Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 52 - Sebagai Imammu



"Kamu beneran mau pulang ke Korea?" tanya seorang gadis manis bermata sipit dan kulit putih.


"Iya, aku harus mengurus beberapa berkas di sana," jawab Song Gae Nam.


"Gimana nanti kalau ketemu dengan wanita itu lagi?"


"Nggak masalah. Aku sudah nggak punya rasa lagi dengan, kok," jawab Song Gae Nam dengan sangat yakin.


"Baiklah, aku mempercayaimu" ujar sang kekasih.


Beberapa hari kemudian. Song Gae Nam beneran menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya. Tanpa berlama-lama, ia langsung menuju ke sekolah tempatnya mengajar dulu.


Suasana masih terlihat sama. Para siswa baru saja keluar kelas. Tiba-tiba dari arah lantai kelas dua, terdengar suara heboh.


Di antara kehebohan tersebut, samar-samar terdengar suara beberapa orang memanggil nama Kim Min Ji. Pria tampan itu buru-buru melangkahkan kakinya ke arah lantai dua.


Sama seperti yang lain, Ia juga melihat seorang wanita yang tampak berantakan. Sebuah pisau yang berdarah telah disita darinya. Wanita tersebut meronta-ronta dari cengkraman para guru di belakangnya.


Tap! Tap! Tap!


Selangkah demi selangkah, pria yang mengenakan jas hitam itu berjalan mendekati sang wanita. Ia pun menarik perhatian semua orang di sana.


"Song Gae Nam?" tegur beberapa orang guru. Mereka semua tidak menyangka, guru muda tersebut akan datang di saat seperti ini.


"Selamat sore, Pak." Pria itu membungkukkan badannya.


"O-oppa?" Kim Min Ji berhenti histeris, melihat pria pujaannya muncul tiba-tiba.


"Kau terlihat berantakan sekali," ujar Song Gae Nam dengan senyumnya yang khas.


"Maaf, aku ke sini bukan untuk dirimu," lanjut pria itu secara frontal.


Kim Min Ji menundukkan kepalanya. Meski dia sudah terlihat lebih tenang dibandingkan tadi, para guru tetap berjaga-jaga di sekitarnya.


"Aku tahu, kamu dan pacarmu terlihat serasi sekali, Pak," sahut Kim Min Ji datar.


Gadis Remaja tersebut membalikkan badannya, hendak meninggalkan tempat itu.


"Tunggu," ujar pria itu. "Aku datang kesorean untuk mengurus Dokumen itu. Jadi sekarang aku mau pulang saja. Kau bisa ikut denganku," lanjutnya.


"Nggak! Aku lebih nyaman pergi sendiri." Kim Min Ji lalu menyerahkan dirinya kepada seorang guru perempuan, dan pergi dari sana.


Hatinya terlalu sakit pada pria itu. Dia tidak bisa marah dan menangis lagi. Mungkin bisa dibilang, pikirannya sudah membeku.


"Bu, pinjamkan aku sebuah baju. Aku bisa pulang sendiri," ucap Min Ji.


"Tidak. Ibu akan mengantarmu sampai ke rumah. Sebelumnya kita makan dulu. Ibu sudah sangat lapar, nih. Butuh teman makan," kata Bu Hana dengan sangat lembut.


Air mata mengalir deras di pipi wanita itu. Tetapi bibirnya mengukir sebuah senyuman.


"Baiklah, aku bersedia menemani Ibu makan malam," ujar Min Ji.


"Ahn Chae Rin?"


"Kalian mau pergi kemana? Aku juga ikut, dong. Boleh, kan?" ucap Chae Rin.


"Tentu saja boleh," ujar Bu Hana senang.


Perasaan Kim Min Ji masih bercampur aduk. Tapi hati sudah sedikit lebih tenang dibandingkan tadi. Mungkin saja masih ada tempat bagi dirinya di sudut kota Seoul tersebut.


"Bu Guru, apakah aku boleh membungkus makananku nanti? Ibuku di rumah belum makan," tanya Kim Min Ji dengan lirih.


Bu Hana dan Ahn Chae Rin kompak menghentikan langkah kaki mereka. Keduanya baru sadar, jika kehidupan Kim Min Ji saat ini benar-benar terpuruk.


...🌺🌺🌺...


"Bitna, kau sudah kembali? Mana oleh-oleh dari Brazil untukku?" Alva menyambut Bitna yang baru masuk kelas, dengan senyuman manis.


"Duh, Tika kan juga pergi. Tapi kenapa kau hanya meminta oleh-oleh padaku?" protes Bitna.


"Tika? Nih, aku udah dapat," Alva memamerkan sebuah aksesoris dengan hiasan bendera Brazil.


"Eh?" Bitna membatu di posisinya. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. "Na-nanti pasti akan ku bagi-bagi," ujarnya gugup.


Jam istirahat. Bitna banyak termenung di tepi balkon lantai dua. Entah apa yang dipikirkannya. Matanya memandang ke langit biru dengan arak-arakan awan putih bagaikam sekawanan domba.


"Sudahlah, jangan sedih begitu. Aku cuma bercanda. Oleh-oleh itu jangan terlalu dipikirkan," kata Alva.


"Enggak kok, seharusnya aku memang membeli oleh-oleh lebih banyak untuk teman-teman semua," ucap Bitna.


Gadis itu tidak terkejut lagi dengan kehadiran Alva yang tiba-tiba.


"Sebentar lagi aku akan pergi dari sini. Seharusnya aku memberikan kalian semua sebuah tanda mata sebagai kenang-kenangan," kata perempuan asal Korea tersebut.


"Ah, benar juga. Sebentar lagi masa belajar kamu di sini sudah selesai," balas Alva. "Sebenarnya, kehadiranmu di tengah-tengah kami saja sudah menjadi kenangan yang sangat indah," lanjutnya.


"Btw, apa cita-citamu setelah ini?" tanya Alva tiba-tiba.


"Business Development. Jadi aku akan sekolah bisnis," jawab Bitna singkat.


*Business Development bertanggung jawab atas hubungan antar pelanggan, pasar dan relasi. Jadi mereka yang bertugas mengidentifikasi potensial market baru, kemitraan bisnis baru, serta menjangkau menjangkau pasar yang ada.


"Woah, spesifik sekali, ya. Padahal kamu hobi kimia, sastra dan jurnalistik. Ku pikir bakal ambil profesi yang berkaitan dengan itu," kata Alva.


"Zaman sekarang wajar, kan, punya profesi lebih dari satu. Aktivitas jurnalistik ku tetap jalan, kok."


"Kau sendiri? Apa cita-citamu?" balas Bitna.


"Cita-citaku adalah menjadi imammu nanti," gumam Alva dengan sangat lirih.


(Bersambung)