Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 34 - Sejenis Hewan Reptil



"Haaah... Haaah... Haaah..."


Bitna terduduk di lantai. Ia tidak bisa mengatur napasnya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kalimat dari Jun Hyeon tadi seperti peluru yang menembus masuk ke dalam jantungnya.


"Apa Jun Hyeon melihatku, tadi?" pikir Bitna.


Langkah kaki itu sudah tidak terdengar. Entah mereka sudah pergi, atau malah berdiri di balik dinding.


Brak! Tiba-tiba pintu ruang UKS dibuka dengan kasar. Bitna tersentak kaget.


"Wooil?" seru Bitna. Cowok menyebalkan itu terlihat berdarah di lengan dan kaki. Remaja itu berjalan dipapah oleh kedua temannya.


"Hei, aku anggota UKS, kan? Cepat obati dia sebelum darahnya semakin banyak keluar," pinta seorang siswa kelas dua bernama Il Hwan.


"Bukan. A-aku hanya ... "


"Apa yang kau lakukan. Jangan hanya diam berdiri di situ. Cepat obati aku," desak Wooil.


"Duh, iya-iya." Bitna berlari mengitari ruang UKS mencari kotak P3K.


"Sebenarnya kau kenapa, sih? Kok bisa terluka gini? Habis berkelahi?" tanya Bitna sambil mengelap luka Wooil menggunakan alkohol.


"Hhh... Dia itu cuma cowok bodoh. Dia terluka karena menghadang bola tenis, yang hampir melukai murid perempuan," kata Il Hwan.


"Padahal murid perempuan itu juga nggak dikenalnya. Tapi dia terpeleset hingga menumbuk tiang," tambah Park Tae Hyung, teman mereka satu lagi.


"Pfffttt..." Bitna tertawa kecil mendengarnya. Ternyata Wooil tidak seburuk yang ia lihat selama ini.


"Kenapa kau tertawa? Mengejekku, ya?" ucap Wooil dengan gusar.


"Nggak, kok. Nggak kusangka kau ternyata orang baik," kata Bitna.


Cewek itu telah selesai menutup luka Wooil dengan perban. Di luar dugaan, Bitna sangat cekatan merawat luka.


"Terima kasih, ya," gumam Bitna.


"Kau bilang apa?"


"Terima kasih. Kau sudah banyak menolongku. Walau pun sikapmu tadi pagi agak aneh, tapi aku bersyukur karena kau banyak menolongku. Juga soal guru privat itu," jelas Bitna.


"Ku harap kau jangan dekat-dekat denganku. Aku nggak suka denganmu," kata Wooil.


Bitna mengangkat kepalanya. Matanya yang indah beradu pandang dengan mata cokelat milik Wooil.


Wooil bisa melihat alis tebal yang terukir indah. Bulu mata yang lentik. Hidung mancung dan bibir merah delima.


"Ah, sial!" Wooil mengalihkan pandangannya dari Bitna. Jantungnya berdetak nggak menentu.


"Kau mengumpatku?" tanya Bitna.


"Ya. Udah kubilang, kan? Aku nggak suka denganmu. Jangan ikuti aku terus," jawab Wooil.


"Kenapa sikapmu berubah-ubah terus, sih?" kesal Bitna.


"Ingat, ya. Aku nggak membantumu. Aku berusaha mengusirmu dari sekolah ini. Pergi jauh-jauh dari hidupku dan ayahku," tegas Wooil.


"Ehm! Udah selesai berantemnya?" kata Il Hwan menghentikan perdebatan antara Bitna dan Wooil.


"Kita emang jomblo sejati, tapi bukan obat nyamuk juga. Hargailah jiwa-jiwa jomblo ini," tambah Tae Hyung.


"Ckk! Apa sih?" gumam Wooil.


"Aahh.. Mandi air hangat pakai memang hal yang paling menyenangkan."


Eunjo mengelap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Air menetes dari kulitnya yang sangat halus.


"Nona, dari tadi HP Nona berbunyi terus," ucap salah seorang pelayan.


"Dari siapa?"


"Maaf, saya tidak memperhatikan namanya. Tapi kalau tidak salah dari Bitna," jawab pelayan itu.


"Ah, Bitna. Tumben dia menghubungiku jam segini?"


Eunjo melompat ke tempat tidur, lalu mengambil HPnya.


Terdapat dua panggilan tidak terjawab, dan tiga buah pesan dari sahabatnya itu.


"Eunjo, kau harus melihat video dan mendengarkan rekaman ini," tulis Bitna.


Tanpa menunda waktu, Bitna pun membuka kiriman video serta rekaman suara dari Bitna.


Eunjo menggeretakkan giginya, melihat Jun Hyeon bercumbu mesra dengan anak kelas dua yang terkenal sebagai pentolan klub tari.


Rekaman percakapan itu juga menunjukkan kalau mereka lah yang merekam tindakan bully atau perundungan kepada Bitna. Ternyata tujuan perekam itu adalah untuk semakin menjatuhkan Seo Bitna.


"Dasar buaya darat! Beraninya mempermainkan hati sahabatku yang jomblo dari lahir!" geram Eunjo.


"Nuna, tolong bantu aku cari info tentang cowok ini, sedetail mungkin," perintah Eunjo pada pelayan pribadinya.


"Baik, Nona," jawab pelayan.


Di tempat yang berbeda. Sepasang kekasih beda usia sedang bertengkar di sudut sebuah kafe.


"Oppa bilang aku cuma anak di bawah umur? Berarti Oppa selama ini berhubungan dengan anak di bawah umur," kata Min Ji.


"Kau kan memang masih lima belas tahun," ujar Song Gae Nam.


"Lagipula, aku nggak pernah bilang kalau kita pacaran. Aku hanya mengikuti keinginanmu yang selalu menempel denganku," lanjut guru muda itu.


"Grrr... Aku sudah memberikan semuanya untukmu. Akses masuk ke perkumpulan pengusaha terkenal, barang-barang mewah, bahkan sebagian saham milikku," seru Min Ji.


"Terakhir, bahkan oppa menerima beasiswa di Cambridge, karena ingin melanjutkan S3 di sana," ujar Min Ji lagi.


"Memangnya aku meminta itu semua? Kan kau sendiri yang memberikannya untukku," balas Song Gae Nam tanpa rasa bersalah.


Kim Min Ji menghentakkan cangkir kopi dengan kuat. Emosinya semakin tidak terkendali.


"Tapi aku jadi berterima kasih padamu. Dengan diskors mengajar selama dua tahun, aku bisa melanjutkan kuliah dengan tenang," ujar guru matematika itu.


"Aku pun bisa tinggal bersama kekasihku, yang sudah lebih dulu kuliah di sana."


"Kekasih?" tanya Min Ji.


"Hai, aku Jihye Kang. Kekasih Song Gae Nam."


Seorang wanita yang baru saja masuk, mendekati meja pasangan itu dan memperkenalkan dirinya pada Min Ji.


(Bersambung)