Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 65 - Metamorfosis Sempurna (Tamat)



Auditorium terbuka. Pengantin wanita mengenakan gaun putih, berjalan didampingi sang ayah. Senyum suka cita menghampiri wajahnya. Sang pengantin pria, menunggunya di depan podium sambil tersenyum sangat manis.


Alunan lagi dari piao dan lampu yang berpendar indah, membuat suasana kian syahdu. Puluhan bahkan ratusan tamu undangan, menjadi saksi penyatuan dua insan tersebut.


"Paman, bibi, terima kasih telah merawatku selama ini," bisik Bitna dalam hati, ketika melihat kedua pasangan itu duduk di kursi tamu.


"Alva?" gumam Bitna


Tangisnya pecah melihat pria itu. Bertahun-tahun tidak bertemu, tetapi mereka malah bertemu di hari pernikahan seperti ini.


Senyum yang mengembang di wajah pria itu, membuat hati Bitna semakin sakit. Pria asal Indonesia itu tersenyum manis padanya, dari salah satu kursi tamu di sudut ruangan.



Ya, tepat hari ini, Bitna akan menikah dengan teman SMAnya, Seon Wooil. Kok bisa? Gimana ceritanya?


"Nak, tegakkan punggungmu. Jangan bersedih. Ini adalah pilihanmu. Dan semoga yang terbaik untukmu," bisik Seo Il Sang. Pria itu memiliki feeling yang sangat kuat, terhadap apa yang dipikirkan sang putri saat ini.


Seon Wooil yang menantikan sang pengantinnya datang, sesekali melemparkan pandangan ke arah Alva. Ia melemparkan senyum, tanda terima kasih.


...🌺🌺🌺...


Satu tahun lalu, setelah pertemuannya dengan Eunjo dan Bitna yang tiba-tiba di malam itu.


"Bitna, aku tahu. Kamu masih merindukan bocah Indonesia itu, kan?" ucap Seon Wooil saat mengantar Bitna pulang.


"Siapa bilang?"


"Aku bisa melihatnya dari wajahmu. Kenapa dia melanggar janjinya?" kata Wooil.


"Bukan dia yang mencampakkanku. Tapi aku yang meninggalkannya. Aku tidak mau menjadi nila, di tengah secawan susu. Dia muslim yang sangat taat," kata Bitna dengan getir.


"Kalau begitu, bolehkah aku mengisi hatimu sebagai penggantinya?" tanya Wooil hati-hati.


"Apa kau bilang? Kita ini kan teman? Rasanya aneh," tolak Bitna mentah-mentah.


"Tapi kan dia juga temanmu," protes Wooil.


Bitna tenggelam dalam lautan pikiran. Ternyata ia tidak bisa memahami isi hatinya sendiri.


"Bagaimana? Aku boleh mencobanya, kan?" Wooil menghentikan kemudi mobilnya, dan menatap Bitna penuh harapan.


"Tapi nanti kau cuma jadi pelampiasan saja," kata Bitna.


"Nggak apa-apa. Asalkan itu bisa membuatmu kembali tersenyum ceria," kata Wooil tegas.


"Kenapa kau sampai seperti ini padaku?"


"Karena aku mencintaimu, Bitna. Sedari SMA, aku tidak bisa melihatmu bersedih. Berikan aku satu kesempatan," bisik Wooil di hadapan Bitna.


Sementara itu, empat bulan sebelum Wooil bertemu Bitna dan Eunjo...


"Hei, dude. Ada seorang Korea yang mencarimu. Katanya berasal dari fakultas technology," ujar seorang pria berkebangsaan Amerika.


"Dari IT? Kenapa dia menemuiku?" tanya Alva yang sedang sibuk mengawasi mahasiswanya praktikum fisika nuklir.


"I don't know," dosen muda kerabat Alva itu pun mengangkat bahunya. "Dia menunggumu di kafetaria."


"Class, saya tinggal sebentar. Jangan bikin ribut. Selesaikan laporan kalian sebelum saya kembali," pesan Alva lalu pergi menemui orang yang ingin menemuinya tadi.


"Good afternoon. Anda bukannya..."


"Iya, aku Seon Wooil. Apakah aku bisa berbincang denganmu sebentar?" tanya pria Korea itu.


"Boleh saja. Apa yang ingin kamu bicarakan? Tentang Bitna?" tebak Alva.


"Woah, pantas kau menjadi dosen di usia yang sangat muda. IQ-mu memang di atas rata-rata rupanya," puji Wooil.


Alva tersenyum, "Bukan begitu. Tapi apa lagi seorang Korea yang beda fakultas, datang ke sini mencariku? Jadi, apa yang kau inginkan dariku? Melepaskan Bitna untukmu?"


"Bukan seperti itu Aku hanya ingin memastikan hubunganmu dengan Bitna. Jika kalian tidak memiliki ikatan apa-apa, apa boleh aku maju?" Wooil menjeda kalimatnya sejenak.


"Brother..." Alva menepuk bahu Wooil. "Aku sudah menunggu jawabannya selama hampir lima tahun. Bahkan menemuinya di Korea. Tetapi dia semakin menjauh," ujar dosen muda di jurusan Fisika tersebut. Wajahnya terlihat sedikit mendung, kala menceritakan wanita itu.


"Kau boleh maju. Tapi semua keputusan berada di tangan Bitna. Jangan pernah menyakiti hatinya," kata Alva lagi.


"Aku janji," kata Seon Wooil sambil berterima kasih.


Saat ini, di pesta pernikahan.


"Selamat ya, Bitna. Kau harus hidup lebih bahagia bersamanya," kata Alva sambil menjabat tangan wanita itu.


"Ah, gawat. Rasanya aku hampir menangis saat melihatmu," kata Bitna menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Move on, Bitna. Move on," kata Zay dengan gayanya yang khas. "Kan ini pilihanmu sendiri. Aku yang setiap saat menangis melihat Alva berusaha move on darimu," lanjutnya.


"Ah, si brengsek ini. Kenapa ucapanmu selalu menusuk, sih?" kata Bitna sambil menerima kado dari Zay.


"Itu kado dari Alva. Dia malu memberikannya padamu," kata Zay.


"Ah... Ma-makasih," kata Bitna salah tingkah. "Dan... Maaf," lanjut pengantin wanita itu setengah berbisik.


"Jangan begitu. Suamimu pasti sedih kalau kau begini. Padahal kita sama sekali tak pernah punya hubungan," tegas Alva. "Aku bahagia melihatmu menikah," ujarnya.


"Selamat ya, Bro. Jangan lupa dengan janjimu," Alva merangkul Seon Wooil tanda persahabatan.


"Terima kasih. Keikhlasanmu adalah kado terbesar bagiku," balas Wooil pula.


"Ka-kalian saling kenal? Sejak kapan?" tanya Bitna dengan wajah merah padam.


"Rahasia," jawab Alva dan Wooil bersamaan.


"Alva, Wooil. Terima kasih, kalian sudah mensupport putri kecilku selama ini. Sampai kapan pun, kalian berdua tetaplah anak laki-lakiku," ujar Seo Il Sang yang baru saja ikut bergabung.


"Terima kasih, Ayah," kata Seon Wooil.


"Alva, semoga kamu mendapatkan wanita yang baik dan pantas untukmu, ya. Dan jangan lupa undangannya kalau kau menikah," ucap Seo Il Sang lagi.


"Siap Kapten!"


"Ecieee... Yang udah resmi nikah, lupa ya sama kami," kata Eunjo yang bergandengan tangan dengan Yeon Woo Oppa.


"Jadi bulan depan, kita datang ke pernikahan Eunjo, nih?" goda Wooil.


"Sembarangan! Yang sopan kalau bicara, aku ini calon kakak iparmu," kata Eunjo yang tomboy itu dengan garang.


Malam harinya.. Malam pertama Bitna dan Wooil.


"Kamu yakin nggak mau membuka kado dari Alva?" tanya Wooil.


"Iya. Kamu aja yang buka," kata Bitna.


"Kenapa? Kamu masih memiliki perasaan padanya?" tanya Wooil sang suami.


"Lebih tepatnya perasaan bersalah. Seharusnya aku menolaknya dari dulu, tanpa memberinya harapan," kata Bitna. "Tapi dari awal aku sudah mencintaimu, Wooil. Dari sebelum aku pergi ke Indonesia, walaupun aku memang sempat goyah," ungkap nya.


Srak!


Kado yang dipegang Wooil terjatuh ke kasur. Pria itu memeluk Bitna. Lalu mencium kening wanita itu dengan mesra, napas mereka memburu.


Tluk! Tak lama kemudian lampu kamar mereka pun padam.


Selembar kertas yang terjatuh di ke kasur, remuk tanpa sempat di baca. Begitu pula dengan baju bayi premium di dalam kotak kado. Remuk dihimpit dua insan yang memadu kasih.




...β—¦β€’β—β—‰βœΏHappy Wedding, Bitna & WooilβœΏβ—‰β—β€’β—¦...


...(𝕿𝖆𝖒𝖆𝖙)...