
Kemarin sore, setelah pulang sekolah.
Buagh! Buagh!
"Pasti kau kan pelakunya? Kau yang merekam video itu?" tuduh Min Ji pada Seo Bitna.
"Apa buktinya kalau aku pelakunya?" ujar Bitna.
"Hanya kau yang punya alasan untuk melakukan hal itu," ucap Min Ji.
"Kau pikir punya alasan aja cukup? Aku nggak berada di posisi bisa melakukannya," balas Bitna.
"Maksudmu?"
"Gimana caranya aku merekam? Pakai apa? Yang ada bakal ketahuan sebelum direkam," jawab Bitna.
"Kau berani melawanku?" kata Min Ji.
"Tapi bener juga yang dibilang Bitna. Yang musuhan sama kamu kan banyak. Kita juga nggak punya bukti kalau Bitna pelakunya," ucap Yeoreum, teman Min Ji.
"Diam, Yeoreum! Kita nggak perlu bukti-bukti lagi. Pokoknya dia harua dikasih pelajaran," ucap Min Ji sambil menyiramkan sebotol kecap ikan di kepala Bitna.
"Ayo cepat jawab. Kau kan pelakunya?" desak Min Ji.
"Tapi kalau nanti terbukti bukan dia pelakunya, kita bisa dalam bahaya. Aku nggak mau di skors lagi," ucap Yeoreum, diikuti anggukan kepala teman-temannya.
"Ckk... Dasar pengecut. Kalian nggak mau barang mewah dariku lagi? Atau kalian mau dibully juga?" ancam Min Ji.
Cewek-cewek itu takut pada ancaman Min Ji. Mereka pun menghujani Bitna dengan beragam sampah.
Bitna tetap tidak menyerah. Meski seragamnya sudah bau kecap ikan dan comberan, gadis itu tetap nggak mau mengaku.
Menurut Bitna, Min Ji pantas mendapatkan itu. Gadis kaya dan manja itu perlu mendapatkan pelajaran, setelah semena-mena membully para siswa.
Atau mungkin saja itu belum setimpal dengan permasalahan yang ia buat selama ini.
"Kau... tetap nggak mau mengaku rupanya. Lihat saja nanti, kehidupan sekolahmu nggak akan bisa berjalan lancar lagi," ucap Min Ji kesal.
"Aku nggak tahu, siapa yang kehidupan sekolahnya berantakan. Aku atau kamu?" balas Bitna tanpa gentar.
Saat ini di rumah...
"Sekolahku baik-baik saja, Bi," sahut Bitna ketika bibi bertanya.
"Udahlah, ngomong jujur aja sebelum Bibi marah padamu," desak bibi.
"Maaf, Bi. Jika Paman dan Bibi masih belum mengizinkan, maka aku akan batal ikut program pertukaran pelajar tersebut," sahut Bitna.
"Hahh... Bukan itu maksud Bibi. Nggak usah bohong! Bibi sudah melihat semuanya. Kau menyembunyikan sesuatu dari kami, kan? Dasar anak nakal," ucap bibi.
"Eh, apa maksudmu, Dami?" tanya paman pula.
"Aku sudah melihat sikapnya di luar sekolah. Dia itu bertengkar di tengah jalan, suamiku," lapor bibi pada paman.
"Eh, kau yakin nggak salah lihat? Bitna kan bukan anak yang seperti itu," tanya paman memastikan.
"Aku tadi melihat pertengkaran anak SMA, di seberang jalan toko buah sore tadi. Aku sudah melihat semuanya," kata bibi meyakinkan.
"Nah, apa kau masih mau mengelak lagi?" ucap bibi dengan nada agak tinggi.
Bitna tersentak mendengar kalimat bibi. Bibirnya bergetar, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
"Dami, jangan marah-marah dulu. Sejak kapan Bitna nakal begitu?" paman menegur sang istri.
Ara menggenggam lengan Bitna untuk menguatkan hati kakak sepupunya tersebut. Bitna hanya menundukkan kepala. Satu per satu butiran air mata menetes dari sudut mata remaja lima belas tahun tersebut.
Bibi semakin geram melihatnya, "Katakan Bitna, sejak kapan mereka membully mu?" tanya bibi dengan suara tertahan.
"Bully?" paman mengulang sebagian perkataan bibi.
"Sayang, aku kan sudah lama mengatakan kalau Bitna pasti mengalami sesuatu di sekolah. Firasat seorang ibu itu gak pernah salah."
"Hatiku mulai curiga waktu lihat dia merendam pakaiannya. Pikiranku langsung melayang ke sekelompok siswi berseragam SMA tadi," ucap bibi terbata-bata.
Air mata mulai menggenang di kelopak mata wanita itu.
"Setelah aku mencium baju rendaman itu, ternyata benar. Bau kecap ikan dan sampah."
"Maafkan aku, Bibi," kata Bitna sambil mengusap air matanya.
"Kenapa malah anakku yang meminta maaf? Memangnya apa salahmu? Kamu tidak melakukan sesuatu yang mengganggu mereka, kan?" ujar bibi.
Tanpa disadari, air mata bibi mengalir di pipinya, "Kakak, maafkan aku. Aku belum bisa merawat putrimu dengan baik," bisiknya.
"Nak, coba bicarakan semuanya dari awal. Jangan ada yang ditutupi lagi. Apa yang terjadi sampai kau dibully?" ucap paman.
Bitna masih menutup mulutnya rapat-rapat.
"Katakan saja. Jangan takut. Paman dan bibi pasti akan membelamu," ucap paman lagi.
Dengan sedikit paksaan, akhirnya Bitna menceritakan semuanya.
"Paman, Bibi... Aku mohon jangan lakukan sesuatu. Mereka bukanlah orang-orang yang bisa kita lawan," ucap Bitna.
"Lalu bagaimana kamu akan menyelesaikan masa sekolahmu?" tanya paman.
"Ah, apa karena itu kamu meminta pertukaran pelajar ke luar negeri?" tebak bibi.
Bitna tidak menjawab. Tapi kepalanya sedikit mengangguk.
"Aku sangat merindukan Ayah. Dan lagi, aku juga ingin bersekolah dengan tenang," jawab Bitna jujur.
"Tapi mendiang ibuku pasti akan sedih jika aku pindah dari sekolah pilihannya, kan?" lanjut Bitna.
"Nak, maafkan Bibi yang memarahimu tanpa tahu alasan sebenarnya. Maafkan Bibimu yang egois ini," ucap Bibi.
"Benar. Kita bisa memikirkan ulang tentang pertukaran pelajar tersebut. Akan tetapi sebelum itu, kita juga harus memperjuangkan hak Bitna di sekolah," kata paman.
"Jangan, Paman. Mereka orang yang mengerikan. Bukan cuma aku yang diancam. Tapi kita semua bisa dalam bahaya kalau melawan mereka," laramg Bitna.
"Ah, aku benci jadi orang miskin," gumam paman dengan wajah sangat kesal.
"Aku setuju Bitna pergi ke luar negeri. Asalkan kau berjanji, akan kembali lagi ke Korea sambil membawa pulang Ayahmu," kata bibi kemudian.
...🍎🍎🍎...
"Min Ji, dari mana saja kau baru pulang jam segini?" ucap Tuan Kim Hyunseung, ketika putrinya menapakkan kaki di ruang tamu.
"Papa. A-aku tadi..."
Min Ji sibuk memikirkan kata-kata untuk mengelabui ayahnya.
"Jadi, apa yang mau kau katakan sama Papa? Video skandalmu sudah tersebar di seluruh negeri ini!" bentak Tuan Kim.
"Min Ji, kenapa kau lakukan itu? Apa kau nggak tahu, gimana susahnya Papa dan Mama menjaga nama baik keluarga?" ucap Kim Dayoung, artis terkenal yang juga ibunda Min Ji.
"Nama baik keluarga terus yang kalian pikirkan. Sementara aku susah payah menaikkan nilai-nilaiku," protes Min Ji.
"Kalau kalian sedikit saja peduli pada sekolahku, aku nggak akan melakukan hal menjijikkan itu," teriak Min Ji histeris.
"Jadi maksudmu, kau bisa aja mengencani semua guru lelakimu demi nilai?" tanya Tuan Kim sengan nada tinggi.
"Itu salahmu sendiri! Kau yang malas belajar! Kau yang sibuk berfoya-foya sana sini," marah Tuan Kim.
"Nak, kau tahu, kan? Papamu memaksa Seo Bitna mengerjakan tugas-tugasmu dengan alasan menghukumnya. Itu tandanya kami masih peduli denganmu."
"Ck, kalian pikir itu cukup? Dia bahkan sekarang sibuk pacaran dengan pria populer di sekolah," ucap Min Ji.
"Jangan salahkan orang lain karena kesalahanmu. Sudah cukup Papa memanjakanmu. Sekarang kau mau apa dengan video ini?"
Tuan Kim menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Berkali-kali dia mengerutkan keningnya, sambil menghela napas.
"Kau uruslah masalahmu sendiri. Papa nggak mau tahu lagi," ucapnya kemudian.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke HP pengusaha tekstil tersebut.
"Astaga, Dayoung! Coba kau lihat ini," seru Tuan Kim.
Kim Dayoung segera mendekat.
"Astaga!" pekik Dayoung.
(Bersambung)
Tuh, kalau para netizen mau menghujat online... 😆😆
Iya... Itu editan. Ilustrated Licensed @jxlxxsxn.