
Yugho pun mengantarkan Firnie pulang kerumahnya dan disambut oleh paman Andrian.
Firnie menyampaikan apa yang dikatakan ayah Yugho. Dan paman Andrian menyambut antusias rencana calon besannya itu.
"Semoga ayahmu lekas sembuh dan kita bisa membicarakan kembali langkah kedepannya Go.
Kita akan adakan acara pertunangan kalian dengan besar-besaran" paman Andrian menepuk bahu Firnie.
"Paman tidak mau keponakan paman satu-satunya tidak mendapatkan hal yang berkesan dalam pertunangannya nanti. Paman akan mengadakan acara pertunangan kalian di hotel. Terserah kalian memilih di hotel mana." Paman Andrian tampaknya mulai menyusun rencana untuk pertunangan keponakannya itu.
"Ini hanya pertunangan biasa paman, tidak usah terlalu mewah. Saya menolak jika harus dilakukan di hotel" ujar Yugho.
"Kenapa kak? Ini event kita acara kita, seharusnya kita merayakannya secara besar-besaran. Kakak tidak perlu risau masalah biaya.
"Ini bukan masalah biaya Fir. Aku katakan aku tidak mau jika dilakukan di hotel, aku hanya mau acara dilakukan dirumah dan hanya biasa-biasa saja acaranya, tidak perlu berlebihan" ujar Yugho tegas.
"Baiklah aku yang akan mengatur semuanya kak, kita adakan acaranya disini akupun tidak masalah" jawab Firnie sambil menggandeng tangan Yugho dan seraya mengalungkan tangan Yugho di lehernya dan bersandar di dadanya.
"Semuanya terasa indah kak jika aku bisa terus seperti ini di sampingmu" sambil bermanja-manja Firnie mengelus pipi Yugho.
"Lepas Fir, ada om Andrian jangan lakukan ini di depan umum" elak Yugho.
"Hanya saat ini aku bisa bermanja seperti ini kak dan aku tidak mau melepaskannya begitu saja" Firnie pun tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak apa-apa Go, toh kalian sebentar lagi juga akan bertunangan dan itu artinya Firnie sudah menjadi setengah istrimu" paman Andrian menimpali Firnie dan memberikan penekanan kepada Yugho.
"Paman hanya ingin melihat dia bahagia Go mulai saat ini dan seterusnya. Jaga dia baik-baik untuk almarhum ayahnya dan untuk kebahagiaan orang tuamu. Pilihan orang tua tidak akan pernah salah dan om sangat yakin kalau kalian memang sudah di takdirkan untuk hidup bersama dan akan menjadi pasangan yang serasi" dengan tersenyum paman Andrian meyakinkan Yugho kalau Firnie adalah yang terbaik untuknya.
"Oke, paman tinggal dulu kebelakang ya tidak mau mengganggu kalian. Silahkan kalian lanjutkan percakapan kalian" paman Andrian pun pamit undur diri pergi ke dalam rumah.
"Daritadi aku bilang lepaskan Fir tapi kamu malah semakin erat memelukku, kalau saja ini bukan dirumahmu sudah aku lempar kamu keluar" ujar Yugho dengan menahan amarahnya.
"Karena aku tau kalau diluar pasti aku tidak bisa memelukmu kak, maka disini kamu adalah milikku dan aku juga ingin diperlakukan seperti gadis-gadis yang lainnya. Oh iya kak lagipula kita akan bertunangan sebentar lagi dan kamu tidak akan bisa lari dariku kak. Aku sangat antusias menghadapi acara pertunangan kita, percayalah aku akan merayakan hari spesial kita seindah mungkin" ujar Firnie sambil bergelayut manja di leher Yugho.
"Kamu akan menyesal Fir pada akhirnya nanti karena ini bukan mau ku" ujar Yugho sambil tersenyum sinis.
"Aku tidak perduli kak karena aku mengantongi restu dari kedua orang tua kamu dan juga restu dari keluargaku" jawab Firnie yakin.
"Terserah apa mau mu, aku ingin pulang karena aku belum beristirahat dari perjalanan jauh ku" seraya Yugho melepaskan tangan Firnie yang memeluknya dan mendorong Firnie ke samping.
"Tolong panggilkan paman, aku mau pamit dengan paman" ujar Yugho seraya bangun dari duduknya dan menunggu paman Andrian.
Firnie pun akhirnya memanggil pamannya dan Yugho langsung berpamitan dengannya.
"Kami akan menunggu kedatangan orang tua kamu Go dan memang kami sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari. Rupanya sekaranglah waktu yang tepat. Pada akhirnya kalian akan bersatu juga" ujar paman Andrian sambil menyalami Yugho.
"Tentu saja kami akan bersatu om, ingatlah hubungan kami berawal dari cinta monyet sampai akhirnya kami akan menuju pelaminan. Bukankah begitu kak?" Tanya Firnie kepada Yugho dan dibalas senyum kaku oleh Yugho.
"Baiklah aku pamit pada kalian semua. Assalamualikum"
"Waalaikum salam" Firnie dan paman Andrian membalas salam Yugho bersamaan.
Yugho pun meninggalkan rumah mewah bercat putih tersebut.
Yugho menaiki mobilnya dengan pikiran yang kalut. Bagaimana mungkin dia akan bertunangan dengan Firnie sedangkan dihatinya hanya ada Firda seorang. Jika saja bukan karena keinginan orang tuanya sudah pasti dia akan menentang rencana gila Firnie.
Ayahnya masuk rumah sakit karena mengetahui jika Yugho lebih memilih wanita lain dibandingkan Firnie. Ayahnya tidak terima dengan keputusan Yugho tersebut sehingga membuatnya murka dan tekanan darahnya naik. Karena kondisi jantungnya yang tidak stabil dan disertai sesak nafas akhirnya dengan cepat istrinya dan Firnie membawanya langsung ke Rumah sakit.
"Aaarrggg...shit..shit" Yugho nampak memukul-mukul stir mobilnya beberapa kali. Dia sangat pusing hari ini. Akhirnya dia membelokkan mobilnya ke suatu swalayan dan nampak membeli beberapa minuman disana. Setelah selesai transaksi dia pun melajukan kembali mobilnya menuju apartemennya.
Dia menghempaskan tubuhnya di sofa seraya memijat-mijat keningnya. Dia pun membuka handphone-nya dan tampak ragu-ragu untuk menghubungi seseorang.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat akhirnya dia hanya menuliskan sebuah pesan.
"Fir".....
Lama dia menunggu balasan pesannya namun tak juga dibalas, dibacapun tidak.
Akhirnya Yugho mengirimkan kembali sebuah pesan
"Firda..."
" Maafkan mas Fir...mas telah menyakiti hati kamu. Mas bersalah denganmu Fir, mas siap mendapat hukuman apapun darimu tapi tolong jangan benci mas Fir" pesanpun terkirim kembali.
Namun kali ini pesannya dibaca oleh Firda tetapi tidak mendapat balasan apapun.
Karena kesal Firda tidak membalas pesannya akhirnya Yugho memberanikan diri menelpon Firda kembali.
"I wanna dance and love and dance again...dance yes love next"
Yugho merasa kesal namun dia juga cukup tahu diri karena ulahnya sendiri akhirnya dia benar-benar tidak bisa bertemu dengan Firda jangankan bertemu orangnya mendengar suaranyapun nampaknya Firda sudah tidak sudi lagi.
Dengan kesal dilemparkannya botol minuman tadi ke pojok ruangan. Entah mengapa dia merasa menjadi orang yang paling bodoh dan paling lemah. Dan Firnie memang benar-benar bisa mengendalikannya karena berkat bantuan orang tuanya. Selagi orang tua masih hidup anak dituntut untuk berbakti kepada orang tua bukan?
Itulah yang membuat Yugho uring-uringan seolah-olah bisa hidup tapi tidak memiliki kebebasan. Hahh...apa artinya jika hidup harus seperti ini sungguh-sungguh amat memalukan. Kepalanya terasa berat akibat beberapa botol minuman yang ditenggaknya.
Akhirnya dia mengambil kunci mobilnya dan pergi ke suatu tempat yang akan bisa membuatnya tersenyum.
Begitu sampai ditempat tujuan diapun memarkirkan mobilnya ditempat yang agak sepi. Dia berharap bisa melihat dan bertemu dengan seseorang yang amat dirindukannya. Dengan sabar dia menunggu seseorang didalam mobilnya sambil menghisap rokoknya. Sepuluh menit, tiga puluh menit bahkan sudah sampai hitungan jam dan sudah hampir dua jam lebih dia menunggu didepan namun yang ditunggu tak menampakkan dirinya sama sekali.
Rokokpun sudah habis dibakarnya. Ingin rasanya dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah itu lalu menyeret Firda ke hadapannya. Namun jika dia melakukan hal seperti itu apakah Firda akan memaafkannya? Namun apa yang harus dilakukannya jika Firda malah mengusirnya dan meneriakinya sebagai lelaki tidak tahu diri.
Aaahhh....pusing Yugho memikirkan segala macam kemungkinan-kemungkinan itu.
Akhirnya diapun memesan go fo*d sambil tetap menunggu keluarnya si pemilik hatinya.
Dengan tidak sabar akhirnya dia menelpon Firda kembali dan dengan kesal Firda mengangkat teleponnya.
"Mau apa lagi kamu pria bedebah"
Entah mengapa perasaan hangat langsung mengalir ketubuhnya begitu mendengar suaranya.walaupun umpatan kasar yang didapatnya.
"Kamu dimana Fir?" Tanyanya
"Bukan urusanmu aku ada dimana dan bersama siapa" jawabnya ketus.
"Aku ingin ketemu kamu Fir sebentar, aku tunggu kamu diluar"
"Aku tidak ada dirumah dan jangan bermimpi bisa bertemu aku lagi.Karena aku sangat tidak sudi bertemu denganmu lagi. Jangankan bertemu melihatmu pun aku sudah tidak sudi lagi mas.Malas aku berhubungan denganmu lagi"
"Fir, aku tau kamu sedang ada dirumah dan dengan siapa kamu berhubungan"
"Ngaco kamu mas, sint*ng kamu mas dan dengan siapa pun aku berhubungan bukan urusanmu lagi".
"Baiklah selamat malam kesayanganku" Lalu Yugho menutup sambungan telponnya.
"Dasar gil* dia yang menelpon tapi dia juga yang menutupnya. Pria sint*ng...bikin aku naik darah saja". Dengan kesal akhirnya Firda melempar handphonenya ke kursi dan dia pun melanjutkan menonton film kesayangannya.
"Tingnong" tak berapa lama bel pun berbunyi.
Dengan malas dia mengangkat tubuhnya dan mengintip dari balik pintu.
"Go Fo*d mba pesanannya" terang pengantar makanan itu.
"Perasaan saya gak mesan apa-apa mas" ujar Firda bingung
"Tapi ini pesanannya untuk nona Firda mba" ujar pria tersebut.
"Iya itu nama saya mas". Akhirnya Firda membuka pintunya dan mengambil makanan yang disodorkan pria tersebut.
Pria itu memberikan makanannya kepada Firda dan mendorong tubuhnya masuk ke rumah lalu menguncinya dari dalam.
Firda kaget dan melepaskan makanan itu tapi pria tersebut lebih sigap dan langsung mengambil makanan itu sebelum menyentuh lantai.
"Hahh!!...siapa kamu?" Jerit Firda.
Pria itu langsung membekap mulut Firda dan menariknya kedalam pelukannya.
Firda berusaha berontak sekuat tenaga namun tenaga pria itu jauh lebih kuat daripada Firda.
"Lepaskan aku baj*ng*n...lepaskaan" teriak Firda
Pria itu lalu menyumpal mulut Firda dengan bibirnya dan merengkuh pinggang Firda dengan tangannya sementara tangan satu lagi menopang kepala Firda agar tidak lepas dari bibirnya.
***********
Lega itu kalau masih bisa nulis walau hanya satu episode ditengah kesibukan yang bejibun.😂
Maaf ya gaess molor banget up datenya.
Untung aja masih ada waktu luang buat nulis Firda walau ngumpet-ngumpet....hehehhe😅
Semoga masih suka Firda ya manteman.
Love u all🤗