkan gadis muda yang cantik dan energik" Lalu Andi melipat tangannya di dada sambil sesekali mengabadikan moment bahagia sahabatnya itu.
Nita dan Firnie menghampiri Andi.
"Sayang apa yang kamu lakukan disini sendiri?" Tanya Nita istrinya.
"Nothing.....aku hanya melihat mereka yang sedang berbahagia. Temanku sudah seharusnya mendapatkan kebahagiaannya" gumannya pelan.
"Gila kamu Di, aku tidak suka melihat mereka berdua..memuakkan melihatnya"
Sementara Firnie dengan wajah penuh amarah menatap mereka dengan tajam.
"Ayuk Fir lebih baik kita main jetski daripada melihat mereka berdua yang tampak norak" ujar Nita.
"Hey...kalian jangan kemana-mana. Nanti kalian bahaya.Tunggu Yugho aku akan mengajaknya"
"Baiklah cepat ajak dia" teriak Nita.
Lalu Andi pun menghampiri Yugho dan mengajaknya bergabung.
"Aku tidak bisa bergabung bersama kalian, aku ingin menyewa speed boat untuk mengajak istriku memancing" jawab Yugho.
"Baiklah..kalau begitu kami yang akan ikut kamu Go" ujar Andi sambil tersenyum.
"Apa kamu tidak punya acara lain selain mengganggu bulan madu kami Di?"tanya Yugho.
"Go....kitakan sahabat, baru juga ketemu lagi masa iya kamu tidak mau mengajak aku" Andi menunjukkan wajah memelasnya.
"Sayang....apakah kamu merasa terganggu jika teman-temanku ikut acara kita" tanya Yugho kepada istrinya.
"Hmmm....boleh tapi dengan syarat, jangan ada wanita lain yang akan mendekati suamiku" ujar Firda sambil tersenyum dan menggandeng suaminya.
"Oke....aku akan memastikan Firnie tidak akan mendekati suamimu Fir" jawab Andi dengan bahagia.
***********
Firdaaa....ngapain sih loe ajak mak lampir ikut....gak takut mas Yu diganggu sama si lampir Fir??😅
Terima kasih sama komenan kalian....aku suka bacanya selain buat inspirasi juga buat vitamin agar semangat nulisnya🤗. Walau gak bisa banyak-banyak up-nya....tapi aku usahakan selalu up gaesss.
Love you all
Mamas and Firda