Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 19 - Ayahku dengan Ibunya



"Kenapa kamu pilih negara yang begitu jauh?" tanya Eunjo.


"Karena ayahku ada di sana," jawab Bitna dengan lantang. Matanya yang indah memandang langit dengan tatapan kosong.


"Ayahmu sudah ketemu?" wajah Eunjo berbinar.


"Belum. Tapi mungkin ayahku ada di sana. Semoga saja," ucap Bitna lirih.


"Ah, iya. Semoga saja," ucap Sahabat Bitna tersebut. "Tapi gimana caramu mencarinya?" tanya Eunjo kemudian.


Bitna menunjukkan sesuatu di layar HPnya.


"Maksudmu melalui website ini? Apa ini bisa dipercaya?" tanya Eunjo.


"Nggak bisa seratus persen percaya, sih. Tapi setidaknya aku bisa menggantungkan harapanku di sana. Aku... rindu banget sama ayah."


Suara Bitna semakin lama semakin terdengar lemah dan gemetar.


"Kalau kamu bilang gitu, aku cuma bisa support. Tapi aku sedih lho ini. Sahabatku mau pergi jauh," kata Eunjo.


"Hey, mana anak jenderal yang perkasa ini? Aku cuma pergi satu tahun, kok. Kelas tiga aku kan sekolah di sini lagi," balas Bitna.


"Lagian temanmu kan banyak, nggak kayak aku yang bisa dihitung pakai jari," lanjut Bitna lagi.


"Ya itu yang bikin aku sedih. Apa kamu nanti bisa dapat sahabat sebaik aku? Kamu kan cuma punya aku," jelas Eunjo dengan gaya angkuh.


"Wah, aku jadi pengen ngomong kasar, deh. Nyesel tadi udah terharu," kata Bitna diiringi gelak tawa Eunjo.


...🍎🍎🍎...


"Duh, di mana sih ayah menyimpan HPku?"


Seon Wooil membongkar seluruh laci di kamar ayahnya untuk mencari HP miliknya yang disita beberapa hari yang lalu.


"Kenapa tidak ada, ya? Apa jangan-jangan tidak disimpan di kamar ini? Atau sudah dijual?" ucap Wooil panik.


Wooil sudah membongkar seluruh kamar dan juga ruang kerja ayahnya. Tetapi benda elektronik itu masih belum ditemukan juga.


Kini remaja itu berpindah ke ruang TV dan ruang baca sang ayah. Seluruh sudut ruangan itu diperiksa. Hasilnya tetap nihil.


"Sial! Di mana sih ayah menyimpan HPku? Apa mungkin ayah membawanya ke kantor?" pikir Wooil cemas.


"Lalai banget aku kemarin. Aku pikir marah ayah sudah reda, nggak bakal menyita HPku lagi. Mana uang jajanku juga dipotong," gerutu Wooil sendorian.


Benda gepeng itu adalah segalanya bagi Wooil, sudah seperti separuh nyawanya. Saat tidur pun ia tidak bisa jauh dari HP. Tentu saja saat ini ia merasa sangat kehilangan.


"Ah, sepertinya aku tahu di mana ayah menyimpannya. Semoga saja ada di sana."


Wooil bergegas membuka laci kecil di bawah tempat tidur sang ayah. Ia mengambil sebuah kunci kecil yang sudah mulai berkarat dan menuju ke sebuah pintu di sudut ruangan.


Krieeettt...


Decitan engsel pintu yang mulai berkarat dan berdebu terdengar sangat nyaring. Untung saja saat itu Wooil sendirian di rumah.


Remaja itu menghidupkan lampu. Deretan rak buku yang tertata rapi dan sedikit berdebu memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar.


Sebuah sofa tidur berwarna mocca, terletak di dekat jendela yang menghadap langsung ke taman belakang, berisi aneka bunga.


Ya, itu adalah perpustakaan mini milik ibunya. Mendiang ibunda Wooil sangat senang membaca buku. Setiap ayah Wooil pulang dari luar kota, ibu selalu memesan sebuah buku sebagai oleh-oleh.


Kini ruangan itu jarang sekali dibuka. Wooil tidak suka membaca buku. Dan lagi, berlama-lama di dalam ruangan itu, akan membangkitkan memorinya pada sang ibu.


Tapi di sinilah Wooil sekarang. Memeriksa setiap sudut ruangan dan rak buku, demi mencari HPnya.


Entah lupa atau sengaja, ayah yang semula mengatakan kalau hanya menyita HPnya satu hari, hingga hari ke tiga belum juga dikembalikan.


"Nah, ini dia." Pemuda itu membuka sebuah lemari kaca dan menemukan HPnya di sana.


Klotak!


"Ah, ini kan foto-foto liburan kami sebelum ibu meninggal?"


Wooil membuka satu per satu lembaran foto tersebut sambil tersenyum kecil.


Sebuah kenangan indah bersama sang ibu, kembali berputar di kepalanya. Kebahagiaan keluarga kecil mereka terpatri dalam lembaran-lembaran tersebut.


"Loh, ini?" Raut wajah cowok itu berubah ketika melihat sebuah foto yang sangat asing di sana. Itu bukan foto keluarga mereka.


"Ini kan Bitna? Lalu ini siapa? Ibunya?"


Seorang anak perempuan dengan rambut sebahu dan senyum yang khas, memeluk ibunya dan berfoto bersama.


Tampaknya foto itu diambil saat Bitna baru tamat SD. Senyuman gadis itu masih tidak berubah. Rambutnya yang cokelat dan ikal juga sama. Hanya saja sekarang sedikit lebih panjang dibandingkan dalam foto.


"Kenapa ayah menyimpan foto mereka?" rasa curiga timbul dalam diri Wooil.


Nggak mungkin, kan, kalau ayahnya dan keluarga Bitna memiliki hubungan? Selama ini Wooil tidak pernah merasa punya saudara sepupu perempuan.


Atau, ada hubungan tidak resmi antara ayahnya dengan ibu Bitna?


Ah, pikiran Wooil bercampur aduk.


Dengan hati yang diliputi rasa emosi serta tingkat penasaran memuncak, Wooil pun membongkar isi lemari tersebut.


Benar saja. Wooil menemukan bukti lain dari interaksi sang ayah dengan Bitna.


Selembar kertas yang kini dipegangnya menjadi bukti, bahwa keberadaan Bitna di sekolah elit itu tidak terlepas dari campur tangan ayahnya.


"Kenapa ayah membantu Bitna sekolah di sana? Ada hubungan apa mereka? Pantas saja ayah selalu tahu semua hal tentang Bitna."


...🍎🍎🍎...


Wooil berjalan mengendap-endap mengikuti Bitna. Wooil penasaran, ke mana gadis itu pergi sore-sore begini?


Lantai tiga sebelah utara adalah tempat yang sangat jarang dikunjungi siswa. Yang lebih mencurigakan lagi, Bitna sengaja menunggu Go Eunjo, teman akrabnya pulang lebih dulu untuk pergi ke tempat itu.


Apa dia disuruh seseorang datang ke sana, lalu dibully?


"Loh, ke mana dia?"


Wooil menatap sekeliling dengan seksama. Ia kehilangan Bitna di lorong ke arah kiri.


"Perasaan tadi dia berjalan ke sini, deh."


Wooil menatap ke kanan dan kiri untuk memastikan. Ia pun menoleh ke belakang.


Deg! Dada Wooil berdebar cepat. Ia baru menyadari mengapa para siswa jarang ke sini.


Di lantai tersebut ada sebuah ruang praktikum kimia yang terbakar beberapa tahun lalu, dan menewaskan tiga orang siswa. Salah seorang di antaranya adalah siswa yang sangat berprestasi, Jung Mirae.


Meski sudah di renovasi, namun bekas gedung lama masih bisa dilihat.


Banyak rumor yang mengatakan, bahwa para siswa sering melihat gadis dengan tubuh tak lengkap berjalan di lorong tersebut.


Pada hari-hari tertentu, mereka juga bisa mencium bau daging gosong yang sangat menyengat.


Karena berbagai alasan itulah, lantai tiga di gedung tersebut tidak lagi digunakan untuk belajar.


"Aku turun saja, deh. Besok aja aku menemuinya," pikir Wooil dengan hati ciut.


"Mau ke mana?"


Suara sapaan tiba-tiba dari belakang membuat Wooil hampir melompat dari tempatnya berdiri.


Siapa perempuan yang masih ada di sini saat hari mulai gelap?


(Bersambung)