Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 13 - Anak Nakal



"Ini kah pusat Kota Bogor?"


Bitna sambil merentangkan kedua tangannya. Udara yang sejuk dan lembab menyapanya. Tapi di saat yang bersamaan, sinar matahari yang terik juga memancarkan cahayanya hingga ke tanah katulistiwa ini.


Perjuangan mengelabui para penjaga gerbang belakang, serta menerobos semak-semak tidak sia-sia. Akhirnya Bitna bisa melihat pemandangan lain, selain gedung sekolah.


"Ini masih belum pusat kota. Karena kita nggak bisa berjalan jauh-jauh dari sekolah, jadi akita ke sini saja. Lumayan banyak kuliner di sini," kata Flora.


Harum beragam macam jajanan sangat memanjakan indra penciuman. Sejalan dengan itu, indra perasa pun mulai bereaksi.


Mata Bitna memandang liar ke sekeliling. Ada beragam minuman dengan warna menggoda. Buah-buahan yang di potong dan dicampur, lalu diberi kuah kacang yang lezat. Ada beragam gorengan dan tidak tahu lagi yang lainnya. Pokoknya banyak, deh.


"Bitna, kamu mau coba yang mana?" tanya Sri Devi


"Aku belum punya rupiah," kata Bitna sambil mengeluarkan selembar uang dari sakunya.


"Ooo.. Pantes Bitna nggak pernah jajan di kantin koperasi? Di sekolah kita ada money changer, kok. Ada tabungan siswa juga," kata Flora. "Tapi untuk sekarang biar kami yang traktir, deh."


"Eh, ke sana, yuk. Ada batagor. Udah lama nggak beli," kata Tika.


"Boleh juga. Aku pengin makan kuah kacang," seru Devi.


Keempat anak SMA itu pun berjalan mendekati gerobak yang ditunjuk Tika. Bau harum siomay ikan yang sedang dikukus, menggelitik syaraf penciuman dan membuat perut berbunyi. Ditambah lagi dengan kentalnya kuah kacang yang sangat memanjakan lidah... Duuuhhh... keempat remaja itu sudah tidak sabar untuk mencicipinya.


Di saat yang sama, sekelompak anak-anak dengan pakaian lusuh dan tanpa alas kaki pun mendekati gerobak batagor tersebut. Para bocah tersebut mengeluarkan uang koin dari saku masing-masing, lalu mengumpulkannya.


"Pak, beli batagor, ya?" kata salah seorang anak sambil memberikan uang recehan tersebut.


"Hei lihat, mereka membeli lima ribu untuk makan sama-sama," bisik Tika.


"Hah? Memangnya cukup? Mereka berenam, sementara batagor itu cuma sedikit," komentar Flora.


Hati Bitna bergetar. Ia seperti mengalami de javu. Para anak orang kaya menindas yang lemah. Begitu lah yang dulu selalu dialami Bitna, terutama setelah sang ayah pergi tanpa kembali.


Flora, Tika dan Sri Devi saling bertukar pandang. Beberapa detik kemudian mereka pun mengangguk sambil tersenyum.


"Heh, adik-adik!" seru Flora dengan logat Bataknya.


"Hah, mau ngapain mereka?" pikir Bitna cemas. "Tidak, jangan lakukan itu," gumam Bitna dengan sangat pelan. Tak seorang pun yang mendengarnya.


Ketiga teman sekelas Bitna semakin mendekati bocah-bocah itu. Bitna hanya terpaku di tempatnya. Dia ingin mencegahnya, tapi ia juga takut.


"Sial, aku benci jadi orang lemah yang pengecut," batin Bitna.


"Hei, Dik. Jangan pergi dulu!" seru Flora. "Pak, bikinkan pesanan kami dulu, ya."


"Pak, batagornya tambah enam bungkus lagi, ya. Paket komplit," kata Tika kemudian.


"Siap, Neng." Dengan cekatan pedagang itu membuatkan pesanan Tika. Bocah-bocah itu pun menunggu dengan sabar.


Tak berapa lama kemudian...


"Ini pesanan para Neng Geulis." Pedagang itu memberikan sekantung plastik berisi enam batagor komplit dan sekantung lagi berisi empat bagator biasa.


Bitna tercengang dengan apa yang dilihatnya barusan. Ia sangat tidak percaya.


"Ini beneran untuk kami?" tanya bocah-bocah itu.


"Ya, untuk kalian. Kalian mau makan apa lagi? Kakak traktir, deh," kata Tika dan Devi.


"Woah... Makasih kakak-kakak. Ini saja sudah cukup," ujar mereka.


"Haaa... Syukurlah," ujar Bitna. Tubuhnya lemas. Ia terduduk di trotoar.


"Bitna, kau kenapa?" tanya Flora.


"Aku nggak apa-apa," jawab Bitna sambil mengysap air matanya yang mulai menetes. Hatinya benar-benar lega. Hal yang terjadi jauh berbeda dengan apa yang ia pikirkan.


"Tapi air matamu mengalir? Kau beneran nggak apa-apa? Mau balik ke asrama aja?" tanya Devi ikutan panik.


"Aku terharu banget, lihat kalian berbagi sama anak-anak itu," ujar Bitna setelah hatinya agak tenang.


"Oalah... Itu, toh. Kirain kenapa?" ujar ketiga temannya lega.


"Kami bayarny rame-rame, kok. Kasian kan kita bisa makan enak, sementara mereka harus berbagi makanan," ucap Tika.


"Aku sangat bersyukur punya teman kayak kalian," kata Bitna.


"Udahan dong nangisnya. Kan aku jadi ikutan sedih juga," kata Devi.


"Iya, deh. Maaf," kata Bitna sambil kembali tersenyum ceria.


"Jalan lagi, yuk. Kalian mau jajan apa lagi?" ajak Flora.


"Aku mau beli roti bakar. Lumayan untuk ganjel perut belajar nanti malam," ujar Devi semangat.


Baru saja mereka berjalan beberapa puluh meter, tiba-tiba seragam mereka basah karena tetesan air. Matahari yang tadi memancarkan sinar keemasan, kini bersembunyi di balik gulungan awan tebal berwarna kelabu.


"Hujan!" seru remaja putri itu.


Mereka lalu berlari ke depan sebuah ruko dan berteduh di sana. Di dalam pelukan udara dingin, mereka pun menikmati lezatnya batagor kuah kacang.


"Teman-teman, di sini lagi musim dingin, ya? Eh, maksudku musim hujan," tanya Bitna.


"Nggak, Bitna. Di sini sepanjang tahun musim hujan. Setiap hari bisa turun hujan di waktu yang nggak menentu," kata Tika.


"Hah? Gitu?" ujar Bitna kagum. Di Korea ia biasa melihat perubahan musim yang cukup drastis selama beberapa bulan sekali.


"Makanya di sini disebut juga Kota Hujan," tambah Flora.


"Btw gaes, kita gimana nih pulangnya? Udah mulai gelap, nih?" celetuk Devi.


"Astaga, benar juga. Jam enam kita sudah harus di asrama," seru Tika panik.


(Bersambung)