Miss Rusuh

Miss Rusuh
Gadis Cengeng



Mereka berpelukan dalam hujan. Entah mengapa Mitha malah menangis hingga membuat Abraham bingung.


"Tenang girl, jangan menangis. Heyy....aku ada disini untukmu. Lihat aku, tatap aku, aku sudah ada bersamamu. Aku langsung meninggalkan mereka begitu aku lihat kamu tidak ada disana. Apa kamu pikir aku melupakanmu? Dasar bodoh...mana mungkin aku mengabaikanmu. Bersamamu sedekat ini adalah hal yang sangat berarti untukku. Apa kamu tidak lihat jika aku seperti ini hanya karenamu?" Ujar Abraham sambil tetap memeluk Mitha dan membelai-belai rambut basahnya.


"Aku hanya seperti bermimpi jika aku benar-benar bisa bersamamu. Menjadi temanmu saja aku sudah sangat berbahagia. Aku tidak akan pernah meminta lebih darimu, karena aku tau siapa aku. Aku tidak akan bisa seperti mereka Abra. Aku hanya gadis cengeng yang tidak tau harus berbuat apa" ujar Mitha merendah.


"Jika kamu adalah gadis cengeng seperti katamu,maka menangislah dibahuku, aku selalu menyiapkan bahuku untuk menampung air matamu dan aku tidak akan melihatmu menangis, jika sudah puas menangis mendekatlah kepadaku, aku akan memberikan dadaku untuk kamu peluk"


Mendengar perkataan Abraham membuat tangis Mitha semakin pecah. Dia butuh seseorang untuk mendengarkan semua keluh kesahnya. Namun dia masih menahan untuk tidak menceritakan kisahnya. Dia takut Abraham akan menjauhinya jika mengetahui Mitha sudah bertunangan. Namun disisi lain, dia juga ingin terbuka kepada Abra. Aahh...mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita.


Mereka segera masuk kedalam ruangan kembali. Abraham memberikannya handuk tebal dan segera menyuruh para asistennya mencari baju ganti untuk Mitha. Mitha tampak menggigil dengan sigap Abraham memberikannya secangkir coklat panas.


"Are you okey?" Tanya Abraham mulai khawatir.


"Yes, i'm okey" jawab Mitha sambil menggigil kedinginan.


"Aku akan membawamu ke hotelku" ujar Abraham.


"Tidak...aku tidak mau, aku ingin pulang saja. Orang tuaku akan khawatir jika aku tidak pulang" Mitha nampak sangat cemas.


"Aku akan mengantarmu pulang girl"


"Tidak perlu Abra, ada sopir yang selalu setia mengantarku" jawab Mitha


"Biarkan aku mengantarmu girl, pliss" bujuk Abra. Namun Mitha menolak dengan keras permohonan Abra tersebut.


"It's oke tapi berjanjilah besok kamu akan menemuiku kembali" Abra memegang ke dua tangan Mitha dengan mesra. Tetapi semua orang disekeliling Abraham menatap Mitha dengan rasa tidak suka terutama kaum hawa.


"Mereka menatapku dengan penuh kebencian Abra, aku tidak ingin bertemu denganmu kembali ." jawab Mitha sedikit tersendat.


"Ssstttt....perset*n dengan mereka semua. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dalam lagi. Katakan dimana aku bisa menjemputmu" bujuk Abra.


"Aku akan menghubungi besok" jawab Mitha.


Abraham langsung mengambil handphone Mitha dan menulis namanya disana.


"Call me okey!" serunya.


Mitha mengangguk sambil tersenyum manis. Lalu dia pun mengambil kembali handphone-nya.


Seorang gadis bule menarik tangan Abraham dan membawanya menjauhi Mitha. Terlihat mereka sedikit berdebat disana. Entah apa yang dibicarakannya. Taklama kemudian Abraham kembali menemui Mitha dan nampak mata gadis itu menatap dan menyorot Mitha dengan mata tajamnya dan menyeringai dengan wajah penuh kebencian.


"Baiklah sudah malam, kamu harus istirahat baby" ujar Abraham sambil memegang pundak Mitha.


"Aku pulang ya" jawab Mitha. Seakan tak rela berpisah dengan Abra.


Abra yang mengerti akan hal itu langsung memegang dengan erat dan mencium punggung tangan Mitha, seketika seluruh wajah dan tubuh Mitha ikut memanas. Jelas perlakuan Abraham yang seperti ini membuatnya melayang hingga ke langit ke tujuh. Teramat jarang Mitha merasakan keromantisan dari pasangannya dan hal tergila yang pernah dilakukannya adalah mengikuti saran Firda waktu itu. Kini dia merasakan rasanya disayangi dan dicintai oleh seorang pria. Aah...andai Abrahamlah tunangannya saat ini sudah pasti dia ikut berbahagia juga seperti ke dua temannya itu. Dan dia juga akan menceritakan bagaimana romantisnya pasangannya memperlakukannya. Andai Firda mendengar ini sudah pasti dia akan kesal karena dirinya berhasil menarik perhatian pria pujaan wanita di seluruh dunia. Ingin sekali dia bertemu teman-temannya dan menceritakan semuanya. Sudah pasti teman-temannya akan mencubitinya, mengomelinya dan memberikan suport juga kepadanya.


Ahhh....bahagianya memiliki sahabat rasa saudara seperti mereka.


Abraham mengantar Mitha hingga ke mobil. Sebelum berpisah dia menyempatkan diri mencium kening Mitha, dan Mitha hanya bisa memejamkan matanya merasakan semua rasa yang ada didadanya saat ini.


"Segeta telpon aku jika sudah sampai rumah" bisiknya ditelinga Mitha yang membuat seluruh tubuh Mitha meremang.


Mitha tersenyum dengan sangat bahagia sambil menganggukkan kepalanya.


"Be carefull girl...bye" Abraham melambai-lambaikan tangannya saat mobil Mitha mulai menjauh dan Mitha terus saja memandang Abraham sampai Abra hanya terlihat sebagai sebuah titik.


"Ahhh....Abra, kamu membuatku melambung saja". Mengingat Abraham membuat Mitha tersenyum sendiri dan merasa bahagia.


Ahhh...dia lupa meminta foto bersama Abraham.


"Kenapa aku bisa lupa berfoto dengannya?jika dia tidak punya foto bersama Abraham,teman-temannya pasti akan mengatakan 'halu aja loe Mit'. Lupaaa aku lupaaa karena terlalu bahagia" Mitha nampak kesal pada dirinya sendiri.


Dia memeriksa handphone-nya nampak puluhan panggilan masuk dari ayahnya....Jordan....Alma dan juga Firda. Dia segera membuka grup chatnya. Firda mengunggah banyak berita dan foto dirinya bersama Abraham.


"Hahh....aku jadi trending berita hari ini?" Ucapnya sambil membeliakkan matanya tak percaya.


Pantas saja ayahnya dan Jordan menghubunginya sampai puluhan kali.


"Apa?? Jordan? Berarti pria itu tau jika aku bersama dengan Abra? Seketika lemas sudah tubuhnya mengetahui keluarganya dan Jordan mengetahui skandalnya bersama Abraham. Dia melihat foto itu saat dirinya dirangkul Abraham dan dia menengadahkan wajahnya menghadap Abra. Ahh...foto yang indah" gumannya dalam hati. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Abraham.


"Girl...maafkan aku jika media memburumu kemana-mana. Jika kamu merasa tidak nyaman aku akan memblokir media-media itu dan segera akan mengadakan konfrensi pers" bunyi pesan Abra.


"Oke...jaga dirimu baik-baik girl, miss u" balas Abra kembali.


"Apaaa....miss u?" Mitha menggigit bibirnya kembali sambil menahan senyum lalu dia meletakkan handphone-nya didadanya sebagai tanda dia juga merindukan pria itu.


Bagitu sampai dirumah ayah dan ibunya juga Jordan sudah menunggunya diruang keluarga. Dan bagaikan seorang terdakwa dia akan segera diinterogasi tanpa ada pengacara pembelanya.


"Katakan kamu dari mana dan bersama siapa?" Tanya ayahnya sambil menatap wajah anaknya dengan kesal.


"Aku hanya ikut menonton konser grup X pih" jawabnya.


"Lalu apa yang media-media itu beritakan?jawab" bentaknya. Papi Mitha melemparkan setumpuk artikel dan foto-foto dirinya bersama Abraham. Mitha membaca berita itu satu persatu.


"Lihat Mitha, ini adalah Jordan tunangan kamu. Bagaimana mungkin kamu bisa membuat berita yang mencemarkan nama baik keluarga kita? Apa kamu tau reaksi Jorda? Dia sudah berulang kali menelponmu tapi kamu tidak menjawab satupun telponnya. Apa yang terjadi padamu?"papi Mitha kembali mengomeli anaknya.


"Dia sahabatku pih, dia hanya sedang melindungiku. Dia juga tidak mau aku kena masalah pih. Tetapi sedari siang menjelang sore kami dikejar-kejar wartawan pencari berita pih" ujarnya sambil tertunduk.


Papi Mitha hanya bisa memegang kepalanya yang berdenyut-denyut.


"Sepertinya pernikahan kalian harus dipercepat" ujar papi Mitha.


"Kenapa harus seperti itu pih? Aku sama mas Jo akan saling meyakinkan diri dulu pih" jawab Mitha.


"Apa maksud kamu Mit?" Tanya Jordan


"Kita harus meyakinkan diri kita masing-masing mas Jo, apakah kamu yakin akan menikah denganku? Apa kamu yakin bisa menjaga perasaanku?bagaimana hubunganmu dengan artis itu yang sedang lengket-lengketnya bersamamu mas?" Tanya Mitha.


Seketika wajah Jordan menjadi kesal.


"Kalian selesaikan masalah kalian baik-baik" setelah berkata seperti itu, papi Mitha meninggalkan mereka berdua.


"Dengar Mitha, aku hanya berkonten dengannya. Dia menjadi pasanganku hanya untuk kepentingan kontenku saja tidak lebih" jawab Jordan.


"Sampai harus membelikan dia apartemen kah?bukankah itu apartemen yang akan kalian tinggali bersama?" Tanya Mitha lagi.


"Kamu jadi wanita jangan bodoh-bodoh amat dong Mit. Kamu dengarkan yang aku katakan?hanya untuk kepentingan kontenku saja. Titik...ohh jadi kamu ngiri aku belikan dia apartemen? Baiklah tunjuk, kamu ingin apartemen yang mana? Besok aku belikan untukmu. Bersamamu saat ini hanya membuatku semakin kesal saja" Jordan berkata dengan dingin.


"Aku memang gadis bodoh mas...karena cinta aku menjadi bodoh tetapi aku pun tidak ingin terus-terusan dibodohi kamu mas. Sebaiknya kita intropeksi dulu dengan hubungan kita mas" jawab Mitha sambil tertunduk.


"Kerena aku tidak yakin jika cintamu hanya untukku mas"


"Kamu bisa tidak sih memisahkan antara hubungan kita dengan pekerjaanku Mith?" Tanya Jordan


"Aku harus bagaimana mas? Membiarkan kamu terus-menerus bekerja sama dengan artis itu? Bagaimana jika suatu saat hatimu berpaling mas? Karena setiap hari kamu bersamanya sedangkan aku bersama siapa?sendirian hanya menunggu kabarmu mas?apakah itu adil untukku?" Mitah mulai menahan laju air matanya.


"Stop jangan menangis...dikit-dikit menangis. Jangan jadi gadis cengeng Mitha" Jordan malah mengomeli Mitha.


"Terserah apa katamu yang jelas kita akan menikah secepatnya" ujar Jordan


"Aku pulang dulu" Jordan segera keluar dari rumah Mitha dan langsung tancap gas pergi entah kemana. Mitha hanya bisa memandang sisa-sisa asap dari mobil tunangannya itu dengan hati sedih.


"Mas Jo, jika hubungan kita seperti ini rumah tangga kita akan rapuh. Kamu selalu meninggalkan aku sendiri dan selalu menyebutku sebagai wanita cengeng. Memang siapa yang sudah membuatku seperti ini mas? dan apa? pernikahan kita akan dipercepat? hmmmm...itu hanya keegoisan kamu saja mas yang tidak suka melihatku bahagia, sementara kamu disana selalu tersenyum manis dengannya. Apakah harus seperti ini takdirku?hanya untuk status saja tetapi kehadiranku tak bisa melengkapi hidupmu. Aku hanya tunangan yang tak dianggap. Mitha tersenyum kecut, dia langsung masuk ke dalam kamarnya menangisi kembali kemalangan nasibnya. disatu sisi ada pria yang begitu menyanjungnya sedangkan disisi lain ada tunangan yang tak menghargainya. Aahhh... pernikahan bisnis benar-benar membuatku sangat sengsara.


*********


Masih edisi Mitha ya gaess, kalau Firda kan sudah bahagia dengan mamas Yu walau sikap Firda terkadang membuat kesal mamas Yu tetapi cinta dihati mamas hanya satu untuknya. dan sikap Firda yang masih slenge-an itu yang membuat hati mamas Yu kebat-kebit takut kehilangan. makanya mamas dengan ekstra menjaga Firda.


Alma sudah sangat bahagia dengan daddy Niel, kecemburuan daddy yang membuat mereka ribut-ribut kecil dan selalu berakhir diranjang. entah daddy duluan yang menggendong Alma ke ranjang atau Alma duluan yang langsung menyerang daddy jika Alma sudah kehabisan kata-kata untuk menangkis serangan kata daddy Niel😌


Love you gaesss


Maaf jika ada yang tidak puas dipart ini. Sampai bertemu lagi esok malam😘