
"Gilaaa...kenapa gue harus ketemu dosen itu lagi sih. Swear dulu gue ser-seran kalau lihat dia, tapi semenjak gue dikasih nilai D sama dia langsung benci gue sama dia"
"Fir...itu Dosen Marcel bukan sih?" Tanya Alma
"Iya dia....siapa lagi itu ceweknya..dasar buaya darat. Gue kirain mah dia balik lagi sama si lampir ehh gak taunya beda lagi ceweknya. Kayanya gak asing itu muka ceweknya deh"
"Dia artis yang lagi naik daun iti loh Fir, mantannya Jordan dulu"
"Oh iya...madu loe ya Mith wkwkkwk"
"Aseem loe"
"Gila mainannya artis si Dosen naik pangkat dia dapat artis. Berapa itu biaya pacarain artis ya? Sekali kencan abis berapa duit?" --- Firda
"Tapi kan memang Pak Dosen orang kaya Fir. Kata kamu dia punya beberapa real estate kan?"
"Ah iya Al....gue hampir lupa"
"Aku rasa daddy lebih tau berapa tarif sekali kencan hihihi" Mitha mengerdipkan mata nakal ke arah Alma
"Iihhsss...kamu lah lebih tau Mith...itu kan madu kamu hihihi"
"Hihihi....mantan maduku...hampir tiap hari dulu Jordan shoping terus sama dia...boro-boro ngajak aku jalan bareng. Duh kalau ingat sakit hati ini"
"Berarti beneran dia itu cewek matre?" --- Firda
"Entahlah terakhir aku ketemu dia makan di mall tapi nggak mau bayar kata pak satpam"
"Loh kok bisa?"
"Katanya sih dompetnya ketinggalan. Tapi apapun alasan dia ya sudahlah. Aku juga nggak tega ngeliatnya ya sudah aku bayarin aja"
"Baik amat loe Mith..kalau gue sih gak bakalan mau kaya gitu. Yang ada gue tepokin tangan hahaha" ---Firda
"Kamu mah sadis Fir"
"Bodo amat...siapapun musuh gue gak akan dapat ampun dari gue"
"Jangan gitu Fir, doakan orang yang menzolimi kita biar sadar. Kamu mah suka banget sih huru-hara begitu" Alma mendesah kesal.
"Hehehe...mak hati gue kan belum seluas samudra. Masih jadi kali kecil wkwkwkwk"
"Oohhh...selokan maksud kamu"
"Suwek loh...ya nggak gitu juga bambang"
"Hihihi..." Alma dan Mitha tertawa bersama
"Ehh..bener nggak sih ini jalannya...waduh agak sempit ya jalannya mana banyak batu lagi...belum aspal semua loh jalannya" ---Firda
"Tunggu aku cek map dulu" Mitha segera mengecek google map nya.
"Tapi benar loh ini jalanannya Fir. Masih benar-benar kampung loh. Enak nih suasana alamnya ya"
"Wuih....bikin anak terus nih si Jordan wkwkwkwk"
"Ingat rumah aku dulu yang disurabaya...tapi jelek dan kumuh rumah aku tuh"
"Tapi kan kumuh-kumuh begitu diinjek juga sama daddy kan Al?"
"Ya iyalah Fir...pertama kali dia memasuki rumahku saat itu juga dia sudah mulai masuk ke dalam hatiku" wajah Alma langsung merona
"Eh ciee cieee...ehemmm..pangeran datang menjemput sang kakak tapi nasib membelokkannya ke arah sang adik wkwkwkkw"
"Hihihi...iya Fir benar, mata memandang ke kakak tetapi menarik tangan sang adik" ---Mitha
"Sudah....sudah jangan dibahas lagi, cepet cari rumahnya Fir...sudah pegel ini bokong aku" --- Alma
"Bentar gue turun dulu mau nanya rumah Jordan"
"Jangan Jordan Fir coba tanya rumah suster Ana" ---Mitha
"Oke"
Lalu Firda turun dari mobil dan menanyakan alamat rumah suster Ana. Merekapun memberikan petunjuk-petunjuknya. Nampak Firda menganggut-anggut tanda mengerti.
"Oke gaess....sebentar lagi kita akan sampai" Firda mulai menstater mobilnya dan menjalankan kembali menuju alamat yang diberikan suster Ana.
Akhirnya tibalah mereka disebuah rumah mungil nan asri. Nampak seorang wanita sedang menyapu halaman rumahnya hanya mengenakan daster seperti wanita-wanita pada umumnya.
"Fir...itu suster Ana" teriak Mitha
"Gaess....kita lupa tidak bawa oleh-oleh apapun untuk mereka" ujar Alma panik
"Tenang Al...nggak usah panik aku sudah bawa sembako dari semalam. Sebelum jemput Fird juga tadi aku sudah mampir di H bakery
"Sukurlah kalau gitu sedikit lega aku"
"Mommy...dimana kita sekarang?"
"Kita sudah sampai rumah suster Ana sayang. Yuk Ziel bangun" Alma nampak membangunkan Ziel dan menggendongnya turun.
"Waww....small house mommy seperti rumah pohonku mom" ujar Ziel yang langsung ditutup mulut anaknya dengan tangan mommynya.
"Uhmmm....mom i can't breathe" protes Ziel
"Ups sori sayang hehehe...lain kali tidak boleh berbicara seperti itu lagi ya" Alma mencium kening putranya
"Hmmmm" ujar Ziel sambil cemberut.
Merekapun langsung turun dari mobil dan menghampiri wanita itu.
"Ana" panggil Mitha.
"Mba Mitha" jawab suster Ana dengan mata berbinar.
"Ya Allah mba sampai juga digubuk aku. Ayo masuk...maaf ya keadaannya begini" suster Ana mempersilahkan mereka masuk dengan agak malu-malu dan sesekali meminta maaf dengan keadaannya.
"Gak apa-apa Ana santai saja. Kami biasa kok tinggal ditempat seperti ini" ujar Mitha meyakinkan Ana.
"Iya Ana dulu rumahku jauh lebih buruk dari ini jadi aku sudah terbiasa jika hidup dirumah sempit dengan gang becek hehehe" Alma tersenyum bersahabat.
"Ana ini rumah kamu atau rumah siapa?" Tanya Firda
"Ini rumah orang tuaku mba. Ayah dan ibuku malah tinggal di Jakarta jadi aku yang menempati rumah ini"
"Kenapa kamu nggak tinggal diJakarta saja Na?" --Firda
"Mas Jordan nggak mau, dia rela meninggalkan semuanya hanya demi aku mba. Kami sudah menikah resmi tetapi hanya didepan penghulu saja. Ayah mas Jordan tidak menyetujui hubungan kami mba. Padahal aku sudah rela melepas mas Jordan tetapi dia tidak mau melepaskan aku mba. Sebentar mba aku buatin minum dulu ya"
"Nggak usah repot-repot Ana. Kami bawa sedikit oleh-oleh untuk kamu" Mitha dan Firda segera mengeluarkan oleh-oleh yang mereka bawa untuk Ana.
"Mba...ini nggak salah? Duh kok tamu sih yang jadi repot. Aku jadi tuan rumah yang tidak berguna" ujarnya memelas.
"Tenang Ana kita kemari untuk menjenguk kamu jadi kamu santai saja ya dan jangan menjaga jarak diantara kita karena kita semua sama ok?" Jelas Alma
"Duh mba...tetap saja aku malu"
Mitha nampak mengeluarkan roti, cake dan aneka snack.
"I want this onty" Ziel langsung mengambil snacknya dan meminta mommynya untuk membukakannya.
"Ziel ini cemilan kamu sayang" ujar Mitha memisahkan bagian Ziel.
Lalu Ana membuatkan mereka teh manis hangat dan singkong goreng.
"Kalian pasti lapar ya..kita makan dulu yuk tapi apa adanya saja ya hihihi" Ana dengan ramah menawarkan mereka makan siang.
"Hanya ada sayur sop, perkedel sambal dan tempe. Ayo dedek bule kita mamam ya sama suster" Ana nampak memegang tangan Ziel dan menuntunnya masuk ke ruang makan.
"I want salad onty" jawab Ziel
"Makan sayur lebih sehat dek"
"Salad juga sehat kata daddy"
"Hehehe....duh pintar banget sih kamu dek jadi gemas onty Ana"
"I'm smart boy kata daddy"
"Iya bujang ganteng kamu memang smart hehehe" Ana dengan gemas mencium pipi merah Ziel.
"Ziel kita mamam sayur sop sama tempe oke?"
"Yes mommy i very very like tempe" jawab Ziel
"Al....serius anak loe doyan tempe?" Tanya Firda
"Iya...tiap hari aku wajib ada menu tempe dan tahu. Alhamdulillah Ziel suka hihihi"
"Hahaha...kok gue pengen ngakak ya liat anak bule makan tempe"
"Ini delicious onty kata mommy"
"Iya aja deh...hahaha" Firda masih saja tertawa melihat Ziel makan tempe goreng dengan nikmatnya.
"Ayo ah kita makan...aku sudah lapar" kata Alma
Merekapun akhirnya makan bersama sambil duduk lesehan dikarpet.
"Ana...itu ada pepaya mengkal...direbus na buat lalapan" Alma melihat dari jendela halaman samping rumah Ana.
"Kamu suka lalapan pepaya muda direbus?" Tanya Ana tidak yakin.
"Iya suka Na..biasanya dulu ibu suka memetik paya dan daun singkong buat makan kami walau hanya lauk tempe atau tahu tetapi nikmat" ujar Alma sambil menyuapi Ziel makan.
"Dia mah biasa na....lakinya kaya raya juga tapi dia tetap makannya tempe sama lalapan" ujar Firda sambil menggigit perkedelnya.
"Makan dikampung cuma begini aja kenapa nikmat ya?" Tanya Mitha sambil menyendok kembali nasinya.
"Suasananya yang bikin beda gaess. Dikampung semua masih alami,masih banyak hejo-hejo(pepohonan hijau) kalau dikota kan sudah udaranya panas pemandangannya cuma gedung-gedung bertingkat aja" --- Firda
"Makanya kalau pagi dan siang ruang makan aku sama daddy dibelakang Fir antara kolam dan taman. Cuma kalau malam ya makan diruang makan"
"Elo mah enak Al...rumah loe sekomplek lah kalau gua? Paling tarik meja dan kursi gue makan deh belakang sama mamas...wkwkwk biar kaya orang-orang kesannya makan dikebun"
"Aku sudah terbiasa makan diruang makan hihihi...gak ada pergeseran Fir" ---Mitha
"Mungkin karena memang tidak punya ruang makan juga hihihi"
"Tenang Na....Jordan anak orang kaya, kalau ayahnya meninggal semua warisan buat Jordanlah"
"Firdaaa...rem omongannya" ---Alma
"Hehehe....tapi bener kan mom?"
"Tapi aku lebih suka hidup begini sama mas Jordan. Berasa dapat kasih sayangnya dia" ---Ana
"Ana...lanjutin dong ceritanya" ---Alma
"Ya gitu deh...karena mas Jordan kekeh mau menikahi aku lalu mas Jordan di usir oleh ayahnya. Malam itu juga dia pergi dari rumah sampai ibunya menangis-nangis dan meminta Jordan tidak meninggalkan rumah. Tapi mas Jordan tetap kekeh pergi juga dan akhirnya kami tinggal disini"
"Jordan kerja dimana Na?" ---Mitha
"Masih mencari kerja dia mba. Sudah hampir 2 minggu belum dapat kerjaan dia"
"Oooo" jawab mereka bersamaan.
"Mau nggak kerja ditempat kawan aku?" Tanya Mitha
"Dia mau cari kerja didaerah sini mba, terlalu jauh jika di Jakarta"
"Coba deh nanti aku tanya-tanya rekan-rekan kerja aku yang didaerah sini" --- Mitha
"Iya mba boleh ....mudah-mudahan ada ya biar dia cepat dapat kerja. Kasihan juga jadi pengangguran nampaknya dia tertekan karena aku yang membiayai semuanya" ---Ana
"Iyalah...dia merasa tidak punya harga diri mungkin" ---Alma
"Aku juga akan minta info dari daddy semoga saja ada kantornya yang buka lowongan kerja didaerah sini"
"Iya mba Alma...semoga ya aku berharap sekali mas Jordan segera dapat kerja"
"Kita pasti bantu semampu kita Ana tenang saja"
"Terima kasih atas semuanya teman-teman. Apa aku bisa menjadi bagian dari kalian dengan keadaanku yang seperti ini?" Ana menatap memelas kepada mereka.
"Ya bisa dong sayang...kita bersahabat murni tanpa ada kasta-kastaan" Alma langsung memeluk Ana diikuti oleh Firda dan Mitha.
Taklama kemudian seorang pria nampak mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam...mas sudah pulang?" Ana langsung menghampiri suaminya dan memeluknya.
"Banyak orang dirumah hon?"
"Iya mas...kawan-kawan baru aku dari Jakarta" jawabnya lalu dia menuntun Jordan menemui kawan-kawannya itu.
"Oh...hay" Jordan nampak kikuk melihat Alma dan Mitha.
"Hay mas Jordan semoga harimu menyenangkan" Mitha menyodorkan tangannya dan Jordan menjabat tangannya.
"Hay Ezra" Alma pun menjabat tangan Jordan
"Ahh....Al itu sudah lama berlalu maafkan aku. Sekarang aku benar-benar Ezra Al" jawab Jordan sambil menunduk.
"Siapapun kamu yang penting kamu berbahagia Jordan" Alma berkata sungguh-sungguh dari dalam lubuk hatinya.
"Terima kasih Al"
"Hay Jo...udah pasti kenal aku dong" ujar Firda membanggakan diri.
"Siapa ya saya lupa" jawab Jordan
"Seehh...serius loe Joe lupa sama gue? gue Firda yang dulu jadi bodyguard nya Alma. Masa elo lupa sih. Kan sebelum ketemu Alma pasti ketemu gue dulu Joe" Firda nampak cemberut melihat Jordan yang pura-pura lupa.
"Oh...iya aku ingat, gadis paling reseh dikampus ya. Tukang palak hehehe"
"Cieee...masih inget aja loe waktu gue palak beli cilok wkwkwk" Firda terkekeh
"Ya ampun malu-maluin aja kamu Fir, ngaku jadi bodyguard tapi cuma malak cilok doang" Omel Alma
"Hahaha....waktu itu gue masih kuliah cuy...gegara ketahuan gue pergi dugem trus bayarin cowok atm gue langsung disita sama nyokap wkwkwk"
"Hahahha....sukurin, rasain kamu. Dasar oneng ke dugem sih bayarin cowok"
"Wkwkwkw...gue juga bingung bisa kaya gitu"
Semua tertawa mendengar cerita Firda.
"Hay boy....how are you" tanya Jordan pada Ziel.
"Fine om...ajak aku main bola sama kawan-kawan aku om"
"Kawan-kawan?" Jordan melirik ke arah Alma.
"Oh..tadi aku bilang dia bisa main bola dilapangan. Biasanya kan banyak anak-anak main bola dilapangan tuh. Biasanya dimana ya anak-anak main bola?" Tanya Alma
"Mas...ajak Ziel ke lapangan belakang, biasanya suka ngumpul anak-anak main bola disana" ujar Ana
"Oh...oke yuk ikut om kesana" Jordan kemudian mengajak Ziel berjalan kelapangan belakang melihat anak-anak bermain bola.
"Sudah pantas itu Jordan punya anak" ledek Firda
"Doain ya biar disegerakan" jawab Ana
"Aamiin..." jawab mereka bersama.
Merekapun terus bercerita sambil tertawa-tawa. Ana nampak bahagia sekali memiliki kawan-kawan seperti mereka. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Merekapun langsung berpamitan mengingat perjalanan yang akan mereka tempuh bisa lebih dari 2 jam.
Mitha segera melarikan mobilnya secepat mungkin karena Abra sudah menghubunginya dari tadi.
Alma pun harap-harap cemas dan dia berdoa dalam hati agar daddy pulang telat sehingga begitu suaminya sampai dirumah dia sudah tiba terlebih dahulu.
Firda nampak santai sebab Yugho sudah memberitahunya jika dia pulang malam karena harus mengantar ayahnya untuk check up jantungnya.
Disaat mereka sedang diburu waktu sang mobilpun menunjukkan protesnya dengan cara mogok ditengah jalan.😂
Mereka semua panik karena sudah lewat maghrib mereka masih berada dijalan tol.
"Gimana ini...aku nggak bisa ganti ban" kata Mitha
"Gue juga nggak bisa" jawab Firda.
"Aku juga nggak ngerti" jawab Alma
"Gimana ya...udah telepon derek mobil aja. Ada yang punya nggak nomornya?" ---Mitha
"Cari di google" jawab Firda
Akhirnya merekapun menghubungi pihak jasamarga untuk menderek mobil Mitha yang mogok itu.
"Ya ampun ada-aja aja nih sudah tau kita terburu-buru. Terus nasib kita bagaimana? Aku nggak berani mengangkat telpon dari Abra"
"Aku juga nggak berani mengangkat telpon dari daddy. Aku lupa nggak ijin tadi sama daddy"
"Akupun sama...nggak bilang sama Abra jika aku pergi jauh"
"Ini berarti salah kalian semua. Pergi tanpa ijin suami, jadi seperti ini deh kita sekarang" sembur Firda.
"Tumben kamu ingat minta ijin Fir" ---Alma
"Hahaha...gua juga lupa nggak minta ijin hasben gue"
"Sontoloyooo kamu Firdaaa"
Alma dan Mitha mencubit Firda.
"Kirain mah dia yang paling bener nggak taunya sama parahnya huh" ---Alma
Setengah jam kemudian mobil derek pun tiba dan merekapun bernego meminta diantar sampai ke Mall TA sementara mobil diantar ke bengkel.
Jam 7.30 akhirnya mereka tiba di Mall Taman Anggrek. Dengan takut-takut Alma menerima telpon dari suaminya.
"Iya bie...maaf aku masih di Mall bie Ziel minta main ice skating"
"Kemana saja kamu? Aku menelponmu dari tadi sayang. Sampai-sampai aku membubarkan rapat karena masih memikirkan kamu.
Dari jam 3 aku menelpon kamu bisa kamu bayangkan kamu tidak ada dimana-mana sementara telepon tidak bisa dihubungi.
Aku jemput sekarang juga, tunggu disitu jangan kemana-mana"
"Iy-iya bie aku tunggu"
"Wkwkwk....bisa aja loe Al anak dijadiin alasan"
Firda
"Hubbie aku marah tau, cuma Ziel jadi tameng aku" Alma nampak sangat menyesal
"Abra pun marah...dia tidak mau mengangkat telponku" Mitha pun nampak bersedih
"Aduh..nggak tega gue melihat wajah-wajah memelas kalian ekwkwkwk" Firda mentertawakan teman-temannya.
"Suweek kamu Firda teman sedih malah diketawain" Alma dan Mitha nampak melamun
"Hihihi..aku turut bersedih kawan-kawan. Aku mau telpon mamasku ahhh" Firda pun segera menghubungi suaminya.
Berkali-kali Firda menelpon Yugho namun selalu di reject oleh suaminya.
"Busyet...laki gue kenapa ini masa gue telpon daritadi direject terus sih" Firda masih penasaran dan terus menghubungi suaminya.
"Jalan saja terus kamu, nggak usah urus anak. Biar Celline aku bawa ke rumah ibu" bunyi sms Yugho.
"Hah....laki gue parah nih marahnya" lalu Firda pun menunjukkan sms dari suaminya kepada teman-temannya dan merekapun gantian mentertawakannya.
********
Naaahkan....begini jadinya mommy-mommy kalau jalan suka lupa ijin suami, begitu sampai rumah diberikan pandangan tajam seperti terdakwaðŸ¤
Walaupun rumah kampung tapi Jordan semangat membuat anak😂semoga Ana bisa segera hamil😌