Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 20 - Apakah kita saudara?



"Mau ke mana?"


Suara sapaan tiba-tiba dari belakang membuat Wooil hampir melompat dari tempatnya berdiri.


Siapa perempuan yang masih ada di sini saat hari mulai gelap?


Wajah cowok itu sudah pucat pasi. Napasnya terdengar sesak dan berat. Dengan perlahan, ia memutar lehernya ke samping.


"Bitna!" ucap Wooil kemudian. Entah kenapa, seketika itu juga napasnya terasa sangat ringan.


"Ngapain kamu mengikuti aku ke sini?" tanya Bitna.


"Si-siapa yang ikutin kamu?" elak Wooil.


"Terus kamu ngapain di sini? Uji nyali?" Bitna balik bertanya.


"A-aku tadi di..."


Wooil kehilangan kata-kata. Ya karena ia tidak punya alasan lain, selain mengikuti Seo Bitna.


"Wajahmu pucat banget? Kamu ketakutan, ya? Nggak kukira cowok kayak kamu bisa ketakutan?" tawa Bitna.


"Si-siapa yang takut?" elak Wooil.


"Aku bisa melihatnya dari wajahmu dan suaramu tadi terdengar gemetar. Kau takut pada apa? Hantunya Jung Mirae?" tawa Bitna semakin keras.


"Ssst... Hati-hati kalau bicara," Wooil menyilangkan jari di depan bibir.


"Sudahlah. Itu hanya rumor. Ruang ekskul anak sastra dan anak fotografi kan di sini. Kami tidak ingin diganggu oleh keributan siswa, makanya muncul rumor itu," jawab Bitna.


"Jadi begitu?" wajah Wooil semakin terlihat cerah.


"Jadi benar kau tadi ketakutan? Sekarang kau terlihat sangat lega," sindir Bitna.


"Siapa bilang? Kau ini suka sekali menebak-nebak, ya? Sudahlah, aku mau kembali," ucap wooil kesal.


Sebenarnya ia hanya malu, karena semua ucapan Bitna sangat tepat sasaran.


"Sebentar. Ada yang ingin kubicarakan padamu," ucap Bitna tiba-tiba.


"Apa? Kucing kampung ini mau bicara sesuatu padaku?" ucap Wooil sambil tertawa. "Kamu mau memohon padaku biar nggak dibully lagi?" kata Wooil.


"Terima kasih."


"Eh, apa kamu bilang?" Wooil tidak percaya dengan yang ia dengar.


"Aku tahu kamu banyak membantuku akhir-akhir ini. Jadi terima kasih," ulang Bitna.


"Kapan aku membantumu?" bantah Wooil.


"Entahlah. Tapi rasanya setiap saat kamu selalu membantuku, termasuk menjauhkan Chae Rin dan Min Ji dariku."


Wooil melebarkan matanya, "Lalu kau pikir sekarang aku padamu apa? Jangan salah paham," seru cowok itu.


"Aku nggak salah paham padamu, kok. Aku tahu kamu nggak akan pernah menyukaiku," sahut Bitna.


Gadis itu menatap cowok yang berdiri di hadapannya. Ah, Bitna baru sadar. Ternyata cowok itu memiliki bulu mata yang lebih lentik darinya. Kulitnya juga sangat halus.


"Malah aku lebih percaya kalau kamu sebut kita sedang bersaing jadi nomor satu," sambung Bitna sambil mengalihkan pandangan dan Seon Wooil.


"Ah, itu yang benar. Kita tuh saingan, musuh bebuyutan," ucap Wooil.


"Tapi apa pun alasanmu membantuku, terima kasih," ucap Bitna.


Wooil membeku ditempatnya, mendengar ucapan Bitna. Ia sangat jarang mendengar kata-kata itu, terutama dari temannya.


"Ah, kalau gitu ada hal juga yg ingin ku katakan padamu," kata Wooil.


"Soal apa?"


"Apa hubungan ayahku dengan ibumu?" tanya Wooil.


"Ayah-mu dengan ibu-ku," Bitna mengeja kalimat yang diucapkan Wooil tadi. Wajahnya sangat kebingungan.


"Apa aku salah? Sepertinya Bitna juga tak tahu apa-apa," pikir Wooil.


"Bisa kau jelaskan maksud kata-katamu tadi?" desak Bitna.


"Lupakan saja kalimatku barusan," ucao Wooil seraya menghindar.


"Kau pasti menyimpan sesuatu, kan? Tolong katakan," desak Bitna lagi.


"Aku menemukan fotomu dan ibumu di rumahku. Ayahku menyimpannya," kata Wooil.


Cetar!


Kalimat itu bagai sambaran petir bagi Bitna.


"Kau yakin itu fotoku? Sejak kapan kau tahu? Jadi karena ini kau baik padaku?" Bitna menghujani Wooil dengan rentetan pertanyaan.


"Nggak. Aku nggak pernah berbuat baik padamu," Wooil terus membantah. "Aku juga baru menemukan foto itu tadi malam," lanjut cowok itu.


"Omong kosong apa ini? Gimana ibuku bisa mengenal ayahmu? Rasanya itu nggak mungkin," bantah Bitna.


"Kau pikir hatiku nggak sakit melihatnya? Apa jangan-jangan kita bersaudara?" kata Wooil pula.


"Ah, gila kau. Itu nggak mungkin. Ibuku adalah orang baik-baik. Dia sangat mencintai ayahku sampai akhir hidupnya," ucap Bitna membantah semua analisa Wooil.


"Lalu apa alasannya? Apa kau pernah berpikir, bagaimana kau bisa masuk sekolah elit ini dengan mulus?" lanjut cowok itu mengundang ribuan pertanyaan di kepala Bitna.


...🍎🍎🍎...


"Hhh... Apa ya maksud Wooil tadi? Hubungan ibuku dengan ayahnya? Ayahnya saja aku tidak pernah bertemu langsung."


Bitna melangkahkan kaki dengan gontai meninggalkan halte bus.


"Terus apa pula maksudnya aku bisa sekolah di sana dengan mulus? Dia nggak tahu kalau aku harus melewati belasan tes agar bisa bersekolah di tempat elit itu?" gerutu Bitna.


Gadis lima belas tahun itu masih sangat ingat. Sang ibu yang sibuk bekerja, rela menyisihkan waktunya demi mengantarnya pergi tes.


Min Ah juga selalu menanamkan pada sang putri, bahwa semua orang bisa mendapatkan pendidikan yang baik, tidak terbatas dari kalangan tertentu.


Hari demi hari di kelas tiga SMP, Bitna berjuang untuk mendapatkan beasiswa dari sekolah elit yang dipilih ibunya.


Tak jarang, mereka mendapat cibiran dari para tetangga.


Lalu setelah semua usaha itu, Wooil mengatakan bahwa Bitna memperoleh bantuan untuk bersekolah di sana?


"Ckk, nggak masuk akal. Dari mana dia bisa berpikiran seperti itu? Apa ayahnya beneran menyimpan fotoku dan ibu?" gumam Bitna.


Tap!


Langkah Bitna terhenti di bawah pohon besar. Matanya menatap lurus ke depan.


Jarak sekitar tiga puluh meter dari posisinya saat ini, ia melihat seorang pria sedang mengawasi rumah mereka.


Saat itu matahari mulai tenggelam. Suasana cukup gelap, karena lampu jalan belum menyala seluruhnya.


"Siapa dia? Apa bibi punya hutang dengan rentenir?" pikir Bitna.


Gadis itu berjalan mengendap-endap di balik pohon perdu di pinggiran jalan. Bola matanya tidak lepas dari pria mencurigakan itu.


"Eh, sepertinya aku sering lihat jaket yang dipakainya? Tapi di mana, ya?" Bitna mengingat-ingat.


Bitna semakin melangkah mendekat. Ia penasaran dengan wajah pria bertopi dan memakai masker hitam tersebut. Tangan pria itu terlihat memegang HP untuk merekam sesuatu.


"Mencurigakan banget, sih?" pikir Bitna.


Cekrek!


Gadis itu memotret pria tersebut untuk dilaporkan kepada paman.


"Hei, makanannya enak semua, kan? Apa kalian mencoba sup ikan pollocknya?"


"Duh, aku nggak sempat mencobanya. Gimana rasanya?"


"Ah, kau rugi banget. Supnya enak. Masakan Nyonya Kang memang selalu enak."


Tiba-tiba satu rombongan ibu-ibu berjalan melalui rumah Bitna. Pria mencurigakan itu pun segera kabur dari sana.


"Duh, malah kabur. Padahal aku hampir saja melihat wajahnya," gerutu Bitna.


"Hei, Bitna! Kenapa kau bersembunyi di situ? Apa kau baru saja pulang kencan?" teriak salah seorang ibu.


"Ah, tidak Nyonya. Aku hanya mengambil beberapa foto untuk tugas sekolah," ucap Bitna sambil cepat-cepat melangkah pergi.


(Bersambung)