Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 45 - Pertama Kalinya Untukku



Brak!


"Ayah! Ayah beneran dipecat? Terus Ibu nggak boleh jualan lagi?"


Yeon Woo berseru ketika ia baru saja sampai.


"Nggak usah dibesar-besarkan. Ayah tinggal cari pekerjaan lain. Masih banyak yang bisa Ayah kerjakan," ucap paman Chae Do Hyuk pada putranya.


"Benar. Ibu juga masih bisa membantu-bantu di rumah Nyonya Kang. Kalian nggak usah khawatir," tambah bibi pula.


"Aku... Aku juga akan membantu kerja sambilan di minimarket atau kafe," usul Yeon Woo.


"Nggak usah. Kau udah cukup sibuk dengan kuliah dan mengajar les," tolak paman.


Tes! Tes! Tes!


Lutut Bitna basah terkena tetesan air mata. Kedua tangannya mengepal erat.


"Maafkan aku. Karena kehadiranku di sini, semuanya jadi susah," ucapnya lirih.


"Ini bukan salahmu, Nak," kata paman.


Tiba-tiba HP paman berdering, memecah suasana haru.


"Do Hyuk, ku harap kau besok jangan sampai terlambat," ucap manajer.


"Maksudnya?"


"Kau besok harus bekerja seperti biasa. Jadi jangan terlambat."


"Eh? Anda serius, Pak?" tanya paman tak percaya.


"Kalau kau bertanya sekali lagi, maka aku akan menarik ucapanku lagi," kata manajer.


"Baik. Baiklah, besok saya datang," jawab paman dengan wajah ceria.


...🍎🍎🍎...


Beberapa hari kemudian...


"Hei, Bitna. Kau dipanggil Bu Guru," kata salah seorang teman menyampaikan pesan.


"Bu Guru? Maksudmu Bu Hana?" tanya Bitna memastikan.


"Y-ya. Kau harus segera menemuinya," kata cewek itu.


"Aneh, padahal sebentar lagi bel masuk. Apa ada hal yang sangat penting, ya?" gumam Bitna.


Bitna pun bergegas pergi, menuju ke ruang guru untuk menemui Bu Hana.


Remaja cantik itu harus melewati sederet ruang kelas satu, lalu kantin, ruang administrasi, lalu berbelok ke...


"Hah? Jun Hyeon?"


Bitna berteriak kecil ketika melihat cowok itu berdiri di antara pilar besar sebelah ruang administrasi.


Grep!


"J-jun? Jangan begini? Banyak yang bisa melihat kita?" ucap Bitna.


"Jadi kamu mau pindah tempat?"


Jun Hyeon melangkahkan kakinya ke depan. Tubuh cowok remaja itu, kini hanya berjarak kurang dari satu jengkal dari tubuh Bitna.


"Bukan itu maksudku. Aku lagi dipanggil Bu Hana. Beliau pasti menungguku," jawab Bitna.


Gadis itu berharap Jun Hyeon akan melepaskan dirinya.


"Gak ada guru yang memanggilmu, Bitna. Dan akulah yang menyuruh murid tadi untuk memanggilmu," kata Jun Hyeon.


"Kau?" Bitna mengerutkan wajahnya menahan emosi.


"Maaf aku membohongimu. Kalau nggak gini, sulit banget mau ketemu sama kamu," bisik Jun Hyeon.


"Kenapa sih kamu selalu menghindariku?" lanjut pemuda tampan itu.


Cowok itu mendekatkan wajahnya ke Bitna. Jun Hyeon bisa mendengar degup jantung gadis itu.


Sementara Bitna membuka matanya lebar-lebar. Ia menatap wajah Park Jun Hyeon yang tidak bisa kdibilang jelek.


Pandangan Bitna turun sedikit ke bawah, memperhatikan hidung yang mancung semourna, lalu bibir mungil berwarna merah muda.


Ah, jarang-jarang cowok memiliki bibir berwarna merah muda seperti itu.


Kebalikan dari Bitna, Jun Hyeon menutup kedua matanya. Hidung mereka bersentuhan. Bitna bisa merasakan kulit halus milik pria itu.


Napas Bitna memburu. Tak bisa disangkal, hormon remaja yang ada dalam tubuhnya bekerja dengan baik. Bitna bisa merasakan denyutan dahsyat, di beberapa titik vital tubuhnya.


Perlahan, bibir kedua remaja itu bersentuhan. Lembut sekali. Ah, denyutan yang dirasakan Bitna kian terasa. Tubuhnya terasa panas.


"Aku mencintaimu," bisik Jun Hyeon sambil merapatkan tubuhnya pada Bitna.


"Ah, nggak bisa begini!" gumam Bitna yang kembali menemukan kesadarannya.


"Apa yang kau lakukan, Jun? Kita bisa tertangkap dan dihukum." Bitna mendorong tubuh pria itu menjauh darinya.


"Kau nggak tahu, area ini tidak terjangkau oleh kamera CCTV. Dan guru juga jarang melewatinya karena harus berjalan memutar," jelas Jun Hyeon.


Kedua remaja itu mengabaikan bel masuk yang telah berbunyi.


"Bukan itu maksudku," protes Bitna.


"Kau juga menyukainya, kan?" tanya Jun Hyeon.


"Eh? Maksudmu?"


"Napasmu memburu. Degup jantungmu juga tidak teratur. Aku yakin kau baru pertama kali merasakannya, kan?" kata Jun Hyeon.


"Aku bisa memberikannya untukmu! Aku siap menjadi yang pertama bagimu," kata Jun Hyeon lagi.


(Bersambung)