
Tes! Tes! Tes!
Bulir air hujan mendarat di tubuh gadis mungil berjaket kuning itu. Sebagian rambutnya dan sepatunya telah basah. Tanah dan pepohonan di sekitarnya juga turut basah. Hembusan udara sejuk membuatnya semakin merapatkan jaket ke kulitnya.
Hujan pertama di musim semi ini cukup lebat. Cumulonimbus menggelayut di atas Kota Seoul, seakan masih enggan pergi dari sana.
Bitna mempercepat langkah kakinya. Ia tidak ingin buku-bukunya di dalam tas turut basah. Buku tersebut adalah harta karun baginya.
Ceplak! Ceplak! Ceplak!
Hentakan kaki ke dalam genangan air, kadang meninggalkan noda kuning di sepatu dan kaos kaki yang ia kenakan.
Bitna tersenyum lega ketika ia sampai di halte, "Huh, padahal suasana hatiku hari ini sedang senang. Tapi kenapa matahari malah nggak muncul, ya? gumamnya.
"Jadi gimana keputusannya? Dia nggak jadi dihukum, kan? Udah kuduga dari awal."
"Katanya sih dia cuma diskors. Tapi apa benar mereka nggak pacaran? Padahal kayaknya hubungan mereka dekat banget, deh."
Terdengar obrolan beberapa siswa yang juga meneduh di halte. Sepertinya mereka membahas sidang kedisiplinan Kim Min Ji kemarin.
Nggak heran kalau di sini banyak siswa SMA Seodaemu-Gu. Halte ini memang cukup dekat dengan SMA tersebut.
Meskipun itu sekolah elit, tetapi sebagian siswa masih menggunakan kendaraan umum untuk pergi sekolah.
"Kayaknya Pak Guru nggak bohong, deh. Pak Guru Song kan emang baik ke semua siswa."
"Nah, menurutku juga gitu. Pasti Min Ji cuma ke-GR-an karena dia cantik."
Para siswa itu masih melanjutkan obrolannya. Tanpa sadar, Bitna jadi ikut menyimak.
"Eh, tapi kalian tahu nggak cewek yang dibully Min Ji dalam video itu?" tanya siswa lainnya.
"Setahuku sih dia anak yang dapat peringkat satu kemarin. Tapi kenapa Min Ji menuduhnya pelaku video tersebut?"
"Nggak tahu, deh. Tapi menurutku cewek itu memang pantas dibully. Dia kan berbohong soal ayahnya."
"Sssttt... Jangan keras-keras. Dia ada di situ," bisik salah seorang siswa.
Sementara itu Bitna hanya pura-pura tidak mendengar obrolan tersebut. Gadis itu hanya menatap hujan yang turun kian lebat.
"Sialan! Pak Guru mengelak begitu saja. Sayang banget videonya mggak sempat diputar sampai ke adegan kissing itu."
Eunjo yang tiba-tiba datang, menumbukkan tinjunya ke permukaan kursi halte. Hatinya sangat kesal. Sidang itu tidak berjalan sesuai yang ia harapkan.
Bitna memutar badannya. Jantungnya berdegup seperti genderang drum band karena terkejut.
"Sudahlah Eunjo. Begini saja sudah cukup bagiku. Min Ji sudah menerima balasan yang cukup setimpal," kata Bitna.
"Cih, kau terlalu baik. Menurutku yang diterimanya itu belum seberapa. Kita masih bisa bikin dia lebih menderita lagi," kata Eunjo.
"Ngomong-ngomong ngapain kau di sini? Kenapa nggak minta antar sampai sekolah?" tanya Bitna.
"Hah... Mobilku mendadak rusak pagi ini. Sedangkan ayahku ada rapat penting. Dan aku gak dapat taksi karena hujan lebat."
Bitna tertawa kecil melihat Eunjo terus bergumam kesal.
"Bitna, kau mau ke sekolah, kan?"
Park Jun Hyeon tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Rambutnya yang biasa tertata rapi, kini menjadi sangat berantakan karena hujan.
Tapi mungkin takdirnya orang cakep beda, ya. Meski pun penampilannya lusuh dan berantakan, ia tetap terlihat tampan paripurna.
"Ya kamu pikir aku pakai seragam gini mau ke mana? Cosplay?" ucap Bitna seraya mengalihkan pandangan dari cowok di depannya.
"Ya ampun, galak amat, sih? Padahal aku mau ngajak bareng ke sekolah," kata Jun Hyeon.
Pria itu meletakkan sebuah jaket berbau vanilla segar di pundak Bitna.
"Apa ini?" Bitna berusaha mengembalikan jaket yang terlihat mahal itu kepada pemiliknya.
"Pakai saja. Kayaknya kau kedinginan," jawab Jun Hyeon.
"Hei, Jun. Aku juga kedinginan. Punggungku basah. Kau nggak mau memberikan jaket padaku?" celetuk Eunjo.
"Wah, cewek tomboy kayak gini bisa kedinginan juga?" balas Jun Hyeon.
"Sialan, kau! Memangnya cewek tomboy itu punya bulu tebal seperti beruang kutub? Aku juga butuh kehangatan tahu!" Eunjo menepuk bahu Jun Hyeon.
Bitna hanya tertawa melihat tingkah kedua remaja di hadapannya.
Tiba-tiba mata Bitna menangkap sesuatu yang nggak asing. Ia pun memperhatikan lebih detail jaket yang sedang dipakainya.
"Jaket ini mirip sekali dengan jaket penguntit itu?" pikir Bitna sambil menatap sebuah foto di layar ponselnya.
"Ah, tapi mana mungkin. Apa alasan Jun Hyeon melakukannya?" kata Bitna.
Gadis bertubuh mungil itu masih sangat penasaran. Kali ini bola matanya berputar, memfokuskan pandangan ke arah sepatu.
"Astaga! Sepatunya juga mirip!" batin Bitna.
Diam-diam Bitna bergeser beberapa langkah dari Jun Hyeon dan Eunjo. Ia lalu berselancar di internet, mencari info tentang jaket dan sepatu tersebut.
"Omo!" Seru Bitna.
Hasil pencariannya sungguh mencengangkan. Sepatu dan jaket yang digunakan Jin Hyeon adalah merk terbatas yang hanya diproduksi seratus unit. Bahkan para pemiliknya memiliki nomor seri masing-masing.
Harga kedua benda tersebut juga fantastis. Puluhan kali lipat dibandingkan sepatu dan jaket yang biasa digunakan oleh Bitna.
Tubuh Bitna terguncang. Pikirannya pun melayang. Apa benar Jun Hyeon adalah penguntitnya selama ini? Cowok itu dulu juga selalu memberikan hadiah misterius, kan?
Ah, kalau dipikir-pikir lagi, dari mana dia tahu semua susu dan makanan kesukaan Bitna?
Tubuh Bitna memanas. Darahnya mengalir sangat cepat. Hatinya menjadi bertanya-tanya, siapakah Park Jun Hyeon sebenarnya?
(Bersambung)