Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 58 - Hadiah dari Alva



Hari sudah mulai gelap. Dedaunan yang mulai kecloklatan berguguran. Udara dingin yang lembut, membuat siapa pun tidak ingin berlama-lama di luar rumah.


Tetapi ketiga remaja yang beranjak dewasa itu tidak terpengaruh. Udara dingin yabg berulang kali datang menyapa tersebut, tidak mengurungkan niat mereka mendaki bukit kecil di salah satu sisi Kota Seoul.


"Hmmm... Bitna, kau nggak marah padaku, kan?" tanya Eunjo. Putri jenderal tersebut mengenggam tangan Ningsih dengan erat.


"Enggak, kok," jawab Bitna sambil menyibak semak belukar untuk membuka jalan. Semak berduri setinggi lutut menghalangi jalan mereka yang mendaki.


"Atau menu yang ku pesan tadi terlalu mahal?" tanya Eunjo lagi. Kali ini ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi, agar tidak tersandung tanaman berry liar yang sudah mengering.


"Nggak juga," sahut Bitna yang berjalan di depan.


"Terus kenapa kita ke kuburan malam-malam? Ini kan bukan kuburan ibumu, atau leluhurmu?" amuk Eunjo.


"Sssttt... Pamali teriak-teriak di kuburan. Apalagi udah malam. Kalau 'mereka' datang gimana?" tegur Ningsih.


"Duh, Eonnie jangan nakut-nakutin aku, dong?" kata Eunjo sambil menatap ke wajah Ningsih yang udah mirip manekin saking pucatnya. Ternyata perempuan asal Jawa itu juga ketakutan.


"Teman-teman, kalian mikir apa, sih? Ini masih jam tujuh malam loh. Di sana juga masih ramai," kata Bitna sambil terus melangkah.


"Iya benar, di bawah sana emang rame. Tapi di sini sepi banget," kata Eunjo.


"Kalian ingat Paman Hwan, enggak? Yang dulu selalu membantuku untuk mencari ayah," tanya Bitna.


Ningsih dan Eunjo saling berpandangan. Mereka berdua berusaha mencerna kalimat yang diucapkan oleh Bitna.


"Paman meninggal dua minggu sebelum aku kembali ke Korea," lanjut Bitna.


"Apa kau bilang? Jadi kita...?"


"Ya, kita akan pergi ziarah ke makam paman," ucap gadis berambut panjang itu di depan sebuah batu nisan.


Kebanyakan orang Korea mengkremasi jenazah keluarganya, lalu menyimpan abunya atau menaburnya di sekitar pohon tertentu seperti ibu Bitna. Tetapi beberapa orang juga masih memakamkannya seperti biasa.


"Paman, maafkan aku karena terlambat datang. Dan terima kasih atas semua bantuannya," ucap Bitna sambil meletakkan sebuah cindera mata asal Indonesia.


"Bitna, maafkan aku karena telah mencurigaimu," kata Eunjo.


Sementara Ningsih memetik bunga-bunga liar, dan meletakkannya di dekat batu nisan.


"Saat aku menelepon Paman waktu itu, ia sangat senang mendengar bahwa aku sudah menemukan ayahku," kata Bitna sambil mencabut rumput liar yang tumbuh di sekitar makam.


"Paman juga mengatakan bahwa tugasnya telah selesai, dan sudah bisa pergi. Tak kusangka, dia akan pergi untuk selamanya," lanjut gadis itu lagi.


"Aku turut sedih mendengarnya," kata Ningsih.


"Maaf ya, aku terpaksa membawa kalian malam-malam kesini. Karena mulai besok aku akan sangat sibuk," kata Bitna.


"Enggak masalah, asal nanti kau mentraktir kami daging sapi yang sa~ngat mahal," kata Eunjo.


"Enak banget ya, yang udah kerja padahal masih sekolah. Aku juga mau dong, jadi staf ahli di UNICEF," ucap Eunjo.


...🌺🌺🌺...


Bitna memegang hadiah kecil yang diberikan Alva.


Ukurannya hanya sebesar ibu jari orang dewasa. Memang bukan hadiah yang mahal dari segi materi, tetapi makna dibaliknya sangat berharga.


"Kapan sih, anak itu sempat mem-foto kami semua?"


Bitna mencolokkan flashdisk pemberian Alva tersebut di laptop miliknya. Ratusan foto Bitna bersama teman-temannya terekam di sana.


"Waktu aku menambah gado-gado hingga tiga kali, dia tidak mengambil fotoku, kan." Bitna malu memikirkannya.


"Aku pasti akan merindukan mereka semua," gumam Bitna. "Loh, ini kan?" Bitna melihat sebuah foto dirinya bersama Alva, ketika mengikuti lomba karya ilmiah di IPB.


Cukup lama ia memandangi foto pria, yang memiliki alis mata tebal dan warna mata indah tersebut.


Senyumannya yang begitu manis, membuat Bitna tidak pernah merasa bosan melihatnya.


Ceklek!


"Eonnie, aku mau tanya dong tentang pelajaran ini." Tiba-tiba Ara membuka pintu kamar dan menyelonong masuk.


"Oh, itu foto siapa? Pacar kakak, ya?" Tanpa sengaja arah melihat foto pria yang berdiri di samping sang kakak.


...🌺🌺🌺...


"Hoi, Alva. Pengumumannya hari ini, kan?" tanya Zay dan Ipung.


"Iya," jawab Alva sambil mengunyah makan malamnya.


"Kamu kok nggak semangat begitu, sih? Padahal kan kita udah dua minggu nggak ketemu," ucap Zay.


"Hasil tes-mu lulus, kan?" tanya Ipung lagi. Alva menggeleng.


"Hah, serius? Orang sepintar kamu nggak lulus?" seru kedua teman Alva tersebut. "Gagal dong kamu kuliah di Korea."


(Bersambung)


Halo teman-teman.. Mampir juga di Novel Author lainnya, dong...




Ditunggu ya like dan favoritnya. Terima kasih.