
Kosong. Tidak ada balasan. Tidak ada notifikasi chat baru.
Go Eunjo sudah mulai bosan menatap layar HPnya. Malah ia mulai merajuk karena Bitna tak juga membalas pesannya.
"Hufff... Bitna ke mana, sih? Kok nggak ada kabar sama sekali?"
Go Eunjo mondar mandir di depan kelas. Beberapa kali ia menolehkan pandangannya ke arah ujung lorong.
"Ini udah hampir jam tujuh, lho. Apa dia terlambat lagi?" pikir ketua kelas preman itu.
Ttuuutt...
"Nomor yang anda tuju ...."
"Haaah... Lagi-lagi dijawab sama robot. Bitna ke mana, sih? Perasaanku jadi nggak enak."
Bel masuk berbunyi. Eunjo masih setia menanti kedatangan sahabatnya itu di depan kelas.
"Hei, Wooil. Kau lihat Bitna?"
Eunjo menghadang Seon Wooil yang hendak masuk ke kelas.
"Kenapa kau tanya aku? Kan kau temannya," jawab Wooil jutek. Ia lalu menerobos masuk ke dalam kelas.
"Huh, galak amat, sih? Kan cuma bertanya," gerutu Eunjo.
Waktu terus bergulir. Tetapi Seo Bitna masih belum juga menampakkan diri di kelas.
"Ini udah selesai jam pelajaran kedua. Nggak mungkin Bitna terlambat sampai seperti ini," pikir Eunjo gelisah.
"Baiklah anak-anak. Pelajaran sampai di sini dulu. Jangan lupa minggu depan kita praktikum. Siapkan materi kelompok kalian masing-masing."
Guru Biologi menutup kelas hari itu.
"Beri hormat kepada Bu Guru," seru Eunjo mengomando teman-temannya. Setelah itu ia buru-buru keluar kelas.
"Eunjo, mau ke mana? Ibu saja belum keluar," tegur Bu Guru.
"Maaf, Bu. Saya ada urusan mendesak."
Eunjo membungkukkan badannya sambil memberi hormat pada Bu Guru, lalu kembali berlari secepat kilat bak kancil dilepas ke kebun.
"Bu Guru..hoshh.. hosh.." Eunjo berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan setelah berlari mengitari sekolah menuju ke ruang guru.
"Ada apa Eunjo? Duduklah dulu," ujar Bu Hana.
"Bitna hari ini nggak masuk kelas, Bu. Dia juga nggak memberi kabar. Saya khawatir. Apa ibu boleh memberikanku nomor walinya?" ujar Eunjontanpa jeda untuk bernapas.
"Bitna? Apa dia juga nggak bisa dihubungi?"
"Tidak bisa, Bu. Ini aneh, Bitna tidak pernah bolos sekolah," jawab Eunjo.
Bu Hana memiliki pendapat yang sama dengan Eunjo. Bitna bukanlah anak yang suka bolos, meski pun cuaca di Kota Seoul sedang ekstrim.
"Baiklah, Ibu akan hubungi walinya," kata Bu Hana.
Ttuuuutt...
"Halo?" Seorang pria mengangkat telepon di seberang sana.
"Selamat pagi. Saya Bu Hana, wali kelasnya Bitna," ujar Bu Hana. Apa benar saya bicara dengan Pak Chae Do Hyuk?"
"Iya benar, Bu Guru. Ada apa, ya?" ucap Chae Do Hyuk, paman Bitna.
"Saya mendapat laporan kalau Bitna nggak masuk sekolah tanpa kabar. Apakah ia sedang sakit?" tajya Bu Hana.
"Seo Bitna? Tadi dia sudah pergi sekolah pagi-pagi sekali. Bahkan dia melewatkan sarapan bersama kami. Duh, ke mana dia pergi?" suara Chae Do Hyuk terdengar sangat cemas.
Bu Hana dan Eunjo saling bertukar pandang mendengar kabar dari paman Bitna tersebut.
"Apa dia terlihat ada masalah?" tanya Bu Hana lagi.
"Sepertinya tidak. Dia baik-baik saja di rumah," jawab Chae Do Hyuk.
"Baiklah, Pak. Terima kasih Informasinya. Kalau nanri ada kabar terbaru tentang Bitna, mohon hubungi kami," ucap Bu Guru.
"Sial! Baru aja aku mau mengabaikan kucing kampung itu. Belum ada sehari malah sudah menghilang," gerutu Wooil yang tanpa sengaja mendengar obrolan Bu Hana dan Eunjo sejak tadi.
Kebetulan pria itu sedang ada urusan dengan guru sosiologi di ruangan itu.
...🍎🍎🍎...
"Tolong lacak nomor yang kuberikan tadi. Cari tahu di mana lokasi terakhirnya berada," perintah Eunjo pada pelayannya.
"Baik, Nona."
"Cari tahu juga siapa yang terakhir bersamanya," kata Eunjo lagi.
"Baik."
"Sekarang aku tinggal mencari Jun Hyeon, dan bertanya tentang Bitna," gumam Eunjo.
Sementara itu, tidak jauh berbeda dengan Go Eunjo, Seon Wooil juga bergerak cepat mencari tahu keberadaan rival terberatnya itu.
Satu per satu, para siswi yang biasa melalukan perundungan terhadap Bitna, diinterogasi oleh Seon Wooil. Tapi jawaban mereka sama. Mereka tidak melihat Bitna sejak pagi.
"Chae Rin, di mana Min Ji?" tanya Wooil ketika berpapasan dengan gadis itu.
"Haah.. Kau ini. Dia kan sedang di skors. Mungkin dia sudah berada di Maldives atau Hawai sekarang," kata Ahn Chae Rin.
"Sial! kenapa aku bisa lupa. Itu dia masalahnya."
Wooil melangkahkan kakinya dengan cepat menuruni anak tangga.
"Hei, mau ke mana, kau? Dasar berandal itu. Sudah bertanya malah ditinggal pergi," seru Chae Rin kesal.
Tanpa mempedulikan bel masuk yang sudah berbunyi, Wooil berlari keluar gerbang sekolah. Dia menghubungi kantor polisi terdekat untuk mengecek CCTV di sekitar sekolah.
Wooil juga meminta beberapa detektif sewaan, untuk mencari jejak Seo Bitna.
"Pak, ke arah Hannam-dong," pinta Wooil pada supir Taksi yang memarkir mobilnya di seberang sekolah.
"Kau mau bolos? Ini jam sekolah," tolak supir itu.
"Aarrh... Ikuti saja permintaanku, jangan banyak tanya," desak Wooil tak sabaran.
"Aku nggak bisa mengantar anak sekolah yang ingin bolos. Katakan dulu apa tujuanmu," ucap supir Taksi itu tak berubah pendirian.
"Uh... Nih. Ini untuk Bapak semua kalau mengantarku sampai ke tempat tujuan."
Wooil mengeluarkan belasan lembar uang cash dari dompetnya. Dengan jumlah sebanyak itu, dia bahkan bisa diantar ke dermaga atau bahkan bandara sekalian.
"Hmmhh...Dasar anak muda zaman sekarang, semua selalu diselesaikan pakai uang," gumam Pak Supir.
"Masuklah, kau butuh cepat sampai, kan?" lanjut supir taksi itu.
"Cih, dasar tua bangka mata duitan," gerutu Wooil. "Yah, tapi yang paling penting aku bisa sampai ke sana segera," gumamnya.
Lima belas menit berlalu. Taksi biru itu membelah jalanan yang di penuhi rumah mewah bak istana di kanan kirinya.
Rimbunnya pepohonan membuat suasana menjasi teduh.
"Rumah nomor A 15 di depan tujuan kita," ucap Wooil.
Sesampainya di sana, Wooil langsung disambut sekuriti yang berjaga di gerbang.
"Aku mau bertemu Kim Min Ji," kata Wooil tanpa basa basi.
"Silakan masuk. Nona baru saja pulang," ucap sekuriti itu.
"Baru pulang? Dari mana?" pikir Wooil curiga.
"Hei, tumben kau ke sini?" ujar Min Ji.
Wooil bisa mencium aroma laut dari gadis manis itu.
"Di mana Bitna?" tanya Wooil.
"Kenapa kau tanya padaku?" balas Min Ji.
"Karena cuma kau yang punya alasan untuk menganggunya!"
"Jangan membentakku. Emang apa alasanku? Dia kan memang gadis kampung yang pantas untuk hiburan," kata Min Ji dengan angkuhnya.
"Kau bilang mempermainkan orang itu hiburan?" Wooil merapatkan tubuhnya pada Min Ji. Aroma laut yang amis semakin tercium.
"Kenapa kau peduli padanya, sih? Dia itu siapa? Kau sama saja seperti ayahmu, yang begitu perhatian dengan gadis dari kampung, sampai tak peduli pada istrinya yang hampir mati," kata Min Ji.
"Apa katamu? Kau tahu apa tentang ayahku?" Wooil mencengkeram kerah jaket yang dipakai gadis itu.
(Bersambung)