Miss Rusuh

Miss Rusuh
Superstar



Saat ini Mitha benar-benar merasa melambung. Abraham dengan setia menemani kemana kaki Mitha melangkah. Dari hanya makan ice cream, melihat accessories dipinggir jalan sampai duduk ditaman dan melihat anak-anak kecil bermain-main disana.


Abraham melupakan pesan Tom, dia terlalu sibuk menemani Mitha berjalan-jalan. Hingga ada seseorang yang selalu memotret mereka dari kejauhan. Abraham mulai menyadari ada yang mengganggunya, segera dia mengajak Mitha pergi dari situ. Setengah berlari Mitha mengikuti langkah Abra yang terus menggandeng tangannya. Tetapi paparazi itu ikut berlari mengejar mereka. Abraham segera membuka jaketnya dan menutupi wajah Mitha, dia segera merangkul pundak Mitha agar tidak salah berjalan.


Mitha menjadi bingung diperlakukan seperti itu oleh Abra, dia segera membuka penutup wajahnya dan menengadahkan wajahnya memandang bingung ke arah Abra. Tampak beberapa kilatan kamera mengarah kepada mereka. Mitha kaget dan mulai ketakutan Abra segera menghubungi Tom dan meminta segera menjemputnya.


Dengan berlari kesana-kemari demi menghindari paparazi dan melindungi Mitha, akhirnya mereka memasuki sebuah gedung dan segera mencari tempat persembunyian.


Mitha mengajak Abra masuk kedalam ruangan resepsionis. Dengan nafas tersengal-sengal mereka menghempaskan tubuhnya ke bangku sofa tamu.


"Katakan Abra siapa mereka dan mengapa mereka memburu kita?apa kamu itu seorang *******?" Tanya Mitha dengan nafas ngos-ngosan.


"Aku tidak tahu apa mau mereka yang jelas mereka akan menjual berita itu kepada media. Maafkan aku jika pada akhirnya akan menyeret-nyeret kamu ke dalam beritaku girl" Abra menggenggam tangan Mitha.


Jujur saja dia takut dengan berita yang akan beredar apalagi jika ada wajah Mitha disana. Dia tidak perduli media menulis cerita apa tentang dirinya, dia hanya takut jika Mitha terganggu dan menjauhinya. Dia pasti sudah langsung hilang mood untuk melanjutkan konsernya nanti malam.


"Hey...tempat siapa ini?kita harus segera keluar dari sini sebelum ada yang menangkap kita" ujar Abra yang segera melihat kesekeliling ruangan itu.


"Hanya ini tempat yang aman untuk kita bersembunyi Abra" jawab Mitha.


"Tetapi ini kantor orang Mitha, bagaimana jika kita diusir dan dibilang penyusup?" Tanya Abra lagi.


"Ayo kita cari jalan keluar sekarang. Kenapa lama sekali Tom menghubungiku?aahhh....shittt, batereku empty" Abra menyumpah serapah sambil menggigit-gigit bibirnya dan bertolak pinggang lalu dia menyandarkan tubuhnya ketembok.


"Kamu tampak bingung Abra, ada apa?" Tanya Mitha.


"Aku harus segera sampai GBK baby" jawabnya.


"Bisakah kamu mengantarku kesana?" Tanyanya lagi


"Tentu saja" jawab Mitha


"Aku akan memanggil supirku" Mitha langsung menghubungi supirnya dan meminta segera menjemputnya dikantor ayahnya.


Tak lama pak supir menelpon Mitha dan memberitahu jika dia tidak bisa masuk kedalam gedung karena diluar ramai dengan wartawan.


Mitha menjadi panik, kenapa bisa banyak wartawan. Dia bingung siapa yang mengundang para wartawan itu dan berita apa yang dicarinya. Setahu dia, dia tidak memiliki skandal apapun. Jangan-jangan Jordan memiliki skandal dan menyeret-nyeret namanya, memikirkan ulah Jordan membuat hatinya nyeri. Tepukan Abraham membuyarkan segala lamunannya.


"Hah....aku bingung, aku sedang tidak menyembunyikan sesuatu lalu apa yang mereka inginkan dariku?" Tanya Mitha kepada Abra.


"It's oke baby.... aku akan menyelesaikan semuanya. Kita harus pergi dari sini saat ini juga" Abra menepuk-nepuk punggung Mitha, berusaha menenangkan gadis itu.


Tak berapa lama pak supir akhirnya bisa menemui mereka dan mengajaknya keluar melalui jalan rahasia.


Merekapun langsung tancap gas menuju GBK.


Semua personil kebat-kebit menunggu kehadiran Abraham. Tom nampak murka dengan Abraham. Akhirnya dengan menyusup dalam kerumunan orang-orang itu Abraham dan Mitha bisa langsung masuk ke ruang personil grup band.


"Heh....kenapa banyak foto kamu bertebaran dimana-mana Abra. Bukankah mereka adalah kelompok musik X?" Tanyanya bingung.


"Dan apakah kamu....kamu...adalah salah satu dari mereka?" Ucapnya dengan mata terbelalak dan langsung terhuyung-huyung tubuh Mitha. Abraham buru-buru merengkuh tubuh langsing itu dan menarik ke dalam pelukannya.


"Shittt" Abraham langsung menyumpah serapah dan buru-buru membawa Mitha berlari menghindari paparazi itu.


Tom segera menarik mereka dan mengajak mereka masuk keruang ganti. Dan para bodyguard segera menghadang paparazi itu.


"Apa kamu gila Abra?" Kita sudah kehilangan waktu 5 menit. Tidakkah kamu melihat mereka memanggil-manggil namamu?" Omelnya pada Abra.


"Shut up" balas Abraham. Dia pun segera duduk dikursinya dan make up artis langsung bekerja menanganinya. Tak sampai 10 menit Abraham sudah langsung memakai kostum panggung.


Mitha hanya melongo melihat Abraham dan tanpa sadar Abraham sudah menarik tangannya dan membawanya langsung ke ruang VVIP.


"Kamu diam-diam disini oke? Jangan nakal dan jangan pergi dari sini karena para bodyguard-ku sudah memantau mu" ucapnya dengan senyum nakal.


Mitha bagai patung yang patuh, dia langsung menganggukkan kepala.


"Tuhan....bangunkan aku dari mimpi indah ini, aku tahu ini hanya mimpi disiang hari. Sungguh aku berharap jika mimpi ini adalah benar adanya. Tapi aku tahu jika ini hanya mimpi. Tuhan bangunkan dan sadarkan aku segera" doanya dalam hati. Lalu Mitha menutup matanya dan dia berharap segera bangun dari mimpinya itu.


Namun begitu dia membuka matanya dia tetap berada ditempatnya dan dia melihat Abraham sedang menghibur penonton dengan grup musiknya.


"Apakah aku sudah gila, Abraham itu adalah dia?pria tampan didunia? Yang digilai para wanita? Be-benarkah ini?lantas aku ini apa?


Apakah dia hanya ingin bermain-main denganku? Tidak mungkin jika dia benar-benar menyukaiku. Aku harus segera keluar dari sini, ini bukan tempatku" Mitha segera bangun dari kursinya dan mencari pintu keluar tetapi 3 orang bodyguard segera menghadangnya.


"Maaf nona, tuan kami memerintahkan kami untuk menjagamu" jawab bodyguard itu dengan dingin.


"Kembalilah ke kursi spesial itu nona" salah satu bodyguard itu membawa kembali Mitha ke kursi itu.


"Ahhh....aku tidak pernah bermimpi bisa sampai disini. Kenapa aku sampai tidak mengetahui jika Abra adalah artis terkenal dan pria pujaan wanita diseluruh dunia dengan segala kredibitas baik dan buruknya.


"Baru kali ini aku begitu tersanjung. Dan mas Jo?bagaimana dengan mas Jo?ahh....dia pun begitu sibuk dengan artis kesayangannya. Dan hal yang paling menyakitkan adalah melihat cuplikan dia mencium gadis itu. Walaupun sudah di cut,tetap saja hati ini sakit. Bolehkah saat ini aku menikmati kebahagiaanku sendiri?" Mitha berada diujung kebimbangan.


"Biarkanlah aku bahagia barang sejenak. Aku pun bukan patung yang tidak punya hati. Aku selalu memaklumi ke alfa-annya, itu karena aku mencintainya. Tetapi semakin dimaklumi kenapa dia tidak pernah mengintropeksi diri? Kenapa dia malah semakin lekat dengannya?aaaarrggg.....sakit hati ini, sakit sekali. Jika dia bahagia dengannya, berikan aku pangeran yang baik hati Tuhan, untuk menutup lukaku" Mitha merasa resah dan gelisah. Memikirkan Jordan membuatnya sakit hati. Memikirkan Abraham dia tidak mampu, dia terlalu takut dan tidak memiliki kepercayaan diri. Biarlah aku menikmati moment-moment indah ini" ujarnya dalam hati.


Mitha begitu antusias melihat penampilan prima Abraham. Saat abraham istirahat, dia segera mendatangi Mitha hanya untuk mengacak-acak dan mencium rambutnya saja. Setelah itu dia mengambil air minum dan kembali ketempat pertunjukkannya.


Jam 11 malam acara baru selesai, banyak gadis yang mengerubungi pria-pria tampan itu.mereka pun bukan orang sembarangan. Mereka adalah tamu VVIP dan beberapa dari mereka adalah teman kencannya. Para artis tanah air pun ikut mengerubungi mereka. Mitha tidak bisa menjangkau Abraham, dia terlalu jauh untuk dijangkau. Pada akhirnya Mitha keluar dari ruangan itu secara diam-diam. Menyukai Abraham tidak akan mudah, saingannya terlalu berat dan dia pun tidak yakin. Menyukai Jordan juga tidak mudah, segala upaya telah dilakukan. Tetapi cinta tak dapat dipaksakan.


Malam itu Mitha berjalan sendiri dengan hati yang hancur. Rintik air hujan tak dirasakannya, biarlah dia menangis didalam hujan. Untuk hidup yang tidak berpihak kepadanya. Dia tidak tau pergi kamana, dia hanya melangkahkan kakinya saja. Menangis didalam hujan ternyata begitu menyenangkan setidaknya beban dihati terasa lebih ringan.


Seorang pria berdiri dihadapannya,di tengah derasnya hujan dia menunggunya. Mitha terbelalak melihat pria itu.


Pria itu segera merentangkan tangannya dan tanpa berfikir panjang lagi Mitha berlari ke arahnya


"Abrahaaammmm"


********


Semoga kalian menyukainya🙏😁


Love u gaesssss😘