Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 49 - Jangan Lupakan Aku



Dddrrrrrrttttt... HP Seo Il Sang berdering. Ia langsung mengangkatnya.


"Halo? Ah, Tuan Seon. Maaf aku lambat memberikan kesaksian. Anda pasti kesulitan selama lima tahun terakhir," ujar Kapten Seo.


"Tidak. Putri Anda lah yang sangat kasihan. Setiap hari tanpa alpa sekali pun, ia datang menemui Pak Hwan untuk menanyakan kabar Anda.


"Pak Hwan?"


"Ya, kepala pelayaran dan imigrasi dulu. Dia.bahkan rela menunda cutinya demi anakmu itu. Berterima kasihlah padanya nanti," ucap Tuan Seon.


"Ah, satu hal lagi. Aku ragu keamananmu bakal terancam. Jagalah putrimu baik-baik di sana. Dan jaga dirimu juga. Kim Hyun pasti tidak tinggal diam, jika tahu kamu selamat," ujar Tuan Seon mengingatkan.


"Begitu, ya? Aku pasti akan menjaganya dengan baik kali ini."


"Anda juga harus membawa pengacara di sidang nanti."


"Pengacara? Aku nggak punya," kata Seo Il Sang lagi.


"Tidak masalah. Kami akan menyiapkannya. Anda hanya perlu bersaksi, agar Tuan Kim memperoleh pelajaran."


"Jadi sidangnya akan dilaksanakan selasa minggu depan? Baiklah, saya akan bicarakan hal ini dengan dokter, agar dapat izin untuk keluar sebentar," ucap Seo Il Sang di telepon.


Alva hanya terpaku mendengar obrolan tersebut. Sejak lahir, ia dikaruniai pendengaran, penciuman dan intuisi yang tajam.


Di saat seperti ini, kelebihannya itu sangat membantu. Secara diam-diam, tentu saja ia akan menjaga gadis pujaannya.


"Alva, tolong jaga Bitna," bisik Kapten Seo.


Ah, akhirnya pria itu meminta tolong juga pada Alva.


...🌺🌺🌺...


Ting! Pintu lift terbuka.


Drap! Drap! Drap! Seorang pria berjalan terburu-buru keluar dari lift.


"Hah? Gawat!" gumam Alva dalam hati. Alva melihat sebilah pisau di balik jaket hitamnya yang tebal.


Remaja pria yang mendengar isi telepon Seo Il Sang dan Tuan Seon tersebut langsung bergerak cepat.


"Alva, mau ke mana? Pintunya mau tertutup," seru Seo Bitna.


"Bitna, segeralah ke bawah, dan lapor ke keamanan. Ayahmu dalam bahaya," ujar Alva sambil berlari kembali ke arah ruang perawatan Ayah Bitna.


"Bahaya?"


"Cepat pergilah! Jangan banyak bertanya," usir Alva dengan isyarat mata. Alva lalu buru-buru berlari menuju kamar Kapten Seo.


Pria berjaket hitam tadi berhenti di depan kamar nomor dua dari ujung. Itu adalah kamar tempat ayah Bitna dirawat. Kecurigaan Alva benar, pria itu memiliki niat jahat.


"Paman Seo," seru Alva dari belakang pria mencurigakan tersebut.


"Alva, kenapa kamu balik lagi?" tanya ayah Bitna.


"Dompetku ketinggalan. Aku tidak bisa pulang tanpa benda itu," kata Alva buru-buru masuk. Pria mencurigakan tadi segera berlari meninggalkan tempat itu.


Bruk!


"Sialan!" gumam pria tersebut menggunakan bahasa Korea. Pisau yang ia bawa terhempas ke lantai, akibat bertubrukan dengan seseorang.


"Tolong! Ada orang bawa pisau!" jerit wanita yang bertubrukan dengan pria tadi. Alva buru-buru mengejarnya.


Ting! Pintu lift terbuka. Bitna dan beberapa orang petugas keamanan pun datang.


"Astaga! Apa yang terjadi?" ucap Bitna dalam keadaan lemas. Pria tadi telah diringkus oleh keamanan. Tetapi rasa takut masih menguasai Bitna.


"Tidak apa-apa. Semua sudah aman," ujar Alva.


"Bagaimana kau tahu kalau dia akan melukai Ayah? Apa Ayah juga cerita padamu?"


Alva menggeleng, "Maaf, Paman. Tadi tanpa sengaja aku mendengar obrolan Paman di telepon. Dan sepertinya Bitna juga harus tahu," kata Alva.


"Jadi Pak Hwan itu salah satu atasan Ayah?" tanya Bitna. Seo Il Sang mengangguk.


"Astaga, bagaimana bisa aku tidak berterima kasih dan mengabarinya, setelah Ayah kembali?" ucap Bitna.


"Kau harus meneleponnya nanti," kata sang Ayah. "Dan kau juga harus hati-hati mulai dari sekarang," lanjutnya.


"Ternyata Tuan Kim sudah menjadi biang kerok sejak dulu. Ku pikir hanya aku saja korbannya," gumam Bitna.


"Memangnya dia berbuat apa terhadapmu?" tanya Kapten Seo.


Duh, Bitna keceplosan. Tapi setelah di desak oleh sang ayah, ia akhirnya menceritakan semuanya. Dan semua itu sangat berguna di persidangan nanti.


...🌺🌺🌺...


"Aku jadi tahu, kenapa kamu alergi telur," ucap Alva ketika kedua remaja itu hendak pulang.


"Kenapa?" tanya Bitna bingung. Dari mana Alva tahu? Dia sendiri aja nggak bisa menebak penyebabnya.


"Kau bukan alergi, Bitna. Tetapi telur-telur itu membuatmu trauma terhadap tindakan bully mereka," jelas Alva.


"Apa iya?" gumam Bitna.


"Kau tadi bilang sering dilempar telur busuk, kan?" Nah, memory kepalamu merekam, kalau setiap telur itu berbau busuk. Ingatan saat mereka mengerjaimu semakin memperburuk keadaan."


Bitna memperlambat langkah kakinya. Ia melihat punggung pria cerdas itu dengan jelas, "Jadi hal itu yang bikin aku gak bisa makan telur?"


"Eh, kok malah ngelamun?" ujar Alva ketika menoleh ke belakang. "Sebelum naik angkot, beli cemilan dulu, yuk. Lapar, nih."


"Ehm... Aku..." Bitna ragu mau bilang, kalau ia nggak bawa duit banyak hari ini. Pasti Alva bakal mentraktirnya lagi kalau jujur.


"Aku boleh kan, melunasi hutang kencan tiga puluh kali itu dengan street food gini? Apa kamu nggak suka?" tanya Alva sambil menunjukkan deretan pedagang di pinggir jalan.


"Eh, apa? Suka, kok," jawab Bitna kemudian. Alva tersenyum penuh kemenangan.


Plak! Bitna menepuk wajahnya sendiri, "Bitna begooo, itu kan cuma trik Alva doang," gumamnya.


"Nah, kalau gitu kita bagi tugas, deh. Aku beli makanannya, kamu beli cendol di sana," kata Alva.


"Cendol? Ah, aku udah lama banget pengen cobain itu," kata Bitna semangat.


Beberapa saat kemudian...


"Nih, cemilannya. Cobain, deh."


Tanpa disuruh dua kali, Bitna langsung mencoba jajanan yang menggunakan tusuk lidi itu.


"Wah, enak!" Mata Bitna berbinar. "Ini apa namanya?" tanya gadis itu.


"Minum dulu cendolnya, abis itu baru ku kasih tahu," kata Alva sambil mengunyah jajanan SD yang ia beli.


Bitna patuh. Ia menyeruput cendol manis dingin tersebut hingga tinggal setengah. Tak perlu ditanya, melihat ekspresinya saja kita sudah tahu, kalau gadis Korea itu sangat menyukai minuman tradisional tersebut.


"Jajanan ini, namanya sosis telur gulung. Gimana? Enak, kan?" ucap Alva menepati janjinya.


"Telur? Kamu bercanda. Kok bisa enak?" bantah Bitna.


"Kamu nggak percaya? Yuk, kita lihat proses masaknya. Aku juga pengen beli untuk anak-anak di asrama," ajak Alva. "Tapi janji jangan muntah, ya," ucapnya lagi.


Bitna bengong melihat proses pembuatan makanan sederhana itu. Ternyata selain sosis telur gulung, ada juga varian lainnya yang tak kalah enak. Harganya juga cukup murah.


"Nih, pizza telur congkel," ujar Alva. "Mulai sekarang kalau lihat telur, harus ingat momen manis kita ini, ya," ucap pria itu dengan senyum manis andalannya.


Bitna terpaku di tempatnya. Ia terhipnotis.


"Kalau kamu pulang ke Korea nanti, jangan pernah lupakan aku," bisik Alva. Kali ini wajahnya sangat serius.


(Bersambung)