Miss Rusuh

Miss Rusuh
Kamu Menolakku



"Segera pesankan room yang paling dekat dengan room dia" Abraham segera memerintahkan ajudannya. Dia tidak mau tau pokoknya dia harus bisa mengawasi gerak-gerik Mitha sedekat mungkin. Dia ingin tau apa yang sedang terjadi dengannya. Abraham tidak ingin mendekati Mitha sampai dia paham dengan hatinya sendiri. Melihat Mitha yang berubah menjadi dingin begitu mengacaukan pikirannya. Dia tidak bisa melihat gadisnya seperti ini namun dia sadar, dia bukan siapa-siapanya Mitha. Apapun yang akan terjadi terjadilah masa bodoh dengan tembok penghalang diantara mereka.


Dia harus memantau Mitha dari kejauhan. Gadisnya jangan sampai hilang dari jangkauannya.


Disaat Mitha hendak tidur, telpon dari Jordan membangunkannya. Dia bertanya apa saja yang dibelinya hingga tagihan bisa keluar hampir 2 M.


"Sayangku...aku membeli apa yang aku mau, bukankah tunanganku memiliki banyak uang? Masa tagihan hanya segitu dipermasalahkan. Anggap saja kamu sedang membelikan barang untuk kekasih gelapmu. Ku rasa berapapun uang yang keluar tidak menjadi masalah buatmu, bukan begitu sayang?Aku tidak akan mengganggumu dengan kekasihmu itu Jo, maka aku juga akan berada dijalanku" ucap Mitha.


" Dengar ya Mith, jaga sikapmu dengan laki-laki itu. Kamu itu calon istriku dan aku tidak mau memiliki istri yang punya skandal. Akan ssngat merusak reputasiku" balas Jordan.


"Hahaha.....jangan membuatku tertawa Jo, bukankah kamu yang sedang berskandal? Semua orang juga tahu, ayahkupun tahu tetapi dia menutup matanya. Dan tetap menginginkan aku menikah denganmu" Mitha berkata dengan menahan kemarahan.


"Kamu tidak tahu apa-apa tentang pekerjaanku Mith, kamu hanya ingin uang kan?aku akan mengirimkan uang berapapun yang kamu mau, asal kamu menuruti semua perintahku. Ingat Mith, ayahmu ada ditanganku. Kapanpun aku bisa menghancurkannya. Jangan macam-macam denganku, menurutlah denganku maka kamu akan berada disisi aman" Ujar Jordan mulai mengancam Mitha.


"Aaww...kakak...aahh....sini dong, udahan telponnya kak" kata-kata itu jelas terdengar ditelinga Mitha, sungguh sangat menyakitkan. Rupanya Jordannya sedang bersama wanita itu. Benci...benci sekali dia mendengar kata-kata perempuan itu.


"Tunggu dulu sayang, biarkan aku berbicara terlebih dahulu dengannya" pinta Jordan dengan gadis itu sambil menutup telponnya tetapi terlambat Mitha sudah mendengarnya.


"Hmmm....jangan lama-lama kak...aku masih mauuuu" gadis itu berbicara dengan sangat manja sekali.


Air mata langsung berlinang dimatanya,dia sudah tidak kuat lagi mendengarnya.


"Ternyata kamu sudah berbulan madu terlebih dahulu Jo" ucap Mitha dengan getir.


"Jangan bicara ngelantur kamu, persiapkan dirimu segera untuk pernikahan kita" ucap Jordan lalu menutup telponnya.


Huaaaa....huaaa...Mitha memangis sejadi-jadinya, hatinya tidak kuat lagi. Uang memang segalanya tetapi tidak bisa membuat hatinya bahagia.


Malam itu Mitha hanya menangis dan menangis lagi. Ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya tetapi bayangan orang tuanya ada dipelupuk matanya. Hingga membuatnya menyadarkan diri kembali. Ternyata sekacau ini hidupnya. Jordan dihadapan semua orang bersikap santun dan baik. Tetapi jika sudah berdua sikap dingin kembali dipertunjukkannya. Jordan hanya mencintai gadis itu, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gadis itu.


Mitha membuka pintu kamarnya dan berdiri dibalkon dengan rambut terurainya. Hembusan angin malam membuat rambutnya tergerai-berai.


Abraham yang sedang merokok didepan balkonnya langsung mundur begitu melihat ada Mitha dibalkon sebelahnya.


"Apa yang sedang dilakukannya malam-malam begini?" Dia terus saja memperhatikan Mitha dari jauh. Tak lama kemudian dia pun segera mengambil benda pipih miliknya yang berwarna hitam dan segera menghubungi Mitha.


Namun Mitha tidak mengangkatnya karena dia meninggalkan handphone-nya ditempat tidur.


Sesungguhnya apa yang terjadi kepadanya? Bukankah seharusnya dia berbahagia saat ini. Tetapi mengapa sekarang gadisnya itu menjadi penuh misteri.


"Aku akan menemuinya besok sebelum aku berangkat ke hongkong" ucapnya meyakinkan diri.


Setengah jam sudah berlalu akhirnya Mitha masuk kedalam kamarnya tanpa menutup pintu balkonnya. Dibiarkannya angin malam masuk kedalam kamarnya yang dingin sedingin hatinya saat ini.


Malampun berlalu dengan segala kepedihan dihatinya. Sedangkan Abraham tak bisa tidur karena memikirkan gadisnya. Dan dibelahan bumi sana sang kekasih sedang bercinta dengan wanita pilihan hatinya. Dia mengabaikan gadisnya yang akan menjadi belahan hidupnya nanti.


Pagipun menjelang, matahari menyapa tubuh putih nan lembut itu. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu dengan malas dia bergulung kembali masuk kedalam selimut tebalnya.


"Tingtong" bunyi bel kamar Mitha berbunyi. Dia malas mengangkat tubuhnya. Dibiarkannya bel itu berbunyi terus. Setelah bunyi yang ke tujuh barulah dia beranjak dari ranjang mewahnya itu.


"Tunggu...siapa diluar?" Tanyanya dalam bahasa inggris.


"Bellboy nona" jawabnya


Mithapun segera membukakan pintunya dan membiarkan bell boy itu masuk ke dalam kamarnya dengan membawa semeja penuh menu sarapan pagi.


Mitha masih didepan pintu menunggu bellboy itu keluar. Tetapi bellboy itu malah menyuruhnya untuk duduk dan dia akan melayani nona-nya.


"Keluarlah ...aku bisa makan sendiri tanpa perlu dilayani" ujar Mitha sopan. Namun lagi-lagi bellboy itu menolaknya. Dia mengatakan jika dirinya diutus seseorang untuk melayani segala keperluan nonanya.


Mitha bertambah bingung, siapa yang tau dirinya ada disini. Jordankah? Sangat tidak mungkin, dia saja jarang menelpon. Sekalinya telpon dia memarahinya karena sudah memakai bagitu banyak uangnya untuk shoping yang tidak jelas. Mengingat hal itu hati Mitha kesal sekali. Katanya tajir baru dipakai segitu saja uangnya sudah berani memarahinya. Sedangkan gadisnya itu entah apalagi yang sudah dibelikannya saat ini. Benar-benar sangat tidak adil untuknya.


Tiba-tiba bell boy itu menariknya dan mendudukannya dikursi. Memakaikan serbet makannya dan segera menyiapkan hidangan terlezatnya. Dia membuka jenggot dan rambut palsunya lalu duduk dihadapannya sambil tersenyum.


"Aku...aku..akan menggosok gigiku dulu Abra, lihatlah aku belum membersihkan diri bagaimana aku bisa makan" Mitha mulai merajuk.


"Baiklah segera bersihkan dirimu, aku akan menunggumu disini" jawab Abra.


Mitha buru-buru pergi kekamar mandi, hatinya bersorak kegirangan jantungnya berdegup kencang. Abra...aah benarkah Abra ada dihadapannya saat ini?" Mitha menatap wajahnya dicermin kamar mandi dia tersenyum sambil menundukkan wajahnya. Entahlah saat ini dia merasa ada ribuan kembang api berputar-putar dikepalanya. Kenapa Abra selalu tahu dimana dia berada dan kenapa bukan Jordan yang melakukan ini semua. Aahh...semua sangat ironis sekali. Masa bodoh dengan semua masalah yang membelitnya. Dia akan menggunakan waktunya yang sempit ini untuk bersenang- senang sebelum Jordan memasukkannya ke dalam sangkar emas.


Tok...tok...tok...(bunyi pintu diketok)baby jangan terlalu lama disana. Kamu harus makan. Apa yang kamu lakukan disana?cepatlah keluar girl" Abraham menyusulnya ke kamar mandi. Begitu mendengar pintu diketok Mitha buru-buru mengguyur wajahnya dan membersihkan giginya.


"Iya...sebentar lagi Abra" jawab Mitha. Setelah selesai Mitha segera keluar dari kamar mandi dan bergabung dengan Abra.


Abra sudah menyiapkan makanan dipiringnya. Entah kenapa begitu melihat makanan yang disuguhkan Abra, perutnya meronta-ronta minta diisi. Padahal dari kemaren dia hanya makan sedikit. Apalagi semalam dia tidak makan sama sekali karena sudah mendengar rintihan kenikmatan dari kekasih tunangannya itu. Mitha begitu bergidik jijik sekali dia membayangkan tunangannya sedang bercinta dengan orang lain. Lagi-lagi Abraham membuyarkan lamunannya dengan menyuapinya makan. Dengan malu-malu Mitha membuka mulutnya dan memakan apa yang disodorkan Abraham.


"Biarkan aku makan sendiri, aku bukan anak kecil Abra" ujarnya sambil menengadahkan wajahnya menatap manik hazel milik Abraham.


"Aku akan menjadikan kamu ratuku hari ini girl. Karena nanti malam aku akan segera bertolak ke hongkong untuk melakukan konser keliling duniaku" jawab Abra sambil membersihkan saus keju yang menempel dibibir Mitha. Mitha terkesiap dan malu lalu dia segera membuang wajahnya. Lagi-lagi Abraham menangkup wajahnya dan memandanginya.


"Wajahmu tidak cerah girl, tubuhmu pun semakin kurus saat ini. apa yang terjadi? Katakan padaku" pinta Abraham.


"Aku baik-baik saja Abra, hanya aku kurang tidur saat ini menyiapkan segala keperluan pernikahanku" ujar Mitha.


Mendengar semua perkataan Mitha jantung Abra seperti ditusuk-tusuk. Perih dan tersayat, namun Abra berusaha tegar melihatnya.


"Katakan apa yang bisa aku bantu?aku akan membantumu girl" jawab Abra sambil membelai pipi Mitha dan merapikan rambutnya yang terurai.


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa Abra. Cukup menjadi temanku dan mau mendengarkan semua ceritaku itu sudah cukup untukku" urai Mitha.


Mendengar kata 'teman' hati Abraham menjadi nyeri kembali. Aah...dia hanya dianggap teman olehnya. Tapi tak mengapa toh cinta memang selalu tak harus memiliki. Dengan senyum ketulusan Abraham menggenggam tangan Mitha.


"Ceritakan padaku jika kamu membutuhkan teman untuk berbagi, aku akan selalu ada disampingmu dan siap mendengarkan semua keluh kesahmu girl" Abraham kembali mengecup punggung jari Mitha dan mengecupi buku-buku jari tangan Mitha. Tubuh Mitha segera menegang dan semakin kaku ketika Abraham mendaratkan bibirnya dikeningnya. Ya...Abraham sedang mengecup keningnya.


" Heyy...jangan diam saja, apa aku sudah mengganggumu?" Tanya Abraham.


Mitha tidak menjawab dia hanya bisa menatap wajah Abraham. Lalu dia memeluk Abraham dan menangis didadanya. Abra hanya bisa mengelus-elus rambut Mitha. Benar apa yang dikatakan utusannya bahwa gadisnya tidak sedang baik-baik saja. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi dengannya akhirnya dengan segala cara Abra bisa memancing Mitha dan Mithapun mencurahkan semua yang menggumpal didadanya saat ini. Dengan setia Abraham mendengarkan semua cerita Mitha sambil memeluknya memberikan kenyaman kepada Mitha.


Betapa geramnya Abraham mendengar perlakuan Jordan kepada Mitha. Ingin rasanya dia menghabisi pria itu dan menyeretnya kehadapan gadisnya agar gadisnya tidak perlu menangis lagi karena ulah tunangannya itu.


"Ikutlah denganku Mith...aku akan mengganti seluruh air matamu dan menghapus kesedihan dari matamu. Aku akan membahagiakanmu, aku berjanji girl" ucap Abra bersungguh-sungguh.


"Tidak mungkin Abra, hidup orang tuaku berada ditangannya. Jika aku memberontak dan kabur maka usaha orang tuaku akan segera hancur. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan orang tuaku jika hal itu terjadi. Mungkin orang tuaku akan segera mengakhiri hidupnya" Mitha menyandarkan tubuhnya didada Abra. Dia sudah pasrah dengan jalan nasibnya.


Yaa....sangat tidak mudah menggoyahkan pendirian Mitha gadis cantik yang lembut dengan segudang persoalan hidupnya. Walaupun dia memberikan dunia kehadapannya, Mitha tetap akan menikah dengan pria keparat itu. Dia hanya bisa menghiburnya saat ini. Dan dia memberikan seluruh waktunya hari ini untuk Mitha sebelum dia beranjak pergi meninggalkan gadisnya.


"Menikahlah denganku disana, ajaklah kedua orang tuamu girl. Aku yang akan menanggung hidup kalian disana" pinta Abra.


Mitha menggelengkan kepalanya.


"Aku harus berbakti kepada kedua orang tuaku Abra, hidupku tak punya pilihan. Terima kasih sudah mau mendengarkan kisahku. Semoga kamu segera bertemu dengan gadis yang lebih baik dari pada aku" Mitha membelai wajah tampan Abra dengan tangannya. Abra mengambil tangannya lalu dia pun segera menciumi bibir Mitha dan merekapun berci*man dengan segenap perasaan dan jiwa. Abraham mencurahkan segala kelembutannya didalam ciumannya itu. Mithapun terhanyut dan dia membalas ciuman Abraham. Bercium*n dengan Abraham membuatnya lupa diri, seolah dia meminta lagi dan lagi dia seperti kehausan didalam perjalanan cintanya dan Abraham yang menghapus dahaga itu. Dia hampir saja melakukan dosa tetapi Abraham menahannya. Dia tidak mungkin menambah beban gadisnya itu.


"Bukan aku menolakmu girl" ucap Abraham dengan menahan napsunya.


"Aku ingin sekali memilikimu seutuhnya. Aku tidak ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati tubuhmu sayang. Walaupun aku orang tidak bermoral tetapi aku menghormati gadis yang aku cintai. Aku mencintaimu girl, aku mencintaimu Mitha" ucap Abraham yang seketika langsung membuat pecah tangis Mitha. Ingin mati saja dia rasanya saat ini, untuk apa hidup jika tidak bisa berdampingan dengan orang yang dia cintai. Abraham memakaikan kembali pakaian Mitha yang sudah hampir polos itu. Mitha diam saja dia merasa Abraham menolak dirinya.


********


Abraham..kenapa tidak dilanjut saja sih? apa kamu tidak tahu kalau tunangan kekasihmu itu juga sedang bercinta dengan wanita lain.Kasihan Mitha, dia pun ingin menikmati bercinta dengan orang yang dia cintai😌


Love you gaess


Jangan lupa like, vote n komennya😘😘