
"Guyss... Gawat! Pohon rambutannya patah!" jerit Flora.
Semua mata menuju pada pohon yang ditunjuk Flora. Terlihat batang pohon rambutan yang rimbun dan sedang berbunga itu sudah menjadi potongan balok kayu dahan dan ranting.
"Itu sih bukan patah! Tapi emang dipotong," kata Tika. "Duh, aku nyesel ikut keluar bareng kalian," ujarnya.
"Jadi gimana caranya nih kita masuk? Itu satu-satunya akses jalan kita melewati tembok tinggi itu," kata Devi panik.
Sekedar informasi, siswa siswi SMA Astana Nagara dilarang keluar masuk sekolah tanpa izin. Tapi yang namanya remaja, nggak asik kalau nggak nakal.
Itulah sebabnya, para siswa pun mencari jalan keluar paling aman. Dan pohon rambutan yang rimbun itu adalah jawabannya.
Dahannya yang rimbun, sampai melalui tembok pagar setinggi dua setengah meter itu, merupakan jalan terbaik untuk sampai ke dunia luar.
Tetapi untuk menjangkaunya tentu butuh perjuangan besar. Para siswa harus berhasil mengelabui penjagaan yang ketat, lalu menuju ke kebun sayur di halaman belakang.
Perjuangan tidak berhenti sampai di situ. Mereka yang ingin menghirup udara bebas pun, masih harus memanjat pohon rambutan itu.
Tapi sekarang, pohon itu sudah berubah bentuk. Tidak ada lagi jalan untuk kembali ke dalam lingkungan SMA elit di Kota Bogor, bahkan Indonesia itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17. 50. Sebentar lagi pemeriksaan asrama akan dimulai.
"Guys, lihat. Dewa penolong kita telah datang," kata Tika tiba-tiba.
Dari kejauhan, terlihat beberapa mobil pick up pembawa pasokan bahan makanan ke SMA mereka, sedang menembus rintik-rintik hujan.
Seperti biasa, mobil-mobil itu masuk melalui gerbang belakang, agar tidak mengganggu kegiatan sekolah.
"Maksudmu mobil-mobil itu?" tanya Flora dan Devi.
"Iya! Ayo cepat menyusup ke sela-sela mobil itu. Saat para penjaga membuka gerbang, kita menerobos masuk," kata Tika.
"Gimana dengan CCTV? Pasti wajah kita akan terekam?" kata Devi pula.
"Itu urusan belakangan. Yang penting kita lolos aja dulu dari para satpam itu," kata Tika.
Sesuai rencana, anak-anak itu menyelip di antara mobil-mobil pick up yang bergerak sangat lambat dan menunggu pintu gerbang di buka. Cuaca yang masih hujan dan matahari yang tidak lagi bersinar, membuat pergerakan mereka tidak begitu terlihat.
Grrrkkk... Terdengar pintu gerbang dibuka. Keemoat siswi itu pun meluncur, melewati sisi kiri mobil yang luput dari penjagaan.
"Gila! Rasanya jantungku mau copot!" kata Flora setelah mereka berlari cukup jauh, dan hampir sampai ke gedung asrama putri.
"Makanya lain kali jangan sok nakal. Ribet kan urusannya," kata Tika.
Bitna yang tidak bisa memahami sebagian percakapan itu, hanya bisa diam dan mendengar saja.
"Itu urusan CCTV nya gimana?" tanya Devi masih cemas.
"Tenang, CCTV itu lagi rusak dan belum sempat diperbaiki. Aku tadi nggak sengaja mendengarnya dari para penjaga. Lagian dedaunan yang kita bawa, udah cukup menyamarkan wajah kita, kok," kata Tika.
"Beneran? Haaah...Syukur, deh," ujar Devi lega.
Tika menyembunyikan tangannya yang gemetar. Sesungguhnya ia yang paling takut di antara yang lain. Remaja asal tanah melayu itu sama sekali tidsk pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Beberapa saat kemudian.
"Mbak Sheza?"
Tika dan Bitna terperanjat melihat pengawas asrama mereka sudah menunggu dengan tangkai sapu di tangan.
"Dari mana kalian? Ini sudah pukul 18.20," kata Mbak Sheza dengan mata terbuka lebar.
"I-itu kami..." lagi-lagi, Tika sulit berbohong.
"Hahhh.. Kayaknya Mbak tahu kalian dari mana. Bau yang menempel di baju kalian sudah memberikan jawabannya. Bunga liar yang menempel di kaos kaki kalian juga," kata Mbak Sheza. "Mana siomay batagornya?"
"Sudahlah, ini terakhir kalinya kalian melakukannya. Tapi kalian berhutang budi pada Mbak, karena lolos dari pemeriksaan Bu Ingrid dan Pak Jamal," ujar Mbak Sheza.
"Terima kasih, Mbak. Kami janji nggak bakal ulangi lagi."
"Yaa.. ya... Sekarang segera lah kalian mandi. Jangan sampai telat juga waktu jam makan malam."
...🍎🍎🍎...
Hatchi...! Hatchi...! Srot!
Hidung Bitna terus mengeluarkan cairan kuning kehijauan dan membuatnya bersin.
"Bitna, kau demam, ya? Ayo minum air hangat ini," kata Tika.
"Gumawo, cagia," kata Bitna sambil mengelap hidungnya dengan selembar tisu.
"Hei, udah ku bilang aku nggak ngerti Bahasa Korea," kata Tika.
"Itu artinya 'Terima kasih, sayang,' ya kan Bitna?" kata Alva yang baru aja muncul.
"Iya.. Begitulah," ucap Bitna.
"Hei, Alva. Ngapain kamu di sini? Meja makan cowok kan di sebelah sana," usir Tika.
"Yeee... kan nggak ada larangan kalau jam makan begini," kata Alva. "Tapi Bitna kenapa? Kayaknya siang tadi masih sehat?"
"Ih, kepo!" kata Flora yang turut bergabung.
"Hei, kalian hampir terlambat," ujar Tika menyambut Devi dan Flora.
"Biasa... Negosisasi dulu sama mbak pengawas. Kalian berdua gimana?" ujar Flo.
"Aman. Mbak Sheza kan the best," kata Tika disertai anggukan kepala Bitna.
"Emangnya kalian habis ngapain?" tanya Alva penasaran.
"Ini cowok kepo amat?" sindir Flo.
"Biarin. Aku kan juga pengen tahu," ucap Alva.
Hatchi...! Hatchi...! Bitna kembali bersin.
"Loh, Bitna flu?" tanya Devi yang sedari tadi diam.
"Hahah.. Iya, nih. Kayaknya aku belum terbiasa dengan perubahan cuaca di sini."
"Maafkan kami, ya. Udah membawamu dapat masalah," kata Flora.
"Hahhaha.. Nggak, kok. Tadi itu seru banget. Aku selama ini belum pernah mengalami hal seru kayak gitu," kata Bitna.
"Woah... Ternyata kau benar-benar anak teladan, ya. Pantas saja kau sekamar sama Tika," kata Flo dan Devi.
Bitna hanya tersenyum, "Nggak. Aku bukan anak teladan. Aku cuma punya satu orang teman baik selama ini," kata Bitna dalam hati.
"Guys, kalian udah dengar berita baru belum? Katanya anak artis terkenal korea tewas bunuh diri di sekolah." Para murid perempuan dari kelas lain heboh ngomongin berita artis Korea.
Deg! Crang!
Jantung Bitna seakan berhenti berdegup. Ia bahkan menjatuhkan sendok yang di pegangnya.
(Bersambung)
Halo teman-teman... Kalau minggu depan author crazy up, kira-kira kalian setuju, nggak? Komen di bawah ya.. Thank you... ❤