Miss Rusuh

Miss Rusuh
Permintaan Maaf



Pagi itu Abra mengunjungi Mitha dan baby girl-nya berhubung besok dia harus kembali ke US maka hari ini dia bermaksud mengajak Mitha jalan-jalan bersama baby-nya.


Mereka memasuki mall paling megah dan terkenal di Jakarta. Abra mendorong kereta bayinya sementara Mitha mengalungkan tangannya dilengan Abra.


"Sayang...tunjukkan padaku toko berlian yang paling bagus disini, aku ingin memesannya untuk pernikahan kita nanti"


Mitha nampak berfikir beberapa saat sebelum akhirnya dia mengajak Abra memasuki toko berlian yang paling mahal itu.


Mitha nampak memilih-milih model berlian yang akan dipakainya nanti.


Abra memilihkan berlian yang paling indah untuk calon istrinya itu. Mitha nampak tersenyum bahagia menjajal cincin berlian itu yang nampak indah dijarinya.


"Itu cantik untukmu sayang...cup" Abra mencium kening Mitha. Mitha menenggelamkan wajahnya dilengan Abraham. Setelah selesai mencari berlian Abraham mengajak Mitha berbelanja baju dan apapun yang gadisnya inginkan. Seharian Abaraham menemani Mitha dan juga baby girl mereka.


Mitha merasa diawang-awang dengan sikap yang Abraham tunjukkan, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh mantan suaminya. Mengingat Jordan membuatnya sakit, entah dimana pria itu sekarang berada.


Saat mereka sedang makan bersama secara tak sengaja Mitha melihat Shinta sedang berhadapan dengan security. Karena penasaran maka Mitha segera menghampirinya.


"Girl kamu ingin kemana?" Tanya Abra


"Sepertinya aku mengenal gadis itu Abra, aku ingin tahu apa yang terjadi dengannya. Bolehkah aku membantunya?"


"Good girl...tentu saja boleh sayang"


Setelah mendapat persetujuan Abraham akhirnya Mitha menemui Shinta.


"Ada apa Shinta?" Tanya Mitha


"Oh..eh..ka-kamu....tidak aku baik-baik saja" jawab Shinta


"Mba kenal dengan orang ini?" Tanya security itu


"Iya...dia teman saya, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Mitha


"Mba ini habis makan tetapi saat disuruh membayar dia pura-pura tidak bawa dompet" terang security itu.


"Saya benar-benar tidak bawa dompet Pak bukan saya tidak mau bayar" Shinta nampak gusar dengan bapak security itu.


"Berapa tagihannya Pak biar saya yang menyelesaikannya" Mitha segera mengeluarkan card-nya dan membayar semua tagihan Shinta.


"Saya sudah bayar semuanya sekarang kamu boleh pergi Shinta"


Shinta nampak ragu-ragu mengucakan terima kasih kepada Mitha.


"Bagaimana keadaan mas Jordan Mith?" Tanya Shinta


"Aku tidak tahu karena kami sudah berpisah" jawab Mitha


"Benarkah? Padahal Jordan sering menyebut-nyebut namamu. Aku kira kalian sudah kembali bersama. Aku sudah tidak tahan hidup bersamanya dia seperti orang tidak waras makanya aku pergi meninggalkannya" ujar Shinta


"Sungguhkah?" Tanya Mitha


"Iya mba...aku minta maaf sudah pernah berbuat kasar kepada mba, maafin saya mba" ujar Shinta sambil menunduk malu.


"Sudahlah tidak perlu dipikirkan lagi. Dia tidak mencintaiku lebih baik kami berpisah. Aku sudah berbahagia saat ini dan tidak mau menengok kebelakang lagi. Semuanya sudah berlalu" Mitha menepuk-nepuk pundak Shinta lalu dia pun berlalu dan kembali ketempat Abraham.


"Sayang...ada apa?"


"Tidak ada apa-apa sayang...itu temanku dia ada sedikit masalah tetapi aku sudah menyelesaikannya" jawab Mitha.


Abra nampak manggut-mangut mendengarkan perkataan Mitha.


"Aku tidak ingin berpisah denganmu,ikutlah bersamaku sayang" pinta Abra


"Tunggu beberapa bulan lagi Abra lagipula anak kita masih bayi aku takut jika kita membawanya naik pesawat nanti" ujar Mitha sambil menggenggam tangan Abraham berusaha memberikan ketenangan kepada calon suaminya kelak.


"Baiklah...besok aku akan pulang untuk melanjutkan pekerjaanku. 3 bulan lagi aku akan kembali kesini untuk menikahimu" Abra menciumi buku jari Mitha.


Mitha nampak menggangguk bahagia.


Sementara diujung sana Shinta memperhatikan Mitha dari jauh." Semoga kamu bahagia mba, maafkan semua kesalahan aku. Aku pun sudah tidak tahu lagi dimana Mas Jordan berada. Kami sudah benar-benar berpisah" ucapnya pahit. Lalu dia pun pergi meninggalkan mall itu.


Puas mengajak anak dan kekasihnya berbelanja, sore harinya Abra baru membawa mereka pulang kerumah.


*******


Semenjak suster Ana pergi Jordan semakin gila dan dia tidak mau memakan apapun. Dia hanya terbaring pasrah diranjang dengan tangan terikat. Dia menutup matanya dan tidak melakukan hal-hal yang berbahaya lagi. Dia ingin mati saja, dia pun menutup semua mata dan telinganya sementara pusat otaknya hanya memiliki 1 tujuan yaitu 'mati'. Suster Ira awalnya membiarkan Jordan seperti itu. Namun lama kelamaan dia pun khawatir dengan kondisi Jordan yang menjadi semakin lemah. Ya sudah beberapa hari ini Jordan hanya tidur tanpa mau disuapi makan. Takut terjadi sesuatu dengannya akhirnya dia meminta Pak Zaki untuk membawa Jordan ke rumah sakit agar lebih intens untuk ditangani.


Pak Zaki dan istrinya menangis melihat keadaan anaknya yang sudah tidak berdaya itu.


"Selamatkan anakku dan buat dia sehat kembali berapun biayanya itu tidak akan menjadi masalah"


Para dokter mulai memeriksa keadaan Jordan dengan sangat intens dan mulai memberikan cairan infusan untuknya.


"Ana....ana...ana" selesai menyebut nama Ana lalu Jordan tidak langsung tak sadarkan diri lagi.


Dokter menanyakan prihal Ana kepada tuan Zaki. Raut wajah tuan Zaki langsung berubah dan malam itu juga dia meminta Ana untuk merawat puteranya.


Ana kaget melihat keadaan Jordan. Rasa iba menghampirinya, akhirnya dia mau menerima tawaran tuan Zaki untuk menjaga Jordan.


"Ingat Ana...ini hubungan profesional kerja bukan hubungan asmara. Anakku adalah pasienmu jangan jatuh cinta padanya karena saat ini dia hanya sedang hilang kesadaran saja"


Suster Ana pun mengangguk. Malam itu dia mulai merawat Jordan dengan penuh kasih sayang.


"Haiii...tuan muda ini aku Ana, aku datang kembali untuk merawatmu. Kenapa kamu menjadi seperti ini? Lihat paras tampanmu sudah hilang. Kamu sudah tidak ganteng lagi" lalu Ana mulai membersihkan wajah Jordan.


Satu sentuhan Ana sudah membuyarkan akal pikiran Jordan. Seolah-olah nyawanya sudah kembali. Dengan cepat dia mengembalikan jiwanya yang sedang menggantung diawang-awang.


Dengan perlahan dia mulai membuka kembali matanya. Begitu dia membuka mata, senyum hangat sudah menunggunya disana. Jordanpun tersenyum lalu dia menutup mata kembali. Ini hanya mimpi ...ini tidak nyata lalu diapun segera menutup matanya kembali dan memusatkan kembali pikirannya menuju alam kematian.


Namun sentuhan yang berulang-ulang membuatnya tidak konsentrasi dan memaksanya membuka matanya kembali.


Suster Ana sedang mengusap-usap tangannya memberikan sedikit kehangatan untuknya.


"Jangan ganggu aku, ini hanya ilusi biarkan aku menjemput kematianku. Kamu tidak nyata kamu meninggalkanku seorang diri. Biarkan aku pergi sekarang" rancaunya.


"Bangunlah tuan muda bukalah matamu. Aku akan menjagamu mulai saat ini. Apa kamu tidak merasakan kehangatan sentuhanku?" Suster Ana berusaha mengajak Jordan berbicara agar dia mau kembali menjadi dirinya sendiri.


"Cium aku jika memang kamu nyata" ucap Jordan


Suster Ana pun segera mencium kening Jordan dengan lembut. Jordan segera membuka matanya. Dan mata mereka beradu pandang. Sungguh dia tidak menyangka jika suster Ana sekarang berada dihadapannya. Dia segera bangkit namun karena tubuhnya terlalu lemah akhirnya dia kembali terbaring.


"Suster...aku tidak mimpikan? Aku takut jika ini hanya mimpi. Genggamlah terus tanganku jangan pernah lepaskan lagi walau hanya semenit. Aku tidak mau sendirian lagi, aku takut. Huhuhuhu" Jordan kembali menangis seperti anak kecil. Suster Ana segera memeluknya dengan sayang.


"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Maka kamu pun harus berjanji agar segera sembuh"


"Iya...aku janji tidak akan mengamuk lagi. Aku janji akan menjadi pria baik. Aku tidak ingin ditinggalkan lagi oleh siapapun. Dulu aku jahat sangat jahat tetapi sekarang aku ingin berubah. Bantu aku keluar dari tekanan ini" ucap Jordan menghiba.


"Dengan senang hati aku akan membantumu. Sekarang kita makan ya dan aku akan menyuapimu"


"Apa kita akan makan ditaman lagi"


"Tidak..ini sudah malam jadi kita makan disini saja ya. Besok aku janji akan membawamu keluar tapi tidak boleh nakal ya"


Dengan antusias Jordan mengangguk. Dia merasa seperti sudah menemukan kepingan hatinya yang hilang. Dia pun menjadi sangat penurut dengan suster Ana.


Dengan ketulusan hati yang dimiliki suster Ana tidak sulit baginya untuk menyembuhkan Jordan. Dia selalu menjadi tempat curahan hati Jordan. Selalu sabar mendengarkan keluh kesah Jordan. Dari sini dia mengetahui jika Jordan terpuruk karena ditinggal oleh orang-orang yang dia cintai.


Alma meninggalkannya karena memang dia sudah memiliki suami. Mitha meninggalkannya karena tidak tahan dengan sikap kasar dan arogan Jordan. Shinta pun meninggalkannya karena keegoisan dia juga. Kini tinggal suster Ana tempat dia menggantungkan hidupnya.


Semakin hari kesadaran Jordan semakin pulih. Dia sudah mulai mengingat dirinya kembali. Dia pun ingin kembali bekerja. Ayahnya sangat puas dengan hasil kerja suster Ana hingga tuan Zaki menghadiahkan rumah untuknya sebagai tanda terima kasih karena telah berhasil menyembuhkan putranya.


Jordanpun telah kembali menjadi dirinya seperti semula.


Siang itu Jordan meminta Ana untuk menemaninya menemui seseorang. Dengan senang hati Ana mengabulkan permintaannya. Dia pun menemani Jordan menuju rumah seseorang.


Mitha sangat kaget melihat Jordan ada dirumahnya. Dia menjadi sangat ketakutan tetapi suster Ana menjelaskan perihal kedatangan Jordan kemari. Akhirnya Mitha dapat bernafas dengan lega. Jordan mengajaknya berbicara 4 mata dengannya. Mitha akhirnya mau menerima permohonan Jordan.


"Aku ingin meminta maaf darimu, dari hati kecilku yang paling dalam maafkan semua kesalahanku dimasa lalu Mit" pintanya


"Aku sudah menebus semua kesalahanku pada kalian. Kini aku pun ingin hidup dengan damai tanpa ada beban lagi. Aku ingin bersahabat dengan kalian. Bisakah kalian menerimaku menjadi sahabat kalian?"


Mitha mengangguk...ya dia sudah bahagia karena memiliki Abraham, kini dia pun mendoakan Jordan dengan tulus agar bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jordan berterima kasih pada Mitha.


"Dulu aku buta Mitha.. aku menyia-nyiakan bidadari yang diberikan untukku namun semua sudah terlambat. Aku menerima semuanya dengan lapang dada. Maafkan aku sekali lagi Mit" Jordan menggenggam tangan Mitha dengan erat. Mitha tersenyum dengan sangat manis sekali.


"Wanita itu cantik sekali, siapa dia?" Tanya Mitha iseng


"Dia adalah bidadari pengganti dirimu" ucap Jordan sambil memandang ke arah suster Ana.


"Cepat tangkap dia sebelum diambil orang" ujar Mitha


"Kali ini aku akan menjaganya dan tidak akan menyia-nyiakannya seperti dahulu" Jordan memandang suster Ana dengan tatapan penuh cinta.


"Bagaimana denganmu?" Tanya Jordan


"Aku akan menikah bulan depan dengan ayah anakku" jawab Mitha


"Jangan lupa undang aku" ucap Jordan sambil tersenyum.


"Pasti" jawab Mitha


Mereka pun mulai terlihat akrab. Senang rasanya melihat keakraban mereka. Akhirnya Jordanpun pamit setelah mendapatkan maaf dari Mitha.


*******


Aaiihhhh....padahal aku kangen daddy tapi gak sempat nulis tentang dia😂


Semoga kamu bahagia Jordan😌