Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 38 - Terlambat! Bitna Sudah...



"Halo, ada apa, Yah?"


"Yeon Woo, Kau masih di rumah?" tanya paman.


"Iya. Kenapa?"


"Apa Bitna ada di rumah?" tanya paman tergesa-gesa.


"Loh, dia kan sudah pergi pagi-pagi sekali?" balas Yeon Woo.


"Tidak. Bukan itu maksud Ayah. Apa ada kabar daei Bitna?" Chae Do Hyuk memperbaiki pertanyaannya.


"Nggak ada, tuh. Aku sendirian di rumah. Memangnya kenapa, sih?"


Yeon Woo mulai kesal. Rencananya untuk bermalas-malasan sampai jadwal kuliah nanti siang pun buyar.


"Adikmu hilang. Dia nggak ada di sekolah," sahut Do Hyuk.


"Duh, mungkin aja dia lagi ada kegiatan di luar sekolah. Atau mungkin emang pengen bolos sama teman-temannya. Jangan terlalu risau lah..." ujar Yeon Woo, abang sepupu Bitna itu.


"Ckkk... Dasar nggak bisa diharapkan. Bisanya cuma makan tidur saja." Paman lalu menutup teleponnya.


"Cih! Dia yang gak sekolah, tapi kenapa malah aku yang dimarahin," omel Yeon Woo.


Baru saja mau rebahan lagi, cowok yang sedang berkuliah di jurusan teknik itu kembali melihat layat ponselnya. Matanya terbuka lebar ketika membaca pesan dari Go Eunjo.


"Sial! Kayaknya aku emang gak bisa santai hari ini."


Chae Yeon Woo bergegas mengambil jaket dan topinya, lalu mengayuh sepeda secepat kilat.


...🍎🍎🍎...


"Kami sudah sampai di lokasi bersama beberapa orang polisi." Seorang pria menelepon Wooil dengan napas terengah-engah.


"Gadis itu ada di sini. Tapi dia sudah..."


Bugh...!


Sebuah hantaman keras melayang ke punggung Wooil. Cowok itu tersungkur di lantai. Hidungnya mengeluarkan tetesan darah.


HPnya membentur lantai begitu keras. Layarnya retak.


"Ah, sial! Apa yang mau dibilang detektif tadi? Kenapa dengan Bitna?" gerutu Wooil.


Grep!


"Berdiri kau!" perintah seorang bodyguard. Pria tinggi itu mencengkeram kerah baju Wooil dari belakang.


"Tunggu! Jangan lakukan apa pun padanya!" Kim Min Ji menahan bodyguardnya yang hendak kembali melayangkan pukulan.


"Pasti aku sudah nggak waras. Ngapain aku berbuat sampai sejauh ini hanya demi kucing kampung itu?" omel Wooil dalam hati.


"Harusnya aku senang, jika sesuatu terjadi padanya. Aku nggak perlu membereskannya dengan tanganku sendiri," pikir Wooil lagi.


Tapi entah kenapa, lagi-lagi hati nurani Wooil berkata lain. Ia merasa tidak bisa membiarkan gadis itu begitu saja.


"Kalau Seo Bitna harus hancur dan pergi menjauh, itu karena tanganku sendiri, bukan orang lain," tekad Wooil.


Sret!


Wooil mengangkat tubuhnya yang mulai oyong. Darah bercucuran dari hidungnya yang mancung.


"Katakan, di mana Bitna kau sembunyikan!" tanya Wooil dengan nada tinggi.


"Aku.. Bukan aku, Wooil!" bantah Min Ji.


Wajah gadis itu sudah seperti manekin. Pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat. Cewek remaja itu tidak pernah melihat Wooil sangat marah seperti itu.


"Masih mau menyangkal?Aku punya buktinya!" bentak Wooil.


Tim keamanan kembali memegang tubuh Wooil. Tapi Wooil tidak melawan. Ia membiarkan mereka mencengkeram kedua tangannya.


"Nggak mungkin! CCTV di belakang halte sekolah sedang rusak!" celetuk Min Ji.


"Huh, rupanya wajahmu saja yang cantik. Sayangnya isi kepalamu masih belum di-upgrade," Wooil tertawa kecil.


"Hah?" Min Ji menyadari kesalahannya barusan.


"Ja-jadi, apa maksudmu?" tanya Min Ji.


"Kembalikan HP Bitna padaku," ucap Wooil sambil berusaha melepaskan genggaman para bodyguard itu.


Buagh! Buagh!


Wooil mengeluarkan semua ilmu beladirinya untuk melawan pria-pria terlatih itu.


Entah memang ilmu bela dirinya mumpuni, atau karena emosinya yang menggebu, tapi Wooil berhasil mengalahkan mereka semua.


...🍎🍎🍎...


"Maaf, sudah ku bilang berkali-kali, kalian tidak boleh memasuki area ini sembarangan," ucap seorang pria bertubuh tinggi besar.


"Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa kalian melarang kami masuk? Kami dari kepolisian dan membawa surat resmi."


Seorang pria dengan setelan semi formal memaksa untuk masuk, ke area pergudangan dan dermaga khusus barang itu.


Sruk! Bitna berlari dan bersembunyi di bawah sebuah bangunan bekas parkiran. Perjuangannya beringsut di tempat asing itu selama lebih dari dua puluh menit, membawanya ke area pergudangan yang dijaga ketat.


"Siapa orang-orang itu? Apa suruhan Min Ji lagi untuk menghabisiku?"


Dada Bitna terasa sesak, akibat detak jantung yang tidak beraturan.


Karena kejadian berat yang dialaminya tadi, Bitna jadi selalu curiga terjadap sekeliling. Mendengar suara obrolan itu membuat hatinya semakin tidak tenang.


Dari balik dinding, Bitna bisa melihat dua orang pria muda memaksa masuk ke lokasi itu. Satu orang berambut cepak dan menggunakan setelan semi formal. Dan satu lagi bertubuh tinggi dan tegap bak aktor.


"Sudah ku katakan yang berkali-kali, tuduhan kalian itu nggak benar!" bentak pria bertubuh besar tadi.


Bitna memasang telinganya baik-baik, "Aku harus mengambil kesempatan untuk kabur dari sini," pikirnya.


"Kalau begitu, biarkan kami mengecek seluruh CCTV area ini," polisi muda usia sekitar tiga puluhan itu masih memaksa untuk melakukan penyelidikan.


"Tetap tidak bisa. Ini area terbatas," tolak petugas keamanan itu. Kalau kalian memang polisi, kenapa tidak menggunakan seragam?"


"Haah... Sialan! Aku lagi nggak mau bermain-main. Kalau bukan karena permintaan putra dari Tuan Seon Kang Nam, aku nggak akan datang ke sini," geruru pria berpenampilan mirip aktor itu.


"Eh, putra Tuan Seon Kang... Nam. Maksudnya Wooil?"


Entah kenapa mendengar nama itu, hati Bitna menjadi semakin yakin. Kalau orang-orang itu datang untuk menolongnya.


Nggak tahu gimana caranya mereka bisa menemukan Bitna, itu tidak penting. Yang jelas itulah kesempatan Bitna satu-satunya untuk kabur dari sini.


Tiba-tiba Bitna melihat petugas keamanan berusaha menutup kembali pintu gerbang.


"Tidak! Jangan!" Bitna berteriak sekuatnya. Ia berlari kencang dengan keadaan tangan masih terikat ke belakang.


Semua orang di sana melihatnya. Petugas keamanan itu tampak terkejut dengan kemunculan Bitna yang tiba-tiba.


"Itu dia! Seungcheol, selamatkan gadis itu," seru salah seorang pria.


Brak!


Pria yang dipanggil Seungcheol tadi berlari menerobos pintu gerbang yang hendak ditutup.


"Kau Seo Bitna, kan? Ikut kami. Kami akan menolongmu," serunya.


Beberapa petugas keamanan datang menghadang. Bitna yang tangannya masih terikat pun kesulitan untuk berlari.


Duagh! Duagh!


Kedua pemuda yang datang tadi, melancarkan beberapa kali tendangan untuk melawan para petugas keamanan yang jumlahnya semakin banyak.


Meskipun perlawanan itu tidak seimbang, tetapi cukup memberi ruang bagi Bitna untuk meloloskan diri.


"Aku sudah sampai di lokasi bersama seorang polisi."


Pria tinggi berpenampilan rapi itu menelepon Wooil dengan napas terengah-engah.


"Gadis itu ada di sini. Tapi dia sudah kabur ketika kami menangani keamanan," lapor pria itu.


Tak terdengar jawaban dari Wooil, melainkan suara HP yang terhempas ke lantai.


(Bersambung)