
Di sebuah ruangan hotel bintang lima, Alva Arkanza telah bersiap dengan tuxedonya. Senyum bahagia tidak bisa terlepas dari wajahnya.
Zaenuddin alias Zay, yang kini bekerja di kedutaan besar Indonesia di Korea, dengan setiap mendampingi sang sahabat.
"Kau yakin? Sebelum sah, kau masih bisa berubah pikiran, kok," kata Zay gelisah.
"Kau mau bertanya berapa kali lagi? Masa aku mau membatalkan di detik-detik terakhir begini? Lihat dong, wajahku dari tadi gimana?" kata Alva sambil berulang kali mematut wajahnya di depan cermin.
"Asal sahabatku bahagia, aku juga mendukung penuh keputusannya," kata Zay.
Sementara itu di ruangan yang berbeda, seseorang wanita cantik telah siap dengan dandanannya.
Ia mengenakan gaun putih rancangan sang adik sepupu, yang dikenal sebagai desainer ternama. Rambut panjang yang ditata sederhana. Make up natural dan sebuah buket bunga yang serasi dengan gaunnya.
Hatinya berdegup kencang menantikan upacara pernikahan yang akan segera dilaksanakan. Tapi wajahnya memancarkan rasa bahagia.
"Nuna, HP Anda berdering," salah seorang wedding organizer memberikan smartphone milik Bitna.
"Hai, Bitna," seru seorang wanita cantik, yang menyapanya melalui sambungan video call.
"Hai, Tika. Happy wedding ya. Sayang banget acaranya pas aku lagi wisuda," kata Bitna.
"It's ok. Aku nggak nyangka, kamu selesai S-2 cepat banget. Aku otw nyusul S-2 juga, nih. Btw rendangnya aku kirim via udara, ya. Hahahaha..."
"Dasar pengantin baru. Happy banget bawaannya. Gak nyangka, kamu bakalan berjodoh sama Pak Adinata, guru fisika kita. Padahal, kalian nggak pernah pacaran," ucap Bitna.
"Loh, kamu juga. Gak pernah pacaran, tahu-tahu udah ada undangan aja. Aku kaget banget, lho," balas Tika yang baru dua bulan menikah.
"Dan gak nyangka juga, gaun pengantin desain Chae Ara cantik banget. Aku juga berterima kasih banget sama dia, yang udah mau bikinkan gaun spesial untukku," kata Tika.
"Adikku itu dari SMP emang udah jelas cita-citanya. Gak kayak aku yang setiap semester berubah aja kayak bunglon," sahut Bitna.
"Btw sorry ya, ongkos ke Korea mahal banget. Aku jadi gak bisa datang. Pak Nata, eh maksudku Abang juga lagi sibuk ngurusin bocil mau olimpiade fisika," ucap Tika lagi.
"Di sini rame lho, ada Flo dan teman-teman lain juga. Mereka baru aja datang."
"Halo Bitna..." sapa teman-teman dari Indonesia. Mereka sampai bela-belain ngumpul bareng, demi mau lihat pernikahan Bitna via online.
"Hai semua. It's ok. Aku senang banget kalian video call bareng gitu. Kapan ya, kita reunian?" ucap Bitna.
"Kamu deh yang ke Indonesia. Kalau kami ke Korea, sampe sana cuma bisa makan angin doang," kata Flo si petani sukses. Dia memiliki ratusan hektar kebun sayur dan jeruk di Kabanjahe, Sumatera Utara.
"Tapi ada yang wakilkan kita datang ke sana, kok," kata Flo dan Sundari.
"Oh, ya? Siapa?" tanya Bitna antusias. "Pasti Zay, kan? Dia kan kerja di kedubes sini sekarang," pikir Bitna.
"Nuna, Anda harus segera bersiap-siap. Pengantin prianya sudah datang," bisik wedding organizer tadi.
"Baiklah. Teman-teman, udah dulu ya. Nanti kita video call lagi." Bitna mengelap tangannya yang keringat dingin.
...πΊπΊπΊ...
Auditorium terbuka. Pengantin wanita mengenakan gaun putih, berjalan didampingi sang ayah. Senyum suka cita menghampiri wajahnya. Sang pengantin pria, menunggunya di depan podium sambil tersenyum sangat manis.
"Alva..." gumam Bitna tak bisa menyembunyikan ekspresi di wajahnya.
Iringan musik dari piano dan lampu yang berpendar indah, membuat suasana kian syahdu. Puluhan bahkan ratusan tamu undangan, menjadi saksi penyatuan dua insan tersebut.
(Bersambung)
Hai semua. Baca novel author lainnya, yuk. Ditunggu ya like dan favoritnya. Terima kasih.